1 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38188

Ahok Berencana Temui Mendagri, Bahas Kisruh APBD

Jakarta, Aktual.co —Kisruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2015 belum juga memperlihatkan tanda-tanda bakal reda.
Untuk bicarakan itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berencana temui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.
“Saya memang ada rencana bertemu dengan Mendagri untuk membahas soal APBD tahun ini. Akan tetapi, waktunya masih direncanakan,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (25/2).
Kepada Tjahjo, Ahok mengaku akan beberkan alasan mengapa para anggota DPRD DKI tidak mau menyetujui dan menandatangani draf APBD versi Pemprov DKI. 
Pertemuan antara Tjahjo dan Ahok memang sudah ditunggu-tunggu. Karena kemarin, Ahok juga mempertanyakan sikap bungkam Mendagri terkait temuan Badan Perencanaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Yakni mengenai adanya ‘anggaran siluman’ di APBD DKI dalam dua tahun terakhir berturut-turut.
Ahok mengaku heran Tjahjo seperti diam saja dengan temuan itu. “Mau diproses ngga temuan BPKP dua kali? Kenapa Mendagri nggak ngomong? Ini bukan saya yang ngomong loh tapi BPKP. Kenapa (Tjahjo) nggak mau ngomong?” ujar Ahok, di Balai Kota DKI, Selasa (24/2).
Keheranan Ahok terhadap sikap Tjahjo, juga terkait belum disahkannya draf APBD DKI 2015 oleh Kemendagri hingga saat ini, lantaran dianggap tak sesuai format yang berlaku.
Tak mau berlarut-larut, Ahok pun mengajak Mendagri untuk bertemu langsung dengannya, dan membicarakan apa yang menjadi keberatan Kemendagri terhadap postur APBD DKI 2015.
“Di mana alasannya? Sudah deh bikin surat resmi ke kita biar bisa berdebat,” tantang Ahok.

Artikel ini ditulis oleh:

Kemendag Gandeng JICA Tingkatkan Ekspor 300 Persen

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) diharapkan bisa mendorong ekspor Indonesia, khususnya untuk mencapai peningkatan target sebesar 300 persen dalam lima tahun ke depan.

“Untuk meningkatkan kinerja ekspor sampai tiga kali lipat pada lima tahun ke depan, kita bisa memanfaatkan hasil-hasil kerja sama dengan JICA guna meningkatkan jejaring kemitraan,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Nus Nuzulia Ishak, di Jakarta, Rabu (25/2).

Nus menambahkan, hal tersebut sekaligus sebagai wujud komitmen antara pemerintah dan swasta dalam upaya peningkatan ekspor nasional.

Melalui Direktorat Jenderal PEN, Kemendag berkomitmen untuk menginisiasi dan memperkuat produk berdaya saing global bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam rangka peningkatan ekspor nonmigas.

Ditjen PEN-JICA melakukan proyek peningkatan layanan Ditjen PEN yang terbagi menjadi lima working groups dimana masing-masing memiliki tujuan yang saling berkaitan, antara lain peningkatan fungsi yang meliputi reformasi organisasi, informasi pasar, promosi ekspor, pengembangan produk, dan peningkatan jaringan/aliansi.

“Dengan adanya informasi pasar ekspor yang rinci, penguatan jaringan yang lebih luas, produk yang berkualitas dan promosi yang intensif, serta SDM ekspor yang profesional, maka aktivitas perdagangan internasional, khususnya ekspor, diharapkan akan meningkat sesuai dengan target yang diharapkan,” kata Nus.

Menurut Nus, ekspor diharapkan menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Itu sebabnya kebijakan dalam rangka peningkatan ekspor menjadi sangat strategis peranannya.

“Oleh karena itu, penguatan fungsi Ditjen PEN sebagai focal point peningkatan ekspor nasional sangat dibutuhkan guna memperkuat nilai kompetitif ekspor Indonesia,” ujar Nus.

Seminar ini bertujuan untuk menyampaikan hasil-hasil kerja sama dengan JICA selama lima tahun (Mei 2010-Mei 2015), serta sosialisasi layanan dan fasilitas yang dimiliki Ditjen PEN.

Bentuk kerja sama yang telah dilakukan antara lain dialog eksportir mengenai permasalahan yang dihadapi eksportir dan pelatihan bagi eksportir yang bertujuan meningkatkan kapasitas SDM dalam bersaing di pasar internasional.

JICA juga turut berperan dalam peningkatan informasi pasar sebagai hasil dari riset pasar, layanan Customer Services Centre (CSC) yang memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam memperoleh berbagai informasi perdagangan ekspor, serta membership services sebagai sarana pendukung layanan CSC berbasis online.

Selain itu, Design Partnership Program (DPP) berupa pengembangan database desainer, Design Facilitation Services (DFS), Designer Dispatch Service (DDS), dan seminar desain, yang bertujuan meningkatkan mutu desain produk UKM, mempromosikan desainer dan UKM, memenuhi kebutuhan UKM terhadap pengembangan produk berorientasi ekspor, serta memfasilitasi alih pengetahuan dari desainer yang berpengalaman kepada desainer lokal/daerah.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

BW Persoalkan Viktor, Kabareskrim: Sesuai UU Perwira Polisi Itu Penyidik

Jakarta, Aktual.co — Salah satu hasil rekomendasi dari Komisi Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menyebut penangkapan dan penahanan Wakil Ketua KPK non-aktif Bambang Widjojanto di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, maladministrasi.
Hal ini, lantaran salah satu perwira yang ikut mencokok Bambang adalah Kombes Pol Viktor E Simanjuntak. Dalam laporkan rekomendasi dari Ombudsman, Viktor merupakan anggota Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) yang dikomandoi oleh Komjen Budi Gunawan.
Menanggapi hal tersebut, Kabareskrim Polri, Budi Waseso pun dengan tegas membantah penangkapan terhadap tersangka kasus dugaan memerintahkan kesaksian palsu di bawah sumpah saat sidang sengketa Pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah di Mahkamah Konstitusi (MK) 2010 tak sesuai prosedur.
Menurut dia, bukanlah sebuah masalah untuk mengambil personel dari unsur mana saja dalam sebuah tim khusus.
“Kalau timsus itu bisa mengambil dari mana saja. Yang penting dia penyidik. Ada Skep penyidiknya, ada surat perintah penyidikannya surat perintah tugasnya. Itu yang penting,” kata Budi di Mabes Polri, Rabu (25/2).
Karenanya, jenderal bintang tiga ini membantah keikutsertaan Victor dalam tim khusus itu illegal.  “Legal dong, masak gak legal gimana?” Ujar Budi.
Jenderal bintang tiga itu mengaku siap bertanggungjawab perihal penunjukan Victor dalam tim tersebut. Dia siap bila persoalan itu ditindaklanjuti di Propam Polri.
“Iya dong, saya tanggungjawablah. Nantikan dilaporkan ke Div Propam. Nanti kan Divpropamkan menindaklanjuti ya. Tunggu sajalah,” ungkapnya.
Mantan Kapolda Gorontalo itu menambahkan, bahwa seorang perwira Polri itu sudah otomatis adalah seorang penyidik. “Polisi itu mau dimana saja kalau perwira itu penyidik, ada di undang-undangnya,” tegas Budi.
Sebelumnya, persoalan ini diungkap oleh Ketua Tim Kuasa Hukum BW Asfinawati. Dalam jumpa pers di gedung KPK, Asfina menegaskan, berdasarkan laporan rekomendasi dari Ombudsman RI diketahui Kombes Viktor E Simanjuntak adalah anggota Lemdikpol.
“Menarik, Viktor Simanjuntak adalah Pamen di Lemdikpol yang notabene bukan Bareskrim. Dan tahu sendiri Lemdikpol siapa kepalanya,” imbuhnya.
Asfina menduga ada hubungan terkait keberadaan Viktor Simanjuntak saat penangkapan BW berlangsung dengan penetapan tersangka Komjen BG. “Berarti ada hubungan erat antara Kepala Lemdikpol (Budi Gunawan) dan pamennya yang melakukan penangkapan kepada pak BW. Ini pelangaran serius,” tuntasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Bertemu Pras Kemarin, Djarot Bantah Bicarakan APBD

Jakarta, Aktual.co —Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saeful Yusuf seperti memang tak mau dikait-kaitkan mengenai perseteruan antara Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan DPRD DKI terkait APBD DKI. 
Saat ditanya mengenai pertemuan di ruangannya dengan Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi, Selasa (24/2) kemarin, Djarot berdalih pertemuan itu hanya membahas soal FKPP.
Sedangkan untuk urusan kisruh APBD DKI, Djarot secara diplomatis mengatakan menyerahkan pada proses yang berlaku. 
Kata dia, saat ini draf APBD DKI sedang di Kemendagri untuk dievaluasi. Sementara menanggapi rencana DPRD menggulirkan hak angket ke Ahok, Djarot tak mau ambil pusing.
“Ga ‘opo-opo’, hak angket jalan terus biarin aja” ujar dia enteng, di Balai Kota, Jakarta, Rabu (25/2).
Namun jika melihat pernyataan Pras kemarin yang ditemui sebelum bertemu Djarot, dia justru mengungkit soal kisruh APBD.
“Sampai sakit saya mikir soal ini (kisruh APBD). Saya manusia, ada batasnya juga,” ujar Pras, di Balai Kota, Selasa (24/2).
Meski mengaku bisa memahami dan setuju dengan niat Ahok melakukan transparansi APBD lewat e-Budgeting, Pras menyayangkan upaya itu tidak dibarengi dengan komunikasi yang baik. 
“Harusnya ada koordinasi komunikasi lah. Kan ada Musrembang segala, buat apa ada reses. Kita dibiayain negara loh,” keluh politisi PDI-P itu.
Akibatnya, seperti yang sekarang terjadi. Yakni semakin meruncingnya kisruh antara Pemprov DKI dan DPRD DKI. Saling tuding, perang pernyataan dan berujung pada digulirkannya hak angket oleh DPRD DKI terhadap Ahok.  

Artikel ini ditulis oleh:

Priyono Nilai Nasionalisasi Migas Urutan Terakhir

Jakarta, Aktual.co — Mantan Kepala BP Migas (saat ini SKK Migas) Raden Priyono angkat bicara terkait kontrak-kontrak blok migas asing yang akan segera habis. Ia menyebut bahwa perusahaan asing yang kontraknya akan habis dan tidak menunjukan aktifitas positif untuk untuk perpanjangan maka sudah sepatutnya diputus kontrak.

“Kalau habis dan tidak menunjukan suatu aktifitas yah diputus saja kontraknya. Diberikan kepada yang berminat, kemudian dilihat lagi yang berminat itu apakah memenuhi persyaratan secara finansial, masalah tenaga ahlinya, dan pengetahuan lapangannya,” kata Raden dalam acara diskusi di Unika Atma Jaya, Jakarta, Rabu (25/2).

Meski begitu, lelaki yang biasa di sapa Pri ini menyatakan ketidaksetujuannya jika kontrak blok migas yang habis tersebut diambil alih oleh pemerintah atau dinasionalisasi.

“Saya kira itu (Nasionalisasi) diurutan terakhir, karena tanpa nasionalisasi pun kita sebenarnya bisa mendapatkan banyak untuk negara. Karena kalau kita mau masuk globalisasi lalu kita bicara nasionalisasi saya rasa agak lucu. Ini mau kemana sih negara ini, kita mau mengakui adanya globalisasi atau kita mau sendirian dalam politik global energi,” ujar Pri.

Ia mencontohkan, sekelas negara adi daya seperti Amerika Serikat pun sangat membutuhkan keberadaan investor asing. Hal itu dilakukan guna menghindarkan negara dari resiko.

“Amerika saja, satu negara yang kapitalis mereka membutuhkan investasi asing. Apalagi kalau bicara migas, nilai investasinya bukan 1 miliar atau 10 milyar, tapi triliunan,” jelasnya.

Artinya bahwa, apakah nasional memiliki kapasitas seperti itu? “Satu triliun hilang dalam tujuh bulan misalnya, dan tidak ada barangnya kalau gagal. Oleh karena itu undang-undang migas itu mengatakan bahwa resiko itu tidak boleh ada di negara. Artinya jangan sampai juga asing itu bangkrut karena berinvestasi ke sesuatu yang beresiko tinggi. Untuk nasionalisasi enggalah, tapi memihak kepada kepentingan nasional itu wajib. Caranya aja yang di sesuaikan dengan jaman,” tukas dia.

Lebih lanjut, ketika dimintai pendapatnya terkait industri dan kinerja Kementerian ESDM dan Pertamina saat ini, Pri enggan berkomentar banyak.

“Terlalu prematur menguji satu kinerja migas dalam waktu 3-4 bulan ini. Kalau 6 bulan sampai 1 tahun baru bisalah,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Ruki Bingung Presiden Minta KPK Tak Hambat Program Pemerintah

Jakarta, Aktual.co — Pelaksana Tugas (Plt) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiqurrahman Ruki mengungkapkan jika dirinya tidak mengerti maksud beberapa poin pengarahan yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), terkait perbaikan hubungan antara KPK, Polri dan Kejaksaan Agung (Kejagung).
Salah satu pernyataan yang membuat dirinya sedikit kebingungan adalah, ketika Presiden menyatakan tidak akan intervensi apapun bentuk penegakan hukum yang dilakukan KPK. Namun, seketika itu pula Presiden menambahkan bahwa dia bisa saja melakukan intervensi jika sudah dalam keadaan mendesak.
“Saya nggak tahu yang dimaksud kepepet bagi seorang Presiden sehingga perlu mengintervensi penegakan hukum. Saya nggak tahu bagaimana prakteknya,” ujar Taufiqurrahman, saat jumpa pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu (25/2).
Bukan hanya itu, mantan Komisaris Utama Bank Jabar Banten (BJB) juga mempertanyakan saat Presiden melontarkan pernyataan yang meminta para penegak hukum mendorong kerja pemerintah, bukan malah menjadi penghambat.
Presiden mengatakan penegakan hukum jangan sampai menimbulkan rasa takut, menimbulkan para kepala daerah para pimpinan daerah menjadi ragu-ragu melangkah, sehingga penyerapan anggaran dan sebagainya kurang.
“Yang berikutnya Presiden mengatakan bahwa penegak hukum harus mendorong kerja pemerintah bukan malah menghambat. Saya agak angkat kepala juga,” terangnya.
Seperti diketahui, pagi tadi Presiden secara resmi mengundang seluruh pimpinan dari tiga lembaga penegak hukum di Indonesia untuk datang ke Istana Negara. Plt Kapolri Badrodin Haiti, lima Plt pimpinan KPK, dan Jaksa Agung HM Prasetyo, hadir memenuhi panggilan tersebut.
Ketiganya diminta untuk melaporkan langkah-langkah yang akan diambil dalam memperbaiki mensinergikan hubungan antar lembaga penegak hukum. Setelah ketiganya menjabarkan langkahnya masing-masing, giliran Presiden yang memberikan pengarahan.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain