16 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38451

Tim Independen Dianggap Coba Hancurkan Tatanan Bernegara

Jakarta, Aktual.co — Sekjen Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB), Bob Hasan mengatakan bahwa tim independen (Tim 9) yang dibentuk Presiden Joko Widodo untuk memberi masukan terkait polemik Polri dan KPK adalah ilegal.
Menurutnya, tim 9 hanya ‘numpang beken’ dengan memberikan rekomendasi kepada Presiden dan disampaikan ke media.
“Mereka takut nggak dikenal oleh masyarakat, makanya mereka selalu memberikan masukan kepada media bukan kepada Presiden,” kata Bob dalam rilis yang diterima Aktual.co, Jakarta, Rabu (18/2).
Sedangkan Watimpres saja, sambung Bob, yang sudah jelas-jelas ada SK dan dilantik di Istana Negara, pada saat memberikan nasehat dan pandangan langsung kepada Presiden, sama sekali tidak berkoar-koar ke media.
“Tim 9 adalah ilegal. Kami memandang tujuannya adalah menghancurkan konstitusi dan tatanan negara,” ujarnya.
Menurutnya, jika tim 9 terbukti ilegal dan mempunyai tujuan untuk menghancurkan NKRI, maka Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT) sesuai namanya akan menjadi garda terdepan untuk mengusir tim 9 ilegal itu.
“Mereka banyak ngomong ke media tapi tidak memiliki kapasitas yang jelas. Hal ini sangat mengacaukan tatanan negara dan memperkeruh keadaan yang sebenarnya sudah stabil dengan dikabulkannya gugatan praperadilan Komjen Budi Gunawan (BG),” tegasnya.
Sebab, Bob menambahkan, putusan pengadilan adalah putusan final dan pengadilan adalah tempat di mana rakyat mencari keadilan terakhir. “Tim 9 ilegal bilang tidak usah pedulikan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) dan BG tetap tidak boleh dilantik, ini kan percobaan penghancuran terhadap NKRI,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Fuad Amin Berencana Ajukan Praperadilan

Jakarta, Aktual.co — Kuasa hukum tersangka kasus dugaan suap jual beli pasokan gas alam untuk pembangkit listrik di Gresik dan Gili Timur, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Fuad Amin Imron (FAI), Firman Wijaya mengatakan bahwa kliennya ada rencana untuk mengajukan praperadilan.
Menurutnya dengan melihat hasil putusan hakim Sarpin Rizaldi pada praperadilan Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Budi Gunawan (BG) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bukan tidak mungkin pihaknya akan melakukan hal yang sama.
“Langkah praperadilan FAI terhadap KPK juga terbuka untuk dilakukan. Secara ‘legal technical’ konsekuensi logis putusan Sarpin,” papar Firman melalui pesan elektronik kepada wartawan, Rabu (17/2).
Selain itu, lanjutnya, dia menganggap selama belum ada proses pengujian terhadap putusan praperadilan tersebut masih ada
“Setiap distorsi kebenaran dalam proses hukum. Selama belum ada sistem yang nama  semacam hakim pemeriksa pendahuluan tahap prasidang (recthten commisaris),” jelasnya.
KPK menduga FAI telah melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari hasil suap yang didapat dari PT Media Karya Sentosa (PT MKS. Perusahaan tersebut merupakan penyalur gas hasil pembelian dari PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore untuk pembangkit listrik tenaga gas di Gili Timur Bangkalan dan Gresik.
KPK mentaksir nilai suap terkait kasus tersebut mencapai Rp200 miliar. Selain uang, terdapat beberap suap dalam bentuk barang yakni sepuluh mobil, dua unit ruko, enam unit rumah, dan satu unit apartemen. Lokasi sejumlah aset itu tersebar di Bangkalan, Surabaya, Bali, Jogjakarta, dan Jakarta.
Akibat perbuatannya, FAI disangkakan telah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 dan Pasal 3 ayat (1) UU Nomor 15 Tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 25 Tahun 2003 KUH Pidana.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Kisah Islam Mendidik bagi Anak: Seorang Sufi Jelaskan tentang Tuhan

Jakarta, Aktual.co —Malam ini, Aktual.co kembali membahas tentang kisah Islam yang bisa dibacakan orangtua kepada putra-putrinya bacaan menjelang tidur.  Kali ini cerita tentang perjalanan seorang Sufi yang menjelaskan Tuhan kepada muridnya. Berikut kisahnya.

Awal dari sebuah perjalanan. Seseorang bertanya kepada Yusuf bin al-Husain, “Apakah yang harus aku lakukan agar aku bisa dekat dengan Tuhan?”, tanyanya.

“Ceritakan rahasiamu kepada-Nya, dan jangan sampai ada seorang pun di dunia ini yang mengetahui rahasianya. Melalui hal itu, sebuah tali keimanan akan tumbuh kepada Sang Ilahi.

Orang itu melanjutkan pertanyaannya, “Hanya itukah yang akan membantuku dekat dengan-Nya?”

“Dirikan hubungan yang teguh di awal perjalanan spiritualmu. Beribadahlah. Memiliki niat yang kuat juga penting. Dan,  jika memungkinkan, nikmati kesunyian, itu akan lebih baik.” Jawab Al-Husain.

“Tetapi bagaimana aku mencapai tahap dimana aku bisa berkomunikasi dengan-Nya?” tanyanya kembali.

“Aku telah menjelaskan apa yang engkau butuhkan” kata Al-Husain. Tetapi Engkau ingin mencapai sebuah akhir sebelum Engkau memulainya, dan hal itu tidak mungkin.

Mencintai-Nya. Seorang pengembara tiba pada sebuah kampung dimana Abu Yazid al-Bisthami tinggal. Ia bertemu kepada Al-Bisthami kemudian bertanya kepadanya.

“Ajarkan aku cara yang paling cepat menuju Tuhan. ” Al-Bisthami menjawab: “Cintai Dia dengan seluruh kekuatanmu.”

“Itu sudah kulakukan”, seru pengembara tersebut. “Lalu kau perlu dicintai oleh orang lain.” Jawab Al-Bisthami.

“Tetapi mengapa?” tanyanya kembali.

“Karena Tuhan melihat hati setiap manusia. Ketika Ia mendatangimu, tentu saja Ia akan melihat cinta yang kau miliki kepadaNya dan Ia akan bahagia. Bagaimanapun, jika Ia juga menemukan namamu tertulis dengan penuh cinta dihati orang lain, Ia pasti akan jauh lebih memperhatikanmu.”

Menginginkan Jalan Pintas. “Mengapa engkau menghabiskan waktu kami dalam mencari Tuhan jika engkau begitu mengenal-Nya dengan baik?”, tanya para murid Hasan al-Bashri. “Engkau bisa langsung menjelaskan kepada kami seperti apa Dia.”

“Benar”, jawab Hasan Al-Bashri. Tetapi hal ini terjadi karena suatu hari ketika aku sedang berdiri di depan sebuah rawa-rawa, aku melihat ada seorang pria yang bersiap-siap untuk menyeberanginya. Aku berteriak, “Hati-hati disana, kau bisa terpeleset dibatunya dan Engkau akan basah kuyup!”

Pria itu menjawab, “Jika itu terjadi, hanya aku yang akan kotor. Jadi Hasan, jika kau terpeleset dan jatuh di jalanmu, seluruh muridmu akan ikut terpeleset dan jatuh bersamamu.”

“Pada saat itu aku mengerti bahwa Tuhan adalah suatu pencarian pribadi, setiap orang bertanggung jawab atas pencariannya. Seorang Master bisa berbagi pengalamannya, tetapi tidak pada hasilnya.”

Yusuf Bin al-Husain wafat tahun 304 H/916 M. Sementara itu, Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan al-Bisthami lahir di Bustham yang terletak di bagian Timur Laut Persia. Wafat sekitar tahun 261 H/874 M – 264 H/877 M.

Sedangkan, Hasan bin Abil Hasan Al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21 H/642 M. Ia adalah putra dari seorang budak yang ditangkap di Maisan, kemudian menjadi klien dari sekretaris Nabi Muhammad SAW, Zaid bin Tsabit.

Karena dibesarkan di Bashrah ia bisa bertemu dengan banyak sahabat Nabi. Hasan wafat di kota Bashrah pada tahun 110 H/728 M. Mereka semua adalah guru Sufi Agung yang memperkaya khazanah para pencari Tuhan.

Artikel ini ditulis oleh:

Presiden Tunjuk Plt, BW Keukeuh Masih Pimpinan KPK

Jakarta, Aktual.co — Bambang Wijojanto menegaskan bahwa dirinya saat ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sah. Hal itu karena dirinya belum menerima bentuk otentik Keputusan Presiden (Keppres) terkait pemberhentian sementara.
“Saya masih selaku Komisioner KPK, karena Kepres belum saya terima,” tegas Bambang di gedung KPK, Rabu (18/2).
Seperti diketahui, siang tadi Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memutuskan untuk memberhentikan sementara dua pimpinan KPK yang telah menyandang status tersangka yakni Bambang Wijojanto dan Abraham Samad.
Seketika itu pula Jokowi juga mengungkapkan dua orang Pelaksana Tugas (Plt) komisioner KPK, ditambah satu orang pengisi kursi pimpinan yang telah habis masa jabatannya, Busyro Muqodas. Ketiga nama tersebut adalah pakar hukum Universitas Indonesiat (UI) Indriyanto Seno Adji, Deputi Pencegahan KPK Johan Budi Sapto Pribowo serta Ketua KPK pertama Taufiqqurahman Ruki.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

BI: ULN Triwulan IV-2014 Turun USD1,1 Miliar

Jakarta, Aktual.co — Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan IV-2014 tercatat sebesar 292,6 miliar dolar AS, turun 0,4 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III-2014 sebesar 293,7 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, penurunan posisi ULN tersebut terutama dipengaruhi oleh menurunnya posisi ULN sektor publik, baik dalam bentuk pinjaman maupun kewajiban luar negeri lainnya, masing-masing sebesar 1,9 miliar dolar AS (-3,4 persen qtq) dan 1,7 miliar dolar AS (-23,1 persen qtq), serta menurunnya kepemilikan nonresiden atas surat utang yang diterbitkan oleh sektor swasta sebesar 1,1 miliar dolar AS (-3,5 persen qtq).

“Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) dan debt service ratio (DSR) mengalami penurunan masing-masing dari 33,3% dan 46,4% pada triwulan III-2014 menjadi 32,9 persen dan 46,2 persen pada triwulan IV-2014,” ujar Tirta di Jakarta, Rabu (18/2).

Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, posisi ULN meningkat 26,5 miliar dolar AS atau 9,9 persen dari posisi akhir 2013 sebesar 266,1 miliar dolar AS. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan pinjaman luar negeri baik sektor publik (5 persen) maupun sektor swasta 14,2 persen (yoy).

ULN sektor swasta memegang porsi terbesar ULN Indonesia. Posisi ULN Indonesia pada akhir triwulan IV-2014 terdiri dari ULN sektor publik sebesar 129,7 miliar dolar AS (44,3 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta 162,8 miliar dolar AS (55,7 persendari total ULN).

Posisi ULN sektor publik mengalami penurunan 2,4 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III-2014 sebesar 132,9 miliar dolar AS. Meskipun kepemilikan nonresiden atas surat utang yang diterbitkan oleh sektor swasta menurun, posisi ULN sektor swasta meningkat 1,3 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan sebelumnya sejalan dengan meningkatnya ULN swasta dalam bentuk pinjaman luar negeri.

Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN berjangka panjang (83,7 persen dari total ULN). ULN berjangka panjang pada akhir triwulan IV-2014 mencapai 245 miliar dolar AS, mengalami penurunan sebesar 0,5 miliar dolar AS atau -0,2 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III-2014 yang tercatat sebesar 245,4 miliar dolar AS.

Pada akhir triwulan IV-2014, ULN berjangka panjang sektor publik mencapai 126,1 miliar dolar AS atau 97,2 persen dari total ULN sektor publik dan ULN berjangka panjang sektor swasta tercatat sebesar 118,9 miliar dolar AS atau 73 persen dari total ULN swasta. Sementara itu, ULN berjangka pendek sebesar 47,6 miliar dolar AS (16,3 persen dari total ULN), mengalami penurunan 1,3 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III-2014 sebesar 48,2 miliar dolar AS.

Pada sektor swasta, posisi ULN pada akhir triwulan IV-2014 terutama terpusat pada sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, dan listrik, gas & air bersih. Posisi ULN keempat sektor tersebut masing-masing sebesar 47,5 miliar dolar AS (29,2 persen dari total ULN swasta), 32,6 miliar dolar AS (20 persen dari total ULN swasta), 26,5 miliar dolar AS (16,3 persen dari total ULN swasta), dan 18,5 miliar dolar AS (11,4 persen dari total ULN swasta).

Bila dibandingkan dengan triwulan III-2014, posisi ULN sektor keuangan dan sektor industri pengolahan masing-masing tumbuh 1,2 persen dan 1,1 persen, sementara ULN sektor pertambangan dan sektor listrik, gas & air bersih mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,4 persen dan 0,6 persen.

“Bank Indonesia memandang perkembangan ULN masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta,” kata Tirta.

Tirta menambahkan, hal tersebut dimaksudkan agar ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

DKI Dapat Tujuh Miliar, Sumbangan atau ‘Ngemis’?

Jakarta, Aktual.co —Tahir Foundation bersama enam perusahaan memberi dana hibah ke Pemprov DKI sebesar Rp7 miliar. Enam perusahaan lainnya yakni PT Intiland, PT Hanson International Tbk, Pulau Intan, Sioengs Group, Modern Group, dan PT SGB.
Dato Sri Tahir, pendiri Tahir Foundation, mengatakan tidak ada motif apapun di balik pemberian sumbangan yang rencananya akan digunakan untuk pembelian genset dan pompa air untuk tangani banjir di Ibu Kota.
Saat dikonfirmasi langsung, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengakui, awalnya Pemprov DKI memang sudah menghitung dulu kebutuhan dana penanggulangan banjir.
“PLN yang kasih tahu lewat konsultannya. Dikasih tahu butuh ini, butuh itu, maka dia keluar angka Rp7 miliar. Baru kita cari siapa yang mau nyumbang,” beber Ahok, di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (18/2).
Lalu bagaimana dengan Pemprov DKI yang terlanjur memasukkan pembelian genset dan pompa di APBD 2015? Ahok menjawab enteng, “Banyak, kan bisa dibuat beli pompa lagi, beli genset lagi, pompa mobile bisa.” 
Ahok mengaku tidak ingin sumbangan ini menimbulkan masalah di kemudian hari. Untuk itu dia meminta Tahir Foundation mentransfer langsung dana tersebut ke penyedia barang. Sehingga Pemprov DKI akan mencatat sebagai aset.
“Saya cuma kasih tahu rekening genset ini di mana kamu transfer, kabel di mana, kontraktor di mana,” ungkap dia.
Soal status sumbangan, Ahok hanya menyebut skema sumbangan tersebut berbentuk ‘corporate social responsibility’ atau tanggung jawab sosial perusahaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain