7 April 2026
Beranda blog Halaman 38675

Jenazah Kasih Rahmadani (7) yang meninggal karena dianiaya orangtuanya sendiri

Malang, Aktual.co — Entah apa yang ada di benak Deni (30), warga Jalan Lowokdoro Gang III, Kota Malang. Hanya gara-gara anaknya minta dibelikan es krim, ia tega menganiaya buah hatinya, Kasih Rahmadani (7) hingga tewas.

Sempat mengetahui Deni memukuli anaknya, Eko Hendro, paman korban mengingatkan agar tersangka tidak meneruskan perbuatannya.

“Saya bilang, jangan pukuli anaknya, kalau mukuli anakmu jangan disini,” kata Eko, Sabtu (21/2) malam di Malang, Jawa Timur.

Kasih meninggal setelah dipukul menggunakan bambu pada area belakang kepalanya, bahkan kedua tangan dan kakinya diketahui memar. Sebelum meninggal tersangka sempat bingung mencari pertolongan karena anaknya sudah tidak bergerak.

“Tadi sempat minta dipanggilkan neneknya, saya panggil neneknya, akhirnya korban dibawa ke rumah neneknya,” papar dia.

Eko menduga, korban sudah tidak bernyawa saat dalam perjalanan menuju rumah, neneknya, sebab, waktu tiba, Kasih sudah tidak bernyawa lagi. Saat ini, jenazah korban berada di kamar mayat Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang.

Sedangkan tersangka saat ini digelandang ke Polsek Sukun, Kota Malang, untuk menjalani pemeriksaan.
(Laporan Muchamad Nasrul Hamzah, Malang)

Artikel ini ditulis oleh:

Ekspatriat Bagi-Bagi Karangan Bunga di Lapas Kerobokan

Denpasar, Aktual.co —  Sejumlah ekspaktriat mendatangi Lapas Kelas IIA Kerobokan Denpasar, Sabtu (21/2). Mereka yang tergabung dalam organisasi Mother of Mercy datang ke Lapas Kerobokan sambil membawa sejumlah karangan bunga.

Sesampainya di lapas terbesar di Bali itu, mereka lantas membagikan karangan bunga itu kepada staf dan Kalapas Kerobokan. Anna Pierce, juru bicara Mother of Mercy menuturkan, aksi yang mereka galang sebagai bentuk ucapan terima kasih atas proses rehabilitasi terhadap sejumlah napi, termasuk Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

“Karangan bunga ini sebagai tanda terima kasih atas keberhasilan menjalankan program rehabilitasi kepada para napi, khususnya Andrew dan Myuran,” kata Anna, Sabtu (21/2)

Sayang mereka tak dapat bertemu langsung dengan Kalapas Kerobokan Sudjonggo. Mereka menyerahkan karangan bunga itu kepada petugas di pintu jaga untuk diberikan kepada kalapas. Setelah itu mereka membubarkan diri.

“Terima kasih kalapas sudah merehabilitasi semua, termasuk Andrew dan Myuran,” ujar Anna.
(Laporan Bobby Andalan, Bali)

Artikel ini ditulis oleh:

Aksi Bambang Widjojanto Kampanye Bersih KPK & Polri

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif Bambang Widjojanto saat turun ke jalan bersama ratusan akademisi dalam mendukung gerakan “Save KPK” di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (22/2/2015). Dalam aksinya Bambang juga mengecat pos polisi sebagai simbol KPK dan Polri yang bersih. AKTUAL/MUNZIR

Inilah Kampung Dimana Pria ‘Bebas’ Berpoligami (1)

Surabaya, Aktual.co — Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah suami yang beristri lebih dari satu di Kampung Wayu, Tanggulangin Sidoarjo mulai berkurang. Kendati demikian, fenomena itu masih tetap ada.
Keberadaan mereka yang beristri lebih dari satu  juga tidak banyak dilanda konflik. Ini bisa dibuktikan saat lebaran Idul Fitri.
“Kalau lebaran, biasanya kumpul. Ibu saya juga datang ke keluarga istri bapak saya yang pertama untuk silaturahmi.” Kata R, yang merupakan anak dari istri kedua dari seorang pria di kampung Wayu setelah menjanda dicerai suami pertama.
Bahkan, saat musim panen, baik keluarga istri pertama atau pun istri kedua, memetik hasil bersama-sama.
“Saya juga merasa nyaman jadi istri kedua. Dulu waktu saya jadi janda, susah sekali menghidupi dua anak. Setelah jadi istri kedua, ada perubahan yang lebih baik di rumah tangga kami,” Kata S, ibu kandung R.
Lantas, bagaimana dengan istri pertama? Awalnya memang merasa diduakan. Namun seiring berjalannya waktu, sang suami memang tidak melupakan istri pertama. Istri pertama dan istri kedua, sama-sama mendapat porsi yang sesuai kebutuhan dalam hal ekonomi.
Soal kunjungan, sang suami pun bisa membagi waktu, kapan bermalam di istri pertama, dan kapan di istri kedua.
“Soal warisan, saya juga tidak pernah tanya. Saya yakin kalau suami saya pasti bisa adil,” Kata J, yang menjadi istri pertama.
R dan S merupakan salah satu dari keluarga yang tinggal di Kampung Wayo.
Masih banyak keluarga-keluarga lain yang seperti R dan S.
Rata-rata kehidupan mereka memang cukup tentram. Sebab, yang bisa menikah dengan istri lebih dari satu, adalah para suami  yang berkehidupan sudah mapan.

Artikel ini ditulis oleh:

BMKG Imbau Transportasi Laut Natuna Hati-hati

Jakarta, Aktual.co — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Batam, Kepulauan Riau, mengimbau pengguna transportasi laut di perairan Natuna Kepri berhati-hati karena gelombang laut tinggi dan arus laut yang kuat pada Minggu (22/2).

“Diimbau untuk berhati-hati terhadap arus yang cukup kencang wilayah Perairan Natuna,” kata prakiraaan BMKG Batam Sabila Rahmabudi.

Untuk transportasi darat dan udara, menurut dia, masih kondusif. Cuaca di Wilayah Kepri sendiri diprakirakan berawan dan berpeluang terjadi hujan ringan yang bersifat lokal. Adanya pola belokan angin di wilayah Kepri mengakibatkan masa udara mengalami perlambatan yang berpotensi dalam pertumbuhan awan-awan. Prakiraan kelembapan udara yang relatif cukup tinggi juga mendukung proses pertumbuhan awan-awan konvektif.

Secara detail, BMKG memprakirakan cuaca wilayah Kota Batam, Minggu pagi hingga siang, berawan dan malam berawan hujan ringan. Kecepatan angin diprakirakan 5–38 kilometer per jam arah timur laut. Suhu udara di Batam antara 24 dan 31 derajat Celsius dengan kelembapan 63–93 persen, sedangkan gelombang laut di perairan Batam diperkirakan 0,8–2 meter.

Cuaca di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, Minggu pagi hingga malam, berawan. Kecepatan angin diprakirakan 5–36 kilometer per jam arah timur laut. Suhu udara Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan antara 23 dan 31 derajat Celsius dengan kelembapan 57–96 persen, sedangkan gelombang laut di perairan Pulau Bintan diperkirakan 1–2 meter.

Karimun pada Minggu pagi hingga malam berawan. Kecepatan angin mencapai 5–32 kilometer per jam arah timur laut. Suhu udara di Karimun antara 24 dan 31 derajat Celsius dengan kelembapan 61–87 persen, sedangkan gelombang laut di perairan Karimun diperkirakan 0,8–1,5 meter.

Cuaca di Lingga, Minggu pagi hingga malam, berawan. Kecepatan angin diprakirakan 5–32 kilometer per jam arah utara. Suhu udara di Lingga antara 24 dan 31 derajat Celsius dengan kelembapan 65–93 persen, sedangkan gelombang laut diperkirakan 1–2 meter.

Kabupaten Natuna, Minggu pagi hingga malam, berawan. Kecepatan angin diprakirakan lima sampai 40 kilometer per jam arah utara. Suhu udara di Natuna antara 24 dan 31 derajat Celsius dengan kelembapan 75–91 persen. Gelombang laut diperkirakan 1–2 meter.

Di Kabupaten Anambas, Minggu pagi hingga malam, berawan. Kecepatan angin diprakirakan 5–32 km per jam arah utara. Suhu udara Anambas antara 24 dan 30 derajat Celsius dengan kelembapan 70–92 persen, sedangkan gelombang diperkirakan 1–2 meter.

Artikel ini ditulis oleh:

Inilah Kampung Dimana Pria ‘Bebas’ Berpoligami (1)

Surabaya, Aktual.co — Sayup-sayup angin terasa begitu semilir. Suara desing motor yang bersahutan tak merubah kenyamanan kampung Wayo (poligami), Tanggulangin Sidoarjo, Jawa Timur.
Beberapa bangunan rumah dan pabrik permanen di dekat, sawah menandakan jika Kampung Wayo bukanlah area primitif, terisolasi dan sebaginya. Keberadaan beberapa UKM, justru menandakan masyarakat bisa berkembang.
Ya, jika melihat kampung Jalan Wayo,  tak jauh beda dengan perkampungan yang lain. Namun, ketika masuk lebih ke dalam dan berbaur dengan warga, ada yang unik dari bagian kampung yang memanjang itu.
Mayoritas kaum pria di situ, menikah lebih dari satu istri. Itu sebab, disebut kampung Wayo. Wayo berasal dari kata Wayuh. Dalam bahasa Jawa, Wayuh berarti menikah lebih dari satu.
Meski banyak yang menganggap faktor kebetulan, namun tentu saja bukan tanpa alasan disebut kampung Wayo. Padahal, nama asli kampung tersebut juga cukup keren, Jalan KH Ahmad Dahlan.
Seorang pamong desa yang keberatan,  sempat mencopot dan membakar papan nama bertuliskan “Jalan Wayu” yang terbuat dari kayu. Namun, warga kembali memasang dengan bahan dari seng agar lebih kuat.  Bulan berikutnya, pamong itu pun memilih pergi meninggalkan desa.
Ini bermula di era tahun 1980-an. Seorang tokoh desa memutuskan untuk menikah lebih dari satu istri. Langkah tokoh desa itu diikuti oleh seorang warga yang lain. Menikah lebih dari satu istri.
Jam berganti hari, bulan berganti tahun. Perlahan namun pasti, menikah lebih dari satu istri itu pun berkembang ke tetangga sekitar.
“Ada orang kalau cari alamat di sini, tanpa sengaja mengatakan kampung Wayo. Oh ini alamatnya di Kampung Wayo, di sana, Mas, Mbak,…” ujar warga, Didik, menirukan cerita-cerita terdahulu, Minggu (22/2).

Puluhan Kepala Rumah Tangga pun banyak yang  mempunyai lebih dari satu istri. Namun, hanya  dua  yang tercatat resmi.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain