2 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38730

Satu Jalur Mayjen Sutoyo Tergenang Air 20 Centimeter

Jakarta, Aktual.co —Hujan belum juga henti mengguyur kawasan UKI, Jakarta Timur, sejak dinihari tadi, Senin (9/2). Langit masih gelap dengan intensitas hujan cukup deras.
Pukul 09.14 Wib, dari pantauan Aktual.co, genangan setinggi sekitar 10-20 centimeter muncul di salah satu jalur di Mayjen Sutoyo dari arah Cililitan ke kawasan UKI, Jakarta Timur. Jika melihat derasnya hujan, ketinggian genangan bisa jadi akan bertambah tinggi.
Sebelumnya, dari informasi yang diterima, genangan juga terjadi di sejumlah titik di Jakarta.
Di Jakarta Pusat, genangan 30-40 cm muncul di jalur lambat depan C One Jl. Letjen Suprapto. Akibatnya, lalu lintas dialihkan ke jalur cepat. Genangan juga terjadi di Underpass Senen dan untuk sementara tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. 
Berikut titik-titik genangan di beberapa tempat lainnya di Jakarta :
– Banjir 20-30 cm di Jl. Bungur Besar 5;- Banjir 30-40 cm di Jl. Percetakan Negara Jakpus, kendaraan jenis sedan tidak bisa melintas;- Banjir 20-40 cm di depan Sarinah Jl. MH Thamrin, kendaraan jenis sedan tidak bisa melintas;- Banjir 20-40 cm di Jl. Merdeka Barat dan Jl. Majapahit, sementara lalin dialihkan;- Banjir 10-20 cm di depan Danarekasa Jl. Merdeka Selatan.
Jakarta Timur- Banjir 15 cm di depan Pasar Cakung;- Banjir 20-30 cm di dekat Gardu Tol Kebon Nanas Jl. DI Panjaitan Jaktim;- Banjir 20-30 cm di Jl. Cempaka Putih Tengah IX.
Jakarta Barat- Banjir 30-40 cm di dekat SPBU Kamal, kendaraan jenis sedan tidak bisa melintas;- Banjir 20-40 cm di Jl. Kota Bambu Utara 1;- Banjir 30-40 cm di Taman Ratu dan Cosmos;- Banjir 40-60 cm sepanjang 300 meter di Jl. Arjuna Selatan Jakbar, tidak bisa dilintasi semua jenis ranmor;- Banjir 20 cm di depan McD Green Garden Jl. Panjang Jakbar;- Banjir 20 cm di depan Trisakti Grogol;- Banjir 30-40 cm di Jl. Patra Raya Jakbar.
Jakarta Utara- Banjir 20-40 cm di Jl. Kapuk Raya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berkas APBD 2015 Ditolak Kemendagri, Ahok Salahkah DPRD

Jakarta, Aktual.co —Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tampak kesal, lantaran dokumen Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2015 yang sudah dikirim ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ternyata dikembalikan. Alasannya, struktur pengisian APBD dianggap tidak sesuai PP No 58 Tahun 2005. 
Bukan kesal ke Kemendagri yang belum mau sahkan APBD DKI, Ahok justru melayangkan kekesalan ke DPRD DKI. Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh ulah oknum DPRD yang juga menyodorkan APBD ‘versi’ mereka.
“Ini persoalan oknum DPRD ngomong atau kirim surat ke kemendagri bahwa yang dikirim dari kita nggak sah tapi harus dari mereka. Kita mau nggak versinya mereka lagi ditukar-tukar? Nggak fair kan,” ujar dia, di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (9/2).
Mantan Bupati Belitung Timur itu pun berharap Kemendagri mengikuti APBD ‘versi’ Pemprov DKI, dan bukannya versi DPRD DKI. “Kan sudah ketok palu. Kalau dari DPRD lagi nanti dia ganti-ganti lagi (APBD). Mau buka-bukaan nggak saya bilang,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Sidang Lanjutan Praperadilan BG Dijaga 500 Personil Kepolisian

Jakarta, Aktual.co — Sebanyak 500 personel gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan mengamankan sidang lanjutan Praperadilan yang diajukan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (9/2).
“Jumlah personel gabungan untuk pengamanan pada sidang lanjutan praperadilan terkait penetapan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai tersangka atas dugaan kasus suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu sama dengan pekan sebelumnya,” kata Kepala Polres Metro (Kapolrestro) Jakarta Selatan Komisaris Besar Polisi Wahyu Hadiningrat di Jakarta.
Pasukan pengamanan sidang praperadilan dari Brimob Polda Metro Jaya, Sabhara Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Selatan dan Brimob Mabes Polri, serta Pengamanan Dalam PN Jakarta Selatan.
Selain mengerahkan pasukan, Polda Metro Jaya juga menyiapkan kendaraan taktis seperti satu unit kendaraan water cannon dan tiga unit kendaraan barracuda.
Wahyu menuturkan rencananya ada enam kelompok massa yang akan hadir mendukung KPK dan Komjen Polisi BG pada sidang tersebut.
Wahyu menyatakan pihaknya telah mengantisipasi agar kedua kelompok itu tidak bentrok dengan membagi dua lokasi di sekitar PN Jakarta Selatan.
Berdasarkan rencana sidang praperadilan calon tunggal Kapolri Komjen Polisi itu dijadwalkan akan dimulai pukul 09.00 WIB.
Sidang dengan Nomor Perkara 04/pid/prap/2015/PN Jakarta Selatan itu akan dipimpinan hakim tunggal Sarpin Rizaldi.
Sebelumnya, KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi sehari menjelang pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan calon tunggal Kapolri di Komisi III DPR RI.
Jenderal polisi bintang tiga itu dipilih Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman.
Tidak terima dengan penetapan tersangka, tim pengacara Budi Gunawan mempraperadilankan keputusan KPK ke PN Jakarta Selatan dengan alasan KPK tidak berhak menangani kasus pejabat eselon II.
Tim pengacara Budi Gunawan juga menganggap KPK tidak melalui prosedur hukum yang benar dalam menetapkan tersangka tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Istana Kebanjiran, Ahok Gusar

Jakarta, Aktual.co —Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) bertanya-tanya mengapa kawasan Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat bisa ikut terendam banjir, dini hari tadi, Senin (9/2). Padahal kawasan itu harusnya ‘steril’ dari sentuhan genangan.
Ahok mengaku curiga, lantaran kondisi di beberapa pintu air seperti Pluit dan Manggarai dalam keadaan ‘aman’.
“Saya nggak tahu sabotase atau sengaja, saya nggak berani menduga. Tapi saya suudzon. Kamu hitung saja logika sekarang Pluit semua saluran begitu baik, Manggarai begitu rendah kita buka terus, Istiqlal kita buka mana mungkin banjir,” ujar dia, di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (9/2).
Bahkan, kata Ahok, saat dirinya mengecek kamera pemantau (CCTV) kawasan ring 1 yang terpasang di Pintu Air Masjid Istiqlal pukul 02.00Wib dini hari, ternyata terputus. “Ternyata CCTV Istiqlal mati. Saya curiga kerendam nih pasti Istana kerendam,” ujar Ahok.
Sambung Ahok, “Begitu lihat CCTV Istiqlal ‘connection lost’ saya sudah curiga. Ada apa tiba-tiba. Istiqlal itu harus selalu rendah posisinya, kalau dia mulai tinggi buangnya ke sini, ke Tangki, ke Gajah Mada-Hayam Wuruk. Gajah Mada-Hayam Wuruk begitu rendah airnya, pasar ikan begitu baik pompanya kenapa nggak mau ke situ.”
Sederhananya, ujar Ahok, tidak ada alasan kawasan Monas, Istana Merdeka dan sekitarnya bisa terendam banjir. “Saya mau dengar jawaban, nggak ada alasan Monas-Istana kerendam. Ini juga kerendam kan semalam, masuk ini. Makanya saya nggak tahu. Sama kayak kasus Sunter, dia bilang nggak sengaja.” 

Artikel ini ditulis oleh:

Ada Penambahan Materi Gugatan di Sidang Perdana, Ini Pembelaan Kubu KPK

Jakarta, Aktual.co — Kuasa hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Katrina M Girsang mengatakan, alasanya tak hadiri sidang perdana praperadilan karena materi gugatan yang dilakukan oleh kubu Komjen Budi Gunawan ada perubahan.
“Oh ada, ada penambahaan alasan permohonan. Kalau gak, ngapain dicabut (oleh kuasa hukum Budi Gunawan). Waktu itu kan sudah dicabut tapi dimasukan kembali,” ujar Katrina di Pengadilam Negeri Jakarta Selatan, Senin (9/2).
Katrina mengatakan, tim kuasa hukum Budi Gunawan menambahkan dua dalil dalam isi materi yang diajukan. Meski begitu, namun dirinya tak bisa memaparkan secara rinci materi penambahan tersebut.
“Ada penambahan beberapa poin, saya lupa poinnya, ada dua alasan di dua dalilnya. Bagaimanapun harus kami jawab kan tiap dalil. Alasan permohonan saja sih (yang ditambah),” tuturnya.
Saat ditanya terkait pernyataan kuasa hukum Budi Gunawan, Friedrich Yunadi yang mengatakan bahwa KPK telah berbohong terkait penambahan dan perubahan materi gugatan, Katrina hanya menyebutkan akan dibuktikan dalam pengadilan.
“Kita lihat, kita lihat nanti. Harusnya demikian (adanya penambahan),” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Lantik Eddi, Jonan Perlu Belajar dari Kasus BG

Jakarta, Aktual.co — Pengamat Politik Universitas Padjajaran Idil Akbar mengatakan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan perlu belajar dari kasus Budi Gunawan. Pasalnya Menhub telah melantik Eddi tersangka gratifikasi ponten UPTD terminal Purabaya Bungurasih tahun 2009 menjadi Direktur Angkutan Lalu Lintas Jalan.
“Belajar lah ya, harusnya pak Jonan ini belajar, dalam konteks presiden ketika ingin menunda melantik Budi Gunawan yang sebagai tersangka,” ujar Idil, Senin (9/2).
Idil mengatakan seharusnya dalam konteks ini Menhub Jonan bisa melihat bahwa kasus atau status tersangka secara hukum sudah tidak baik meskipun belum dinyatakan bersalah. Tetapi dalam arah menentukan penyidikan dan segala macamnya akan menjadi sulit ketika sudah menjadi seorang pejabat.
“Menurut saya ini menjadi kontra produktif nantinya buat dirinya sendiri (Jonan) maupun buat kementerian perhubungan dan bidang dimana dia ditempatkan,” katanya.
Seperti diketahui,  Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Eddi yang akan dilantik Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menjadi Direktur Angkutan Lalu Lintas Jalan ternyata tersangka kasus gratifikasi ponten UPTD Terminal Bungurasih pada tahun 2009.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain