2 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38752

Sejumlah Pekerja Indonesia Bikin “Ulah di Madinah

Jakarta, Aktual.co —Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dikabarkan terlibat tawuran dengan Pekerja asal Negara Mesir di Kota Madinah, Arab Saudi, beberapa waktu lalu. Untungnya tak ada korban yang meninggal dunia atas insiden tawuran tersebut. Tim KJRI Jeddah yang pada Jumat (6/2) melakukan pengecekan langsung ke Kota Madinah pun membenarkan peristiwa tersebut.

Tim mengaku tahu karena mendapat laporan dari BMI-Saudi Arabia pada Kamis malam. “Berdasarkan informasi yang didapat oleh Tim KJRI melalui Kantor Kepolisian Madinah, tidak didapati adanya korban meninggal dunia atas kejadian tawuran dimaksud. Namun kejadian tersebut mengakibatkan 5 orang PMI mengalami luka-luka,” kata Pelaksana Fungsi Pensosbud-KJRI Jeddah, Syarif Shahabudin dalam keterangannya diterima Tribun, Jumat malam.

Menurut Syarif, tawuran antara Pekerja Migran Indonesia dengan Pekerja Mesir yang bekerja untuk perusahaan Bin Laden, yang saat ini sedang menangani proyek perluasan area Masjid Nabawi terjadi pada jam istirahat. Tepatnya saat para pekerja akan kembali ke camp, pada Rabu, 4 Februari 2015 pukul 11.30 waktu setempat.

Bulan Ini, Terpidana Mati Australia Dieksekusi

Jakarta, Aktual.co —Kementerian Luar Negeri Indonesia telah mengkonfirmasi ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta bahwa Andrew Chan dan Myuran Sukumaran akan menghadapi regu tembak bulan Februari ini, seperti yang dikuti Tribunews.com.  Kedua terpidana mati asal Australia itu berada di Bali menunggu waktu eksekusi, karena sebelumnya pemimpin geng “Bali Nine” tersebut tertangkap tangan menyelundupkan heroin.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, mengatakan, kementeriannya menerima pemberitahuan dari kantor kejaksaan di Bali bahwa Chan dan Sukumaran akan menghadapi eksekusi pada bulan Februari.
Ia mengungkapkan, Kedutaan Besar Australia diiinformasikan perihal ini, tadi (5/2) malam. Namun, kantor Jaksa Agung, yang bertanggung jawab untuk mengatur eksekusi, belum memutuskan tanggal.

Sebelumnya, Jaksa Agung Indonesia mengungkapkan bahwa rencana untuk mengeksekusi dua terpidana mati itu, kemungkinan, menunggu hingga pengajuan grasi penyelundup narkoba asal Nigeria ditolak.

Sempat “Ngambek”, Duta Besar Belanda Kembali Lagi

Jakarta, Aktual.co —Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol telah kembali ke Indonesia setelah sempat ditarik pulang ke negaranya sebagai bentuk protes Kerajaan Belanda atas eksekusi mati terhadap seorang warganya bulan lalu. Negara lain yang juga menarik perwakilan diplomatiknya adalah Brasil. Hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai kapan atau apakah Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto Da Silveira Soares kembali ke Jakarta, seperti yang dikutip Tribunews.com.

Duta Besar Rob Swartbol mengatakan kepada BBC Indonesia ia senang bisa kembali ke Indonesia. “Saya kembali setelah berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri Belanda,” katanya. Swartpol ditarik pulang pasca-eksekusi terhadap warga negara Belanda Ang Kiem Soei bulan Januari lalu.

Sementara itu, harian Belanda Volkskrant mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders yang mengatakan Belanda tetap menentang hukuman mati. “Sekarang rencana eksekusi mati berikutnya telah diumumkan dan saya menilai sangat penting Duta Besar Belanda berada di Jakarta,” kata Koenders. Sejumlah media daring Belanda, diantaranya nltimes.nl melaporkan bahwa ada satu lagi warga negara Belanda yang telah divonis mati dalam kasus narkotika di Indonesia yaitu Siegfried Mets.

Sosok Tawanan ISIS Asal AS, Sang Humanis

Jakarta, Aktual.co — Serangan udara yang dilakukan oleh militer Yordania ke basis pertahananankelompok teroris yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), padaJumat (6/2) siang, dikabarkan menewaskan tawanan perempuan asal AmerikaSerikat. Informasi ini masih simpang siur, karena kabar kematian tawanan ituhanya dirilis oleh ISIS, seperti yang dikutip Kompas.com.

Dalam sebuah pernyataan di internet, ISIS mengatakan perempuan AS ituterkubur reruntuhan bangunan akibat serangan yang dilancarkan ke kota Raqa.ISIS hanya memperlihatkan sebuah gambar reruntuhan bangunan, tanpamemperlihatkan jenazah korban.

Mengutip Washington Post, Sabtu (7/2), perempuan AS yangditawan itu diidentifikasi oleh ISIS sebagai Kayla Jean Mueller. Perempuan asalPrescott, Arizona, itu merupakan pekerja kemanusiaan asal AS yang bekerja untuklembaga Support to Life dan masuk ke Suriah pada akhir 2012. Mueller diperkirakandiculik ISIS pada 4 Agustus 2013 di kota Aleppo, usai bekerja di sebuah rumahsakit yang dikelola lembaga Doctors Without Borders asal Spanyol.

 

Derita pengungsi

Sebuah media lokal di Arizona, Daily Courier, pernah menulis profilKayla Mueller. Ketika itu, perempuan berusia 26 tahun itu mengaku hatinuraninya makin tersentak dengan penderitaan masyarakat Suriah ketika menjadirelawan di kamp pengungsian warga Suriah di Turki.

Kayla mengenang hal yang menjadi titik balik dalam hidupnya berawal ketikamembantu seorang pria Suriah menemukan dua anak perempuannya yang berusia 6tahun di pengungsian tempatnya bekerja. Pria Suriah itu mengaku telahkehilangan istrinya yang tewas di Suriah, tapi dia belum juga bisa menemukananak laki-laki dan anak perempuannya yang berusia 11 tahun, yang masih hilangsaat berusaha kabur dari Suriah.

Beruntung, pria itu kemudian menemukan anak perempuannya yang berusia 11tahun itu, yang baru saja menyelesaikan operasi di sebuah rumah sakit di Turki.Tapi, pria Suriah itu tetap merindukan anak laki-lakinya. Kepada Kayla, priaitu pun memperlihatkan foto anak laki-lakinya yang hilang.

“Ini bukan kisah yang asing di Suriah. Ini adalah realita untukmasyarakat Suriah selama dua tahun terakhir,” ucap Mueller kepada DailyCourier, dalam sebuah acara amal saat pulang ke kampung halamannya diPrescott, Arizona pada 31 Mei 2013. “Saat para warga Suriah itu tahu sayaorang Amerika, mereka bertanya. ‘Di mana (tindakan) masyarakat dunia?’ Saat itusaya hanya bisa menangis, karena saya memang tidak tahu,” ucap KaylaMueller.

Kayla pun semakin larut dalam kesedihan yang dimiliki pengungsi Suriah,sehingga dia merasa yang dilakukannya tak pernah cukup. Setiap hari, Kaylamendengar cerita tentang anak-anak yang terluka akibat bom, perempuan yangdipaksa menikah di usia sangat muda, dan anak-anak yang dipaksa untuk salingbunuh oleh pihak yang bertempur. Anak-anak tentu saja juga tak bisa sekolahkarena tempat mereka belajar itu menjadi sasaran bom. “Selama saya hidup, saya tidak akan membiarkan penderitaan ini dianggapnormal, dianggap hal yang bisa kita terima,” ucap Kayla.

 

Fokuskan anak-anak

Karena sadar kemampuannya terbatas, Kayla Mueller pun membantu dari halterkecil yang bisa dilakukan. Misalnya, dia mengajak anak-anak untuk bersenang-senangdengan menggambar, melukis dan bermain. Salah satu kegiatan yang tidak akan dilupakannya adalah saat para bocahSuriah itu diminta untuk menggambar tempat yang dianggap paling nyaman, palingmenyenangkan, paling diinginkan. Ternyata, anak-anak itu mengaku menggambarrumah sendiri, rumah yang sudah ditinggalkan dan mungkin kini sudah rata dengantanah. “Mereka bercerita apa saja tentang rumahnya. Mereka bilang, ‘Ada pohondi depan rumah yang biasa dipanjat’. Atau, ‘Ada pintu berdecit karena tidak pernahdiperbaiki ayah’,” tuturnya.

 

Ironi

Mengutip Mashable, keluarga menyebut Kayla sudah mengabdikankehidupannya untuk membantu orang lain di negara mana pun yang membutuhkan.Karena itu ketika lulus dari Universitas Arizona pada tahun 2009, jenjang karirbukan dianggapnya sebagai pilihan hidup yang dipertimbangkan.

Bahkan, Kayla pernah membuat video yang diunggah di YouTube, sebagai bagiandari solidaritas media sosial dalam proyek bernama “Syria Sit In”.Dalam video yang diunggah pada 2 Oktober 2011 itu, Kayla mengutuk kekerasanyang terjadi di Suriah. Saat itu, Kayla juga terang-terangan menuduh PemerintahSuriah di bawah pimpinan Bashar al-Assad sebagai pihak yang paling bertanggungjawa.

“Saya dalam solidaritas dengan masyarakat Suriah. Saya menolak brutalitasdan pembunuhan yang dilakukan otoritas Suriah kepada rakyatnya,” ucapMueller dalam video itu. “Karena diam berarti ikut berpartisipasi dalamkejahatan itu, saya mendeklarasikan partisipasi saya dalam ‘Syrian Sit In’ diYouTube,” lanjutnya.

Ironisnya, nasib Kayla Mueller kini masih tidak jelas setelah ditawan olehISIS, kelompok yang juga memerangi Bashar al-Assad. Nasib Kayla belum diketahuisejak diculik ISIS di Aleppo pada 4 Agustus 2014. Pemerintah AS sendiri masihenggan memberikan komentar dan belum bisa memastikan tewasnya Kayla Mueller.

“Saya masih belum bisa memberikan konfirmasi apa pun. Saya tidak akanmemberikan informasi spesifik mengenai tawanan AS di luar negeri,” ujarjuru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Marie Harf.

Tali Eksekusi Saddam Hussein Ditawar Rp88 Miliar

Jakarta, Aktual.co —Sepotong tali yang digunakan untuk mengeksekusi mantan penguasa Irak, Saddam Hussein disiapkan untuk lelang dengan tawaran terbaru senilai US$ 7 juta, atau sekitar Rp 88,2 miliar. Pemilik tiang gantung tersebut saat ini adalah politisi Irak, Dr. Mawaffak al-Rubaie, yang memimpin ekseskusi mati Saddam Hussein.

Dilaporkan media Timur Tengah, Al-Araby al-Jadeed tali gantung yang meregang nyawa diktator Irak tersebut diminati oleh banyak kalangan, termasuk sebuah keluarga Israel papan atas, organisasi keagamaan di Iran dan dua pengusaha Kuwait. Meskipun demikian, media Timur Tengah lainnya, Middle East Eye, melaporkan bahwa Rubaie belum mau melepaskan tali gantung miliknya tersebut di harga US$ 7 juta.

Rubaie sendiri pernah mengalami siksaan dari pasukan bekerja untuk Saddam karena keyakinan politiknya. Rubaie percaya bahwa Saddam layak untuk dieksekusi mati. Dalam wawancara dengan media Inggris, The Independent pada tahun 2013 silam, Rubaie menyatakan bahwa dia tak memiliki perasaan apa pun kecuali rasa sakit hati ketika dia membawa Saddam menunju tiang gantungan.

“Saya berharap melihat dia menunjukkan rasa penyesalan atas kejahatan yang mengerikan, yaitu ratusan ribu warganya sendiri tewas ditangannya dan kaki tangannya. Namun, (rasa penyesalan) itu tidak ada,” kata Rubaie. Meskipun demikian, lelang tali gantung tersebut memicu kecaman dari berbagai kelompok hak asasi manusia. Seorang aktivis, Ahmeed Saheed, mengatakan kepada Al-Araby-Al-Jadeed bahwa hasil lelang tali gantung tersebut seharusnya diberikan kepada kas negara Irak.

Saddam Hussein, mantan Presiden Irak yang berkuasa selama lebih dari 23 tahun dimakzulkan dari kekuasaannya oleh invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada tahun 2003. Tercatat, sebanyak 206 ribu orang tewas sejak invasi AS pada tahun 2003. Saddam dianggap bertanggung jawab terhadap kematian ratusan ribu orang, sebagian besar merupakan etnis Kurdi dan penganut Syiah, yang memiliki pandangan politik dan agama yang berbeda dengan sang diktator.

Saddam dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Pengadilan Khusus Irak pada tahun 2004, meskipun banyak kelompok hak asasi, termasuk Amnesty Internationa, menyakini bahwa persidangan dilakukan dengan tidak adil. Irak saat ini masih dibekap peperangan kelompok militan, utamanya dari ISIS, yang telah menguasai wilayah utara dan barat Irak. Akhir Januari lalu, ISIS dilaporkan menyerang kota Kirkuk yang merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Irak.

Inilah Penyebab Jatuhnya Pesawat TransAsia

Jakarta, Aktual.co —Para penyidik kecelakaan dari kasus TransAsia Airways yang jatuh ke sebuah sungai di Taipei, Taiwan, dan menewaskan 35 penumpang mengatakan, kegagalan mesin merupakan penyebab utama tragedi tersebut., seperti yang dikutip Kompas.com. Berdasarkan temuan awal dari kotak hitam, satu mesin pesawat ATR 72-600 itu gagal bekerja tak lama setelah lepas landas, dan kemungkinan besar pilot tanpa sengaja mematikan mesin lainnya.

Badan Penerbangan Sipil (CAA) juga mengungkapkan bahwa TransAsia Airways gagal memenuhi sepertiga persyaratan yang dibebankan CAA setelah kecelakaan tujuh bulan lalu di kepulauan Penghu, wilayah barat Taiwan. Rabu lalu, pesawat ATR 72-600 buatan Perancis yang dilengkapi mesin turboprop Pratt & Whitney jatuh ke sebuah sungai setelah sebelumnya menabrak sebuah jalan layang.

Dewan Keselamatan Penerbangan Taiwan mengatakan, mesin kanan pesawat itu gagal bekerja sekitar dua menit setelah lepas landas dari sebuah bandara di wilayah utara Taiwan. Lampu tanda bahaya menyala di dalam kokpit, dan mesin sebelah kiri kemudian dimatikan secara manual oleh kru pesawat karena sebab yang belum diketahui. Demikian disampaikan Direktur Dewan Keselamatan Penerbangan Taiwan Thomas Wang.

“Pilot mencoba untuk menyalakan ulang mesin, tetapi gagal. Artinya, di saat-saat terakhir penerbangan, tak satu pun mesin bekerja. Kami mendengar panggilan ‘mayday’ pada pukul 10.54.35,” ujar Thomas. Thomas melanjutkan, sejauh ini belum diketahui mengapa pilot secara manual mematikan mesin sebelah kiri. “Kami belum mengambil kesimpulan apa pun,” kata dia.

Namun, sejumlah analis penerbangan menduga, pilot telah melakukan sebuah kesalahan, yang bisa jadi dilakukan tanpa sengaja. “Tampanya mereka mematikan mesin yang salah. Mesin sebelah kanan mati, tetapi hal itu belum cukup untuk membuat pesawat itu jatuh karena ATR dirancang untuk tetap terbang sekalipun dengan satu mesin,” kata Greg Waldron, redaktur pelaksana majalah penerbangan Flightglobal yang berbasis di Singapura.

Hipotesis semacam ini mengingatkan pada kecelakaan sebuah Boeing 737-400 milik maskapai British Midland pada 1989. Pesawat itu jatuh di sebuah jalur tol di wilayah tengah Inggris ketika pilot mematikan mesin yang masih berfungsi, dan bukan mematikan mesin yang rusak.

Akibatnya, 47 orang tewas. Seorang analis penerbangan yang berbasis di Jakarta, Gerry Soejatman, mengatakan bahwa tragedi di Taiwan bisa jadi merupakan akibat sebuah kesalahan yang tak disengaja. “Kemungkinan, layout instrumen mesin (yang berbeda dibanding dengan versi ATR 72 yang lebih tua) bisa menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan,” ujar Gerry.

Berita Lain