15 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38819

Ada Upaya Jauhkan Presiden Jokowi dengan Rakyat dan Partai

Jakarta, Aktual.co —  Politisi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu menilai ada upaya untuk memperkeruh suasana pemerintahan. Kisruh KPK-Polri, menurutnya, hanya bagian dari upaya untuk melemahkan Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Negara.
“Kita tahu ada upaya sistematis untuk menjauhkan pak Jokowi dari parpol, Ibu Mega, pendukungnya, dan rakyat,” kata Masinton, di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2).
Buktinya apa? Masinton menjelaskan isu-isu tentang Presiden Jokowi ‘diperintah’ Megawati, Jokowi hanya petugas partai, serta dianggap tidak tegas atas KPK-Polri yang berseteru sudah cukup menjadi indikator untuk merusak pemerintahan Jokowi.
“Ini upaya sistematis yang mencoba menjauhkan Jokowi dengan rakyat yang ujungnya akan meruntuhkan legitimasi Presiden,” ungkap Masinton yang juga anggota DPR Komisi III tersebut.
Namun demikian, Masinton enggan menyebut kekuatan yang dianggapnya ingin menjatuhkan Presiden tersebut. Masinton menegaskan, PDIP tanpa diminta pun akan terus mengawal pemerintahan Presiden Jokowi-JK, sebagai partai pengusung Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu.

Artikel ini ditulis oleh:

Rumor Jokowi Buat Partai Baru?, Politisi PDIP: Itu Tidak Betul

Jakarta, Aktual.co — Politisi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu menepis isu publik yang menyebut, bahwa partai pendukung Presiden Joko Widodo sangat mengintervensi setiap kebijakan. Bahkan, dia juga menyampaikan dengan tegas, bahwa tidak benar, bila ada rumor yang menyebut, Jokowi akan keluar dari partai dan membuat partai baru.
“Kalau ditanyakan partai-partai pendukung menekan Jokowi, saya katakan kalau itu tidak betul. Kita yakin bahwa antara partai dengan Presiden hubungannya baik, tidak ada saling tekan, justru saling sinergi. Jadi dalam konteks penekanan itu tidak ada,” kata Masinton di Jakarta, Sabtu (7/2).
Ia kembali menerangkan, dalam komunikasi antara partai pendukung dengan Presiden sudah sepatutnya komunikasi itu harus berjalan lancar. Pasalnya, Presiden juga harus didukung oleh partai-partai.
“Agar partai juga mengerti apa yang menjadi program prioritas Jokowi dalam waktu dekat. Nah, jadi dalam konteks penekanan itu tidak ada. Seperti yang dikabarkan selama ini diramaikan bahwa Presiden merasa tertekanlah atau apa itu tidak benar,” ungkapnya. 
Menurutnya, partai-partai semua mengerti, bahwa Jokowi sekarang bukan lagi calon Presiden melainkan sudah menjadi Presiden Republik Indonesia.
“Kan gini, Jokowi itu kan kader partai yang saat ini telah menjadi kepala negara. Fokus kerja pak Jokowi saat ini adalah membenahi negara dan pemerintahan, jadi tidak ada setir menyetir. Coba kita lihat kronologi dari masanya dia menjadi Wali Kota Solo, menjadi Gubernur DKI Jakarta, tidak ada tekanan disitu, tidak ada titipan-titipan disitu, pure pak Jokowi menjalankan nawacitanya dalam pemerintahan lima tahun ke depan dan bekerja dalam konteks ideologi nasional PDIP yang juga menjadi ideologi bangsa ini,” jelasnya menutup pembicaraan. 

Artikel ini ditulis oleh:

Dinilai Ajarkan Sesat, Kampus Agama Islam di Surabaya Diprotes Warga

Surabaya, Aktual.co —  Lebih dari 300  warga di Sidotopo Surabaya,  mengepung dan melakukan protes terhadap Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ali Bin Abi Tholib  di Jalan Sidotopo Kidul 51 Surabaya.
Aksi yang dilakukan warga tersebut, lantaran resah dengan pelajaran STAI yang diduga sesat. Dari pantuan Aktual.co, sejak pagi hingga siang warga masih  berkumpul di depan sekitar kampus. 
Selain melakukan orasi, mereka juga membentangkan  spanduk ukuran besar yang bertuliskan, ” Warga Bersepakat Atas Segala Pemberhentian Aktivitas STAI Ali ibn Abi Tholib”.
Bahkan, warga juga memblokade  Jalan Sidotopo Kidul. Puluhan polisi pun dikerahkan untuk menjaga kampus tersebut.
Aksi warga ini dipicu setelah adanya buletin Al-Iman edisi 205 yang sebelumnya dibagikan oleh Mahasiswa STAI. Dalam edaran buletin tersebut berjudul, “Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad?”. 
Dan, salah satunya ada seruan, merayakan Maulid Nabi dan merupakan sarana yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan syirik, karena acara tersebut terdapat pujian yang berlebihan kepada Rasulullah SAW. 
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini sedang berlangsung pertemuan tertutup, antara tokoh di Sitotopo, dengan pihak kampus yang difasilitasi anggota Polisi dan Koramil setempat.

Artikel ini ditulis oleh:

Budaya Merupakan Pembentuk Karakter Bangsa

Jakarta, Aktual.co — Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Dr Sinyo Harry Sarundajang mengatakan budaya merupakan salah satu pembentuk karakter bangsa, karena tanpa budaya kita tidak akan mampu membangun kehidupan sosial masyarakat yang harmonis.
“Pentingnya budaya ini, disampaikan Gubernur Sarundajang pada acara ritual adat Manduru `U Tonna 2015′ di lapangan Sangkudiman Melonguane Kabupaten Kepulauan Talaud (5/2),” kata Kabag Humas Setda Provinsi Sulut Jahja Rondonuwu di Manado, Sabtu (7/2).
Sarundajang mengatakan nilai-nilai spiritual dan kultural yang senantiasa menghiasi budaya masyarakat, merupakan faktor penting untuk merekatkan pluralitas.
Patut bersyukur, kata Sarundajang karena Kabupaten Kepulauan Talaud dianugerahi kekayaan pranata budaya yang menghiasi diantaranya ritual adat manduru`u tonna.
Nuansa religius dan kultural yang nampak pada acara ini, menurut Sarundajang adalah merupakan representasi dari keseharian hidup masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud yang senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan merindukan suasana damai dalam memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Dalam acara ritual adat mandulu�u tonna didahului dengan dialog adat oleh pentua-pentua adat dengan semangat Suirenhe wurru su waidde yakni dengan sehati sepikir mengetengahkan hal-hal mengenai persiapan upacara mandulugu tonna.
Kemudian dilanjutkan dengan ritual adat permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dipimpin oleh pentua adat, tujuannya adalah untuk menaikkan syukur atas penyertaan Tuhan ditahun yang lama dan memanjatkan doa meminta perlindungan di tahun baru.
Acara tersebut diakhiri dengan acara pagelaran seni tari Salaing u Ampania dan tarian masal yang diikuti oleh Gubernur dan Forkompimda Sulut didampingi oleh Bupati Kabupaten Kepulauan dan pejabat daerah serta seluruh masyarakat. 
Pada kesempatan itu, Gubernur Sarundajang menyarahkan bantuan satu unit roda dua untuk pengelola program Taman Bacaan (TB), insektisida 10 liter dan larvasida 10 kg untuk pemberantasan demam berdarah, lima ton beras dan penyerahan lokasi untuk program pemberdayaan komunitas adat terpencil untuk 62 KK dengan total anggaran sebesar Rp1,71 miliar.

Artikel ini ditulis oleh:

Seniman Indonesia ‘Serang Balik’ Kolonialisasi Lewat Karya Seni

Jakarta, Aktual.co — Seniman Heri Dono yang akan mewakili Indonesia di La Biennale, Venesia, Italia berupaya “menyerang balik” sudut pandang kolonialisasi Eropa atas sejumlah Negara Timur termasuk Indonesia lewat karya seninya bertema Voyage.
“Voyage ini adalah ‘serangan balik’ dengan Timur itu tidak hanya menjadi objek tetapi juga subjek yang punya suara penting dalam percaturan global di masa lalu,” kata Heri di Jakarta Pusat, Sabtu (7/2).
Karya seninya itu sendiri akan dipamerkan pada 9 Mei-22 November 2015.
Menilsik lokasinya di Venesia membuat isi dari instalasi seni itu akan langsung disaksikan oleh para peminat seni dan pengunjung pameran yang berasal dari seluruh dunia, terutama dari Eropa.
La Biennale itu sendiri menjadi salah satu ajang pameran seni kontemporer tertinggi di dunia sehingga Heri menganggap ajang itu sangat penting. “Saya tidak menyangka pada 1991 menjadi pengunjung dan kini menjadi orang yang memamerkan karya,” katanya.
Pameran itu, kata Heri, tidak hanya menyajikan artistik saja tetapi ada pesan terkait sudut pandang orang Timur yang dijajah oleh orang Eropa. Pesan disampaikan secara halus dan tidak menyinggung secara frontal tapi tetap mengena.
Salah satu instalasi yang ada adalah teleskop. Teropong jarak jauh saat diintip oleh para pengunjung maka akan menyajikan material-material kolonialisasi seperti rambut palsu yang biasa dipakai oleh hakim di Eropa.
Terdapat juga periskop tentang masa lalu yang di dalamnya ada simbol-simbol penjajahan seperti rempah-rempah dan VOC.
“Pengunjung dapat mengetahui bagaimana kita sebagai orang jajahan melihat negara penjajah di masa lalu,” kata dia.
Melalui Voyage itu, Heri beserta tim juga akan menghadirkan instalasi Trojan Komodo (Trikomod) yang mengajak untuk memikirkan ulang tentang hubungan antara globalisasi dan budaya lokal.
“Nantinya Trikomod itu akan memiliki bentuk futuristik, jadilah perpaduan masa lalu dan terkini. Komodo sendiri adalah hewan purba yang disebut sebagai ‘the last dragon’ (naga terakhir). Sementara Trojan itu terkenal dengan serangan perang yang dimulai secara diam-diam tapi efeknya besar,” kata dia.
Lewat Voyage, Heri mencatat pergerakan dan tanda-tanda yang ditemui sepanjang sejarah peradaban manusia dan bagaimana mereka mempengaruhi orang-orang di sebuah kawasan kepulauan di garis katulistiwa yang kemudian menjadi Indonesia.
Dalam prosesnya, Voyage memerlukan waktu dua bulan dalam penggodokan ide termasuk riset. Pada pekan depan, dikatakan Heri apabila pengerjaan seluruh instalasi pameran itu akan rampung 90 persen.

Artikel ini ditulis oleh:

Mahasiswa Dorong Pemugaran Tapak Kaki ‘Raksasa’ di Desa Bukit Patupangan

Medan, Aktual.co —  Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara memang kaya akan aset sejarah dan kebudayaan, utamanya sejarah dan kebudayaan Islam.
Namun sayang, masih banyak aset sejarah dan budaya yang masih terkesan terbengkalai dan tidak terawat sama sekali di Kecamatan yang diprediksi sebagai awal masuknya ajaran Islam ke Nusantara itu. Salah satunya, tapak kaki berukuran raksasa yang berada di Desa Bukit Patupangan.
“Lokasinya dekat pemukiman warga, selama ini dijadikan sebagai sumber air bagi warga sekitar, karena airnya jernih,” ujar Ketua Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) STKIP Barus, Oka Andika kepada Aktual.co di Pandan, Tapteng, Jumat (6/2).
Tapak kaki berukuran panjang dua meter dan lebar satu meter dan berbentuk kaki sebelah kiri itu, kata Oka, selama ini tidak terawat, penuh rumput dan dibiarkan begitu saja.
“Bentuk sumurnya sudah seperti tapak kaki, dan kalau dilihat ke dasarnya, sangat jelas bahwa itu adalah tapak kaki, jari-jarinya juga jelas. Sayang selama ini tidak diperdulikan dan dibiarkan begitu saja,” tutur Oka.
Sementara itu, Poppy Tanjung, Bendahara Mapala STKIP menambahkan sejumlah spekulasi soal tapak itu bermunculan. Diantaranya, tapak kaki itu diduga berkaitan erat dengan tapak kaki yang berada di Aceh Selatan Provinsi Aceh, yang kini menjadi objek wisata bernama Tapak Tuan.
“Dugaan yang di Aceh (Tapak Tuan) itu tapak sebelah kanan, dan yang di Barus itu sebelah kiri,” ungkapnya.
Spekulasi lain, lanjut Poppy, yakni penuturan warga sekitar yang mengaku pernah bermimpi tentang sumur itu, dan bertemu dengan seorang perempuan berukuran raksasa. “Kalau menurut masyarakat sih, perempuan, berdasarkan mimpi,” kata dia.
Ditambahkan Poppy, pihaknya dari Mapala STKIP saat ini tengah berupaya menyelamatkan aset budaya itu. Salah satunya, meminta agar Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah bersedia melakukan pemugaran.
Pemugaran itu, lanjut Poppy, selain sebagai upaya penyelamatan aset budaya, tentunya akan menambah khasanah wisata di Kecamatan Barus Kabupaten Tapteng.
“Rencana mau mengajukan ke Bupati agar tapak itu dipugar, dan digali serajahnya, karena ini kan aset budaya, lalu dibuat keterangannya. Ini kita lakukan supaya lestari, turun temurun, agar dapat menjadi aset sejarah, karena barus ini kan memang kaya dengan sejarah peradaban,” tandas Poppy.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain