10 Mei 2026
Beranda blog Halaman 38868

CNN: ISIS Rekrut Perempuan dengan Anak Kucing

Jakarta, Aktual.co — Kelompok militan Islamic State (ISIS) mempunyai cara tersendiri untuk merekrut perempuan sebagai anggota mereka. Anak kucing disebut-sebut menjadi penarik bagi perempuan.CNN menjelaskan, di saat janji pembentukan kekhalifahan di seluruh Timur Tengah tidak terlalu menarik perhatian, ISIS memiliki cara lain. Mereka menggunakan, anak kucing, nutella bahkan emoji. “Hal-hal tersebut yang digunakan oleh ISIS menjaring perempuan untuk direkrut,” klaim CNN, Kamis (19/2).
 
Menurut CNN, ISIS ingin perempuan di negara Barat yang berkeinginan bergabung, yakin bahwa hidup di bawah kepemimpinan mereka tidak jauh berbeda dari Barat. “ISIS membicarakan mengenai setoples Nuttela, foto anak kucing dan emoji di internet,” sebut presenter CNN, Carol Costello. “Tiga hal ini adalah bagian dari ISIS untuk merekrut lebih banyak warga Barat. Mereka ingin semua orang berpikir, ISIS makan Nutella dan memiliki hewan peliharaan,” imbuh Costello.
 
Ucapan Costello hanya ditanggapi dengan keterpanaan oleh pengamat City College New York Profesor Nimmi Gowrinathan.  Menurutnya, rekrutan perempuan dari ISIS bukan memperjuangkan hak perempuan, melainkan perlawanan politik yang lebih dalam dari yang beredar di media sosial dan itu yang membuat perempuan tertarik ISIS.

ISIS Berencana Invasi Eropa

Jakarta, Aktual.co —Kelompok militan ISIS berencana untuk memasuki Eropa melalui Libya, dengan menyebrangi Laut Mediterania dan menyamar sebagai imigran ilegal. Rencana ini terungkap dalam sejumlah surat yang ditemukan oleh organisasi think tank anti-terorisme asal Inggris, Quillum, Rabu (18/2).

Dilaporkan Russia Today, lokasi Libya, yang dipisahkan oleh Laut Mediterania dengan Italia dan Yunani, berada di ambang benua Eropa, menjadikan negara ini sebagai gerbang yang pas bagi para militan untuk memasuki Eropa. Rencana ini menguraikan strategi melintasi Laut Mediterania dari Libya ke Eropa selatan secara ilegal dengan kapal feri, menuju pulau pelabuhan paling selatan Italia, Lampedusa, yang berjarak kurang dari 483km.

“Libya memiliki pantai yang panjang dan berdekatan dengan negara-negara Tentara Salib selatan, yang dapat dicapai dengan mudah bahkan oleh perahu sederhana,” bunyi surat propaganda ISIS yang dilihat Quillum, dikutip dari Russia Today, Rabu (18/2). Informasi tersebut berasal dari seorang pendukung ISIS bernama Abu Ibrahim al-Libim, yang diyakini bertugas sebagai perekrut ISIS secara daring untuk wilayah Libya.

Russia Today belum dapat mengkonfirmasi identitas Libim, namun para analis yakin Libim merupakan inspirator besar bagi para pejuang ISIS. “Twitter telah menutup akun resmi Libim beberapa kali. Namun, setiap kali dia mulai membuat akun yang baru, dia memiliki ribuan pengikut dengan sangat cepat. Ini merupakan ciri khas dari suatu pengaruh afiliasi ISIS,” kata Charlie Winter, peneliti dari Quillam Foundation.

Rencana yang diungkapkan Libim juga menyebutkan aksi penyamaran para anggota militan sebagai imigran ilegal. Setelah sampai di Eropa, diperkirakan para militan akan memulai serangan besar-besaran di Eropa selatan, dengan tujuan utama membuat kekacauan dan menyebabkan pertumpahan darah.

Anggota ISIS di Irak dan Suriah juga diperkirakan akan membantu militan dari Libya untuk meluncurkan serangan ini. “Kami akan menaklukkan Roma,” kata Libim dalam sebuah video pada Minggu (15/2) yang menggambarkan pemenggalan 21 warga Mesir penganut Kristen Koptik. Video tersebut menyebabkan Mesir menggempur markas ISIS di Irak dan Suriah.

Libim juga menjelaskan bahwa Libya memiliki “potensi yang besar” untuk kelompok teroris, merujuk kepada barang rampasan perang, seperti amunisi dan bahan bakar minyak, sisa dari perang yang kerap berkecamuk setelah penggulingan Muammar Gaddafi pada tahun 2011.Libim menjelaskan bahwa ISIS dapat memanfaatkan fakta bahwa imigran ilegal sangat besar jumlahnya di Italia.

“Jika (fakta) ini dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara strategis, kekacauan bisa ditempa di negara-negara Eropa selatan, dan bahkan, bisa menutup pelayaran dan menargetkan kapal Crusader dan tanker,” kata Libim dalam surat tersebut. Video dan surat-surat Libim ditemukan tak lama setelah negara-negara Barat menyatakan kekhawatiran terhadap masalah keamanan di Libya. Sistem keamanan di Libya sangat rendah dengan berbagai faksi dan kelompok jihad berlomba-lomba untuk menguasai negara yang kaya minyak ini dan berencana menyebrang ke Eropa.

Kelompok militan ISIS merilis sebuah video yang memperlihatkan eksekusi pemenggalan kepala 21 warga Kristen Koptik Mesir yang ditangkap di Libya. Russia Today mencatat, terdapat sekitar 2.000 imigran ilegal di Italia yang berhasil diselamatkan dari Laut Mediterania pada akhir pekan ini. “Imigran yang mengungsi dengan perahu mencoba untuk menyeberangi (Laut) Mediterania. Dalam beberapa minggu ke depan, jika kita tidak bertindak bersama-sama, kapal mereka akan dipenuhi teroris juga,” kata Duta Besar Mesir untuk London, Nasser Kamel.

Serupa dengan pernyataan Kamel, pemerintah Italia juga merilis pernyataan terkait kemungkinan besar militan Libya yang bergabung dengan ISIS menyebrang ke negara itu. Pada hari Rabu (18/2), Menteri Luar Negeri Italia, Paolo Gentiloni menyatakan imigran ilegal dari Libya adalah “risiko yang besar”, dan menyerukan “bantuan dari masyarakat internasional”.

Dilaporkan CNN, ISIS pertama kali mengumumkan keberadaan mereka di Libya pada bulan Oktober lalu. Sebuah video amatir memperlihatkan sejumlah militan berpakaian serba hitam berada di Derna, dan berafiliasi dengan Dewan Syura untuk Pemuda Islam. Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi memproklamirkan tiga provinsi di Libya, yaitu Provinsi Barqa (di timur), Tripolitania (barat) dan Fezzan (selatan) sebagai bagian dari “kekhalifahan”.

Sejak itu, ISIS kerap meningkatkan kehadirannya di Libya. “Dalam hal demografi, simpatisan ISIS di Libya mempunyai banyak kesamaan dengan ISIS di Irak dan Suriah. Banyak pejuangnya yang muda, yang mencaplok cap ISIS untuk dikaitkan dengan kefanatikan mereka akan Islam dengan tujuan memberdayakan diri dan merasa mempunyai kuasa lebih dari pemerintah,” kata Winter menjelaskan.

“Risiko Eropa menghadapi ISIS yang menyebrang dari Libya sangat substansial,” kata Winter melanjutkan. Tercatat, lebih dari 207 ribu orang telah berusaha menyeberang Laut Mediterania untuk memasuki Eropa pada tahun ini. Angka tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dari tahun 2011 yang berjumlah 70 ribu orang.

Penerbangan “Delay”, Ribuan Penumpang Lion Air Terbengkalai

Ratusan orang menunggu penerbangan yang terlambat di ruang tunggu terminal 3 Bandar udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (18/2). PT Angkasa Pura II atau AP II menyatakan lima penerbangan yang mengalami keterlambatan (delay) kemarin di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) , baru bisa diberangkatkan hari ini.ANTARA FOTO/Lucky R.

Abbott Klarifikasi Ancamannya untuk Indonesia

Jakarta, Aktual.co — Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, mengklarifikasi komentarnya pada Rabu (18/2) terkait upaya pencegahan eksekusi terhadap dua warga Australia terpidana mati di Indonesia. Pasalnya, komentar Abbott tersebut dinilai bernada ancaman terhadap Indonesia, dan mengungkit bantuan Australia setelah bencana Tsunami di Aceh pada 2004 lalu.

Abbott menjelaskan bahwa komentar yang dia lontarkan sebelumnya tidak dimaksudkan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat persahabatan antar kedua negara. “Saya hanya menunjukkan kedalaman persahabatan antara Australia dan Indonesia dan fakta bahwa Australia berada di sisi Indonesia ketika Indonesia dilanda kesulitan,” kata Abbott mengklarifikasi pernyataannya di depan para wartawan di Tasmania, Australia, dikutip dari Reuters, Rabu (18/2).

Dalam kesempatan tersebut, Abbott juga mengungkapkan bahwa Australia akan merasa “sedih dan kecewa” jika eksekusi mati tetap dilangsungkan terhadap Myuran Sukumaran, 33 tahun, dan Andrew Chan, 31 tahun, dua warga Australia anggota Bali Nine yang tertangkap tangan membawa 8,2 kg heroin di Bandara Ngurah Rai Bali pada 2005. Sebelumnya, Abbott mengeluarkan komentar yang menyatakan bahwa Indonesia berhutang pada Australia, dan mengancam bahwa eksekusi akan berdampak pada hubungan diplomatik kedua negara.

Abbott mendesak Indonesia untuk mengingat kerusakan akibat bencana tsunami tahun 2004, yang menewaskan ratusan ribu orang di provinsi Aceh. Kala itu, Australia memberikan bantuan sebanyak A$1 miliar kepada Indonesia. Pernyataan Abbott tersebut ditanggapi oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, bahwa ancaman bukan jalan komunikasi yang baik. “Ancaman bukan bahasa politik,” ucap Arrmanatha yang akrab disapa Tata, setelah menggelar jumpa pers di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (18/2).

Tata juga berharap pernyataan Abbott tersebut tidak menggambarkan sikap Australia yang sesungguhnya. “Saya belum baca, tapi dari perkataan kita bisa lihat warna asli seseorang. Saya berharap ini bukan warna asli Australia,” ujar Tata. Pada Selasa (17/2), pemerintah Indonesia menunda pemindahan lima narapidana, termasuk dua warga Australia, ke penjara lain untuk eksekusi, karena alasan kesehatan dan permintaan keluarga yang ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan para narapidana.

Abbott dan PBB Sekretaris Jenderal Ban Ki Moon telah meminta kepada Indonesia untuk tidak mengeksekusi narapidana narkoba, yang merupakan warga negara Brasil, Perancis, Ghana, Nigeria, Filipina, serta warga Indonesia. Sebelumnya, Presiden Jokowi telah menolak permohonan grasi para terpidana narkoba dan tetap akan melanjutkan eksekusi. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Senin (16/2) juga mengatakan bahwa eksekusi mati tak melanggar hukum internasional.

Mantan PM Thailand akan Didakwa Korupsi Beras

Jakarta, Aktual.co —Mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra akan didakwa terkait dugaan korupsi subsidi beras. Yingluck dianggap membuahkan kerugian besar untuk negara. Dakwaan ini dikabarkan akan dilkeluarkan hari ini, waktu setempat. Jika dianggap bersalah, perdana menteri perempuan pertama Thailand itu akan dihadapkan pada ancaman penjara 10 tahun.
 
Pemerintah Thailand yang saat ini dikuasai oleh militer, juga mempertimbangkan untuk menjerat Yinluck dengan tuduhan perdata. Ada dugaan, Pemerintah Thailand akan meminta ganti rugi sebesar USD18 miliar. Adik dari mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra tersebut secara retroaktif dipecat oleh majelis yang dibentuk oleh militer, Januari 2015. Sejak militer menguasai pemerintahan pada Mei 2014, Yingluck tidak diizinkan keluar dari Negeri Gajah Putih.
 
Pengacara dari Yingluck menjelaskan, kliennya tidak akan hadir dalam pembacaan dakwaan di Mahkamah Agung Bangkok.  Pengacaranya pun memastikan Yingluck tidak akan kabur. “Dia (Yingluck) akan mengikuti proses hukum,” ujar Pengacara Yingluck, Norawit Larlaeng, seperti dikutip Telegraph, Kamis (19/2).
 
Yingluck membela diri bahwa skema besar itu merupakan subsidi yang diperlukan untuk membantu warga miskin, yang menerima bagian kecil dari pemerintah. Meskipun bantuan ini disambut baik pendukungnya, pada kenyataannya skema tersebut justru memicu penimbunan beras dalam jumlah besar.

Berbagai Masalah Krusial di Irak

Jakarta, Aktual.co —Saat ini, ada berbagai masalah krusial yang dihadapi Irak. Dalam sisi ekonomi, merosotnya harga minyak dunia sampai ke titik terendah tahun-tahun terakhir ini sangat merugikan Irak. Hal ini karena minyak bumi adakah komoditi andalan Irak untuk menghidupkan ekonominya. Ekspor minyak juga merupakan mayoritas penyumbang devisa bagi Irak. Sesudah negeri ini hancur lebur akibat perang, Irak butuh anggaran besar untuk membangun kembali infrastrukturnya.

Masalah krusial kedua, kali ini di bidang politik, adalah belum mantapnya dan belum stabilnya kehidupan politik Irak. Pembagian kekuasaan di pemerintahan Irak pasca-invasi AS –antara kelompok Syiah, Sunni, dan Kurdi—masih butuh proses panjang untuk mencapai kestabilan. Pola hubungan yang sarat kepentingan itu harus dikelola dengan hati-hati.

Tujuannya adalah untuk menghindari gesekan yang bisa berdampak pada konflik terbuka dan kekerasan, yang berkelanjutan dan memakan banyak korban di lapangan. Harus diakui, ada usaha tulus dari para politisi dari berbagai kubu untuk mencapai rekonsiliasi. Pada 2014, parlemen Irak menyetujui pembagian kekuasaan di pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Haidar al-Abadi. Abadi berasal dari Partai Dawa, partai Islamis Syiah yang sebelumnya dipimpin PM Nouri al-Maliki. Langkah inklusi politik ini, yang mencoba merangkul berbagai kelompok yang bersaing dan berseteru di Irak, cukup membesarkan hati.

Hal itu khususnya menjadi penting ketika pasukan Irak masih berjuang melawan kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Milisi ISIS sampai saat ini masih bercokol di wilayah Irak dan menguasai wilayah yang sangat luas di baratlaut, terutama yang berbatasan dengan Suriah. Sulit meredam agresivitas militer ISIS, jika di antara kubu Syiah, Sunni, dan Kurdi Irak masih sibuk berkonflik sendiri.

Sebelum tercapai kompromi, selama berminggu-minggu dua posisi menteri kunci di kabinet Irak –Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri—tetap belum terisi. Para pengamat politik pada awalnya merasa was-was, apakah para politisi Syiah, Sunni dan Kurdi akan mampu berkompromi pada pos-pos keamanan yang sangat penting ini. Untunglah, para politisi Irak ternyata masih sanggup berkompromi, dan dua jabatan kosong itu akhirnya terisi pada Oktober 2014.

Berita Lain