7 Mei 2026
Beranda blog Halaman 38893

Deklarator AS Punya Al Quran?, Novel untuk Film Ini Dekatkan Islam-Amerika

Jakarta, Aktual.co — Novel yang rencananya akan diangkat ke layar lebar yang berjudul ‘Bulan di Langit Amerika’ ini ditulis oleh  Hanum Salsabiela Rais. Sebelumnya penulis novel itu juga sukses dengan bukunya yang juga difilmkan yang berjudul ’99 Cahaya di Langit Eropa’.

“Bukunya masih menceritakan tentang jejak-jejak peradaban Islam yang dimana dipresentasikan oleh petualangan Hanum dan Rangga,” ungkap Hanum kepada Aktual.co, Rabu (18/2), di Pacific Place, Jakarta.

Penulis ‘99 Cahaya di Langit Eropa’ ini kembali menuturkan, bahwa kisah petualangan Hanum dan Rangga dalam ‘99 Cahaya di Langit Eropa’ berlanjut hingga Amerika Serikat.

Kini mereka diberi dua misi berbeda. Namun, Tuhan YME menggariskan mereka untuk menceritakan kisah yang dimohonkan Rembulan lebih ketimbang sekadar misi. Tugas mereka kali ini akan menyatukan belahan Bulan yang terpisah. Tugas yang menyerukan, bahwa tanpa Islam, dunia akan haus akan kedamaian.

“Sebetulnya cerita ini lebih menuju ke bagaimana mendekatkan kembali Islam dan Amerika, lebih mengenalkan lagi sejarah-sejarah Islam di dunia barat,” bebernya.

Buku setebal 329 halaman ini  membahas tentang Al Quran yang dimiliki oleh Thomas Jefferson (Bapak Deklarator Amerika Serikat) yang selama ini disimpan di dalam Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, hingga Misteri patung Muhammad SAW yang dijadikan ‘Patron Keadilan’.

Tak hanya itu, ‘Bulan Terbelah di Langit Amerika’ yang berlatar belakang tragedi 11 September ini juga menguak sisi kemanusiaan yang terlantar akibat kecurigaan dan prasangka antar manusia yang dikemas dalam jalinan cerita yang mengandung unsur emosional.

Artikel ini ditulis oleh:

Kemenkop Latih Kewirausahaan Ribuan Petani dan Nelayan

Jakarta, Aktual.co —  Kementerian Koperasi dan UKM segera melatih keterampilan dan kewirausahaan kepada ribuan keluarga petani dan nelayan sebagai salah satu dukungan terhadap tercapainya program swasembada pangan.

“Kami sudah menyusun beberapa program untuk mendukung keberhasilan ketahanan pangan nasional di antaranya Program Pengembangan Kapasitas SDM bagi Keluarga Nelayan dan Keluarga Petani,” kata Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso Budi Susetyo di Jakarta, Rabu (18/2).

Ia mengatakan, pada tahap awal pihaknya berencana untuk menyasar program ini kepada Keluarga Nelayan sebanyak 5.000 orang dan Keluarga Petani juga 5.000 orang. Selebihnya meliputi pelaku UKM di sentra berbasis budaya lokal, Pengangguran Sementara, dan Anggota Koperasi/Pra Koperasi. “Program atau Kegiatan yang dilaksanakan meliputi beberapa tahap, kami berharap tahapan ini bisa berjalan beriringan,” katanya.

Pada tahap pertama pihaknya akan melakukan identifikasi di empat provinai sebagai sample. Keempat provinsi itu meliputi Jawa Tengah (Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Tegal) dan Jawa Timur (Kabupaten Lamongan, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Banyuwangi). Selain itu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sukabumi) dan Provinsi Banten (Kabupaten Tangerang).

Sementara materi pelatihan yang akan diberikan meliputi pelatihan kewirausahaan, perkoperasian, keterampilan teknis, fasilitator/pendampingan, dan manajerial. Dari sisi permodalan, pihaknya telah mengalokasikan anggaran khusus untuk wirausaha potensial sebesar maksi mal Rp25 juta per wirausaha. “Kami selanjutnya akan melakukan pendampingan sehingga dalam waktu dekat ini kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melatih para tenaga pendamping bagi wirausaha pemula penerima dana bantuan modal,” katanya.

Pada tahap terakhir, kementerian itu akan melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program agar target yang diharapkan bisa tercapai dengan optimal.

Artikel ini ditulis oleh:

SBY Diuntungkan Penunjukan Plt KPK, Agus Hermanto : Jangan Suudzon

Jakarta, Aktual.co — Penunjukan pelaksana tugas (Plt) mengisi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi oleh Presiden Jokowi untuk mengisi kekosongan pasca diberhentikan sementara Abraham Samad dan Bambang Widjajanto dari jabatannya.
Wakil ketua DPR RI asal fraksi Partai Demokrat, Agus Hermanto membantah jika mantan presiden SBY merupakan pihak yang paling diuntungkan dengan penunjukan Plt tersebut.
Hal itu menyusul masuknya nama Taufiqurrahman Ruki, mantan ketua KPK di rezim SBY dan Indiarto Seno Adjie, selaku pengacara kasus Century.
“Tidaklah, jangan suudzhon dong, inikan untuk mengisi kekurangan KPK saja dengan mengajukan nama itu,” kata Agus kepada wartawan, di Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (18/2).
Menurut dia, penunjukkan Taufiqurrahman Ruki dan Indiarto Senoaji sebagai pimpinan KPK lantaran memang Jokowi melihat keduanya sosok yang paling cocok untuk menduduki posisi tersebut.
“Kalau saya lihat pribadi, pak Jokowi ini ingin kelangsungan yang sustainable (berkesinambungan), pak Ruki kan mantan pimpinan KPK, dia juga dari Polri jadi cocok untuk menjembatani hubungan kedua lembaga yang sekarang sedang panas, sedangkan pak Indeati kan betul-betul profesional,” serunya.
Masih kata Agus juga enggan menjawab apakah SBY ada komunikasi dengan presiden Jokowi terkait penunjukkan nama-nama ini.
“Ya mungkin minta petuah saja, tapi tentunya nama inikan atas pertimbangan dari tim 9 (independent) walaupun mereka gak pakai Keppres dan mungkin juga dari partai pendukung, jadi jangan suudzhon,” pungkas Wakil Ketua Umum DPP Demokrat itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Polisi Buru Pembunuh Sopir Taksi di Pasar Minggu

Jakarta, Aktual.co — Kanit Reskrim Polsek Pasar Minggu, AKP Murgiyanto mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah memburu pelaku pembunuhan terhadap Tony Zahar (53) sopir taksi Express yang ditemukan di Jalan Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 
“Dugaan motif masih didalami dengan memeriksa sejumlah saksi,” katanya kepada wartawan, Rabu (18/2). 
Dikatakan Murgiyanto bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan mengenai motif mengenai tewasnya korban apakah korban dibunuh karena dendam atau perampokan. Karena kata Murgiyanto barang-barang milik korban masih ada di dalam mobil taksi.
Seperti diketahui Tony Zahar (53) sopir taksi Express nomor polisi B-1595-ETB, dan nomor lambung DC7177 ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan dengan luka menganga dibagian leher di Jalan Rawa Bambu Pasar Minggu Jaksel pada Rabu pagi.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Badroedin Haiti jadi Kapolri, Yang Untung Surya Paloh

Jakarta, Aktual.co — Lagi-lagi Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem “mengangkangi” PDIP karena calon kapolri yang baru, Badroedin Haiti adalah orangnya Surya Paloh.
“Badroedin Haiti, kan orangnya Pak Surya Paloh,” kata salah seorang petinggi PDIP kepada Aktual.co di Jakarta, Rabu (18/2).
Ditambahkannya, PDIP sudah tak punya apa-apa lagi. “Benar kata (Alm) Taufik Kiemas dulu soal Jokowi,” kata sumber itu.
Katanya, Partai Nasdem telah memiliki Menko Polhukam, Jaksa Agung, dan dua menteri. “Sekarang bertambah lagi, calon Kapolri Badroedin Haiti,” imbuh sumber itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Apa Komitmen Jokowi Menganulir BG dan Mengusulkan Badrodin ke DPR

Jakarta, Aktual.co — Keputusan Presiden Joko Widodo menganulir pencalonan Komjen Pol Drs Budi Gunawan (BG) dan menggantikannya ke Komjen Pol Drs Badrodin Haiti memunculkan sejumlah tanda tanya. Sebegitu beranikan Presiden menganulir BG dan berseberangan dengan partai-partai pengusungnya?
Direktur Sigma, Said Salahuddin, mengungkapkan, sikap Presiden dalam satu hal memang patut diapresiasi. Apalagi dengan menunjukkan sikap yang terang benderang berseberangan dengan PDI Perjuangan yang sejak awal meminta BG dilantik. 
Akan tetapi, pertanyaan menarik patut disampaikan, yaitu apakah sebelum mengambil keputusan tersebut Presiden sudah mendapatkan semacam komitmen dari DPR? Jika Presiden telah lebih dahulu mendapatkan komitmen dari DPR, maka skenario politik Presiden tersebut berpeluang akan mulus.
Sebab, bagaimanapun Presiden membutuhkan DPR untuk mendapatkan persetujuan tentang pembatalan pelantikan BG dan persetujuan atas pengusulan BH sebagai Kapolri. Namun kesepakatan Presiden dan DPR itu belumlah cukup bila dilakukan hanya dengan berjabat tangan saja, khususnya untuk pembatalan pelantikan BG.
“Presiden (juga) harus menyampaikan surat resmi kepada DPR yang pada pokoknya menyatakan menganulir pencalonan BG dengan disertai oleh alasan-alasan tertentu,” kata Said kepada Aktual, Rabu (18/2).
Berdasarkan surat Presiden tersebut, lanjut dia, DPR pun harus memberikan jawaban melalui surat resmi yang pada intinya menyatakan lembaga perwakilan rakyat tersebut menyatakan persetujuan atas permohonan Presiden dimaksud. Di dalam surat jawaban DPR itu harus disebutkan secara tegas tentang sikap DPR untuk menganulir persetujuan lembaga tersebut terhadap pencalonan BG sebagai Kapolri.
Apabila Presiden memang telah mendapatkan komitmen dari DPR dan memenuhi mekanisme formil, maka persoalannya akan selesai. Pembatalan pelantikan BG akan berlangsung mulus, pengusulan BH sebagai Kapolri baru pun akan lancar. 
Masalah lain kemudian bisa muncul apabila BG memutuskan untuk menggugat Presiden ke PTUN karena menganggap Presiden sebagai pejabat Tata Usaha Negara (TUN) tidak mengeluarkan Keputusan TUN berupa Kepres tentang penetapan dirinya sebagai Kapolri.   
Permasalahan yang lebih besar justru akan muncul manakala keputusan Presiden membatalkan pelantikan BG dan mengusulkan BH sebagai Kapolri baru pada hari ini (18/2) ternyata belum mendapatkan komitmen dari DPR. Ini agak berbahaya.
“DPR sangat mungkin akan menolak pengusulan BH sebagai Kapolri karena lembaga itu menganggap urusan BG saja belum selesai,” kata Said.
DPR bisa berargumen bahwa nasib BG yang sebelumnya diusulkan oleh Presiden dan telah mendapatkan persetujuan dari DPR harus mendapatkan kejelasan terlebih dahulu secara politik dan hukum. Presiden bisa dianggap melecehkan lembaga perwakilan rakyat itu.
Lebih jauh lagi tidak mustahil KIH dan KMP akan bersatu di DPR untuk menyoal sikap Presiden pada hari ini. Hak interpelasi sampai dengan hak menyatakan pendapat tidak mustahil akan diajukan oleh DPR. Disinilah posisi Presiden dapat dikatakan terancam. Kalau itu sampai terjadi, maka persoalan KPK dan Polri akan bergeser menjadi persoalan baru antara Presiden dan DPR.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain