13 April 2026
Beranda blog Halaman 39221

Balegda Bantah Pembahasan Raperda Rawan Disusupi Pengusaha ‘Hitam’

Jakarta, Aktual.co —Ketua Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI, M Taufik membantah kalau pembahasan rancangan peraturan daerah (Raperda) DKI disebut rawan disusupi kelompok kepentingan dan pengusaha ‘hitam’.  
Dia menjamin pembahasan Raperda DPRD tidak akan masuk ke dalam kepentingan kelompok tertentu atau ‘kongkalikong’ dengan pengusaha hitam. Ditegaskan politisi Gerindra itu, pembahasan raperda dilakukan institusinya murni untuk menyelamatkan Jakarta.
“Mana orientasi bisnisnya? orang kita justru mau menyelamatkan Jakarta. Misal, Perda Reklamasi, barangnya udah jalan. Kalau nggak diatur rusak ini Jakarta. Ada juga Perda beasiswa, mana ada bisnisnya? Kan kita malah mau biayain orang sekolah sampai sarjana,” ujar dia, di DPRD DKI, Jakarta, Kamis (5/2).
Mengenai usulan yang disampaikan pengamat politik Jakarta, Amir Hamzah, agar DPRD DKI melibatkan masyarakat dalam pembahasan raperda, juga ikut ditanggapi Taufik. “Kan tiap sidang Balegda selalu terbuka, tinggal liat jadwal aja lalu datang. Kalau mau tahu ya duduk di dalam sama kita pas rapat. Kamu kan juga bisa masuk.” 
Diberitakan sebelumnya, Amir Hamzah meminta masyarakat dilibatkan dalam pembahasan raperda di DPRD DKI. Guna mencegah menyusupnya kelompok kepentingan dan pengusaha hitam. Selain itu, dia juga meminta dewan untuk teliti dalam membahas tiap-tiap poin raperda.
“Dia harus teliti benar. Misal Perda diajukan eksekutif harus ditelusuri betul naskah akademisnya. Siapa yang bikin naskah akademisnya, dari mana? Jangan sampai karena DPRD kurang wawasan atau kurang paham Undang-Undang. Tapi karena mau cepat keluar gaji keluar lalu tiap informasi dari eksekutif langsung ditelan bulat-bulat,” ujar dia, saat ditemui pagi tadi di DPRD DKI.

Artikel ini ditulis oleh:

Pengamat: Konflik KPK-Polri, SBY Beri Pesan Kepada Megawati

Jakarta, Aktual.co — Pernyataan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui akun twitter @SBYudhoyono, merupakan pesan kepada Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, agar menyampaikan pendapat ke publik terkait konflik KPK-Polri.
“SBY mau mengatakan bahwa ‘dibalik layar’ itu karena Mega tidak pernah bicara, termasuk berpesan kepada Mega agar nongol dalam konflik KPK-Polri ini,” kata Pengamat Politik Ubedilah Badrun, kepada Aktual.co, Kamis (5/2).
Hingga kini, Megawati masih diam, sehingga rakyat memang disuguhkan pada berita dibalik layar. Jadi, ini kritik untuk Megawati agar menyampaikan pendapat dalam persoalan ini (konflik KPK-Polri).
“Ketidaksukaan Mega lebih pada antisipasi problem hukum kedepan. Ini problem individu SBY dan Mega yang belum selesai,” kata dia.
Sebelumnya, mantan Presiden SBY melalui akun twitternya menyebutkan saat ini rakyat justru disuguhi banyak cerita ‘dibalik layar’ yang belum terkonfirmasi kebenarannya.
Presiden ke-6 Indonesia itu pun mengatakan bahwa persoalan KPK vs Polri tak rumit, dan solusinya pun tersedia.
“Saat ini rakyat dikejutkan banyak cerita ‘di balik layar’ yang tak baik. Semua perlu diklarifikasi agar kepercayaan rakyat tidak runtuh,” kata SBY melalui akun Twitternya @SBYudhoyono, Rabu (4/2).
Sayangnya hal ini masih ditambah dengan aksi saling ‘serang’ dan ‘buka-bukaan’ sesama politisi. Rakyat bingung karena tidak tahu pihak mana yang benar. 
Dia pun mengingatkan agar para pemimpin, pejabat negara, lembaga penegak hukum, dan partai politik butuh kepercayaan rakyat.

Artikel ini ditulis oleh:

Bos Pertamina Klaim Pengalihan Petral ke ISC-Pertamina Membuahkan Hasil Signifikan

Jakarta, Aktual.co — Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan bahwa tugas impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM) saat ini tidak lagi dilakukan oleh PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral-PES). Namun dialihkan ke Integrated Supply Chain (ISC-Pertamina).

“Pengalihan fungsi Petral-PES dilakukan sebagai langkah efisiensi. Saat ini peran Petral sudah kita pindahkan langsung ke ISC-Pertamina,” ujar Dwi Soetjipto di Istana Merdeka, Kamis (5/2).

Dirinya mengklaim bahwa pelimpahan hak tender BBM Petral ke ISC cukup membuahkan hasil yang signifikan. Selain menyampaikan peralihan Petral ke ISC-Pertamina, dirinya juga menyampaikan rencana membangun kilang minyak yang baru.

“Kita juga melaporkan rencana untuk membangun kilang dan pengembangan lainnya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) mengungkapkan bahwa proses tender pengadaan minyak mentah yang dilakukan oleh Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina sudah dilaksanakan dan telah menghasilkan dua pemenang yakni Socar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel. Keduanya merupakan trader minyak mentah, sama halnya dengan Petral.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi menyatakan ketidaksetujuannya jika Pertamina harus membeli minyak dari trader. Meskipun Pertamina telah mengklaim penunjukan itu sudah melewati mekanisme tender yang terbuka dan transparan, pengadaan minyak melalui trader bukanlah hal yang sejalan dengan langkah efisiensi.

“Katakanlah memang transparan, terbuka dan sesuai aturan. Lalu menang si A si B misalnya. Saya berpendapat tetap tidak efisien. Karena kalau yang menang ini trader, bukan produsen, yah pasti trader ini akan memperoleh fee, keuntungan. Padahal dia bukan penghasil minyak. Dia kan membeli minyak yang kita butuhkan dari produsen dan dari penghasil,” terangnya.

Ia menegaskan, seyogyanya Pertamina sebagai badan usaha yang memiliki wewenang bertransaksi dimanapun, dapat membeli minyak langsung kepada produsen baik itu National Oil Company (NOC) ataupun International Oil Company (IOC).

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Puluhan Universitas AS Helat Pameran di Surabaya

Jakarta, Aktual.co — Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Education USA menggelar Pameran Universitas Musim Semi 2015 di tiga kota di Indonesia, termasuk Surabaya, yang diikuti hampir 40 universitas dan sekolah komunitas.

Informasi resmi dari Konjen AS di Surabaya yang diterima Antara di Surabaya, Kamis (5/2), menyatakan pameran di Surabaya digelar di sebuah hotel di Jalan Mayjen Sungkono pada 8 Februari 2015 pukul 13.00-18.00 WIB.

Acara yang bertujuan membantu menjelaskan bagaimana pelajar Indonesia itu dapat mewujudkan impian mereka belajar di Amerika Serikat serta mempelajari tentang berbagai institusi, jurusan, beasiswa dan kesempatan lain.

Pameran gratis itu juga mencakup presentasi tentang cara menemukan institusi yang tepat, visa pelajar, esai penerimaan dan kesempatan beasiswa.

Selain Surabaya, pameran serupa juga digelar di Medan pada 5 Februari 2015 pukul 16.00-20.00 WIB dan di Jakarta pada 7 Februari 2015 pukul 13.00-18.00 WIB.

Education USA merupakan jejaring global lebih dari 450 pusat informasi yang didukung oleh Biro Urusan Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri AS.

Sementara itu, Pusat Education USA di Indonesia dapat ditemukan di Jakarta, Malang, Medan, dan Surabaya.

Sebelumnya (3/2), Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya menggelar pertemuan “Jejaring Alumni AS” untuk warga Indonesia yang kuliah di Amerika Serikat.

Acara yang dihadiri 250-an orang itu bertujuan alumni AS dapat saling berkenalan, mengedepankan sumberdaya yang dimiliki para alumni, berbagi ide-ide, serta terlibat dalam perencanaan untuk kegiatan di masa depan.

Dalam pertemuan yang dihadiri para tokoh pengusaha, intelektual dan anggota komunitas itu dimeriahkan dengan kesempatan untuk membagikan pengalaman mereka sebagai pelajar di Amerika dan memulai proses pengembangan jaringan alumni di Surabaya.

Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya sangat gembira dapat bertemu, bekerja sama, dan berharap komunitas alumni akan bekerja untuk mengembangkan jaringan, pengembangan profesional, tanggung jawab sosial dan mentoring calon alumni di masa depan.

Artikel ini ditulis oleh:

Gerindra: PMN Tak akan Perkuat Perusahaan Plat Merah

Jakarta, Aktual.co — Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diminta oleh pemerintah kepada DPR RI sebesar Rp72,9 Triliun untuk disuntikan ke sekitar 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menuai kontroversi.
Ketua Fraksi Partai Gerinda, Ahmad Muzani menilai suntikan yang diminta oleh pemerintah, justru tidak serta merta menguatkan perusahaan plat merah tersebut.
“Tapi di sisi lain ini paling penting, selalu saja PMN tidak berwujud apa-apa, sebab digunakan untuk melakukan penguatan struktur modal, atau bayar hutang atau lainnya. Sehingga berapapun negara menyertakan modal untuk BUMN tidak menguatkan kinerja BUMN itu sendiri, karena sesungguhkan direksi di BUMN tidak siap dengan modal yang ditambahkan,” ucap Muzani kepada wartawan, di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (5/2).
Karena itu, sambung Muzani, fraksi Gerindra di Komisi XI terus melakukan kajian kembali terkait permintaan PMN kepada sejumlah BUMN tersebut. Karena, BUMN pun sudah ada yang sifatnya terbuka alias Tbk.
“Fraksi Gerindra di komisi XI terus mengkaji apakah perlu perusahaan BUMN yang Tbk masih perlu mendapat modal pemerintah, Tbk kan bentuk kepemilihan saham publik dimana mestinya BUMN bisa mendapat dana publik untuk meningkatkan kinerjanya, kalau pemerintah masih direcoki penyertaan modal baru, terus apa gunanya Tbk,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Digadang Jadi Kapolri, Budi Waseso: Saya Tak Pernah Main Politik

Jakarta, Aktual.co — Nama Komjen Budi Waseso disebut-sebut salah satu calon Kapolri yang dijagokan Kompolnas. Jenderal bintang tiga yang baru saja naik pangkat ini menyatakan, bahwa tidak akan ada kontroversi seandainya ia ditunjuk sebagai Kapolri.
“Oh tidak. Sekarang kontroversinya apa. Yang dianggap kontroversi apa. Kan tidak ada,” cetus Budi, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (5/2).
Dikatakan Budi, dia mengklaim selama ini tidak pernah bermain di ranah poltik dan hanya berkerja berdasarkan tanggung jawabnya sebagai personil Polri.
“Saya tidak main politik, saya bekerja atas dasar tanggung jawab saya sebagai Kabareskrim,” akunya.
‎Sementara itu, dia mengaku akan selalu siap bila memang dicalonkan sebagai Kapolri. “Ya siap. Kita tidak boleh menolak tugas dan tanggung jawab,” jawabnya.
Sebagai prajurit polri, dijelaskan Budi, harus berani memngemban amanah perintah dan menjalankannya. ‎Meski begitu, dia mengaku belum mendengar kabar dari Kompolnas selaku lembaga yang ditunjuk Presiden. 
“Tidak ada, itu Kompolnas punya kewenangan untuk menilai seluruh personel. Beliau adalah kepanjangan tangan presiden, untuk mengambil keputusan,” tuntasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain