5 April 2026
Beranda blog Halaman 39368

KPK Bakal Tunjukan Sprindik Asal BG Mau Diperiksa

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi, Jumat (30/1) telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Kepala Lembaga Pendidikan Polri, Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka.
Namun demikian, Budi Gunawan tidak bakal memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai tersangka kasus gratifikasi dan suap hari ini. Pasalnya, pihak Budi Gunawan mempertanyakan penetapannya sebagai tersangka oleh KPK itu.
Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha mengatakan, penyidik memang tidak pernah mengirim sprindik kepada seluruh pihak yang menjadi tersangka kasus korupsi di lembaga penegak hukum itu.
“Lazimnya memang semuanya seperti itu. Di KUHAP tidak ada kewajiban mengirimkan sprindik kepada tersangka,” kata Priharsa kepada awak media di Gedung KPK.
Dia mengatakan, sebenarnya di dalam surat panggilan pemeriksaan sudah tercantum kapasitas seorang tersangka, lengkap dengan sangkaan dan pasal disangkakan. 
Dia menjamin sprindik itu akan ditunjukkan penyidik bila Komjen Budi memenuhi panggilan pemeriksaan. “Oh iya, pasti nanti akan diperlihatkan (sprindik),” ujar Priharsa.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Ahok Ingin Bikin Bangkrut Sekolah Swasta

Jakarta, Aktual.co — Gubernur DKI Jakarta Basuki Thajaja Purnama atau biasa disapa  Ahok punya ide gila untuk membangkrutkan sekolah-sekolah swasta. Ide itu muncul setelah Pemprov DKI bersama KPK dan BPK menemukan penyaluran dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) tidak tepat sasaran.
Ahok menjelaskan, selama ini dana KJP dititipkan kepihak sekolah swasta yang miskin. Sehingga sekolah tidak perlu menarik uang lagi kepada siswa yang tidak mampu.
“Tapi fakta dilapangan dia tetap tarik. Sehingga orang miskin 40% usia 16-18 tahun nggak bisa sekolah. Kalau begitu sekolah nggak bertanggung jawab,” ungkap Ahok.
Oleh karena itu, Ahok merubah teknis pencairan dana KJP dengan memberikan langsung kepada murid yang tidak mampu. Dengan harapan murid yang tidak mampu bisa memilih sekolah swasta yang lebih baik kualitasnya.
“Sehingga sekolah swasta yang tidak baik akan bangkrut, tutup kami beli sekolahnya kita beli jadikan negeri,” bebernya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Demokrat : Pertemuan Jokowi-Prabowo Beri Kontribusi Penyelesaian Masalah Polri-KPK

Jakarta, Aktual.co — Sekretaris Fraksi Partai Demokrat di DPR Didik Mukrianto  berharap jika pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dapat memberikan kontribusi positif, khususnya dalam penyelesaian kisruh KPK-Polri.
“Saya harap dari berbagai pemikiran yang dibicarakan keduanya bisa memberi kontribusi positif bagi Pak Jokowi khususnya terkait polemik KPK-Polri,” kata Didik, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (30/1).
Lebih lanjut, komunikasi diantara kedua tokoh tersebut penting dalam konteks meredakan ketegangan kondisi politik kekinian.
Spekulasi dari hasil pertemuan itu pasti berkembang di masyarakat ketika tidak dijelaskan kepada publik.
“Dalam konstelasi politik berkembang spekulasi untuk dilihat bagaimana petanya saat mereka berkompetisi dalam Pilpres 2014, namun sebagai tokoh bangsa saat ini keduanya mencoba bangun komunikasi,” tutur dia.
Diharapkan pertemuan kedua tokoh tersebut dapat mengurai persoalan dan dapat menentukan sikap dari kemelut yang ada.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Tak Lantik Budi Gunawan Jadi Kapolri, Politisi PDIP Bantah Tarik Dukungan Terhadap Jokowi

Jakarta, Aktual.co — Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, di Istana negara, pada Kamis (29/1) kemarin, menuai persepsi publik.
Lantaran, pertemuan itu dilakukan ketika presiden dinilai ‘gamang’ dalam mengambil sebuah keputusan. Salah satunya terkait persoalan penundaan pelantikan Komjen pol Budi Gunawan sebagai kapolri, yang disisi lain telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.
Politisi PDIP, Honing Sani menilai jika pertemuan yang dilakukan oleh presiden dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, maupun mantan Presiden BJ Habibi merupakan hal positif bagi Jokowi. Jokowi tentunya akan mendapat banyak masukan dan energi baru untuk menyelesaikan masalah.
“Semakain banyak komunikasi akan menghasilkan keputusan tepat. Yang ditunggu keberanian pak Jokowi mengambil keputusan dengan resiko paling minimal,” ucap dia, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/1).
Sementara itu, ketika ditanyakan ikhwal pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo, dinilai sebagai isyarat jika mantan Gubernur DKI Jakarta itu dapat berubah haluan untuk mendapatkan dukungan koalisi merah putih (KMP), menyusul isu penarikan dukungan dari PDIP. Penarikan dukungan partai pengusung Jokowi saat pilpres itu dilakukan jika Budi Gunawan tidak dilantik sebagai kapolri?. Anggota DPR RI Fraksi PDIP itu membantahnya.
Menurut dia, tidak ada instruksi yang dikeluarkan Megawati sebagai ketua umum agar PDIP menarik dukungannya kepada pemerintah sebagai partai pengusung, terkait pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo yang dinilai sebagai isyarat jika mantan Gubernur DKI Jakarta itu dapat berubah haluan untuk mendapatkan dukungan koalisi merah putih (KMP).
“Nggak, Ibu Mega tidak pernah membuat keputusan seperti itu, dan sebagai ketua umum, mantan presiden ibu Mega tahu betul bahwa pengangakatan dan pemberhentian Kapolri itu preogratif hak yang melekat pada presiden, dan siapapun tidak boleh diintervensi,”
“Dan kalau ada yang mempersepsikan bahwa ibu Mega mempengaruhi, menurut saya tidaklah, sebagai mantan presiden beliau tau betul bahwa lembaga institusi lembaga kepresidenan harus dijaga, sehingga 100 persen saya pastikan ibu Mega tidak memberikan tekanan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Bidik Zulkifli Hasan, KPK Terus ‘Plototi’ Sidang Gulat Manurung

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi terus mencari bukti keterlibatan Ketua MPR Zulkifli Hasan yang diduga menikmati aliran dana dalam kasus alih fungsi hutan di Riau dan Bogor. 
Kepala Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha menyebut, keterangan saksi-saksi di persidangan terdakwa Gulat Mendali Emas Manurung akan divalidasi oleh penyidik. Setelah itu, keterangan tersebut akan digunakan penyidik untuk menguak apakah ada keterlibatan Zulkifli Hasan dalam kasus tersebut.
“Kita terus pantau fakta-fakta persidangan, apa yang nanti akan terungkap di persidangan,” kata Kepala Pemberitaan Priharsa Nugraha ketika dihubungi, Jumat (30/1).
Dia mengatakan, fakta-fakta persidangan itu nantinya akan termuat dalam putusan pengadilan. Terlebih dua saksi sudah menyebut ada keterlibatan Zulkifli Hasan dalam kasus tersebut. “Itu akan menjadi fakta jika termuat dalam putusan persidangan.”
Priharsa pun lagi-lagi memastikan, bahwa KPK terus memantau fakta persidangan. “Yang pasti, KPK terus melakukan penalaahan untuk mendalami kasus tersebut.”
Sebelumnya, Jaksa KPK memutar rekaman sadapan antara Annas Maamun dengan Gulat Manurung, pengusaha yang juga ketua Asosiasi Petani Sawit wilayah Riau. Ada dua rekaman sadapan yang diperdengarkan dalam persidangan Gulat Manurung. Rekaman pertama yang diputar terkait berita acara pemeriksaan nomor 64 kala Annas diperiksa penyidik KPK.
Tapi rekaman yang diputar hanya beberapa detik. “Komisi IV jangan lupa,” kata Annas kepada Gulat dalam sambungan telepon. Sedangkan pada rekaman sadapan kedua, terdengar Annas menyebut nama menteri kehutanan yang mengarah ke Zulkifli yang saat itu menjabat sebagai Menhut, saat berbincang dengan Gulat termasuk menyebut ‘DPR’.
“Untuk DPR RI, begitu, jadi kita tidak perlu berulang-ulang,” kata Annas dalam rekaman yang diperdengarkan di persidangan. Gulat merespon perkataan Annas dengan mengatakan, “Iya Pak, Bapak pun tak perlu bolak balik Jakarta, gitu ya Pak,” kata Gulat.
“Pak Menteri minta ini diselesaikan,” sambung Annas dalam percakapan telepon tersebut lantas kembali menyinggung DPR. “Jangan lupa Komisi IV juga itu,” kata Annas diiyakan Gulat dalam percakapan.
Jaksa KPK menyebut rekaman yang diputar merupakan percakapan tanggal 20 September 2014. Tapi Jaksa ataupun Majelis Hakim tak mengorek keterangan Annas soal komunikasi ini

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Izinkan Freeport Ekspor, Menteri ESDM Tersandera Kepentingan Asing

Jakarta, Aktual.co —  Pengamat ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Agus Tony Poputra menginginkan pemerintah untuk dapat bersikap tegas terkait dengan PT Freeport, juga sekaligus untuk meningkatkan hilirisasi pertambangan di Tanah Air.

“Perpanjangan MoU pemerintah dengan Freeport memperlihatkan pemerintah telah tersandera oleh kepentingan perusahaan tambang tersebut,” kata Agus Tony Poputra dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (30/1).

Menurut Poputra, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara secara jelas telah mengamanatkan larangan ekspor bahan tambang mentah yang ditindaklanjuti Peraturan Menteri ESDM Nomor 20 Tahun 2013 yang efektif berlaku awal tahun 2014.

Akibatnya, banyak perusahaan tambang menghentikan kegiatannya dan menjadi dorongan bagi beberapa perusahaan telah membangun pabrik “smelter” agar dapat mengekspor produk lanjutan.

Ia menegaskan bahwa sesungguhnya ekspor bahan mentah sangat merugikan Indonesia. Selain kehilangan peluang lapangan kerja tambahan, kerugian ekonomis lain juga sangat besar.

Selain itu, lanjutnya, nilai produk sampingan dari proses lanjutan bahan tambang banyak yang benilai tinggi, namun di sisi lain nilai ekspor bahan mentah tambang itu sendiri umumnya rendah.

“Oleh sebab itu, penerimaan negara lewat pajak dan royalti relatif rendah dan negara lain menikmati nilai tambah dari proses lanjutan serta produk sampingan. Sayangnya Freeport justru menunda pembangunan pabrik smelter dan meminta keistimewaan melakukan ekspor dalam bentuk konsentrat,” tutur Poputra.

Di tempat terpisah, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengatakan, pemerintah tidak mempunyai ketegasan dalam menghadapi PT Freeport yang ditunjukkan melalui perpanjangan kerja sama dengan perusahaan tersebut.

“Perpanjangan kontrak kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan PT Freeport untuk durasi enam bulan ke depan seharusnya tak perlu dilakukan karena banyak hal yang diingkari oleh perusahaan asing yang mengeksplorasi tambang emas di Papua ini,” ujarnya di Malang, Selasa (27/1).

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB itu mengatakan hingga saat ini PT Freeport belum juga membangun smelter di Papua, padahal kewajiban itu seharusnya sudah direalisasikan sejak lima tahun lalu. Bahkan, pembayaran royalti pun juga tidak terpenuhi dan sering mengalami keterlambatan.

Sebagaimana diwartakan, pemerintah memahami keinginan PT Freeport Indonesia meminta perpanjangan kontrak di wilayah tambang Grasberg, Papua, pascahabis pada 2021.

Menteri ESDM Sudirman Said saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Senin (26/1), mengatakan bahwa Freeport memandang perlu kepastian perpanjangan kontrak atas rencana pengeluaran investasi senilai 17,3 miliar dolar AS.

“Kami pahami Freeport yang membutuhkan kepastian karena berencana alirkan dana sebesar 17,3 miliar dolar AS. Dana sebesar itu tidak dialirkan kalau tidak ada kepastian berapa lama mereka masih di sini lagi,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain