8 April 2026
Beranda blog Halaman 39387

Izin Eksport Freeport Ada Indikasi Korupsi

Jakarta, Aktual.co — Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies (IMES) Erwin Usman mendorong aparat penegak hukum agar tidak luput dalam menyoroti persoalan pelanggaran konstitusi oleh perusahaan-perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia khususnya PT Freeport Indonesia (PTFI).

“Kita harus desak aparat hukum untuk menindak Freeport ini. Bahkan KPK pun harus kita dorong untuk menyelidiki persoalan Freeport dan Newmont, kenapa seolah cuma mereka berdua yang dispesialkan dan terus diberi kelonggaran?,” kata Erwin dalam diskusi tertutup di Jakarta, Kamis malam (29/1).

Erwin menuturkan, pihaknya telah mendengar informasi soal adanya aliran uang kotor yang telah diserahkan Freeport baik kepada badan eksekutif maupun badan legislatif.

“Saya dengar ada permainan uang kotor di sana. Ditambah saya lihat kemarin saat rapat antara Kementerian ESDM dengan DPR, para anggota komisi VII terlihat lembek dalam mengkritisi kebijakan Pemerintah yang sudah memberi kelonggaran kepada Freeport, padahal jelas-jelas sudah melanggar konstitusi itu,” terang Erwin.

“Disini seharusnya KPK bermain, jangan hanya jago tangkap Bupati atau Gubernur melulu. Kenapa tidak bergerak ke Freeport?,” sambungnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Kusfiardi selaku Aktifis Koalisi Anti Utang (KAU).

Dikatakannya, saat ini hal yang dipermasalahkan oleh KPK adalah soal rekening gendut di instansi Polri yang jumlahnya hanya miliaran rupiah padahal dalam kasus Freeport ini menyangkut aksi KKN dengan nilai triliunan rupiah.

“Bukannya saya men-judge, atau menyepelekan satu kasus. Tapi Freeport ini sudah sejak lama tidak membayar pajaknya. Bahkan dividennya saja sudah tiga tahun terakhir tidak dibayarkan ke Pemerintah. Itu jumlahnya triliunan. Sudah bertahun-tahun masalahnya. Tapi kok tidak diurusi oleh KPK. Ini kenapa?,” tukasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Yordania tidak akan Bebaskan Pilot ISIS

Jakarta, Aktual.co —Yordania mengatakan pada mereka tidak akan membebaskan perempuan pilot dari kelompok jihad apabila tidak mendapat bukti, pilot Yordania, yang ditahan Negara Islam (IS), masih hidup, Kamis (29/1). IS mengancam membunuh pilot Yordania itu kecuali terjadi penukaran dengan perempuan pilot Sajida al-Rishawi.

Hal ini sampai batas waktu Kamis petang, untuk ditukar dengan sandera asal Jepang, wartawan perang, Kenji Goto. “Rishawi masih ada di Jordania dan penukaran akan dilakukan apabila kami menerima bukti bahwa pilot yang kami tanyakan juga masih hidup,” demikian juru bicara pemerintah Jordania, Mohammad al-Momani.

Fraksi PDIP Ragukan Independensi Tim 9

Jakarta, Aktual.co — Anggota Fraksi PDIP Masinton Pasaribu meragukan independensi dari anggota Tim independen konflik KPK-Polri. 
“Sejak awal mereka tidak independen, Oegroseno dari awal tidak setuju BG jadi kapolri, subjektif sekali,” kata Masinton, di Jakarta, Kamis (29/1).
Dengan demikian, sambungnya, Presiden Jokowi tidak usah menuruti dan menjalankan usulan Tim independen untuk membatalkan pelantikan Budi Gunawan. 
Seperti diketahui, tim Independen yang dibentuk Presiden Joko Widodo khusus untuk memberikan rekomendasi terkait kisruh Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyampaikan rekomendasi finalnya.
Tim Independen terdiri dari mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif; mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshidique; sosiolog Imam Prasodjo; mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutanto; mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Oegroseno; Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana; mantan pimpinan KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean dan Erry Riyana Hardjapamekas; serta pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar.

Artikel ini ditulis oleh:

PDIP: Jokowi Tak Usah Turuti Rekomendasi Tim Independen

Jakarta, Aktual.co — Presiden Jokowi tidak usah menuruti dan menjalankan usulan Tim independen konflik KPK-Polri untuk membatalkan pelantikan Budi Gunawan.
Demikian disampaikan Anggota Komisi III DPR, Masinton Pasaribu, di Jakarta, Kamis (29/1).
Masinton menilai tim ini telah jauh mencampuri hak prerogatif presiden untuk memilih Kapolri.  “Rekomendasi Tim 9 tidak wajib dan mengikat,” katanya.
seperti diketahui, tim Independen yang dibentuk Presiden Joko Widodo khusus untuk memberikan rekomendasi terkait kisruh Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyampaikan rekomendasi finalnya.
Tim Independen terdiri dari mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif; mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshidique; sosiolog Imam Prasodjo; mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutanto; mantan Wakil Kepala Polri Komjen (Purn) Oegroseno; Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana; mantan pimpinan KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean dan Erry Riyana Hardjapamekas; serta pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar.

Artikel ini ditulis oleh:

Mensesneg: Presiden, Badrodin dan Budi Waseso Hanya Berbincang-bincang

Jakarta, Aktual.co — Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengaku tak mengetahui isi pembicaraan dari pertemuan Presiden Joko Widodo, Plt Kapolri Badrodin Haiti, dan Kabareskrim Irjen Pol Budi Waseso.
Ya, Kabareskrim Irjen Pol Budi Waseso tiba-tiba muncul di Istana Negara, Kamis (29/1) malam. 
“Alasanya mungkin untuk bicara saja. Presiden tidak didampingi oleh siapapun,” katanya.
Pratikno mengaku tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan. Dicecar apa isi pembicaraan, berulang kali mantan Rektor UGM itu bilang tidak tahu.
“Saya nggak tahu, saya nggak ikut,” kata Pratikno.
Pratikno juga enggan menjawab terkait kabar pelantikan Kapolri yang dijadwalkan Jumat 30 Januari 2015. 
“Tidak ada apa-apa, besok khusus untuk wawancara (media massa). Sore, beliau jalan untuk urusan kementerian pertanian,” demikian Pratikno.

Artikel ini ditulis oleh:

Korsel Pernah Diperas Korut senilai Rp 125 T

Jakarta, Aktual.co —Pada tahun 2009, Korea Utara pernah memeras Korea Selatan dengan meminta bayaran tunai 10 miliar dolar AS atau setara Rp 125,70 triliun sebagai prasyarat digelarnya pertemuan puncak antar kedua negara. Tidak hanya itu, Korut juga diketahui meminta setengah juta ton makanan kepada Korsel.

Hal tersebut diungkap oleh mantan presiden ke-10 Korsel, Lee Myung-bak. Namun, ia menambahkan, pemerintahannya menolak untuk membayar sepeser pun permintaan Korut tersebut. Pendahulunya, Kim Dae-jung menggelar pertemuan puncak pertama dengan pemimpin Korut Kim Jong-il pada tahun 2000.

Ia kemudian mendapat pujian karena berhasil membawa hubungan dua Korea lebih hangat. Tapi, prestasi itu ternoda dengan terungkapnya fakta bahwa ia memberi Korut uang sebesar 500 juta dolar AS atau Rp 6,29 triliun. Kedua Korea secara teknis masih berada dalam kondisi perang karena perang 1950-53 diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perdamaian.

Lee yang menjabat pada periode 2008-2013 mengatakan dalam buku yang akan diluncurkan pekan depan bahwa ia menolak syarat yang diajukan Korut itu. “Dokumen itu tampak seperti ‘biaya pertemuan’ standar dengan daftar bantuan yang harus kami sediakan serta jadual tertulis,” kata Lee.

Dokumen yang dimaksud merujuk pada daftar yang dikirim Korut “sebagai syarat melakukan pertemuan puncak”. Di dalamnya, Korut meminta 400 ribu ton beras, 100 ribu ton jagung, 300 ribu ton pupuk, dan 10 miliar dolar AS dalam bentuk modal yang akan digunakan Korut untuk mendirikan sebuah bank.

Kim Jong-il terus menekan digelarnya pertemuan dengan Korsel sebelum ia meninggal pada akhir 2011. Sayang, hal itu tidak pernah terlaksana karena ia menolak mengakui serangan torpedo terhadap kapal AL Korsel pada tahun 2010, kata Lee dalam bukunya tersebut.

Baik pengganti Kim Jong-il, Kim Jong Un dan Presiden Korsel saat ini Park Geun-hye mengatakan bahwa mereka terbuka untuk melakukan dialog. Korut menuntut agar sanksi atas negaranya pasca insiden penembakan kapal pada tahun 2010 tersebut dicabut sebagai syarat digelarnya kembali dialog.

Berita Lain