13 April 2026
Beranda blog Halaman 39407

Korsel Pernah Diperas Korut senilai Rp 125 T

Jakarta, Aktual.co —Pada tahun 2009, Korea Utara pernah memeras Korea Selatan dengan meminta bayaran tunai 10 miliar dolar AS atau setara Rp 125,70 triliun sebagai prasyarat digelarnya pertemuan puncak antar kedua negara. Tidak hanya itu, Korut juga diketahui meminta setengah juta ton makanan kepada Korsel.

Hal tersebut diungkap oleh mantan presiden ke-10 Korsel, Lee Myung-bak. Namun, ia menambahkan, pemerintahannya menolak untuk membayar sepeser pun permintaan Korut tersebut. Pendahulunya, Kim Dae-jung menggelar pertemuan puncak pertama dengan pemimpin Korut Kim Jong-il pada tahun 2000.

Ia kemudian mendapat pujian karena berhasil membawa hubungan dua Korea lebih hangat. Tapi, prestasi itu ternoda dengan terungkapnya fakta bahwa ia memberi Korut uang sebesar 500 juta dolar AS atau Rp 6,29 triliun. Kedua Korea secara teknis masih berada dalam kondisi perang karena perang 1950-53 diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perdamaian.

Lee yang menjabat pada periode 2008-2013 mengatakan dalam buku yang akan diluncurkan pekan depan bahwa ia menolak syarat yang diajukan Korut itu. “Dokumen itu tampak seperti ‘biaya pertemuan’ standar dengan daftar bantuan yang harus kami sediakan serta jadual tertulis,” kata Lee.

Dokumen yang dimaksud merujuk pada daftar yang dikirim Korut “sebagai syarat melakukan pertemuan puncak”. Di dalamnya, Korut meminta 400 ribu ton beras, 100 ribu ton jagung, 300 ribu ton pupuk, dan 10 miliar dolar AS dalam bentuk modal yang akan digunakan Korut untuk mendirikan sebuah bank.

Kim Jong-il terus menekan digelarnya pertemuan dengan Korsel sebelum ia meninggal pada akhir 2011. Sayang, hal itu tidak pernah terlaksana karena ia menolak mengakui serangan torpedo terhadap kapal AL Korsel pada tahun 2010, kata Lee dalam bukunya tersebut.

Baik pengganti Kim Jong-il, Kim Jong Un dan Presiden Korsel saat ini Park Geun-hye mengatakan bahwa mereka terbuka untuk melakukan dialog. Korut menuntut agar sanksi atas negaranya pasca insiden penembakan kapal pada tahun 2010 tersebut dicabut sebagai syarat digelarnya kembali dialog.

Polemik Kapolri, KMP Siap Pasang Badan Atas Keputusan Presiden

Jakarta, Aktual.co — Pascapertemuan Prabowo dan Presiden Jokowi di Istana Bogor, sikap KMP bulat untuk “pasang badan” pihak-pihak yang memprotes atas hak prerogatif presiden terkait Kapolri baru.   
“Pokoknya kalau untuk kepentingan bangsa dan negara, apa pun yang perlu kita lakukan akan kita lakukan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon seusai rapat Koalisi Merah Putih di Bakrie Tower, Kuningan, Jakarta, Kamis (29/1) malam.
Hingga kini, suara di parpol pendukung pemerintah justru berkeras agar Jokowi melantik Budi. 
Presiden Jokowi, lanjut Fadli Zon, tak perlu bimbang karena dia mempunyai hak sepenuhnya untuk melantik atau tidak melantik jenderal bintang tiga itu.
“Ini masalah hak prerogatif presiden. DPR juga sudah menyikapi. Presiden tinggal memutuskan saja. Kami akan mendukung keputusan apa pun kalau terkait masalah ini,” demikian Fadli.

Artikel ini ditulis oleh:

Cenderamata Bergambar Ganja Dilarang di Bandara AS

Denver, Aktual.co —Bandara Internasional Denver, negara bagian Colorado, Amerika Serikat, melarang segala bentuk penjualan cenderamata bergambar ganja yang laris dibeli oleh para wisawatan yang mengunjungi kota yang melegalkan mariyuana tersebut. Diberitakan Reuters, Kamis (29/1), sebelumnya sejak Denver melegalkan ganja untuk penggunaan hiburan pada 2012, bandara tersebut melarang penjualan seluruh produk ganja.

Kali ini, peraturan tersebut diperluas dengan larangan penjualan segara produk bergambar ganja. “Mariyuana tidak sesuai dengan bandara kelas-satu dan lingkungan yang ramah-keluarga di sini,” kata juru bicara bandara Denver, Health Montgomery. Peraturan baru itu melarang kios-kios pedagang di bandara “menjual, memajang, atau mengiklankan produk yang menampilkan gambar, bentuk, deskripsi, atau nama” mariyuana dan produk-produk terkait.

Di antara produk-produk yang laris dibeli adalah sendal jepit, baju, pakaian dalam, stiker atau magnet bergambar daun mariyuana. Namun ada pengecualian untuk publikasi koran dan materi-materi pendidikan “non-komersial.” Colorado adalah satu dari empat negara bagian yang melegalkan ganja dalam jumlah kecil atau mariyuana untuk tujuan rekreasi tahun lalu.

Pertamina Siap Kelola Blok Migas dan Revitalisasi Sumur Tua

Jakarta, Aktual.co — PT Pertamina Persero berupaya meningkatkan kinerja di sektor hulu diantaranya dengan pengelolaan blok migas yang masa kontraknya segera habis dan merevitalisasi sumur tua untuk menambah produksi dan meningkatkan “revenue”.

“Kami harap pemerintah mendukung usulan kami untuk bisa memperoleh penugasan dalam pengolahan ladang-ladang minyak yang telah habis masa kontraknya,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Persero Dwi Soetjipto di Jakarta, ditulis Jumat (30/1).

Sejumlah blok migas yang dimaksud adalah Blok Mahakam, Blok East Kalimantan, Blok Lho Sukon B, Blok Arun B, Blok South Sumatera, Blok Sanga-Sanga, dan Blok Ogan Komering yang kontraknya akan habis pada 2017 dan 2018 mendatang.

Dwi mengatakan produksi dari blok-blok tersebut sekitar 300 ribu BPH atau senilai dengan 11,8 miliar dolar AS per tahun. Selanjutnya Pertamina juga merevitalisasi dan mereaktivasi 5.000 sumur yang sudah tua dan/atau berstatus tidak aktif.

“Revitalisasi dan reaktivasi sebesar 20 persen dari jumlah sumur tersebut, berpotensi menambah produksi sebanyak 20 rbu BPH atau setara dengan 781 juta dolar AS per tahun,” ujar Dwi.

Selain itu, ujarnya, Pertamina juga melakukan akselerasi program “Enhanced Oil Recovery” (EOR) di lapangan-lapangan tua dan menambah jumlah lapangan EOR menjadi 16 lapangan yang diprediksi akan menambah produksi hingga 3,05 ribu BPH atau setara dengan 120 juta dolar AS per tahun.

“Sebelumnya pada 2013 Pertamina telah melakukan program uji coba EOR di delapan lapangan dan menghasilkan tambahan produksi 1,5 ribu BPH, jadi kami akan melanjutkan ‘success story’ ini dengan proyek yang lebih besar,” tuturnya.

Yang terakhir, Pertamina berupaya menurunkan “lifting cost” dari yang semula lebih dari 27 dolar AS per barel menjadi satu dolar AS per barel.

“Target produksi minyak Pertamina pada tahun 2014 sebesar 280 ribu BPH, penurunan ‘lifting cost’ ini akan menghemat dana hingga 102 juta dolar AS per tahun,” katanya.

Ekonom Energi dan Lingkungan Darmawan Prasodjo menilai langkah Pertamina tersebut sangat tepat karena cost sektor hulu Pertamina jauh lebih rendah dari sektor hilir.

Ia menjelaskan bahwa dengan total cost hulu 2,68 miliar dolar AS, kontribusi revenue (ebitda) yang diberikan jauh lebih besar yaitu 3,14 miliar dolar AS. Sedangkan total cost hilir yang mencapai 63,6 miliar dolar AS hanya mampu memberikan kontribusi terhadap revenue sebesar 1,69 miliar dolar AS.

“Sektor hulu memberi rasio keuntungan yang besar yaitu 54 persen dari revenue, sedangkan sektor hilir hanya 2,6 persen dari revenue,” tuturnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Plt Sekjen PDIP: Jokowi Tak Hadiri Pertemuan Teuku Umar

Jakarta, Aktual.co — Plt Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membantah Presiden Joko Widodo telah menyambangi kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar No 27A, Jakarta, Kamis (29/1) malam.
“Presiden Jokowi dipastikan malam ini tidak hadir,” ujar Hasto seusai bertandang ke kediaman Megawati itu, Kamis malam.
Pernyataan Hasto terkait adanya mobil Innova yang sempat masuk ke kediaman Megawati yang diduga tumpangan Jokowi.
Menurut Hasto, mobil jenis itu merupakan kendaraan rakyat sehingga banyak yang menggunakan, tidak hanya Presiden.
Hasto mengatakan, pada Kamis malam, memang banyak tamu yang hadir ke kediaman Megawati, termasuk dari kalangan kader PDIP. Namun dia mengatakan pertemuan di rumah Megawati membicarakan persiapan Kongres PDIP yang akan berlangsung tahun ini, serta terkait dinamika politik di DPR soal RAPBNP.
Sementara itu terkait pertemuan Jokowi dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Istana Bogor, Kamis sore, Hasto mengatakan bahwa Megawati sama sekali tidak berkomentar terkait hal tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Tak Ada Keppres, Rekomendasi Tim Independen Tak Kuat

Jakarta, Aktual.co — Rekomendasi tim independen kepada Presiden Joko Widodo tak kuat karena tak memiliki Keputusan Presiden (keppres).
“Kunci saat ini ada di Jokowi. Kenapa memanggil tim independen, persoalan di partai pengusung saja tak selesai apalagi yang lain,” kata Pengamat Politik, Teguh Yuwono, Kamis (29/1).
Presiden Joko Widodo berpotensi untuk di-impeachment (pemakzulan) oleh Dewan Perwakilan Rakyat jika tak melantik Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri.
Hal ini dikarenakan Budi Gunawan sudah mendapat persetujuan oleh Dewan Perwakilan Rakyat setelah melewati proses fit and proper test.
“Bisa di-impeachment, karena sudah disetujui oleh DPR,” ujar Teguh.
Menurut dia, keputusan ini sulit dilakukan Jokowi karena menyangkut hukum dan politik. sementara, tak tahu mana yang harus didahulukan, apakah sisi hukum atau politiknya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain