13 April 2026
Beranda blog Halaman 39413

Dua Orang Bersenjata Api Diamankan di Depok

Jakarta, Aktual.co —Anggota Polres Kota Depok mengamankan dua orang yang diduga pelaku perampokan berinisial Z asal Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat dan MA warga Kalibata, Jakarta Selatan.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul mengatakanya keduanya kedapatan membawa senjata api dan diamankan di Jalan Raya Legong Mekarjaya Sukmajaya Kota Depok.
“Kamis sekitar pukul 17.00 WIB,” kata dia, di Jakarta, Kamis (29/1).
Kronologis penangkapan berawal saat sejumlah warga berteriak “maling” dan mengejar kendaraan Honda CRV bernomor polisi B-888-SAW yang ditumpangi kedua orang itu. Warga curiga lantaran kendaraan mereka keluar dari Perumahan Jatijajar menuju Jalan Simpangan dengan kecepatan tinggi.
Beberapa orang sempat menghentikan laju kendaraan yang menuju Jalan Tole Iskandar menuju Jalan Bahagia saat melintasi Polsek Sukmajaya. “Namun pelaku menodongkan senjata api kemudian melarikan diri menuju Jalan Raya Legong Mekarjaya,” ujar Martinus.
Beberapa saksi dan anggota Polresta Depok mampu menghentikan mobil dan mengamankan dua penumpangnya.
Saat dilakukan penggeledahan di dalam mobil, petugas menemukan satu pucuk senjata api jenis FN, tiga magazine, dua pucuk senapan gas, tiga kaleng mimis, empat bilang sangkur, dua amplop ganja, satu alat hisap shabu (bong), satu buku tabungan.
Kemudian dua unit telepon selular, satu lembar Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), lima tas kecil, dua tas senapan gas, satu unit tabung, dua popor senapan gas dan tiga peredam senjata, serta satu unit mobil.
Saat ini, Martinus menyatakan petugas memeriksa intensif kedua pelaku itu guna diproses lebih lanjut dan mengungkap aksi jahatnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Ahok Mau Pakai Sniper, Tokoh Betawi: Jangan Asal ‘Ngoceh’

Jakarta, Aktual.co —Pernyataan sesumbar Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang ingin menggunakan penembak jitu alias sniper untuk memberantas preman di Jakarta, menuai kritik dari tokoh Betawi Muhammad Rifqi atau akrab disapa Eki Pitung. Ketua Antar Lembaga Badan Musyawarah (Bamus) Masyarakat Betawi itu tegas mengatakan memberantas preman di Jakarta tak perlu sampai menggunakan sniper. 
“Selain melanggar HAM, ada payung hukumnya juga untuk menggunakan sniper. Ada aturannya hanya polisi atau tentara yang bisa perintahkan itu dan bukan seorang Gubernur. Jangan asal ngoceh Ahok,” kata Eki saat dihubungi aktual.co, Kamis (29/1).
Lagipula, menurutnya kondisi di Jakarta saat ini terbilang kondusif. Tidak seperti era 1990-1980 yang marak preman dan ada penembak misterius (petrus).  “Jakarta bukannya Texas atau Makao tempat para mafia bermain judi, yang ditaruh sniper di tiap gedung-gedung,” ujar dia.
Ketimbang seperti kebakaran jenggot ingin pakai sniper, menurut dia, Ahok perlu menyadari dua poin untuk menyikapi hasil survei Economist Intelligence Unit Jakarta yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling tidak aman.
Pertama, TNI dan Polri itu diberikan senjata bukan untuk diarahkan untuk menakut-nakuti masyarakat. Kedua, tugas Gubernur seharusnya mengayomi dan melayani masyarakat, dan bukannya malah menakut-nakuti.
“Jakarta bukan kota barbar. Gubernur, pemerintah sampai tingkat kelurahan itu tugasnya melayani dan mengayomi masyarakat dan bukannya malah nakut-nakutin, Ahok jangan sok jadi koboi,” ujar dia.
Dia menyarankan, untuk memberantas premanisme Ahok harusnya lebih mengedepankan cara-cara persuasif dengan pendekatan kepada sejumlah tokoh – tokoh organisasi masyarakat dan tokoh-tokoh kelompok di kota Metropolitan ini.
“Dirangkul kelompok – kelompok dan organisasi, saya rasa kalau bongkolnya (pimpinannya) diajak bicara, bisa mengerti. Jangan karena ketakutannya Ahok sendiri, membuat opini Jakarta ini gak aman, jadi masyarakat ini bertanya ada apa ini Jakarta? Kalau Gubernur merealisasikan pernyataanya itu saya siap berhadapan dengan Gubernur,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Holocaust, Turki: Jangan Abaikan Palestina

Jakarta, Aktual.co —Israel menuduh seorang pejabat senior Turki “menyalahgunakan” peringatan Holocaust untuk mengkritik kebijakan Israel. Juru Bicara Parlemen Turki Cemil Cicek pada Rabu (28/1) memberikan sambutan kepada anggota komunitas Yahudi di Turki dan yang lain pada acara peringatan Holocaust dan mengatakan meningkatnya anti-Semitisme disebabkan oleh konflik Israel-Palestina, seperti dikutip CNN
“Meski kita mengingat rasa sakit di masa lalu, tidak ada yang bisa mengabaikan serangan terakhir di Gaza, di mana 2.000 anak yang tidak bersalah, wanita dibantai. Kita perlu melihat isu secara keseluruhan,” kata Cicek, mengacu pada perang Israel dan Hamas pada Juli-Agustus tahun lalu. Emmanuel Nahason, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, mengatakan kepada Reuters bahwa Cicek “tidak adil dan mengecam (Israel) dengan keras pada saat itu benar-benar tidak pantas.”
“Israel menyatakan kekecewaannya bahwa sebuah peristiwa internasional yang didedikasikan untuk mengenang para korban Holocaust disalahgunakan untuk mengkritik kebijakan Israel,” kata Nahason. Penampilan Cicek pada acara tersebut menandai untuk pertama kalinya seorang pejabat tinggi pemerintah Turki menghadiri acara peringatan Holocaust. 
Tahun ini, upacara peringatan berlangsung di seluruh Eropa untuk menandai 70 tahun pembebasan kamp konsentrasi Auschwitz dari Nazi. Hubungan antara Israel dan Turki pecah pada 2010, ketika tentara Israel menewaskan sembilan orang Turki yang bepergian dalam konvoi bantuan kemanusiaan yang dipimpin Turki, mencoba untuk menerobos blokade Gaza.
Awal bulan ini Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu menyamakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan militan Islam yang membunuh 17 orang dalam serangan Charlie Hebdo di Paris, mengatakan keduanya telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Turki mengatakan kritik terhadap Israel tidak ditujukan bagi orang-orang Yahudi Turki, yang 17.000 di antaranya masih tinggal di negara itu, namun komunitas Yahudi mengatakan khawatir bahwa anti-Semitisme di media dan para politisi Turki membuat mereka berisiko. 

Ahsan Gembira Bisa Bertemu Lee Yong Dae

Jakarta, Aktual.co — Pebulu tangkis ganda putra Pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Mohammad Ahsan mengaku gembira karena keinginannya bertemu Lee Yong Dae/Vladimir Ivanov dalam turnamen Djarum Superliga Badminton 2015 telah terwujud.

“Itu untuk menghibur saja agar atmosfer pertandingan semakin menarik. Tapi pertandingan tadi mudah, Berry juga bermain bagus,” kata Ahsan didampingi pasangan bermainnya Berry Angriawan selepas menang atas Lee/Ivanov di GOR Lila Bhuana Denpasar, Bali, Kamis malam (29/1).

Dalam pertandingan selama 37 menit pada hari terakhir babak penyisihan turnamen berhadiah total 200 ribu dolar AS itu, Ahsan/Berry meraih skor 21-17 dan 21-15 dari Lee/Ivanov.

Pasangan Hendra Setiawan dalam ganda putra andalan PBSI itu mengaku banyak melakukan kesalahan saat bertanding. Tapi, Berry yang menjadi mitranya dapat menutup kesalahan itu sehingga mereka dapat meraih kemenangan.

“Di lapangan ada saatnya kami kalah angin dan menang angin. Kami manfaatkan itu aja. Saat menang angin, kami banyak menyerang lawan,” kata Ahsan.

Peraih medali emas dalam Asian Games 2014 itu tidak menyangka para penonton di GOR Lila Bhuana justru banyak yang mendukungnya bersama Berry meski berhadapan dengan Lee Yong Dae.

“Rasanya saya ingin terus melompat buat ambil ‘smash’ karena menjadi termotivasi dan bersemangat,” kata Ahsan tentang dukungan baginya.

Atlet berusia 27 tahun itu berharap dapat berjumpa tim Tonami Jepang dalam babak semifinal Superliga Badminton 2015 yang akan berlangsung Jumat (30/1).

Sementara, Berry mengatakan pengalamannya bertemu Lee/Ivanov akan menjadi modal untuk bertanding dalam babak semifinal karena dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan pemain dengan peringkat tinggi.

“Saya banyak mendapat arahan dari bang Ahsan saat di lapangan. Saya juga dapat mengukur kemampuan diri sendiri sehingga tahu ada di tingkat mana,” kata Berry yang merupakan pasangan Ryan Agung Saputra dalam pelatnas PBSI sejak akhir 2014.

Artikel ini ditulis oleh:

Guatanamo Dituntut Kuba dari AS

Havana, Aktual.co —Presiden Kuba, Raul Castro, menuntut Amerika Serikat mengembalikan pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo sebelum kedua negara tersebut melanjutkan kembali hubungan diplomatik. Castro juga menyatakan bahwa AS harus mencabut embargo perdagangan yang telah berlangsung setengah abad serta memberikan kompensasi kepada negaranya akibat berbagai kerusakan. Hal itu, jelas Castro, sebagai syarat rekonsiliasi.
Pernyataan Castro itu disampaikan pada pertemuan Community of Latin American and Caribbean States, Rabu (28/1) di Havana. Menurutnya, Kuba dan AS, sedang menuju kesepakatan kerjasama hubungan diplomatik namun bila semua masalah tersebut tidak terpecahkan maka hal itu muskil terjadi.
Presiden Castro dan Barack Obama pada 17 Desember 2014 mengumumkan bahwa mereka akan melakukan perbaikan hubungan diplomatik secara penuh dengan cara membuka kantor kedutaan negara masing-masing. Pengumunan tersebut disusul dengan pertemuan kedua delegasi negara di Havana pekan lalu guna mendiskusikan pembukaan kantor perwakilan diplomatik.
Obama telah melonggarkan embargo perdagangan terhadap Kuba demi meningkatnya ekonomi negara komunis itu serta memberikan kesempatan kepada warga Kuba agar hidupnya tidak terlalu terbantung kepada negara. Selain itu, pemerintahan Obama juga mencabut pelarangan perjalanan ke Kuba. Kebijakan ini disambut baik Kuba.

DPRD Minta Pemprov DKI Patuhi Permendag Miras

Jakarta, Aktual.co —Pemprov DKI diminta patuhi Peraturan Menteri Perdagangan yang melarang peredaran miras golongan A di minimarket. Dengan begitu, bisa terlacak mana minimarket yang melanggar menjual miras.
“Kalau ada yang terbukti (jual miras) tinggal ditindak,” ujar Sekretaris Komisi E DPRD DKI, Fahmi Zulfikar, di DPRD DKI, Kamis (29/1). 
Dia berpendapat Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama tidak perlu khawatir mengenai potensi munculnya pasar gelap akibat dibatasinya peredaran miras.
Adanya pasar gelap, kata dia, lebih disebabkan penegakan hukum yang kurang tegas. Dan untuk pengawasannya merupakan tanggung jawab semua pihak.
“Narkoba aja aparat bisa tau, masa itu miras gak tau. Orang akan tau bahwa di situ penjual miras ilegal kalau itu dilakukan berkali-kali,” ujar dia.
Sebelumnya untuk mengawasi miras oplosan, dia meminta Pemprov DKI  mengawasi kios-kios  penjual jamu. Jika terbuki menjual minuman keras, harus dilakukan tindakan tegas. 
Hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan atas maraknya peredaran miras  oplosan di Jakarta yang ditengarai banyak dijual di tukang jamu.
“Tempat penjualan miras di Jakarta itu sebenarnya identik dengan penjual jamu. Pemprov DKI harus menertibkan itu. Kan ada Satpol PP ada Bimas, ada Babinsa untuk menertibkannya,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain