13 April 2026
Beranda blog Halaman 39520

Provinsi Diyala Direbut Pasukan Irak dari ISIS

Baghdad, Aktual.co —Militer Irak berhasil membebaskan provinsi Diyala yang diduduki Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Seorang perwira tinggi AD Irak mengatakan, militer kini menguasai semua wilayah berpenduduk di provinsi itu. “Kami umumkan pembebasan provinsi Diyala dari organisasi ISIS,” kata Letnan Jenderal Abdulamir al-Zaidi, Senin (26/1/), seperi dikuti Kompas.com
Letjen Al-Zaidi menambahkan, angkatan darat Irak sudah merebut kembali dan mengendalikan sepenuhnya semua kota, distrik dan subdistrik di provinsi tersebut. Pertempuran terakhir memperebutkan wilayah berpenduduk di provinsi Diyala terjadi pada Jumat pekan lalu hingga Senin di kawsan Muqdadiyah, sebelah timur laut ibu kota Diyala, Baquba.
Al-Zaidi dan ketua dewan distrik Adnan al-Tamimi sama-sama mengatakan, pasukan Irak kini sudah mengendalikan seluruh wilayah tersebut termasuk kota Muqdadiyah dan sejumlah desa tempat pertempuran berlangsung. “Sebanyak 58 pasukan pro-pemerintah tewas, 248 lainnya luka. Sementara lebih dari 50 orang anggota ISIS tewas,” tambah Letjen Al-Zaidi.
Meski sudah menguasai Diyala, Al-Zaidi mengatakan pertempuran belum berakhir. Dia menambahkan, pertempuran selanjutnya akan terjadi di kawasan pegunungan Hamreen yang melintasi beberapa provinsi, termasuk Diyala. Pada Juni tahun lalu ISIS menggelar serangan kilat yang dimulai dengan direbutnya kota Mosul di wilayah utara Irak. Keberhasilan merebut Mosul itu kemudian dilanjutkan dengan menguasai hampir seluruh wilayah Arab Sunni di Irak.
Pasukan federal Irak, Peshmerga Kurdi dan milis Syiah ditambah beberapa milisi Sunni bahu membahu melawan pasukan ISIS di berbagai tempat di Irak. Sementara itu, koalisi internasional pimpinan AS menggelar serangan udara di Suriah dan Irak serta memberikan pelatihan bagi pasukan Irak.

Artikel ini ditulis oleh:

“Facebook” Digugat 25.000 Orang

Vienna, Aktual.co —Sebuah pengadilan di Austria, Senin (26/1), akan mempertimbangkan gugatan class action dari 25.000 orang terhadap Facebook yang dianggap melanggar privasi mereka. “Sidang akan digelar pada 9 April mendatang untuk mempertimbangkan apakah gugatan itu diterima atau tidak,” kata Beatrix Engelmann, juru bicara pengadilan kriminal regional Vienna.

Gugatan class action itu pertama kali didaftarkan pada Agustus tahun lalu dan dimotori oleh Max Schrems, seorang sarjana hukum muda Austria yang selama beberapa tahun terus melawan Facebook. Setiap penggugat, sebagian besar berasal dari Eropa dan sisanya dari Asia, Amerika Latin dan Australia, menuntut ganti rugi simbolis sebesar 500 euro atau sekitar Rp 7 juta dari raksasa media sosial asal Amerika Serikat itu.

Para menuntut mengklaim Facebook telah melakukan banyak pelanggaran termasuk penggunaan secara ilegal data pribadi para pengguna media sosial itu. Mereka juga menggugat partisipasi Facebook dalam program mata-mata (PRISM) yang dilakukan Badan Keamanan Nasional (NSA). Berdasarkan kelompok advokasi Europe-v-Facebook yang dikeloka Max Schrems, Facebook telah membantah tuduhan itu namun tidak menjelaskan alsannya. Di saat yang sama, Facebook mencoba menunda kasus ini dan mempertanyakan keabsahan gugatan.

“Facebook mengklaim mereka secara efektif tak dapat digugat di manapun,” kata kelompok advokasi itu. “Kami sudah mengevaluasi semua keberatan yang diajukan Facebook. Nampaknya, mereka hanya mencoba menunda prosedur hukum dengan berbagai argumen yang aneh,” kata kuasa hukum Europe-v-Facebook, Wolfram Proksch. Sejauh ini belum diperoleh tanggapan resmi dari manajemen Facebook terkait rencana class action tersebut.

SBY Sebutkan Jasa Raja Abdullah ke Indonesia

Jakarta, Aktual.co —Presiden Indonesia yang keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, menyatakan berduka atas meninggalnya Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz. Melalui akun Twitter-nya @SBYudhoyono, SBY menyebut Abdullah sebagai sahabat baik Indonesia. “Selaku mantan presiden dan pribadi, saya mengucapkan belasungkawa yang dalam,” kata SBY, Sabtu, 24 Januari 2015.

Menurut SBY, di bawah kepemimpinan Raja Abdullah, Saudi memiliki hubungan bilateral yang baik dan kuat dengan Indonesia. Abdullah, kata SBY, memberikan perhatian yang besar terhadap Indonesia. “Atas permohonan saya, beliau memberikan pengampunan atas banyak WNI yang divonis hukuman mati di Saudi Arabia.” Abdullah, SBY melanjutkan, mengabulkan permohonan Indonesia yang meminta penanganan terhadap ribuan warga negara Indonesia yang melebihi batas waktu izin tinggal dilaksanakan dengan baik dan dengan cukup waktu.

Abdullah juga memberikan bantuan saat Sumatera Barat dilanda gempa bumi pada 2009. “Dari Padang, yang alami gempa bumi tahun 2009, saya menelepon beliau untuk ucapkan terima kasih atas bantuan yang besar kepada Sumbar dan Indonesia.” Kerja sama juga terjalin lewat lomba musabaqah tilawatil Quran (MTQ).

SBY mengatakan, pada masa kepemimpinannya dan Abdullah, tiap tahun Indonesia dan Saudi menyelenggarakan MTQ internasional di Indonesia. SBY juga mengatakan beberapa kali bertemu dengan Abdullah, misalnya dalam forum G-20, untuk meningkatkan kemitraan dan mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Menteri ESDM Mengelak Serahkan Harga Premium ke Pasar

Jakarta, Aktual.co — Dihadapan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Pemerintah melalui  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah tudingan bahwa telah melepas harga bahan bakar minyak (BBM)  dengan dihapusnya subsidi BBM jenis Premium. Pemerintah mengklaim masih turut andil dalam penentuan harga BBM Premium tersebut.

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan kurang tepat jika berbagai pihak menilai bahwa penghapusan subsidi BBM Premium agar mengikuti mekanisme harga pasar internasional.

“Sebab setelah kebijakan penghapusan subsidi BBM jenis premium, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden dan Keputusan Presiden untuk menentukan harga,” kata Sudirman dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (26/1).

Ia menjelaskan, penentuan harga awalnya dilakukan sebulan sekali, namun karena melihat harga minyak dunia terus mengalami fluktuatif maka penentuan harga dilakukan dalam waktu dua pekan.

“Terdapat pola dan aturan yang diterapkan dalam menentukan harga Premium. Jadi Menteri ESDM yang menyampaikan keputusan harga kepada Presiden karena bukan lagi berasal dari subsidi,” jelasnya.

Maka dari itu, Sudirman menyebut tidak tepat jika Pemerintah dinilai menyerahkan harga ke pasar.

“Jadi dalam penentuan harga sudah ada pola dan aturan yang diterapkan. Jadi kalau harga dilepas market rasanya kurang tepat,” tukasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

ISIS Tawarkan Pertukaran Sandera, Jepang dengan Jordania

Amman, Aktual.co —Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menuntut pembebasan seorang perempuan pelaku serangan bom asal Irak yang kini menunggu eksekusi hukuman mati di Jordania untuk ditukar dengan seorang sandera asal Jepang. Sajida al-Rishawi (44) dijatuhi hukuman mati pada 2006 setelah terbukti terlibat dalam serangan bom di tiga buah hotel di Amman, Jordania yang menewaskan 60 orang pada 9 November 2005. Serangan itu mengguncang Jordania yang dikenal sebagai salah satu negara paling stabil di Timur Tengah.

Sajida ditahan aparat keamanan Jordania empat hari setelah serangan itu di mana suaminya, Ali Hussein al-Shammari dan dua warga Irak lainnya berperan sebagai pengebom bunuh diri. Korban terbanyak jatuh ketika Ali Hussein al-Shammari meledakkan diri di hotel Radisson SAS di tengah sebuah pesta pernikahan yang sedang berlangsung. Dalam waktu bersamaan dua hotel lain juga diserang dengan sebagian korban tewas adalah warga Jordania.

Setelah ditahan, pemerintah Jordania memamerkan Sajida lewat stasiun televisi nasional dan membuatnya mengaku bahwa perempuan itu menemani suaminya ke Jordania untuk melakuan serangan maut itu. Dalam pengakuannya di televisi, Sajida memamerkan sebuah sabuk bahan peledak yang dipasang di dalam jubahnya yang panjang dan menuturkan dengan tenang jalannya serangan maut itu. Sajida, yang mengenakan kerudung putih saat berbicara di televisi Jordania, mengatakan di menit-menit terakhir sabuk peledak yang dikenakannya gagal meledak.

Perempuan itu mengatakan, suaminya adalah salah satu pelaku pengeboman dan mereka pergi ke Jordania menggunakan paspor palsu. Dalam siaran televisi itu juga Sajida mempraktikkan bagaimana mengaktifkan peledak yang ada di sabuknya itu. Sajida mulai disidangkan pada April 2006 bersama Abu Musab al-Zarqawi, pemimpin Al-Qaeda di Irak. Zarqaqi yang akhirnya tewas dalam serangan udara AS di Irak pada Juni 2006, mengaku mendalangi tiga bom bunuh diri di Jordania itu.

Setelah sidang berjalan tiga bulan, pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis hukuman mati untuk Sajida al-Rishawi karena terbukti terlibat dalam konspirasi serangan teroris. Dalam video yang dirilis akhir pekan lalu oleh ISIS, menampilkan foto sandera Jepang Kenji Goto memegang foto jasad rekannya Haruna Yukawa. Video itu dirilis dengan dilengkapi audio suara pria yang diduga adalah Goto yang menyalahkan PM Shinzo Abe terkait kematian Yukawa karena pemerintah Jepang tidak membayarkan tebusan sebesar 200 juta dolar. Suara pria itu juga menyampaikan tuntutan tambahan yaitu pembebasan Sajida al-Rishawi untuk ditukar dengan kebebasan Kenji Goto. “Semua sangat sederhana, kalian berikan Sajida kepada mereka dan saya akan dibebaskan,” demikian suara yang diduga milik Goto itu.

Operasi Militer AS di Yaman tidak Terganggu

New Delhi, Aktual.co —Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menegaskan operasi anti-terorisme di Yaman tetap berjalan seperti biasa. Saat ini, Yaman tidak mempunyai pemimpin, setelah presiden dan perdana menteri mengundurkan diri akibat serangan pemberontak Houthi. Operasi anti-terorisme AS dalam menumpas kelompok teroris al Qaeda masih berlangsung walau Yaman mengalami kekosongan kekuasaan.

Metode penumpasan al Qaeda cabang Yaman atau AQAP juga tetap sama, yakni dengan serangan udara. “Pendekatan tersebut (serangan udara) bukan aksi sederhana, tapi itu merupakan pilihan terbaik kami,” ucap Obama, dalam kunjungannya di New Delhi, India, Minggu (25/1). “Alternatif lainnya adalah mengirim pasukan AS dalam jumlah besar, tapi hal itu berpotensi menimbulkan banyak masalah lain.” sambung Obama, yang ditemani Perdana Menteri India Narendra Modi, seperti diwartakan Associated Press.

Obama mengaku khawatir terhadap kosongnya kekuasaan di Yaman. “Negara tersebut tidak pernah bisa disebut sebagai negara demokrasi yang sempurna atau negara stabil,” sebut Obama. Ketidakstabilan di Yaman memunculkan kekhawatiran terhadap kebijakan Obama. Sejumlah pejabat Negeri Paman Sam berpendapat Obama perlu mengirim pasukan khusus untuk menumpas ekstremisme di Yaman.

Berita Lain