17 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39521

Presiden Perancis Berjanji Lindungi Semua Agama

Jakarta, Aktual.co — Presiden Perancis, Francois Hollande berjanji bahwa negara akan melindungi semua agama. Ia mengatakan, bahwa Muslim merupakan korban utama dari Fanatisme.
Hal tersebut disampaikan ketika berbicara dalam forum Arab World Institute, (15/1).
“Muslim Perancis memiliki hak yang sama seperti semua lainnya Perancis. Kami memiliki kewajiban untuk melindungi mereka. Tindakan anti-Muslim dan anti-Semit harus dikutuk dan dihukum,” kata dia, seperti dilansir dari BBC.com.
Dia mengatakan, bahwa Islam radikal hidup dari kontradiksi, kemiskinan, ketimpangan dan konflik. “Itu adalah umat Islam yang menjadi korban pertama dari fanatisme, fundamentalisme dan intoleransi,” kata dia.
Laporan: Nebby

Artikel ini ditulis oleh:

Sutarman Diberhentikan, Kabarnya Siang Ini BG Dilantik Presiden

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo  telah memberhentikan Jenderal Polisi Sutarman sebagai Kapolri. Selain itu kabar yang diperoleh dari sumber Aktual.co mengatakan Komjen Pol Budi Gunawan akan dilantik oleh Presiden pada Jum’at (16/1) pukul 14.00 Wib.
Diketahui, Kapolri Jendral Sutarman dan calon Kapolri Komjen Budi Gunawan dipanggil Presiden Joko Widodo ke Istana Negara pagi tadi, Jumat (16/1). Pemanggilan kedua petinggi Polri itu dikabarkan membahas mengenai isu pergantian Kapolri dan penetapan tersangka.
Kabar lainnya, hasil pertemuan Presiden tersebut dengan Kapolri Jendral Sutarman dan calon Kapolri Komjen Budi Gunawan, mengambil keputusan setelah dilantik Komjen Budi Gunawan akan dinonaktifkan.
Sementara itu, Irjen Pol (Pur) Sisno Adiwinoto mengatakan Presiden Joko Widodo dapat menggunakan hak prerogatifnya yakni Abolisi kepada Komjen Pol Budi Gunawan yang kasusnya di KPK sangat janggal.
“Presiden juga bisa memakai hak abolisinya untuk kasus yang janggal terhadap Budi Gunawan ini,” demikian Sisno.  

Artikel ini ditulis oleh:

Pengamat: Pendidikan Indonesia Belum Siap Tanpa UN

Malang, Aktual.co — Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Malang (UM) Prof Suko Wiyono mengatakan dunia pendidikan di Indonesia masih belum siap menerapkan standard kelulusan tanpa adanya ujian nasional.
Alasannya, karena mindset sekolah saat ini masih mengandalkan kuantitas belum mengacu kepada persaingan kualitas.
“Kalau tanpa ada UN akan sulit sekali bagi dunia pendidikan untuk pengembangan diri, karena saat ini mindsetnya masih kuantitas,” kata Suko Wiyono kepada Aktual.co, Jum’at (16/1).
Dunia pendidikan Indonesia bisa siap menerapkan standar kelulusan tanpa ujian nasional bila semangat pendidikan sudah berpacu dan bersaing dalam hal kualitas. Sementara yang terjadi saat ini kesenjangan kualitas antar sekolah negeri dan swasta masih terjadi, dimana istilah sekolah favorit grade-nya masih terlihat.
“Kalau tanpa UN semua sekolah bakal meluluskan siswanya agar nama institusi itu baik, ini juga jadi blunder sendiri,” terangnya.
Kebijakan lulus tak harus dari UN rupanya terjadi perdebatan dilapangan, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK di Kota Batu menyambut baik proporsi Ujian Nasional (UN) 50:50. Kebijakan itu dinilai mendorong lulusan berkualitas.
“Artinya sangat bagus bagi sekolah dan siswa, kelulusan tidak bergantung pada UN saja,” jelas Ketua MKKS SMK, Prayitno.
Dia menambahkan, ketentuan itu sekaligus menguatkan posisi sekolah dalam menentukan lulus tidaknya siswa. Sebab, selama ini banyak siswa pintar dan rajin ternyata gagal di UN. Sebaliknya siswa yang jarang masuk sekolah dan nakal justru lulus UN.
“Kalau sekarang ini kami bisa ikut menentukan juga, ini siswa yang nakal dan tidak, sehingga bisa menjadi pertimbangan lulus tidaknya.”

Artikel ini ditulis oleh:

Musim Tanam, Petani di NTT Kesulitan Pupuk

Kupang, Aktual.co — Memasuki musim tanam tahun 2015, sejumlah kelompok tani di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan ketersediaan pupuk ditingkat pengecer. 
Padahal sebagian dari kelompok tani yang ada telah menyerahkan uang agar bisa mendapatkan pupuk.
Staf PT Pupuk Kaltim Cabang NTT, Prasetya mengatakan bahwa saat ini stok pupuk Kaltim jenis urea dan NPK pelangi masih tersedia sekitar 788 ton, dan akan ditambah lagi sebanyak 990 ton.
“Dengan demikian stok pupuk Kaltim untuk kedua jenis tersebut masih mencukupi untuk kebutuhan petani yang saat ini masih tersimpan di enam gudang yang tersebar di Kota Kupang, Rote Ndao, Reo, Ruteng dan Ende yang dilayani oleh 10 distributor,” kata Prasetya, Jumat (16/1).  Dia menjelaskan, untuk mendapatkan pupuk, kelompok tani terlebih dahulu harus mengajukan Rancangan Definitif Kebutuhan Kelompok ke pengecer dan dinas pertanian kabupaten setempat sehingga pengecer bisa melayani sesuai kebutuhan.
Untuk distribusi pupuk hingga ke petani, distributor membeli dari produsen dan kemudian dibeli oleh pengecer dan kemudian dibeli oleh petani melalui kelompok dengan mengajukan Rancangan Definitif Kebutuhan Kelompok.
“Sesuai surat keputusan Gubernur, harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi yakni, pupuk urea Rp90 ribu per karung ukuran 50 kilogram, dan Rp115 ribu untuk jenis NPK pelangi.”
Sedangkan untuk harga non subsidi pupuk jenis urea Rp250 ribu per karung ukuran 50 kilogram dan Rp550 ribu per karung ukuran 50 kilogram.

Artikel ini ditulis oleh:

Kasus Pelecehan Seksual di Kotawaring Timur Meningkat

Jakarta, Aktual.co — Meningkatnya kasus pelecehan seksual menjadi ancaman serius di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Lentera Kartini, Forisni Aprilista mengatakan, masalah tersebut harus menjadi perhatian bersama.
“Khususnya para orangtua untuk benar-benar menjaga anaknya. Ironisnya, sebagian pelakunya adalah orang yang sudah dikenal, bahkan cukup dekat dengan korban,” kata dia di Sampit, Jumat (16/1).
Dia mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kotim cukup tinggi dan dikhawatirkan terus meningkat. “Ibarat fenomena gunung es, kasus-kasus yang terungkap saat ini hanya sebagian kecil karena umumnya korban enggan melapor karena takut jiwanya terancam atau malu.”
Sejak April 2014 hingga Januari 2015 ini, LSM Lentera Kartini setidaknya menangani 44 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang didominasi kasus pelecehan seksual. LSM yang memang konsen terhadap perlindungan perempuan dan anak ini berusaha mengawal penanganan kasusnya oleh penegak hukum serta melakukan pendampingan agar korban merasa aman.
Data di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kotim, ada 20 kasus selama 2014. Yakni, pelecehan seksual sebanyak sepuluh kasus, kekerasan dalam rumah tangga ada lima kasus, dugaan perkosaan sebanyak dua kasus, kekerasan fisik dan psikis sebanyak dua kasus, serta masalah hak asuh anak sebanyak satu kasus.
Forisni yang juga Wakil Ketua P2TP2A Kotim ini meminta pemerintah daerah dan penegak hukum lebih serius melakukan upaya pencegahan dan menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Masalah ini menyangkut masa depan anak-anak dan keluarganya.
“Pemerintah daerah harus menempatkan pejabat yang benar-benar mempunyai komitmen terhadap penanganan dan pemberdayaan perempuan dan anak. Bukan yang hanya mengaku mendukung, tapi tidak ada tindakan nyata di lapangan,” kata Forisni.
Untuk memaksimalkan upaya di lapangan, pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Polres Kotim, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kesehatan, RSUD dr Murjani Sampit dan instansi lainnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Empat Terpidana Mati di Riau Tunggu Kepastian Eksekusi

Jakarta, Aktual.co — Empat terpidana hukuman mati di Provinsi Riau masih berada di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pekanbaru, menunggu kepastian jadwal eksekusi.
“Di Riau ada empat terpidana hukuman mati masih di Lapas Pekanbaru,” kata Kepala Bidang Registrasi Kantor Wilayah Hukum dan HAM Riau Daswirman, Jumat (16/1).
Dia mengatakan empat terpidana mati tersebut dihukum dalam kasus narkoba, namun ada juga kasus pembunuhan berencana. Berdasarkan informasi, lanjut Daswirman, empat terpidana tersebut masuk dalam daftar yang akan segera dieksekusi oleh Kejaksaan Agung.
“Nampaknya termasuk yang diumumkan oleh Kejagung, tapi kapan jadwalnya belum jelas.”
Namun, dia mengaku belum bisa mengumumkan terkait identitas para terpidana mati tersebut. Alasannya, data terpidana mati sulit diakses karena terjadi gangguan jaringan internet di kantor Kanwil Hukum dan Ham Riau.
“Langsung saja ke Lapas Pekanbaru untuk data rincinya,” kata Daswirman.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru Dadi Mulyadi enggan diwawancarai perihal terpidana mati di Riau. Ketika dihubungi wartawan, dia mengatakan sedang tidak berada di Lapas.
Dia juga keberatan untuk menginformasikan riwayat kasus para terpidana mati tersebut. “Saya tidak mau ada kehebohan di sini,” kata dia.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung menyatakan enam terpidana mati kasus narkoba akan dieksekusi secara serentak pada 18 Januari 2015 di Pulau Nusakambangan, Cilacap dan Boyolali.
Keenam terpidana mati tersebut, yakni, Namaona Denis (48) Warga Negara Malawi, Marco Archer Cardoso Mareira (53) Warga Negara Brazil, Daniel Enemua (38) Warga Negara Nigeria, Ang Kim Soei (62) tidak jelas kewarganegaraannya, Tran Thi Bich Hanh (37) Warga Negara Vietnam dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia, Warga Negara Indonesia.
Permohonan grasi dari keenam terpidana mati itu, sudah ditolak tertanggal 30 Desember 2014. Lima terpidana mati akan dieksekusi di Pulau Nusakambangan dan satu terpidana mati dieksekusi di Boyolali, karena ditahannya di LP Bulu, Semarang, Jawa Tengah.
Eksekusi tersebut merupakan tahap pertama karena akan menyusul gelombang berikutnya. Sampai hari ini ada 77 pengedar narkoba yang telah divonis mati, namun baru enam orang saja yang akan dilakukan eksekusi.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain