19 April 2026
Beranda blog Halaman 39643

Bank Dunia: Harga Minyak Seperti 1985/1986

Jakarta, Aktual.co —   Bank Dunia menyatakan penurunan harga minyak seperti yang terjadi pada 2015 ini adalah sama seperti dengan fenomena penurunan yang terjadi sebelumnya pada periode 1985-1986.

“Baik kolapsnya harga minyak saat ini maupun harga minyak yang dialami pada 1985/1986 adalah mengikuti naiknya produksi minyak dari sumber-sumber nonkonvensional,” kata Ekonom Senior Grup Prospek Pembangunan Bank Dunia, John Baffes, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (23/1).

Menurut John Baffes, penyebab penurunan harga minyak yang serupa dari dua kejadian di waktu yang bersamaan adalah pengabaian OPEC atas penargetan harga minyak. Berdasarkan data Bank Dunia, harga minyak pada 2015 ini rata-rata 53 dolar AS per barel pada tahun 2015, atau 45 persen lebih rendah dibandingkan dengan 2014. Selain itu, pelemahan harga minyak juga kemungkinan bakal berimbas pula kepada harga komoditas lainnya, khususnya yang berkaitan dengan gas alam, pupuk, dan komoditas pangan.

Di Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan bahwa warga harus beradaptasi dengan kondisi harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa berubah setiap bulan.

“Masyarakat harus bisa beradaptasi dengan perubahan harga, bisa berubah dalam satu bulan. Namun, masih kita lakukan ‘review’ terlebih dahulu,” kata Sofyan.

Hal tersebut, kata dia, merupakan kebijakan penyesuaian untuk mengikuti harga minyak dunia yang fluktuatif dan bisa mengalami kenaikan atau penurunan setiap saat.

Menurut Sofyan, dengan kondisi tersebut, harga kebutuhan pokok dan jasa di lapangan juga akan mengalami perubahan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Menpora Minta Tim Sembilan Undang Kembali PSSI

Jakarta, Aktual.co — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi meminta Tim Sembilan kembali mengundang PSSI guna melakukan audiensi terkait dengan perkembangan sepak bola yang sebelumnya tertunda.

“Ini adalah tugas Tim Sembilan. Pasti dijadwalkan kembali pertemuan itu. Semuanya harus sabar,” kata Menpora Imam Nahrawi di sela kunjungan kerja ke Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (23/1).

Hal ini diminta karena, jadwal pertemuan pada Kamis (22/1) kemarin, gagal terlaksana.

Pasalnya, PSSI yang telah meluangkan waktu dengan menyanggupi untuk datang ke Gedung Kemenpora dengan dikomandoi langsung oleh Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, ternyata anggota Tim Sembilan Menpora tidak ada di tempat.

Padahal, pada Rabu (21/1) pihak Tim Sembilan telah melayangkan undangan ke PSSI untuk melakukan audiensi di gedung Kemenpora lantai 10, pukul 16.00 WIB.

Artikel ini ditulis oleh:

Pertandingan Final IIC Dipindah Akibat Tak Dapat Ijin

Jakarta, Aktual.co — Final Inter Island Cup (IIC), mengalmi pemindahan lokasi pertandingan. Pemindahan lokasi pertandingan itu karena, pihak berwajib tidak memberikan ijin keramaian.

PT Liga Indonesia (PT LI) selaku operator kompetisi profesional di Indonesia, awalnya menunjuk Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, sebagai tempat pertandingan babak final IIC yang mempertemukan Arema Cronus kontra Persib Bandung, pada 27 Januari.

Namun, pertandingan tersebut harus digeser ke Stadion Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan.

“Final IIC dipindah ke Palembang, dan akan diselenggarakan pada 1 Februari 2015,” kata CEO PT LI, Joko Driyono ketika dihubungi, Jumat (23/1).

Diungkapkan pria yang juga menjabat sebagai Sekjen PSSI itu, pemindahan tempat pertandingan tersebut karena pihak kepolisian setempat, tidak memberikan ijin keramaian.

“Pemindahan itu karena terkendala dengan ijin oleh pihak kepolisian Bantul,” ungkapnya.

Pertandingan final IIC ini sempat tertunda selama satu tahun. Ini karena berbagai kendala yang dihadapi.

Seharusnya, pertandingan final pra-musim ini, dilakukan sebelum kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2014 kemarin dimulai.

Artikel ini ditulis oleh:

Harga Ekspor Anjlok, Pengusaha Batubara Semakin Terpuruk

Jakarta, Aktual.co — Bisnis sektor pertambangan batu bara di Sumatera Selatan mengalami keterpurukan akibat anjloknya harga ekspor pada titik terendah sejak tiga tahun terakhir. Pemerintah telah menerima laporan dari beberapa kabupaten perihal penghentian ekplorasi oleh sejumlah pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP).

“Sekitar 100 pemilik IUP dari 236 yang ada telah menghentikan kegiatan karena tidak sanggup menanggung biaya produksi yang tinggi sejak harga batubara merosot di tahun 2011,” ujar Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Pertambangan Sumsel Izromaita di Palembang, Jumat (23/1).

Lebih lanjut dikatakan bahwa harga batubara di pasaran hanya USD25 hingga USD30 per ton atau sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu untuk jenis kalori rendah. Itu pun harga batu bara ketika sudah di atas tongkang. Kondisi ini demikian memberatkan pelaku bisnis untuk bertahan mengingat biaya untuk penggalian saja mencapai sekitar Rp180 ribu per ton.

“Belum lagi biaya angkutan yang terbilang tidak murah karena infrastruktur di Sumsel terbilang belum memadai. Jadi mau dimana lagi mereka mendapat selisih,” kata dia.

Ia menjelaskan, kenyataan ini membuat para pengusaha batu bara memutuskan stagnan untuk sementara waktu sembari menanti perbaikan perekonomian dunia.

Namun, untuk pemilik IUP yang masa izin pemanfaatan lahannya telah habis maka pemerintah memutuskan untuk mencabut karena tidak ada aktivitas.

“Saat ini perusahaan yang masih bertahan itu umumnya mereka yang memiliki kontrak jangka panjang dengan pembeli dan jenis batu baranya berkalori tinggi,” kata dia.

Produksi batu bara Sumsel mencapai 24 juta ton pada 2014 atau meningkat satu juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi ini bukan karena penambahan produksi secara nyata di lapangan tapi berkat pembenahan tata niaga yang dilakukan Kementerian ESDM bekerja sama dengan KPK pada akhir tahun 2014. Sebanyak 359 IUP direvisi menjadi hanya 236 IUP.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Presiden Diminta Ambil Keputusan Sikapi Kemelut Polri dan KPK

Jakarta, Aktual.co — Badan Reserse Kriminal Mabes Polri telah mencokok Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Bambang Widjojanto usai mengantarkan anaknya ke sekolah, di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/1).
Presiden Joko Widodo diminta segera mengambil keputusan menyikapi masalah kepemimpinan Polri. Pasalnya saat ini dianggap terjadi kevakuman kepemimpinan setelah Jenderal Pol Sutarman diberhentikan sebagai Kapolri.
“Sekarang organisasi tanpa kepala. Kita butuh keputusan cepat bapak Presiden,” kata Mantan Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal (Purn) Oegroseno.
Oegroseno mengatakan, kevakuman kepemimpinan di Polri itu terlihat dari penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Terlebih, sambung dia, Bareskrim tidak melaporkan kepada Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti selaku pelaksana tugas Kapolri.
Seharusnya, kata dia Kabareskrim Irjen Budi Waseso melaporkan terlebih dulu kepada Badrodin. Langkah itu harus dilakukan lantaran menyangkut etika. “Ini vakum sekarang. Polri sudah lumpuh,” kata dia.
Dia menilai, Wakapolri saat ini tidak bisa mengambil keputusan yang mengikat. Oegroseno menambahkan, situasi itu terjadi karena pangkat Kabareskrim dan Wakapolri sama.
Oegroseno menganggap percuma pertemuan Jokowi dengan Badrodin dan pimpinan KPK di Istana Bogor pada siang ini, kalau tidak ada ketegasan Presiden.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Mengenang Sejarah, Tanggal 23 Januari: Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil

Jakarta, Aktual.co —  Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta 23 Januari adalah peristiwa yang terjadi pada 23 Januari 1950 dimana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ada di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Depot Speciale Troepen (Pasukan Khusus) KNIL.

Mereka masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Aksi gerombolan ini telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.

APRA merupakan pemberontakan yang paling awal terjadi setelah Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda. Hasil Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan suatu bentuk negara Federal untuk Indonesia dengan nama RIS (Republik Indonesia Serikat).

Suatu bentuk negara ini merupakan suatu proses untuk kembali ke NKRI, karena memang hampir semua masyarakat dan perangkat-perangkat pemerintahan di Indonesai tidak setuju dengan bentuk negara federal.

Tapi, juga tidak sedikit yang tetap menginginkan Indonesia dengan bentuk negara federal, hal ini menimbulkan banyak pemberontakan-pemberontakan atau kekacauan-kekacauan yang terjadi pada saat itu.

Pemberontakan- pemberontakan ini dilakukan oleh golongan- golongan tertentu yang mendapatkan dukungan dari Belanda karena merasa takut jika Belanda meninggalkan Indonesia maka hak-haknya atas Indonesia akan hilang.

Pertengahan Januari 1950, Menteri UNI dan Urusan Provinsi Seberang Lautan, Mr.J.H. van Maarseven berkunjung ke Indonesia untuk mempersiapkan pertemuan Uni Indonesia-Belanda yang akan diselenggarakan pada bulan Maret 1950.

Hatta menyampaikan kepada Maarseven, bahwa dia telah memerintahkan kepolisian untuk menangkap Westerling. Ketika berkunjung ke Belanda, Menteri Perekonomian RIS Juanda pada 20 Januari 1950 menyampaikan kepada Menteri Götzen, agar pasukan elit RST yang dipandang sebagai faktor risiko, secepatnya dievakuasi dari Indonesia.

Sebelum itu, satu unit pasukan RST telah dievakuasi ke Ambon dan tiba di Ambon tanggal 17 Januari 1950. Pada 21 Januari Hirschfeld menyampaikan kepada Götzen bahwa Jenderal Buurman van Vreeden dan Menteri Pertahanan Belanda Schokking telah menggodok rencana untuk evakuasi pasukan RST.

Namun demikian, upaya mengevakuasi Reciment Speciaale Troepen, gabungan baret merah dan baret hijau terlambat dilakukan. Westerling mendengar mengenai rencana tersebut dari beberapa bekas anak buahnya, sebelum deportasi pasukan RST ke Belanda dimulai, pada 23 Januari 1950 Westerling melancarkan “kudetanya.” Subuh pukul 4.30 hari itu, Letnan Kolonel KNIL T. Cassa menelepon Jenderal Engles.

Dan, melaporkan, “Satu pasukan kuat APRA bergerak melalui Jalan Pos Besar menuju Bandung.” Namun laporan Letkol Cassa tidak mengejutkan Engles, karena sebelumnya, pada 22 Januari pukul 21.00 dia telah menerima laporan, bahwa sejumlah anggota pasukan RST dengan persenjataan berat telah melakukan desersi dan meninggalkan tangsi militer di Batujajar.
Jakarta.

Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. 94 anggota TNI tewas dalam pembantaian tersebut, termasuk Letnan Kolonel Lembong, sedangkan di pihak APRA, tak ada korban seorang pun.

Sementara itu, Westerling memimpin penyerangan di Bandung, sejumlah anggota pasukan RST dipimpin oleh Sersan Meijer menuju Jakarta dengan maksud untuk menangkap Presiden Soekarno dan menduduki gedung-gedung pemerintahan. Namun dukungan dari pasukan KNIL lain dan Tentara Islam Indonesia (TII) yang diharapkan Westerling tidak muncul, sehingga serangan ke Jakarta gagal dilakukan.

Setelah puas melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST dan satuan-satuan yang mendukungnya kembali ke tangsi masing-masing. Westerling sendiri berangkat ke Jakarta, dan pada 24 Januari 1950 bertemu lagi dengan Sultan Hamid II di Hotel Des Indes. Hamid yang didampingi oleh sekretarisnya, dr. J. Kiers, melancarkan kritik pedas terhadap Westerling atas kegagalannya dan menyalahkan Westerling telah membuat kesalahan besar di Bandung.

Tak ada perdebatan, dan sesaat kemudian Westerling pergi meninggalkan hotel.

Setelah itu, terdengar berita bahwa Westerling merencanakan untuk mengulang tindakannya. Pada 25 Januari, Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa Westerling, didukung oleh RST dan Darul Islam, akan menyerbu Jakarta. Engles juga menerima laporan, bahwa Westerling melakukan konsolidasi para pengikutnya di Garut, salah satu basis Darul Islam waktu itu.

Aksi militer yang dilancarkan oleh Westerling bersama APRA yang antara lain terdiri dari pasukan elit tentara Belanda, menjadi berita utama media massa di seluruh dunia. Hugh Laming, koresponden Kantor Berita Reuters yang pertama melansir pada 23 Januari 1950 dengan berita yang sensasional.

Osmar White, jurnalis Australia dari Melbourne Sun memberitakan di halaman muka: “Suatu krisis dengan skala internasional telah melanda Asia Tenggara.” Duta Besar Belanda di Amerika Serikat, van Kleffens melaporkan bahwa di mata orang Amerika, Belanda secara licik sekali lagi telah mengelabui Indonesia, dan serangan di Bandung dilakukan oleh “de zwarte hand van Nederland” (tangan hitam dari Belanda).

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain