14 April 2026
Beranda blog Halaman 40159

Selisih Harga BBM dan Elpiji, DPR: Ini Langkah Kontraproduktif Anak Buah Jokowi

Jakarta, Aktual.co — Pemerintahan Presiden Joko Widodo disarankan agar melakukan evaluasi kerja. Evaluasi itu untuk memperbaiki kinerja para pembantu presiden di Kabinet Kerja yang dinilai kontraproduktif.
Hal tersebut, terkait adanya dugaan penyimpangan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Elpiji.
“Kondisi ini masih ditambah dengan para pembantu Jokowi yang kerap melakukan langkah-langkah yang kontraproduktif terhadap pemerintahan Jokowi sendiri. Saya mencatat ada beberapa langkah yang bisa merusak sistem,” kata Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah ketika dihubungi, Rabu (7/1).
Dia pun mencontohkan seperti halnya pemerintahan Jokowi yang seenaknya menaikan dan menurunkan harga bahan bakar minyak. “Langkah kontroversi juga menaikan harga BBM disaat harga BBM dunia turun, dan kita masyarakat mempertanyakan apakah benar harga BBM bersubsidi itu masih disubsidi?,” kata dia.
Belum lagi, kata Politikus asal Partai Keadilan Sejahtera itu, pemerintahan Jokowi juga tidak pernah menghargai suksesnya pemerintahan terdahulu. Meski pemerintahan terdahulu yang dipimpin SBY sudah menggelar karpet merah bagi Jokowi dan tinggal meneruskan saja.
“Pemerintahan SBY sudah meletakkan karpet merah untuk Jokowi. Dia mewariskan stabilitas politis, sosial, ekonomi dan keamanan. SBY bahkan mengundang Jokowi dan menjelaskan semuanya,” kata dia.
Sebelumnya ICW menilai salah satu celah penyimpangan adalah kebijakan pemerintah yang melepas harga bahan bakar minyak Premium dan LPG 12 kilogram sesuai harga pasar. Sebab bahan bakar menyangkut hajat hidup orang banyak. Selain itu, kebijakan melepas pada harga pasar atau meniadakan subsidi juga menyebabkan hilangnya pengawasan. Tak ada lagi unsur keuangan negara di dalamnya yang harus diaudit BPK.
Soal LPG, ICW juga menyoroti rencana pemerintah yang akan mengganti biaya transportasi BBM Premium untuk luar Jawa dan Bali sebesar 2 persen. Padahal di dalam mekanisme perhitungan harga BBM bersubsidi sudah terkandung komponen biaya distribusi. “Artinya akan ada penambahan biaya yang tidak jelas dasar hukum dan mekanismenya, ini juga bisa berpotensi menjadi celah bagi para pemburu rente,” kata Koordinator Divisi Monitoring dan Analisis Anggaran ICW Firdaus Ilyas. 

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Kenaikan Harga Elpiji 12 Kilogram Dinilai Ada Penyimpangan

Pekerja menurunkan tabung gas Elpiji 3 Kg, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (7/1/2015). Penetapan harga bahan bakar minyak dan elpiji berukuran 12 kilogram yang diterapkan pemerintah Joko Widodo lebih mahal dibandingkan harga yang beredar di pasaran. Indonesia Corruption Watch menilai, mahalnya harga BBM dan elpiji nonsubsidi berpotensi menimbulkan penyimpangan Rp 2,479 triliun. Kenaikan harga gas 3 kg dengan harga jual antara Rp17.000-Rp18.000 per tabung, merupakan imbas kenaikan elpiji (Liquid Petroleum Gas) ukuran 12 kg. Selain itu, masa liburan perayaan natal dan tahun baru disertai curah hujan tinggi berimbas pada peningkatan konsumsi gas melon (3 kg). AKTUAL/JUNAIDI MAHBUB

Hari Ini, Delapan Jenazah QZ8501 Teridentifikasi

Surabaya, Aktual.co — Kabid Dokes Polda Jatim, Kombes Pol Budiyono menginformasikan bahwa hari ini tim DVI berhasil mengidentifikasi 8 jenazah korban AirAsia QZ8501, Rabu (7/1). 
Kedelapan jenazah ini sudah siap untuk dikembalikan ke pihak keluarga untuk disemayamkan.
Berikut nama kedelapan jenazah tersebut:
1 B007 Ratri Sri Andriyani,  (30) Surabaya, teridentifikasi dari pemeriksaan DNA korban dan DNA Ayah kandung korban. Serta properti sabuk dan celana berukuran XXL.
2 B010 Ruth Natalia Nade Puspitasari (26), perempuan asal Blitar. Teridentifikasi berdasarkan    perbandingan DNA dengan ayah kandung serta postur gigi.
3 B011 Jou Christine Yuanita (62), teridentifikasi selain dari antemortem dan posmortem, juga didapatkan   dari pemeriksaan DNA dan sisir pribadi yang diambil di rumah korban,
4 B012 Soetiknusia (60) laki-laki, teridentifaksi  dari sikat gigi dan DNA korban.
5 B023, Rudy Sucipto (54) asal Malang, teridentifikasi berdasarkan sidikjari serta postur gigi dan beberapa data antemortem dan posmortem yang terkumpul.
6 B017 Nico Gieovani (17) Surabaya, teridentifikasi berdasarkan rekamedis gigi, properti sepatu dan kaos kaki, sidik jari
7 B014 Indah Juliangsih (44) Surabaya, selain sidik jari dan gigi, juga didukung properti kalung dan liontin yang dikenakan.
8 B032.  Stephanie Yulianto (14), asal probolinggi. Diketahui identifikasi karena  didukung posmotem dan antemortem yang terkumpul.
Kombel Buidiyono menjelaskan bahwa total hari ini  sudah 24 jenasah yang teridentifikasi dari 39 jenasah yang masuk, sehingga masih ada 15 yang belum teridentifikasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Bareskrim Polri Bentuk Tim Selidiki Pelanggaran Pidana Izin Penerbangan

Jakarta, Aktual.co — Bareskrim Polri membentuk tim untuk menyelidiki apakah ada unsur tindak pidana dalam peristiwa yang menyebabkan jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di penghujung Desember 2014 silam.
“Menurut kabareskrim tim sudah ada cuma belum ada surat perintah penyelidikannya. Tim tersebut akan terkait dengan penelusuran apa ada tindak pidana,” kata Kadivhumas Polri Irjen Pol Ronny F. Sompie, di Jakarta, Rabu (7/1).
Tim Polri nantinya berdiri sendiri dan tidak terkait dengan tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Kendati demikian pihaknya pun masih menunggu tim (KNKT) terkait investigasi penyebab jatuhnya pesawat.
Nantinya, hasil investigasi tim KNKT bisa diserahkan ke Polri sebagai bukti awal tim Polri untuk bekerja bila dalam hasil investigasi itu terdapat unsur pelanggaran pidana.
“Hasil investigasi KNKT bisa diserahkan ke Polri atau KNKT mengajak Polri kerja sama. Kalau ada bukti permulaan yang cukup terkait perbuatan pidana, kehadiran Polri untuk proses hukum itu dibutuhkan, maka Polri akan bantu,” ujarnya.
Sebelumnya diketahui bahwa petugas operasional penerbangan AirAsia baru mengambil bahan informasi cuaca setelah pesawat AirAsia QZ8501 sudah terbang, bukan sebelum pesawat lepas landas. Padahal, seharusnya data info cuaca sudah dipegang oleh pilot satu jam jelang keberangkatan.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Gerindra: Penurunan Harga BBM tidak Signifikan

Jakarta, Aktual.co — Kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) hanya menambah beban rakyat. Sebab, penurunan harga BBM yang diambil pemerintah tidak signifikan. Demikian disampaikan Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR RI, Ahmad Muzani kepada wartawan, di gedung parlemen, Jakarta, Rabu (7/1).

“Ini yang kita khawatirkan beban hidupnya rakyat. Turunnya tidak seimbang. Angkanya tidak signifikan dengan harga penurunan BBM. Pemerintah ketika menurunkan tidak cermat bahwa tren minyak dunia turun jauh,” ucap Muzani.

Menurut dia, kalau alasannya hanya harga minyak dunia naik turun, tambahnya, sejak zaman dulu grafiknya memang begitu. Seharusnya, jelas Muzani, pemerintahan Presiden Jokowi mengkaji secara cermat sebelum mengambil keputusan menaikkan harga BBM.

Sekjen Gerindra itu berpandangan, apa yang dilakukan pemerintah dengan mencabut subsidi dan menurunkan harga dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 tidak berpengaruh besar terhadap perekonomian. “Pemerintah ketika menaikan tidak memperhitungkan secara cermat. Tidak pernah dihitung dengan benar. Dan semua harga sudah kadung naik tidak mungkin turun lagi,” pungkasnya.
Novrizal Sikumbang

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Industri Pengguna Gas Bumi Sebut Harga Gas Indonesia Mahal

Jakarta, Aktual.co — Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Achmad Safiun mengatakan bahwa pihaknya mengeluhkan harga gas bumi di Indonesia yang lebih mahal dibanding harga di Malaysia dan Singapura.

“Harga gas bumi Indonesia mencapai USD10,2 per mmbtu. Setelah ada regasifikasi, harganya menjadi USD17,5-18 per mmbtu,” katanya di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (7/1).

Dikatakannya, harga gas Bumi di Singapura hanya USD3,06-USD3,87 per mmbtu. Sementara di Malaysia, harga gasnya USD2,87-3,58 per mmbtu. Bahkan, gas yang dijual ke perusahaan listrik Malaysia hanya seharga USD3,56 per mmbtu.

“Bandingkan dengan kita, PLN membeli gas mencapai USD17 per mmbtu. Itu ada yang nggak benar. Apa pun yang terjadi itu bebannya jatuh ke pelanggan yang di hilir,” terangnya.

Menurutnya, Pemerintah sudah saatnya untuk membenahi sistem tata kelola migas di Tanah Air. Saat ini pun bisa menjadi momentum yang tepat untuk melakukan pembenahan, seiring turunnya harga minyak dunia.

“Seharusnya kebijakan agar energi umumnya dan gas bumi khususnya, diperlakukan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai komoditi pemungut revenue,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain