7 April 2026
Beranda blog Halaman 40226

Balasan Menhub Jonan Atas Surat Terbuka Kapten Johny Soal Musibah AirAsia

Jakarta, Aktual.co — Musibah Pesawat AirAsia QZ8501 memicu polemik terkait penyebab musibah pesawat Airbus 320-220 itu. Antara lain bahwa pesawat itu hilang kontak dan terjatuh ke Selat Karimata akibat berhadapan dengan awan Cumulonimbus. 
Dari asumsi awal penyebab musibah ini kemudian diketahui bahwa pihak AirAsia baru mengambil bahan informasi cuaca ke BMKG pada pukul 07.00 WIB atau sesudah pesawat AirAsia hilang kontak pada pukul 06.17 WIB, Minggu 28 Desember 2014.
Hal ini memicu kontroversi. Sehingga Menteri Perhubungan Ignatius Jonan langsung sidak ke kantor maskapai AirAsia di Bandara Sukarno-Hatta. Setelah sidak itu, muncul surat terbuka yang mengkritisi tindakan Menhub Ignatius Jonan.
Termasuk surat terbuka dari pilot mantan Dirut Merpati Nusantara Airlines, Kapten Sardjono Jhony, yang mengecam sikap Jonan. Surat itu juga antara lain dimuat oleh Pilot Fadjar Nugroho di ilmuterbang.com pada Jumat 2 Januari 2015.
Setelah beredar surat terbuka dari pilot untuk Menhub Jonan di berbagai sosmed, seperti FB dan Twitter, maka hari Minggu (4/1/2014), muncullah surat terbuka balasan menjawab surat tersebut.
Kali ini surat balasan itu ditulis Staf Khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuraid. Berikut isi surat jawaban itu:
JAWABAN ATAS SURAT TERBUKA KEPADA MENTERI PERHUBUNGAN
Beberapa waktu terakhir beredar di media sosial dan media online surat terbuka dari sejumlah Pilot kepada Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.
Kami mengapresiasi isi surat tersebut, dan mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah diluangkan untuk menulis dan menginformasikannya kepada publik. Namun, untuk memenuhi hak publik atas informasi yang utuh, jelas, dan benar, kami merasa perlu untuk meluruskan dan menjelaskan sejumlah hal.
Penjelasan ini tidak spesifik kepada salah satu surat,  tetapi untuk seluruh surat dengan isi yang kurang lebih sama.
Pertama, Menhub Ignasius Jonan datang ke Air Asia dan marah besar kepada manajemen perusahaan tersebut karena laporan cuaca yang tidak diambil di briefing office tapi malah mengambil dari internet.
Tidak benar bahwa Menhub Ignasius Jonan marah karena laporan cuaca tidak diambil di briefing office tapi malah mengambil dari internet. Yang dipersoalkan Menhub adalah apakah ada briefing langsung dari Flight Operation Officer (FOO) atau Flight Dispatcher kepada Pilot tentang informasi cuaca.
Sesuai ketentuan, laporan cuaca harus berasal dari BMKG. Menhub tidak mempersoalkan apakah laporan itu diambil secara fisik atau melalui website. Yang ditekankan oleh Menhub adalah pentingnya Pilot mendapatkan briefing langsung dari FOO.
Mengapa harus briefing langsung, bukan self briefing yang lebih modern dan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi? Briefing langsung perlu dilakukan supaya ada pembicaraan dan diskusi antara FOO dan Pilot, terkait dengan penerbangan yang akan dijalankan. Termasuk tentang cuaca. Jika dari laporan cuaca terdapat situasi tertentu yang harus dicermati, FOO bisa memberi saran tentang rute atau ketinggian yang harus dilewati. Ada partner diskusi yang memungkinkan Pilot mendapatkan informasi lebih untuh sebagai bahan mengambil keputusan.   
Menjawab pertanyaan Menhub, seorang pilot senior Air Asia menyatakan lebih suka mendapat briefing langsung dibandingkan mempelajari sendiri.
Jika briefing FOO-Pilot secara langsung dinilai sudah kuno, tradisional, jadul, faktanya sejumlah maskapai melaksanakan hal itu hingga saat ini. Pada hari yang sama Menhub juga mengunjungi FLOPS Garuda Indonesia, Lion, Sriwijaya, dan Citilink. Di maskapai-maskapai tersebut briefing FOO-Pilot secara langsung dilakukan.
Atas dasar itu, demi kepentingan keselamatan penerbangan, Menhub Ignasius Jonan mengharuskan briefing secara langsung oleh FOO terhadap Pilot. Dalam waktu dekat surat edaran tentang hal itu akan diserahkan kepada seluruh maskapai. 
Kedua, Menteri Perhubungan mendamprat pilot karena mengambil informasi cuaca dari internet.
Tidak benar dan tidak ada fakta bahwa Menhub Ignasius Jonan mendamprat Pilot karena mengambil informasi cuaca dari internet.
Dalam kaitan dengan keharusan briefing FOO-Pilot, penekanan diberikan kepada maskapai, bukan Pilot. Maskapai harus memiliki sistem dan prosedur yang memungkinkan berlangsungnya briefing tersebut. Jika masalahnya jumlah FOO terbatas dan tidak mungkin melayani seluruh penerbangan, bisa kelelahan, dan sebagainya, menjadi kewajiban maskapai untuk menambah jumlah FOO.
Mahal? Benar. Keselamatan memang bukan barang murahan. Jika terjadi kecelakaan, biaya yang harus dikeluarkan akan jauh lebih mahal karena nyawa manusia tidak ternilai harganya.
Fokus Kementerian Perhubungan adalah safety atau keselamatan transportasi, baik udara, darat, laut, maupun perkeretaapian. Regulasi akan terus disempurnakan, dan pengawasan implementasinya akan makin diintensifkan. Sebagaimana prinsip sederhana yang dikedepankan Menhub Ignasius Jonan, keselamatan adalah segala-galanya. Lebih baik tidak pernah berangkat dari pada tidak pernah sampai.
Terima kasihJakarta, 3 Januari 2015
Hadi M DjuraidStaf Khusus Menteri Perhubungan
BACA JUGA: Surat Terbuka Pilot  Mantan Dirut MNA Kritisi Sidak Menhub Ignatius Jonan

Artikel ini ditulis oleh:

Ikat Pinggang Jokowi

Jakarta, Aktual.co — Tahun 1960 penduduk China telah mencapai 682 juta jiwa lebih. Pada tahun yang sama penduduk Uni Soviet tercatat 214,2 juta jiwa. Sementara rakyat Indonesia baru mencapai sekitar 97 juta orang lebih.

Semasa itu persaingan dua kubu pemenang Perang Dunia II, antara Blok Barat dipimpin Amerika Serikat dkk dengan Blok Timur dipimpin Uni Soviet (sekarang menjadi Rusia dan Commonwealth Independent State – CIS) dkk, mulai memuncak menjadi Perang Dingin.

Pimpinan kedua Blok pun berlomba menanamkan pengaruh sedalam mungkin ke berbagai negara lain yang berpotensi mendukung kepentingan global mereka. Berbagai pendekatan pun ditempuh melalui tawaran bantuan, mulai dari ranah militer, sosial budaya, maupun ekonomi. Sehingga gejolak di tiap kawasan dan benua mana pun tak terlepas dari kepentingan pengaruh Blok Barat dan Blok Timur.

Suatu kali Ketua Partai Komunis China (PKC), Mao Zedong mendapat laporan dari staf di politbiro, bahwa puluhan provinsi padat penduduk kini terancam bencana kelaparan akibat gagal panen dan banjir besar. Paling tidak ada 200 juta lebih penduduk Cina akan terancam kelaparan. Padahal kondisi keuangan dan stok pangan China sedang kembang kempis.

Mao pun bergegas ke meja telepon hotline di ruang kerjanya. Diangkatnya gagang telpon berwarna merah, lalu Mao memutar dial nomer internasional berkode 007495. Itulah kode area untuk Kremlin, Moskow, tempat pucuk pimpinan tertinggi Blok Timur bersemayam.

Di ujung sana, Nikita Kruschev pimpinan tertinggi Uni Soviet pun segera mengangkat telepon yang berdering itu. Dia langsung menyampaikan salam, “Apa kabar kamerad Mao?”

Dengan segera Mao menyampaikan perlu bantuan pangan segera untuk member makan 200 juta rakyat China yang terancam kelaparan. Selaku sekutu utama Blok Timur, Mao menegaskan, sangat wajar jika Beijing meminta bantuan Moskow.

Atas permintaan itu, Kruschev bingung karena posisi keuangan Uni Soviet pun tengah terpepet akibat tersedot kepentingan strategis membiayai pengadaan prasarana rudal nuklir di Kuba.

Apalagi bantuan pangan bagi 200 juta lebih rakyat China itu sama dengan memberi makan seluruh rakyat Uni Soviet.

Namun agar tidak menyakiti hati mitra utamanya dalam menghadapi ”setan dunia” Inggris Amerika, Kruschev pun menenangkan kegugupan Mao.

“Sabar kamerad Mao, sabar. Saran kami tolong kalian kencangkan ikat pinggang dulu,” katanya.

Mendengar tanggapan itu karuan Mao kesal. Karena kas negara RRC dan PKC juga tengah ludes akibat membiayai bentrok perbatasan China dengan India. Jangankan membeli gandum, membuat seutas tali dari secarik kain pun, Beijing sudah tidak punya uang.

Atas tanggapan Kruschev, ‘politisi Atas tanggapan Kruschev, ‘politisi preman’ yang dalam suatu sidang di PBB pernah menggunakan sepatunya untuk mengetuk-ngetuk meja untuk tanda interupsi itu, maka Mao tanpa canggung lagi langsung menukas.

“Baik kamerad Kruschev, kalau begitu tolong segera kirimi kami sedikitnya 200 juta ikat pinggang.”

Tapi itu dulu, 50 tahun yang lalu. Sekarang baik China maupun Rusia mungkin tak berselisih faham soal ikat pinggang lagi. Karena mereka kini sama-sama tertarik pada sabuk mutu manikam khatulistiwa, alias tol laut sehampar nusantara.

Boleh jadi, Jokowi yang kini butuh ikat pinggang.

Artikel ini ditulis oleh:

Gusti Randa Ingatkan Exco PSSI Jangan Tanggapi Tim 9

Jakarta, Aktual.co — Pembentukkan Tim Sembilan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) disebabkan karena perilaku Menpora, Imam Nahrawi yang suka asal berbicara. Pernyataan itu dilontarkan oleh Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DKI Jakarta, Gusti Randa.
Kalimat tersebut dikatakan Gusti ketika dirinya mengkritisi peserta Kongres Tahunan (KT) PSSI 2015. Saat itu, terdapat satu peserta KT yang mengusulkan untuk menunda kongres.
“Kalau ngomong harus sesuai statuta, jangan asal jeplak. Apa bedanya nanti sama Menpora,” ujar Gusti di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (4/1).
Selain itu, pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu juga menyarankan kepada Komite Eksekutif (Exco) PSSI untuk tidak terlalu menanggapi Tim Sembilan. Menurutnya, jika Exco terlalu reaktif, Menpora akan semakin besar kepala.
“Exco jangan terlalu responsif terhadap Tim Sembilan. Kita ini organisasi besar, kalau kita menanggapi dengan aktif bukan kita yang besar, malah Menpora yang besar nantinya,” pungkasnya.
Dalam kongres tersebut memang tidak secara khusus membahas Tim Sembilan. Namun, dalam beberapa kesempatan, baik Exco maupun peserta KTsempat menyindir tim bentukan Menpora itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Menpora Dianggap Tak Paham Dunia Sepakbola

Jakarta, Aktual.co — Mantan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Imam Nahrawi dianggap tidak pantas menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Hal itu dikatakan oleh salah satu anggota Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Kalimantan Timur, Yunus Nusi.
“Imam tidak pantas jadi Menpora,” tegas Yunus saat Kongres Tahunan (KT) PSSI 2015 di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (4/1).
Menurutnya, lebih baik jika Imam diberikan wewenang untuk mengurusi masalah kepemudaan. Untuk urusan olahraga, tunjuk satu orang yang memang mengerti.
Tak hanya itu, Yunus pun mengomentari pembentukan tim khusus pemantau kinerja PSSI atau dikenal dengan Tim Sembilan. Dia menyarankan agar Komite Eksekutif harus tegas menolak keberadaan tim tersebut.
“Lebih baik Imam jadi Menteri Pemuda saja. Menteri Olahraganya biar kita yang cari (PSSI),” ujarnya.
“Tim Sembilan adalah bukti Menpora tidak paham dengan sepakbola. PSSI harus tegas tidak terima dengan Tim Sembilan,” pungksnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Basarnas Duga Banyak Jenazah Terjebak di Badan Pesawat AirAsia

Jakarta, Aktual.co — Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI F Henry Bambang Soelistyo, menduga banyak jenazah yang masih terjebak di dalam badan pesawat, mengingat hasil temuan jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501 terus berkurang.
“Dari hari ke hari, korban mulai makin sedikit ditemukan. Saya masih punya prediksi apabila nanti ini memang lokasi bagian besar pesawat yang kita duga, saya masih punya harapan saudara-saudara kita masih ada yang berada dalam badan pesawat, di dasar laut. Kita akan mati-matian akan melakukan pencarian body pesawat,” kata Kepala Basarnas saat jumpa pers di kantornya, di Kemayoran, Jakarta, Minggu (4/1) malam.
Soelistyo mengatakan sebagian besar puing dan jenazah ditemukan di area prioritas, dekat Teluk Kumai. Pencarian akan tetap difokuskan di area tersebut.
Meski fokus di area prioritas, Soelistyo menerangkan Basarnas juga memperluas area pencarian ke wilayah timur, di sekitar selat Karimata, Kalimantan Tengah. Keputusan perluasan wilayah diambil setelah membuat perhitungan dengan aplikasi Search and Rescue Mapping.
“Kita merencanakan segala sesuatunya ini memakai satu perhitungan yang sudah baku, kita tambah dengan evaluasi kita hari perhari,” ujarnya.
Hingga saat ini 34 jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 sudah berhasil dievakuasi.
“Sampai detik ini jumlah jenazah yang sudah dikonfirmasi 34 jenazah yang semuanya sudah berada di Surabaya,” kata Soelistyo.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

2015, Pemkot Bekasi Fokus Macet dan Banjir

Jakarta, Aktual.co — Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyatakan persoalan kemacetan dan banjir di wilayah setempat merupakan “pekerjaan rumah” (PR) yang harus diselesaikan pada 2015.
“Pada tahun ini kita akan fokus pada pengentasan 49 titik banjir, dan 19 titik kemacetan di Kota Bekasi yang pada 2014 belum sepenuhnya kita kerjakan,” katanya di Bekasi, Jawa Barat, Minggu (4/1). 
Menurut dia, penyelesaian titik banjir pada 2014 dilakukan dengan cara pembuatan sodetan sungai menuju kanal banjir timur (KBT), perbaikan saluran air, hingga pembebasan lahan untuk pembuatan tandon air di sejumlah kawasan banjir.
Ada sedikitnya tiga proyek pengentasan banjir yang perlu dimaksimalkan pada 2015.
Proyek itu di antaranya pembuatan tandon air di Perumahan Dosen IKIP, Pengasinan, dan sejumlah kawasan di Kecamatan Bekasi Barat.
“Pembebasan lahan sudah kita lakukan pada 2014 lalu, Masing-masig tandon memiliki luas lahan 1 heltare sampai 2 hektare,” katanya.
Sedangkan upaya penanggulangan titik kemacetan dilakukan pihaknya dengan cara penerapan rekayasa lalu lintas, operasional armada pengangkut massal, hingga pembuatan jalan alternatif.
Pihaknya mengklaim telah mengurai kemacetan di lima titik pada 2014, di antaranya di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di simpang Tol Bekasi Barat I, Kecamatan Bekasi Selatan.
“Penanggulangannya kita lakukan dengan pembangunan pintu selatan (Ramp Tol Bekasi III) Kalimalang, untuk membagi beban transportasi dalam tol,” katanya.
Selain itu, Pemkot Bekasi juga membangun jalan sisi Kalimalang, sehingga kendaraan yang keluar tol tidak seluruhnya menumpuk di Jalan Ahmad Yani.
Titik selanjutnya ada di sekitar kawasan Telukbuyung, Bekasi Timur, tepatnya di sekitar Jalan Perjuangan.
“Kita membangunan jalan sisi barat Perjuangan mulai dari simpang PDAM Tirta Patriot hingga Universitas Bhayangkara,” katanya.
Jalan tersebut, kata dia, mengurai kemacetan di sekitar Jalan Perjuangan dan sekitar Stasiun Kota Bekasi.
Titik berikutnya di Simpang Sumir, Kecamatan Pondokgede dengan cara memperlebar badan jalan.
Penanggulan macet juga dilakukan pihaknya di Jalan Komsen, Jatiasih dengan cara pembebasan lahan milik warga, sehingga kanan dan kiri jalan sudah berfungsi optimal.
Sementara titik terakhir ada di Jalan Djoyomartono, simpang Tol Bekasi Timur dengan pelebaran jalan.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain