20 April 2026
Beranda blog Halaman 40429

KPK Harusnya Bersinergi Dengan Penegak Hukum Lain

Jakarta, Aktual.co — Lambannya penuntasan kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dinilai akibat kurangnya sinergi antara KPK dengan penegak hukum lainnya, seperti Kejaksaan ataupun Kepolisian.

Demikian disampaikan Anggota Komisi III DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Junimart Girsang, di sela-sela acara ‘Konfrensi Pers Peluncuran Catatan Hukum dan HAM akhir Tahun PDI Perjuangan’, di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (30/12).

“Menurut saya menjadi bahan pemikiran KPK kedepan, selesaikan dulu kasus pertama yang ada, sehingga tidak mengambil kasus yang lain. Artinya, berikanlah kesempatan kepada penegak hukum lainnya, seperti Kejaksaan dan Kepolisian dengan bersinergi,” kata dia.

“Toh KPK tetap bisa melakukan supervisi. Tujuannya, agar tidak terjadi over loading dalam menangani suatu perkara,” imbuhnya.

Lebih lanjut, sambung dia, lembaga adhoc pimpinan Abraham Samad Cs itu, dalam prosesnya terlihat melakukan proses tebang pilih dan seakan ikut bermain politik di sejumlah penanganan kasus.

“Seperti di kasus Suryadharma Ali (SDA), beliau sudah lama jadi tersangka, tetapi kenapa KPK membiarkan sampai beliau (SDA) ikut berpolitik padahal dia tersangka. Padahal, setahu saya dari setiap sesorang telah ditetapkan sebagai tersangka, (KPK) langsung melakukan tindakan,” tandasnya.

Untuk diketahui, setidaknya ada sekitar delapan kasus yang diduga mandek dalam penanganannya oleh KPK, seperti, kasus Innospec, kasus pencucian uang pembelian saham Garuda Indonesia, Kasus Mantan Dewan Pertimbangan Presiden, Siti Fadillah Supari, Kasus Pajak Bank BCA, Kasus dugaan korusi e-KTP, Kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah Haji Suryadharma Ali, kasus Sutan Bhatoegana, kasus Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Dirut Pertamina Serahkan Opsi BBM pada Pemerintah

Jakarta, Aktual.co —Pemerintah saat ini masih menggodok beberapa kebijakan terkait subsidi BBM.

Kebijakan tersebut diantaranya pemberian subsidi tetap untuk BBM jenis solar dan penghapusan subsidi untuk BBM jenis premium. “Kita tunggu pengumuman yang akan disampaikan pemerintah. Apa saja kebijakan pemerintah, Pertamina siap,” ujar Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Selasa (30/12).

Lebih lanjut dikatakan Dwi, Pertamina hanya menjalankan keputusan yang ditetapkan pemerintah. Namun, dirinya juga mengatakan terus memperbaiki tata kelola energi Indonesia. “Itu kewenangan pemerintah. Tapi kita sedang berpikir keras yang terbaik bagi tata kelola energi,” kata dia.

Saat ditanya lebih jauh mengenai opsi mana yang akan dipilih terkait subsidi BBM, dirinya enggan memberikan tanggapan. Menurutnya, semua keputusan ada ditangan pemerintah.

“Ya berbagai opsi yang penting untuk masyarakat banyak,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Keluarga Penumpang AirAsia QZ8501 Kecewa dengan Krisis Center Bandara Juanda

Surabaya, Aktual.co — Keluarga penumpang pesawat AirAsia QZ8501 mulai menunjukkan kekecewaannya terhadap crisis center Terminal 2 Bandara Juanda.
“Katanya setiap satu jam, kita dikasih update. Tapi nyatanya informasinya begitu lama dengan alasan menunggu dari basarnas pusat. Kalau pun ada informasi, itu pun juga tidak ada yang terbaru. Itu-itu saja.” kata Franky, salah satu keluarga penumpang AirAsia 8501, Selasa (30/12).
 Hal senada dikatakan Mauren, yang mengaku kecewa datang ke crisis center karena belum ada perkembangan informasi dari Basarnas Bandara Juanda.
Situasi ini membuat keluarga dan kerabat penumpang AirAsia QZ8501 menjadi bosan karena belum mendapat kepastian dan perkembangan informasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Pemprov Bakal Jalankan Perda Soal Sampah

Jakarta, Aktual.co — Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bertemu dengan Dinas Kebersihan DKI Jakarta untuk membahas mengenai masalah sampah dalam menghadapi musim penghujan ini.

“Bahas masalah sampah, masalah kebersihan dalam menghadapi banjir. Karena, kebersihan sungai dan waduk menjadi kewajiban Dinas Kebersihan,” ujar Djarot di Balai Kota, Selasa (30/12).

Djarot mengatakan ia juga membahas mengenai pelaksanaan Perda mengenai sampah. “Iya sudah dibahas juga. Jakarta Timur sudah ditindak. Untuk kasih efek jera, biar kita punya budaya bersih. Kebersihan kan bagian dari iman ya,” ujarnya.

Djarot pun menginginkan jumlah produsen sampah organik meningkat seiring dengan usaha untuk pemanfaatan sampah.

“Contohnya di pasar. Di Kramat Jati kan luar biasa, 80 persen sampah organik, maka harus diolah jadi pupuk sehingga yang dibuang ke Bantar Gebang bisa diminimalisir. Sampah juga kita olah jadi pupuk untuk Dinas Pertamanan, Pertanian. Dan kami diskusikan ke masyarakat,” lanjutnya.

Untuk peraturan pelarangan sampah tersebut, Djarot mengatakan sanksi akan disesuaikan dengan benda yang dibuang secara sembarangan.

“Ada Rp. 350 ribu, Rp. 300 ribu, tergantung sampah yang dibuang dong. Kalo misal dia buang kasur, ya iya (denda 500rb) tapi kalo cuma kecil ya engga sampai segitu,” ujarnya.

Untuk pengawasan, Djarot pun juga mengandalkan polisi sampah dari pihak warga. “Itu sukarela. Mereka menamakan diri mereka polisi sampah. Jadi mereka akan sweeping warganya sendiri. Kalo ketangkep difoto aja,” lanjutnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Djarot Dituntut “Blusukan” Berbeda Dengan Jokowi

Jakarta, Aktual.co —  Gaya kinerja Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat hampir menyerupai gaya kinerja Joko Widodo ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, yaitu gaya ‘blusukan’.

Menanggapi hal tersebut, pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Yoga mengatakan gaya ‘blusukan’ Djarot harus berbeda dengan gaya ‘blusukan’ ala Jokowi.

“Ya harus berbeda. Blusukannya yang sekarang tahapannya bukan mengenali masalah lagi tapi sudah harus tahap penyelesaian,” ujarnya ketika dihubungi, Selasa (30/12).

Lanjutnya, ditambah lagi dengan Jakarta yang memasuki musim hujan sangat rentan terkena banjir. Untuk itu, diharapkan blusukan Djarot dapat sekaligus menyelesaikan masalah yang ada.

“Misalkan revitalisasi, drainase, normalisasi kali, penambahan ruang terbuka hijau dan audit bangunan. Itu semua tinggal dilanjutkan Djarot karena tahun pertama sudah dilakukan tapi bagaimana penindakannya sekarang,” ujarnya.

Ketika Jokowi menjabat sebagai Gubernur, ia kerap blusukan atau turun ke lapangan untuk bertemu masyarakat dan melihat kondisi yang ada disana.

“Misalkan di Tanah Abang dulu penjualnya sudah ditertibkan sekarang berjualan di jalan lagi. Kalau mau blusukan Djarot seharusnya membuat evaluasi kinerja kenapa penjual-penjual itu harus ditertibkan lagi,” lanjutnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Pencarian AirAsia QZ8501, Tim SAR Terkendala Bahan Bakar

Jakarta, Aktual.co — Tim SAR Terpadu Provinsi Bangka Belitung, mulai terkendala bahan bakar untuk mencari pesawat AirAsia di Belitung Timur.
“Pencarian belum bisa jauh ke tengah laut lepas, selain armada kecil, juga terkendala bahan bakar yang terbatas,” kata Komandan Pos TNI AL Manggar, Letda Laut Purwanto, di Manggar, Selasa (30/12).
Tim lebih fokus menyisir pinggiran pantai di sekitar pulau kecil karena cuaca juga masih buruk. “Jumlah tim yang berangkat juga dikurangi yaitu 15 hingga 20 orang setiap kapal, sebelumnya sebanyak 30 orang mengingat cuaca tidak menentu di tengah laut,” ujarnya.
Penyisiran hari ketiga pencarian AirAsia masih menunggu informasi lengkap dari pihak Basarnas. Kondisi cuaca, kapal dan ketersediaan bahan bakar sangat menentukan untuk proses pencarian titik hilangnya pesawat AirAsia dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura itu.
Wilayah pencarian lebih diperluas dan dibagi menjadi dua sektor serta jumlah kapal yang lebih banyak, termasuk bantuan nelayan serta para relawan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain