3 April 2026
Beranda blog Halaman 40567

Pemerintah Diminta Perhatikan Kualitas Ibu Indonesia

Jakarta, Aktual.co — Peringati hari ibu yang jatuh pada, Senin (22/12) ini seharusnya dapat dijadikan oleh pemerintah untuk memperhatikan kualitas ibu di Indonesia, hingga mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015.
Demikian disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (22/12).
“Peringatan hari ibu yang jatuh pada 22 Desember ini semestinya menjadi momentum bagi pemerintahan Joko Widodo untuk memastikan kualitas ibu di Indonesia,” ucap dia.
Okky mengatakan target Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 semestinya dapat terlaksana dengan baik di pemerintahan Jokowi-JK.
Menurut dia, target itu seperti penurunan angka kematian anak yang ditargetkan mengurangi 2/3 rasio kematian anak balita serta meningkatkan kesehatan ibu dengan mengurangi 2/3 rasio kematian ibu.
“Pemerintahan Jokowi harus memastikan target MDGs pada 2015 harus tercapai dengan baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berpandangan, MDGs juga mendorong adanya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan hal itu harus diterjemahkan dengan baik oleh pemerintahan Jokowi-JK.
Masih kata Okky, gagasan pengurangan jam kerja oleh pemerintahan Jokowi untuk kaum perempuan tampak memang memihak pada kaum ibu.
Namun dia menilai, diam-diam ide tersebut memukul mundur praktik keseteraan gender yang dikesankan, urusan mendidik anak adalah hanya menjadi tanggungjawab ibu.
“Saya sarankan, jika ada niat memberi ‘previlige’ kepada perempuan, lebih baik pemerintah menambah alokasi cuti kepada perempuan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

DPR RI Kritisi Pewajiban Pemakaian Atribut Natal

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid mengkiritisi para pengusaha dan manajemen hotel, mal, supermarket dan restoran yang mengharuskan serta mewajibkan karyawannya mengenakan atribut natal, seperti topi dan baju santa Klaus, pada karyawan yang berbeda keyakinan.
“Pakaian itu kan ada yang identik dengan budaya dan ada yang identik dengan akidah atau keyakinan. Kalau atribut natal seperti baju dan topi santa klauss itu kan jelas-jelas identik dengan agama tertentu. Jadi seharusnya pengusaha dan manajer mal, supermarket, hotel dan restaurant untuk tidak memaksakan karyawannya mengenakan pakaian yang bertolak belakang dari keyakinan yang dianut karyawannya tersebut,” jelas Sodik seperti dikutip dalam laman DPR.go.id, Senin (22/12).
Ditambahkannya, pemaksaan itu dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk intoleransi dan kedangkalan pemahaman keragaman agama dari seseorang. Memaksakan karyawannya mengenakan pakaian yang identik dengan agama yang bertolak belakang dengan agama yang dianut karyawan-karyawannya tersebut sama dengan memaksakan seseorang untuk menganut dan menjalankan ritual agama tertentu.
“Saya ini penganut pluralisme yang sangat menghormati keberagaman agama, keyakinan, suku dan bahasa. Tapi dengan memaksakan karyawan mengenakan atribut natal padahal karyawannya itu beragama muslim yang terbiasa mengenakan hijab misalnya, itu bukan sebuah toleransi dan kerjasama antar umat beragama, namun pemaksaan kehendak. Berbeda dengan hari kasih sayang, yang menjadi budaya di kalangan anak muda dan tidak identik dengan agama tertentu,”papar politisi dari Fraksi Partai Gerindra ini.

Artikel ini ditulis oleh:

DPR RI Kritisi Pewajiban Pemakaian Atribut Natal

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid mengkiritisi para pengusaha dan manajemen hotel, mal, supermarket dan restoran yang mengharuskan serta mewajibkan karyawannya mengenakan atribut natal, seperti topi dan baju santa Klaus, pada karyawan yang berbeda keyakinan.
“Pakaian itu kan ada yang identik dengan budaya dan ada yang identik dengan akidah atau keyakinan. Kalau atribut natal seperti baju dan topi santa klauss itu kan jelas-jelas identik dengan agama tertentu. Jadi seharusnya pengusaha dan manajer mal, supermarket, hotel dan restaurant untuk tidak memaksakan karyawannya mengenakan pakaian yang bertolak belakang dari keyakinan yang dianut karyawannya tersebut,” jelas Sodik seperti dikutip dalam laman DPR.go.id, Senin (22/12).
Ditambahkannya, pemaksaan itu dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk intoleransi dan kedangkalan pemahaman keragaman agama dari seseorang. Memaksakan karyawannya mengenakan pakaian yang identik dengan agama yang bertolak belakang dengan agama yang dianut karyawan-karyawannya tersebut sama dengan memaksakan seseorang untuk menganut dan menjalankan ritual agama tertentu.
“Saya ini penganut pluralisme yang sangat menghormati keberagaman agama, keyakinan, suku dan bahasa. Tapi dengan memaksakan karyawan mengenakan atribut natal padahal karyawannya itu beragama muslim yang terbiasa mengenakan hijab misalnya, itu bukan sebuah toleransi dan kerjasama antar umat beragama, namun pemaksaan kehendak. Berbeda dengan hari kasih sayang, yang menjadi budaya di kalangan anak muda dan tidak identik dengan agama tertentu,”papar politisi dari Fraksi Partai Gerindra ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Animals Indonesia Tolak Eksploitasi Satwa pada Car Free Day

Malang, Aktual.co — Pihak  Animals Indonesia mendesak Walikota Malang, Moch Anton agar menghentikan pameran satwa pada ajang car free day (CFD). 
Humas Animals Indonesia Elizabeth Laksmi, menjelaskan bahwa selama ini CFD menjadi ajang kekejaman dan kejahatan satwa liar.
“Disana banyak kelompok atau klub pecinta hewan yang secara tidak langsung menyiksa satwa dengan memamerkan satwanya,” kata Elizabeth, saat melakukan aksi demo didepan kantor Balaikota Malang, Senin (22/12).
Aktifitas para kelompok penggemar satwa ini sangat meresahkan para pecinta hewan, sebab selain mempromosikan kegiatannya untuk menggalang anggota baru dan mencari uang, banyak satwa yang dibawa bisa membahayakan pengunjung.
“Pantauan kami ada beberapa satwa berbahaya seperti Kobra dan Topeng Monyet, sangat berbahaya bagi para pengunjung CFD,” paparnya.
Satwa Kobra sejauh pemantauan Animals Indonesia dilokasi CFD, sering bergerak liar dan terkadang menyemburkan bisa tanpa bisa dikendalikan oleh pawangnya. Sedangkan untuk topeng monyet, seperti kasus di DKI Jakarta, hewan ini bisa menyebarkan virus.
“Ada juga klub luwak yang memamerkan aksinya, dimana para satwa itu malah stres dan bertengkar sendiri dengan satwa lainnya, ini juga membahayakan pengunjung,” tegas Elizabeth.
Karenanya, sebagai lembaga sosial peduli satwa, Animals Indonesia mendesak Walikota Malang agar segera menghentikan dan melarang kegiatan pamer satwa di ajang CFD demi kebaikan bersama.

Artikel ini ditulis oleh:

Animals Indonesia Tolak Eksploitasi Satwa pada Car Free Day

Malang, Aktual.co — Pihak  Animals Indonesia mendesak Walikota Malang, Moch Anton agar menghentikan pameran satwa pada ajang car free day (CFD). 
Humas Animals Indonesia Elizabeth Laksmi, menjelaskan bahwa selama ini CFD menjadi ajang kekejaman dan kejahatan satwa liar.
“Disana banyak kelompok atau klub pecinta hewan yang secara tidak langsung menyiksa satwa dengan memamerkan satwanya,” kata Elizabeth, saat melakukan aksi demo didepan kantor Balaikota Malang, Senin (22/12).
Aktifitas para kelompok penggemar satwa ini sangat meresahkan para pecinta hewan, sebab selain mempromosikan kegiatannya untuk menggalang anggota baru dan mencari uang, banyak satwa yang dibawa bisa membahayakan pengunjung.
“Pantauan kami ada beberapa satwa berbahaya seperti Kobra dan Topeng Monyet, sangat berbahaya bagi para pengunjung CFD,” paparnya.
Satwa Kobra sejauh pemantauan Animals Indonesia dilokasi CFD, sering bergerak liar dan terkadang menyemburkan bisa tanpa bisa dikendalikan oleh pawangnya. Sedangkan untuk topeng monyet, seperti kasus di DKI Jakarta, hewan ini bisa menyebarkan virus.
“Ada juga klub luwak yang memamerkan aksinya, dimana para satwa itu malah stres dan bertengkar sendiri dengan satwa lainnya, ini juga membahayakan pengunjung,” tegas Elizabeth.
Karenanya, sebagai lembaga sosial peduli satwa, Animals Indonesia mendesak Walikota Malang agar segera menghentikan dan melarang kegiatan pamer satwa di ajang CFD demi kebaikan bersama.

Artikel ini ditulis oleh:

Ratusan Rumah di Lima RT Bukit Duri Terendam Banjir

Jakarta, Aktual.co — Akibat meluapnya Kali Ciliwung, Jalan Kampung Melayu Kecil RT 11/10, Kelurahan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan terendam banjir dengan ketinggian 10-150 sentimeter. 
“Dari pagi jam 06.00, air sudah menggenang di sini. Ya dari Kali Ciliwung itu,” ujar Camat Tebet, Mahludin, Senin (22/12).
Menurutnya banjir yang merendam pemukiman warga kali ini terjadi di lima Rukun Tetangga (RT) di RW 10 Kelurahan Bukit Duri. Meski ketinggian air ada yang mencapai 150 sentimeter, namun belum ada warga yang mengungsi.
“Belum ada pengungsi, karena itu hanya genangan lintasan. Kecuali nanti di pintu air Depok sudah siaga 2, akan kita siapkan evakuasi,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain