6 April 2026
Beranda blog Halaman 41

TAUD Kritik Pergantian Kepala BAIS, Desak Bongkar Rantai Komando Kasus Andrie Yunus

Foto dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus ditampilkan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026). ANTARA/Ilham Kausar/aa.
Foto dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus ditampilkan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026). ANTARA/Ilham Kausar/aa.

Jakarta, Aktual.comTim Advokasi untuk Demokrasi menilai pergantian Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI bukan solusi atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul konferensi pers Tentara Nasional Indonesia pada 25 Maret 2026 terkait pergantian Kepala BAIS Letjen TNI Yudi Abrimantyo, setelah Pusat Polisi Militer TNI (Puspom TNI) menahan empat anggota yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Muhammad Isnur, menyatakan bahwa penjelasan TNI belum menyentuh substansi utama perkara.

“Seluruh pembahasan dalam konferensi pers tersebut belum menyentuh substansi utama terkait penyiraman air keras kepada Andrie Yunus,” ujar Isnur dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).

TAUD juga menyoroti minimnya informasi terkait perkembangan penyidikan, termasuk koordinasi antarpenegak hukum dan pengungkapan rantai komando dalam dugaan percobaan pembunuhan tersebut.

Menurut TAUD, pergantian jabatan Kepala BAIS yang disebut sebagai bentuk “pertanggungjawaban institusi” tidak dapat dianggap sebagai akuntabilitas yang memadai, terutama jika kejahatan tersebut diduga melibatkan operasi terorganisir dalam tubuh intelijen militer.

TAUD mengungkapkan bahwa jumlah pelaku diduga lebih dari empat orang, sebagaimana sebelumnya disampaikan oleh aparat. Dugaan keterlibatan belasan pelaku membuka kemungkinan adanya perintah, keterlibatan atasan, serta struktur komando yang lebih luas.

Selain itu, TAUD menilai pendekatan pergantian jabatan berpotensi menutupi akuntabilitas pada level yang lebih tinggi, termasuk kemungkinan pertanggungjawaban pimpinan TNI hingga otoritas sipil seperti Menteri Pertahanan.

TAUD menegaskan bahwa pencopotan jabatan tidak dapat menggantikan proses hukum pidana. Jika ditemukan keterlibatan atasan, baik melalui perintah, persetujuan, maupun pembiaran, maka pihak terkait harus diproses secara hukum.

Lebih lanjut, TAUD menekankan bahwa penanganan kasus ini harus dilakukan melalui peradilan umum, bukan peradilan militer. Hal ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menyatakan bahwa prajurit tunduk pada peradilan umum dalam kasus tindak pidana umum.

Menurut TAUD, peristiwa yang menimpa Andrie Yunus merupakan dugaan tindak pidana serius di ruang sipil, sehingga tidak memiliki dasar untuk diproses dalam yurisdiksi peradilan militer.

Dalam pernyataannya, TAUD menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:

  1. Presiden diminta memastikan pengungkapan kasus dilakukan secara menyeluruh dan independen;
  2. Penanganan perkara dilakukan melalui peradilan umum;
  3. Investigasi menyeluruh terhadap seluruh pihak, termasuk dalam rantai komando;
  4. Komisi III DPR RI membentuk Panitia Kerja (Panja);
  5. Komisi I DPR RI mengoptimalkan fungsi pengawasan melalui Timwas Intelijen.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Siapa Kroni AS di Balik Rencana Pendudukan Pulau Kharg Iran?

Seorang pejalan kaki berjalan di jalan di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran pada 15 Januari 2026. (Xinhua)
Seorang pejalan kaki berjalan di jalan di Lapangan Enghelab di Teheran, Iran pada 15 Januari 2026. (Xinhua)

Di tengah meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat di kawasan Teluk, Iran justru menunjukkan sikap sebaliknya, bersiap, menguat, dan menegaskan bahwa setiap ancaman akan dibalas tanpa kompromi. Teheran menyampaikan pesan lugas bahwa kedaulatan bukan untuk ditawar, apalagi dirampas.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengganggu wilayah negaranya akan berujung pada serangan balasan yang terukur dan berkelanjutan. “Pasukan Iran memantau pergerakan musuh, dan jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara regional tersebut dengan serangan terus-menerus dan tanpa henti,” tegasnya dikutip dari Aljazzera, Kamis (26/3/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Namun muncul di tengah laporan intelijen yang menyebut adanya rencana “musuh-musuh Iran” untuk menduduki salah satu pulau strategis di wilayah Iran, termasuk Pulau Kharg, jantung ekspor minyak negara tersebut. Bagi Teheran, ini bukan hanya ancaman militer, tetapi juga serangan terhadap urat nadi ekonomi nasional.

Sementara itu, Washington terus memainkan dua wajah, berbicara soal perdamaian, namun di saat yang sama mengirim ribuan pasukan tambahan ke kawasan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahkan melontarkan ancaman terbuka terhadap Iran.

“Jika Iran gagal menerima realitas situasi saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Presiden Trump tidak main-main, dan dia siap untuk melepaskan malapetaka.”

Namun di dalam negeri, respons Iran justru menunjukkan keteguhan yang berbeda. Laporan dari lapangan menyebut masyarakat Iran memahami eskalasi ini sebagai bagian dari konflik yang belum akan berakhir dalam waktu dekat. Mereka, menurut laporan, tidak gentar dan justru bersiap.

“Jadi saat ini, mereka jauh lebih yakin akan berlanjutnya perang ini daripada berakhirnya, dan mereka mengatakan sedang mempersiapkannya,” ujar jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Teheran.

Pulau Kharg menjadi simbol penting dalam ketegangan ini. Letaknya yang dekat dengan daratan Iran menjadikannya titik strategis sekaligus rentan. Namun justru di situlah Iran melihat peluang. Jika serangan benar-benar terjadi, dampaknya diyakini tidak hanya akan dirasakan oleh pasukan AS, tetapi juga negara-negara yang terlibat.

“Selama beberapa hari terakhir, warga Iran mengatakan bahwa mereka yakin jika ini terjadi, hal itu akan sangat merusak negara tersebut, Uni Emirat Arab, dan juga pasukan AS,” demikian laporan dari lapangan.

Tak berhenti di situ, Iran juga membuka kemungkinan memperluas medan konflik. Sumber militer yang dikutip kantor berita Tasnim menyebut, Iran memiliki kemampuan untuk menciptakan tekanan strategis di Selat Bab al-Mandeb, yang merupakan jalur pelayaran vital dunia. Bahkan, sekutu Iran di Yaman disebut siap bergerak jika situasi memanas.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Krisis Energi Global Meluas, Filipina Tetapkan Darurat Energi, Bangladesh Dilanda Kelangkaan BBM

Jakarta, aktual.com – Dampak konflik di Timur Tengah mulai dirasakan oleh sejumlah negara di Asia. Filipina menetapkan status darurat energi nasional, sementara Bangladesh menghadapi krisis bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di berbagai SPBU.

Filipina mengambil langkah tersebut karena ketergantungan tinggi terhadap impor minyak. Pemerintah setempat segera membentuk komite khusus untuk memastikan kelancaran distribusi energi serta ketersediaan kebutuhan pokok seperti pangan, obat-obatan, dan barang penting lainnya.

“Deklarasi keadaan darurat energi nasional akan memungkinkan pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah responsif dan terkoordinasi berdasarkan undang-undang yang ada untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan oleh gangguan dalam pasokan energi global dan ekonomi domestik,” kata Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr dikutip dari Reuters.

Status darurat tersebut berlaku selama satu tahun dan memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk meningkatkan pembelian minyak, termasuk pembayaran di muka guna menjamin ketersediaan pasokan.

Menteri Energi Filipina Sharon Garin menyebut cadangan BBM negaranya saat ini hanya cukup untuk sekitar 45 hari. Pemerintah tengah berupaya menambah pasokan hingga 1 juta barel dari berbagai negara, meski berpotensi menghadapi keterlambatan distribusi.

Sementara itu, situasi di Bangladesh semakin memanas. Kelangkaan BBM menyebabkan antrean panjang di SPBU, bahkan warga harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.

Asosiasi pemilik SPBU Bangladesh mendesak pemerintah segera turun tangan dan memperketat pengamanan di lokasi distribusi. Mereka juga mengancam akan menghentikan pasokan jika kondisi tidak membaik.

“Di bawah perusahaan pemasok bahan bakar milik negara, Bangladesh Petroleum Corporation (BPC), perusahaan minyak memasok jumlah bahan bakar setiap hari yang tidak mencukupi dibandingkan dengan permintaan,” katanya dikutip dari India Times.

Tekanan di lapangan semakin meningkat, dengan pekerja SPBU harus menghadapi pelanggan yang frustrasi akibat kelangkaan. Bahkan, kondisi disebut sudah mendekati titik kritis.

“Secara keseluruhan, situasi telah mencapai titik kritis karena masalah keamanan dan pasokan bahan bakar yang tidak memadai, ada risiko nyata bahwa SPBU di seluruh negeri dapat terpaksa ditutup kapan saja,” tulis pernyataan itu.

Situasi keamanan juga memburuk. Sejumlah massa dilaporkan memaksa SPBU untuk membuka layanan di luar jam operasional dan mengambil BBM tanpa membayar.

“Situasi saat ini mencerminkan tingkat salah urus dan ketidakbertanggungjawaban yang ekstrem,” imbuhnya.

“Insiden semacam itu kini mengancam pemilik SPBU di seluruh negeri, hampir tidak ada jaminan keamanan. Bersamaan dengan kekurangan bahan bakar, kurangnya keamanan yang disediakan negara telah membuat krisis ini semakin parah,” tuturnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Penjajahan di Palestina Terus Terjadi, Zionis Rampas Rumah Palestina di Yerusalem Timur

Warga Palestina terlihat di antara puing-puing di dalam kamp pengungsi Shati di sebelah barat Kota Gaza, 24 November 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad
Warga Palestina terlihat di antara puing-puing di dalam kamp pengungsi Shati di sebelah barat Kota Gaza, 24 November 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad

Di lereng-lereng sempit Silwan, tak jauh dari tembok tua Yerusalem Timur, kehidupan mendadak terhenti. Perabot rumah tangga diturunkan ke jalan, kasur dan lemari disusun di trotoar, sementara anak-anak berdiri bingung di antara barang-barang yang tak lagi punya tempat pulang. Di Batn al-Hawa, pengusiran bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan rutinitas yang terus berulang dalam bayang-bayang penjajahan.

Kelompok hak asasi manusia B’Tselem mencatat, sedikitnya 11 keluarga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam beberapa hari terakhir. Aparat penjajah tampak mengawal proses tersebut, sementara pekerja dengan rompi oranye memindahkan barang-barang milik warga ke luar rumah. Dalam pernyataannya, B’Tselem menegaskan, “Israel memperluas pembersihan etnisnya di Yerusalem Timur, dan memaksa keluarga-keluarga Palestina ke jalanan.”

Pernyataan itu mempertegas bahwa pengusiran bukan sekadar sengketa kepemilikan, melainkan bagian dari pola yang lebih luas. B’Tselem menilai, praktik tersebut merupakan rangkaian kebijakan sistematis untuk mengosongkan ruang hidup warga Palestina, lalu mengalihkannya kepada kelompok pemukim zionis.

Laporan Norwegian Refugee Council menguatkan gambaran tersebut. Lembaga ini menyebut rumah-rumah warga Palestina yang digusur berpotensi dialihkan kepada organisasi pemukim Ateret Cohanim. Dalam keterangannya, NRC menulis, “Lebih dari 1.000 warga Palestina di Yerusalem Timur berisiko mengalami penggusuran paksa.”

Tekanan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, terus meningkat sejak agresi di Gaza pecah pada Oktober 2023. Data PBB mencatat lebih dari seribu warga Palestina tewas dalam periode tersebut akibat kekerasan yang melibatkan pemukim dan militer penjajah. Namun di Yerusalem Timur, kekerasan hadir dalam bentuk lain, legalisasi pengusiran melalui keputusan hukum.

Organisasi HAM Ir Amim menyoroti dasar hukum yang digunakan untuk menggusur warga Palestina. Dalam pernyataannya, Ir Amim menyebut kawasan Batn al-Hawa mengalami “peningkatan tajam dalam penggusuran”. Mereka juga menegaskan, “kasus penggusuran tersebut didasarkan pada hukum Israel yang diskriminatif tahun 1970”, yang hanya memberi hak kepada warga Yahudi untuk mengklaim properti sebelum 1948, tanpa memberikan hak serupa kepada warga Palestina.

Putusan Mahkamah Agung penjajah pada awal Januari lalu semakin mempercepat proses tersebut. Banding puluhan keluarga Palestina ditolak, membuka jalan bagi pengosongan kawasan demi perluasan permukiman zionis. Sejak saat itu, setidaknya enam rumah telah berpindah tangan kepada pemukim.

Ancaman belum berhenti. B’Tselem mencatat sekitar 90 keluarga, atau lebih dari 700 orang, di Batn al-Hawa berada di ambang penggusuran. Di wilayah al-Bustan, masih di Silwan, sekitar 1.500 warga dari 150 keluarga menghadapi risiko serupa. Dalam pernyataannya, B’Tselem menegaskan kondisi ini sebagai “realita dari kekerasan sistematis dan terinstitusionalisasi” yang bertujuan merekayasa komposisi demografi kawasan.

Selama bertahun-tahun, Silwan menjadi titik tekan dalam proyek perluasan permukiman penjajah. Letaknya yang berdekatan dengan kompleks Masjid Al-Aqsa menjadikannya wilayah yang tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga sarat makna politik dan religius.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

AS-Israel Hapus Nama Dua Pejabat Iran dari Daftar Target di Tengah Isu Negosiasi

Washington, aktual.com – Amerika Serikat (AS) dan Israel menghapus nama Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dari daftar target mereka di tengah dugaan adanya pembicaraan dengan Teheran, menurut media AS, Rabu.

Menurut The Wall Street Journal, mengutip sumber AS, penghapusan Ghalibaf dan Araghchi dari daftar target hanya bersifat sementara dan hanya akan berlangsung selama lima hari.

Penghapusan kedua pejabat Iran tersebut dari daftar target menyusul klaim Presiden Donald Trump awal pekan ini yang menyatakan Washington dan Teheran telah melakukan pembicaraan yang “sangat positif dan produktif”, sehingga menunda serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran dan berharap kemajuan akan dicapai dalam lima hari.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran membantah laporan adanya pembicaraan langsung yang dilakukan, dengan mengatakan bahwa mereka hanya menerima pesan yang menyatakan keinginan Washington untuk terlibat dalam dialog.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta target militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

Serangan itu disebut sebagai langkah “pencegahan” untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, AS dan Israel kemudian menyatakan bahwa mereka juga menginginkan perubahan kekuasaan di negara tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer gabungan tersebut.

Sepanjang rangkaian serangan itu, sejumlah pejabat militer dan politik senior Iran juga dilaporkan gugur, termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani, Menteri Intelijen Esmail Khatib, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Mohammad Pakpour, serta Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Ali Shamkhani.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi AS-Israel tersebut dan menyerukan de-eskalasi segera serta penghentian permusuhan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Andrie Yunus Jalani Operasi Terpadu untuk Selamatkan Mata Kanan Usai Diserang Air Keras

Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjalani operasi terpadu setelah tim medis menemukan gangguan serius pada mata kanannya. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya mempertahankan fungsi organ vital tersebut di tengah proses pemulihan pasca-serangan.

Berdasarkan keterangan resmi Humas Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, pemeriksaan terbaru menunjukkan kondisi kekurangan aliran darah pada bagian bawah mata kanan. Kondisi itu mencakup sekitar 40 persen area dan memicu penipisan jaringan di sekitarnya.

“Tim medis menemukan adanya kondisi iskemia (kekurangan aliran darah) kembali pada area bawah (inferior) sklera mata kanan sekitar 40%, yang menyebabkan penipisan jaringan di sekitarnya. Berdasarkan evaluasi tersebut, diputuskan untuk melakukan tindakan lanjutan guna menjaga kondisi jaringan dan mendukung proses penyembuhan,” demikian dikutip dari siaran pers, Kamis (26/3/2026).

Operasi kemudian dilakukan dengan pendekatan multidisiplin. Tim dokter memindahkan jaringan dari bagian dalam mata untuk menutup area yang terbuka, memasang membran amnion, serta mengembalikan lensa pelindung. Langkah ini ditujukan untuk memperbaiki permukaan bola mata sekaligus menjaga keberlangsungan proses pemulihan jaringan yang terdampak.

Tidak hanya itu, evaluasi lanjutan juga menemukan penipisan jaringan kornea pada bagian atas hingga sisi luar mata kanan. Kondisi tersebut dipicu oleh proses inflamasi yang masih berlangsung. Untuk mengatasinya, tim medis kembali menempelkan membran amnion tambahan dan melakukan penjahitan sementara pada kelopak mata kanan guna melindungi permukaan mata.

Penanganan juga dilakukan dari sisi bedah plastik. Dokter melakukan debridement atau pembuangan jaringan mati lanjutan, disertai tindakan cangkok kulit pada area mata, dada, dan pundak. Prosedur ini menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan luka bakar akibat cairan korosif.

Tim medis menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga keutuhan bola mata kanan serta mengendalikan peradangan agar tidak berkembang lebih jauh. “Fokus utama penanganan adalah mempertahankan integritas bola mata kanan serta mengendalikan proses inflamasi agar tidak berkembang lebih lanjut,” tulis pihak rumah sakit.

Hingga kini, kondisi Andrie Yunus masih berada dalam pemantauan ketat. Perawatan dilakukan secara menyeluruh oleh tim medis multidisiplin, dengan pendekatan berkelanjutan untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Berita Lain