13 April 2026
Beranda blog Halaman 41215

KESDM: Lelang Jabatan Dirjen Migas Masuk Tahap Finalisasi Administrasi

Jakarta, Aktual.co — Ketua Panitia Seleksi Lelang Jabatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Teguh Pamudji mengatakan pihaknya akan mendahulukan lelang jabatan untuk posisi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

“Lelang jabatan Dirjen Migas didahulukan karena banyak masalah migas yang harus segera diselesaikan,” kata Teguh di Jakarta, Kamis (11/12).

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu, masalah seperti produksi dan efisiensi migas yang menurun serta revisi UU Migas adalah beberapa hal yang perlu segera diselesaikan.

Teguh menambahkan, pekan depan pihaknya sudah masuk tahap finalisasi persyaratan administrasi dan teknis lelang sehingga prosesnya bisa dimulai dalam waktu dekat.

“Pertengahan Februari sudah ditetapkan pengisi posisi jabatan yang dilelang,” katanya.

Selain posisi Dirjen Migas, panitia juga melelang jabatan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN).

Saat ini, Dirjen Migas dijabat Pelaksana Tugas Naryanto Wagimin yang juga merangkap Direktur Hulu Migas Kementerian ESDM. Sementara Sekjen DEN dijabat Hadi Purnomo yang akan memasuki masa pensiun.

Ada pun Saat keanggotaan panitia seleksi berjumlah tujuh orang. Selain Teguh, di panitia seleksi juga terdapat Setiawan Wangsaatmaja (Deputi Bidang SDM Aparatur Kemen PAN dan RB) sebagai Wakil Ketua, dengan lima anggota yakni Faisal Basri (Ketua Komite Reformasi Tata Kelola Migas).

Selain itu, Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hukum Internasional UI), Supramu Santosa (pendiri Suprame Energy), Lukman Mahfoedz (Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk, dan Nico Kanter (Dirut PT Vale Indonesia Tbk).

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Bocah Tenggak Miras Oplosan, Kriminolog: Peran Orangtua Harus Ditingkatkan

Medan, Aktual.co — Kasus miras oplosan telah menelan banyak korban, bahkan tak sedikit nyawa melayang. Korban miras oplosan tidak saja dari kalangan dewasa, minuman haram itu bahkan telah menyentuh anak-anak.
Kriminolog Hukum USU, Edi Warman mengatakan pentingnya peningkatan peran orang tua dalam mendidik anak.
“Untuk pembelajarannya ini diserahkan kepada orang tuanya, kalau orang tua tak mampu baru ke lembaga anak,” kata Edi kepada Aktual.co di Medan, Kamis (11/12).
Menurut Edi, orangtua sangat berperan besar dalam pembentukan moral dan etika anak-anak.
“Pembinaan serius dari orangtua, karena kejahatan anak-anak itu tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua,” kata dia.
Selain itu, pemerintah dan aparat hukum diminta untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap peredaran miras oplosan. Pasalnya, pembinaan yang dilakukan penegak hukum tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Artikel ini ditulis oleh:

Bocah Tenggak Miras Oplosan, Kriminolog: Peran Orangtua Harus Ditingkatkan

Medan, Aktual.co — Kasus miras oplosan telah menelan banyak korban, bahkan tak sedikit nyawa melayang. Korban miras oplosan tidak saja dari kalangan dewasa, minuman haram itu bahkan telah menyentuh anak-anak.
Kriminolog Hukum USU, Edi Warman mengatakan pentingnya peningkatan peran orang tua dalam mendidik anak.
“Untuk pembelajarannya ini diserahkan kepada orang tuanya, kalau orang tua tak mampu baru ke lembaga anak,” kata Edi kepada Aktual.co di Medan, Kamis (11/12).
Menurut Edi, orangtua sangat berperan besar dalam pembentukan moral dan etika anak-anak.
“Pembinaan serius dari orangtua, karena kejahatan anak-anak itu tidak terlepas dari tanggung jawab orang tua,” kata dia.
Selain itu, pemerintah dan aparat hukum diminta untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap peredaran miras oplosan. Pasalnya, pembinaan yang dilakukan penegak hukum tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Artikel ini ditulis oleh:

Menkeu: Harga Minyak Dunia Turun, Namun Tidak Permanen

Jakarta, Aktual.co — Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro memastikan harga minyak dunia yang sedang mengalami penurunan dalam enam bulan terakhir merupakan fenomena sementara dan tidak akan berlangsung lama.

“Ini bukan permanen, turunnya harga minyak terjadi karena produsen minyak seperti Arab Saudi terancam dengan kesuksesan minyak dan gas serpih (shale oil and gas) di Amerika Serikat,” katanya di Jakarta, Kamis (11/12).

Bambang menceritakan kesuksesan minyak dan gas serpih tersebut menyebabkan Amerika Serikat menyetop impor minyak dan gas bumi dari negara Timur Tengah, sehingga menyebabkan permintaan berkurang dan harga minyak menurun.

“Ini pertama kali dalam sejarah, biasanya mereka impor karena membutuhkan standar cadangan energi yang besar dan konsumsi yang banyak, tapi begitu ada minyak dan gas serpih, mereka menyetop impor dan ‘demand’ menjadi berkurang,” katanya.

Bambang mengatakan situasi global ini membuat pasar minyak dan gas dunia menjadi terancam, sehingga terjadi perang harga, karena negara eksportir minyak dipastikan kehilangan penerimaan dari sektor minyak dan gas bumi.

Namun, kondisi ini tidak bertahan lama, dan harga minyak akan kembali naik di atas harga minyak dan gas serpih, yang saat ini berada pada kisaran 70 dolar AS per barel, karena sulit bagi produsen minyak untuk mempertahankan harga 60 dolar AS per barel.

“Arab Saudi sebagai pemasok terbesar melakukan perang harga, tapi berapa lama bisa bertahan? karena harga minyak dan gas serpih yang optimal 70 dolar, apa produsen bisa bertahan dengan harga 60 dolar?,” kata Bambang.

Bambang memastikan turunnya harga minyak dunia ikut memberikan pengaruh pada anggaran belanja, karena penerimaan negara bukan pajak dari sektor migas akan berkurang, sebabnya Indonesia masih melakukan ekspor minyah mentah.

“Kondisi ini seolah-olah memberikan keuntungan, karena belanja subsidi dipastikan turun, namun penerimaan kita juga turun. Kalau di APBN-P asumsi 105 dolar dan sekarang harga 70 dolar, ada selisih 35 dolar, padahal kita masih ekspor dari (ladang minyak) Riau,” jelasnya.

Situasi ini, lanjut dia, yang membuat investor akan menunda seluruh investasi dalam sektor minyak dan gas selama setahun, termasuk melakukan eksplorasi ladang baru, karena tidak menguntungkan dalam jangka pendek.

“Saya dengar dari pelaku pengusaha minyak seperti itu, padahal kita mau meningkatkan lifting minyak tahun depan. Ini pasti mengganggu dalam konteks adanya penundaan produksi dan peningkatan produksi,” kata Bambang.

Selain itu, penurunan harga minyak juga membuat pemerintah sedang menimbang untuk menurunkan asumsi harga minyak dunia dalam RAPBN-Perubahan dari sebelumnya pada APBN 2015 sebesar 105 dolar AS per barel.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Menkeu: Harga Minyak Dunia Turun, Namun Tidak Permanen

Jakarta, Aktual.co — Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro memastikan harga minyak dunia yang sedang mengalami penurunan dalam enam bulan terakhir merupakan fenomena sementara dan tidak akan berlangsung lama.

“Ini bukan permanen, turunnya harga minyak terjadi karena produsen minyak seperti Arab Saudi terancam dengan kesuksesan minyak dan gas serpih (shale oil and gas) di Amerika Serikat,” katanya di Jakarta, Kamis (11/12).

Bambang menceritakan kesuksesan minyak dan gas serpih tersebut menyebabkan Amerika Serikat menyetop impor minyak dan gas bumi dari negara Timur Tengah, sehingga menyebabkan permintaan berkurang dan harga minyak menurun.

“Ini pertama kali dalam sejarah, biasanya mereka impor karena membutuhkan standar cadangan energi yang besar dan konsumsi yang banyak, tapi begitu ada minyak dan gas serpih, mereka menyetop impor dan ‘demand’ menjadi berkurang,” katanya.

Bambang mengatakan situasi global ini membuat pasar minyak dan gas dunia menjadi terancam, sehingga terjadi perang harga, karena negara eksportir minyak dipastikan kehilangan penerimaan dari sektor minyak dan gas bumi.

Namun, kondisi ini tidak bertahan lama, dan harga minyak akan kembali naik di atas harga minyak dan gas serpih, yang saat ini berada pada kisaran 70 dolar AS per barel, karena sulit bagi produsen minyak untuk mempertahankan harga 60 dolar AS per barel.

“Arab Saudi sebagai pemasok terbesar melakukan perang harga, tapi berapa lama bisa bertahan? karena harga minyak dan gas serpih yang optimal 70 dolar, apa produsen bisa bertahan dengan harga 60 dolar?,” kata Bambang.

Bambang memastikan turunnya harga minyak dunia ikut memberikan pengaruh pada anggaran belanja, karena penerimaan negara bukan pajak dari sektor migas akan berkurang, sebabnya Indonesia masih melakukan ekspor minyah mentah.

“Kondisi ini seolah-olah memberikan keuntungan, karena belanja subsidi dipastikan turun, namun penerimaan kita juga turun. Kalau di APBN-P asumsi 105 dolar dan sekarang harga 70 dolar, ada selisih 35 dolar, padahal kita masih ekspor dari (ladang minyak) Riau,” jelasnya.

Situasi ini, lanjut dia, yang membuat investor akan menunda seluruh investasi dalam sektor minyak dan gas selama setahun, termasuk melakukan eksplorasi ladang baru, karena tidak menguntungkan dalam jangka pendek.

“Saya dengar dari pelaku pengusaha minyak seperti itu, padahal kita mau meningkatkan lifting minyak tahun depan. Ini pasti mengganggu dalam konteks adanya penundaan produksi dan peningkatan produksi,” kata Bambang.

Selain itu, penurunan harga minyak juga membuat pemerintah sedang menimbang untuk menurunkan asumsi harga minyak dunia dalam RAPBN-Perubahan dari sebelumnya pada APBN 2015 sebesar 105 dolar AS per barel.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Ditolak ke Papua, Jokowi Diminta Tindak Aparat Keamanan Penembak Warga Sipil

Jakarta, Aktual.co — Perwakilan Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Papua, Pdt Selvi Titihalawa meminta negara menindak aparat keamanan yang melakukan penembakan terhadap beberapa warga Paniai, Jayapura.
Menurut dia, Jokowi selaku presiden hingga kini belum memberikan tindakan tegas terhadap pihak keamanan yang dianggap sebagai pelaku penembakan di Paniai.
Terkait hal itu, beberapa pimpinan gereja di Papua memberikan peringatan keras dan meminta Jokowi untuk tak datang menghadiri perayaan natal di Papua.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Pdt Socratez Sofyan Yoman menyebut, menciptakan konflik jelang kedatangan Jokowi ke Papua adalah strategi dari pihak keamanan disana.
“Ini biasa, kalau ada pejabat Negara mau datang, harus ada konflik, agar aparat keamanan di tambah, kemudian dana keamanan bisa mengalir ke aparat keamanan, kami menyesalkan pendekatan keamanan yang terus digunakan pemerintah,” kata dia, Kamis (11/12), seperti dilansir dari SUARAPAPUA.com.
Jokowi dijadwalkan akan menghadiri perayaan natal di Papua pada 27 Desember mendatang. Perwakilan beberapa pimpinan gereja di Papua menolak kedatangan Jokowi terkait peristiwa di Paniai, jayapura, yang menewaskan beberapa warga sipil.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain