19 April 2026
Beranda blog Halaman 41392

Pelarangan Rapat di Hotel, Pemkab Tangerang Hemat Rp 40 Milyar

Jakarta, Aktual.co —Pemerintah Kabupaten Tangerang, Banten, bisa menghemat anggaran sekitar Rp40 miliar per tahun bila mengelar rapat di kantor sesuai larangan pemerintah terhasap PNS untuk menggelar rapat di hotel berbintang.
“Kami sudah lama rapat di kantor setempat dengan menu singkong rebus dan jagung, sebelum adanya peraturan itu,” kata Sekretaris Daerah Pemkab Tangerang Iskandar Mirsyad di Tangerang, Selasa (9/12)
Pernyataan tersebut terkait surat edaran Menpan RB No. 10 tahun 2014 menyangkut larangan PNS rapat di hotel yang diberlakukan mulai 1 Desember 2014.
Demi penghematan anggaran maka menu yang disajikan dalam rapat adalah singkong rebus, jagung rebus, misro, combro, lemet, timus, singkong urab, ubi rebus dan sejenisnya.
Menurut dia, untuk penghematan anggaran itu pihaknya berupaya mengalihkan dengan penyelesaian masalah tanah milik sekolah yang belum jelas statusnya.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tangerang tahun 2015 sebesar Rp4,21 triliun naik dari sebelumnya sebesar Rp3,5 triliun.
Demikian pula dari penghembatan rapat itu diarahkan untuk membangun saluran irigasi dan sekolah yang tidak layak pakai sehingga anak didik dapat nyaman dan aman dalam proses belajar mengajar.
Sejak 1 Desember 2014 semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) harus melakukan rapat di kantor masing-masing dan tidak dibenarkan di luar apalagi ada tambahan biaya lainnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Mad Romli mengatakan APBD 2015 sebesar Rp4,21 triliun dengan dana terbesar untuk pendidikan dan pembangunan infrastruktur mencapai 33 persen.
Sedangkan kenaikan APBD itu dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang sebelumnya dikelola oleh Pemerintah Pusat mencapai Rp1,7 triliun.
Menurut dia, kenaikan APBD itu juga diharapkan dapat memperbaiki kinerja untuk melayani masyarakat secara maksimal.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Yuk Intip Pekerjaan Ilmuwan Amerika dalam Lestarikan Mumi Mesir

Jakarta, Aktual.co — Ilmuwan Amerika, JP Brown sedikit berlega, saat memasukkan benda peninggalan sejarah dunia, Minirdis, Mumi dari Mesir, berusia 2500 tahun, ke dalam peti kayu, dan berjalan lancar.

Konservator Museum dari Chicago AS bersama tiga ilmuwan lainnya terpilih untuk mengangkat dan memasukkan Mumi ke dalam peti kayu yang rapuh. Memakai sarung tangan kedokteran warna biru, mereka perlahan-lahan mengangkat jasad Mumi ke meja laboratorium. Lalu, mengatur kelembaban suhu peti, dan mensterilkannya.

“Menakjubkan, ‘oh my god’ saya merasa gugup untuk mengangkatnya,” kata Brown.

Para ilmuwan  yang sudah bekerja untuk konservasi Mumi Minirdis, sejak Jumat lalu, sukses membawa harta sejarah berharga ‘the son of a stolist priest’ tersebut dengan selamat.

Sebelumnya, jasad Mumi itu pernah ditampilkan dalam pameran ‘Mummies: Images of the Afterlife’, di Natural History Museum, di kota Los Angeles, pada September lalu.  Mumi wajib dibalsem untuk menempuh perjalanan panjang berikutnya ke Museum of Nature and Science, Denver, pada musim gugur 2016 mendatang.

Untuk diketahui, The Field Museum telah memiliki Mumi sejak tahun 1920-an silam, ketika Lembaga Sejarah itu menerimanya dari Chicago Historical Society. Mumi tersebut bagian dari koleksi Museum dengan 30  koleksi mumi manusia dari Mesir.

“Selalu ada risiko kerusakan,” kata Brown, yang bekerja di laboratorium, dengan meja pemeriksaan plastik tertutup, dimana anak-anak sekolah menyaksikan pekerjaannya sehari-hari dari bilik jendela besar.  

“Jadi kami ingin selalu mengurangi resiko rusak sekecil mungkin,” ujarnya.

Di dalam peti mati, Mumi kemungkinan tubuhnya akan rusak. CT scan, yang menghadirkan foto X-Ray, memungkinkan para ilmuwan untuk melihat ke dalam peti mati sebelum membukanya.

Gambar dari dalam peti menampilkan kaki Mumi atau sebagian jari-jari kakinya tidak menjulur keluar. Bila kain kafan atau masker Mumi ada yang robek atau memutar ke arah yang salah, itu juga akan diperbaiki oleh ilmuwan.

Brown bersama rekannya menjamin serta memastikan, debu-debu tidak akan keluar saat Mumi dimasukkan atau dibuka. “Itu tidak akan terjadi.”

Berjalan di sekitar peti mati Mumi saat dibuka, Brown menjelaskan makna dari tanda, warna tertentu pada kain kafan, atau emas berlapis emas pada topeng.

Kata Brown, Minirdis ketika hidupnya, nantinya akan menjadi seorang imam seperti ayahnya. Namun demikian, para ilmuwan tidak tahu mengapa dia meninggal begitu muda.

 “Pekerjaan semacam ini harus telaten, penuh dengan perencanaan yang matang dan dites terlebih dahulu sehingga para ilmuwan siap untuk hal-hal di luar dugaan, kata Molly Gleeson, yang bekerja meneliti Mumi, di laboratorium artefak pelestarian mumi Mesir, di Philadelphia .

“Mumi adalah individu yang unik. Mereka benda-benda sejarah unik,” katanya.

“Tidak ada lagi yang seperti mereka (Mumi). Jika kerusakan itu terjadi, kita tidak bisa meletakkan segala sesuatu kembali bersama-sama persis seperti kondisi sebelumnya.”

Artikel ini ditulis oleh:

Yuk Intip Pekerjaan Ilmuwan Amerika dalam Lestarikan Mumi Mesir

Jakarta, Aktual.co — Ilmuwan Amerika, JP Brown sedikit berlega, saat memasukkan benda peninggalan sejarah dunia, Minirdis, Mumi dari Mesir, berusia 2500 tahun, ke dalam peti kayu, dan berjalan lancar.

Konservator Museum dari Chicago AS bersama tiga ilmuwan lainnya terpilih untuk mengangkat dan memasukkan Mumi ke dalam peti kayu yang rapuh. Memakai sarung tangan kedokteran warna biru, mereka perlahan-lahan mengangkat jasad Mumi ke meja laboratorium. Lalu, mengatur kelembaban suhu peti, dan mensterilkannya.

“Menakjubkan, ‘oh my god’ saya merasa gugup untuk mengangkatnya,” kata Brown.

Para ilmuwan  yang sudah bekerja untuk konservasi Mumi Minirdis, sejak Jumat lalu, sukses membawa harta sejarah berharga ‘the son of a stolist priest’ tersebut dengan selamat.

Sebelumnya, jasad Mumi itu pernah ditampilkan dalam pameran ‘Mummies: Images of the Afterlife’, di Natural History Museum, di kota Los Angeles, pada September lalu.  Mumi wajib dibalsem untuk menempuh perjalanan panjang berikutnya ke Museum of Nature and Science, Denver, pada musim gugur 2016 mendatang.

Untuk diketahui, The Field Museum telah memiliki Mumi sejak tahun 1920-an silam, ketika Lembaga Sejarah itu menerimanya dari Chicago Historical Society. Mumi tersebut bagian dari koleksi Museum dengan 30  koleksi mumi manusia dari Mesir.

“Selalu ada risiko kerusakan,” kata Brown, yang bekerja di laboratorium, dengan meja pemeriksaan plastik tertutup, dimana anak-anak sekolah menyaksikan pekerjaannya sehari-hari dari bilik jendela besar.  

“Jadi kami ingin selalu mengurangi resiko rusak sekecil mungkin,” ujarnya.

Di dalam peti mati, Mumi kemungkinan tubuhnya akan rusak. CT scan, yang menghadirkan foto X-Ray, memungkinkan para ilmuwan untuk melihat ke dalam peti mati sebelum membukanya.

Gambar dari dalam peti menampilkan kaki Mumi atau sebagian jari-jari kakinya tidak menjulur keluar. Bila kain kafan atau masker Mumi ada yang robek atau memutar ke arah yang salah, itu juga akan diperbaiki oleh ilmuwan.

Brown bersama rekannya menjamin serta memastikan, debu-debu tidak akan keluar saat Mumi dimasukkan atau dibuka. “Itu tidak akan terjadi.”

Berjalan di sekitar peti mati Mumi saat dibuka, Brown menjelaskan makna dari tanda, warna tertentu pada kain kafan, atau emas berlapis emas pada topeng.

Kata Brown, Minirdis ketika hidupnya, nantinya akan menjadi seorang imam seperti ayahnya. Namun demikian, para ilmuwan tidak tahu mengapa dia meninggal begitu muda.

 “Pekerjaan semacam ini harus telaten, penuh dengan perencanaan yang matang dan dites terlebih dahulu sehingga para ilmuwan siap untuk hal-hal di luar dugaan, kata Molly Gleeson, yang bekerja meneliti Mumi, di laboratorium artefak pelestarian mumi Mesir, di Philadelphia .

“Mumi adalah individu yang unik. Mereka benda-benda sejarah unik,” katanya.

“Tidak ada lagi yang seperti mereka (Mumi). Jika kerusakan itu terjadi, kita tidak bisa meletakkan segala sesuatu kembali bersama-sama persis seperti kondisi sebelumnya.”

Artikel ini ditulis oleh:

Mulai 2015, Pejabat Eselon Kemenhub Bertugas Akhir Pekan

Jakarta, Aktual.co — Pejabat Eselon I,II dan III Kementerian Perhubungan akan bergilir bertugas pada akhir pekan mulai 2015 untuk menjamin pelayanan terhadap masyarakat.

“Kalau saya boleh memilih, saya enggak mau urus sektor transportasi karena waktu kerjanya 24 jam sehari tujuh hari seminggu, karena itu nanti ada eselon I sampai III bergiliran masuk ‘week end’ (akhir pekan),” kata Menteri Perhubungan Ignatius Jonan di Kementerian Perhubungan, Jakarta Selasa (9/12).

Jonan mengatakan jadwal masuk para pejabat tersebut akan digilir dalam tujuh minggu sekali.

“Kalau dibagi 34 provinsi, semua akan dapat tujuh minggu sekali, tenang saja semua akan kebagian,” katanya.

Ia mengatakan rencana pemberlakuan masuk pada akhir pekan tersebut digalakkan guna terwujudnya kesadaran pelayanan.

Jonan juga menekankan agar setiap rapat koordinasi menghasilkan usulan yang konkret, sehingga bisa langsung dan cepat diterapkan.

“Diskusi hasilnya jangan sampai ‘ngambang’, akan percuma duduk bersama di sini, ada sektor udara, laut darat dan kereta. Kalau enggak bisa menghasilkan keputusan yang bagus, enggak akan diundang lagi,” katanya.

Ia juga berpesan dalam kerja tim dibutuhkan kerja keras dan menghasilkan hasil baik.

“Kalau untuk pribadi, saya percaya keajaiban karena ada Tuhan, tapi untuk organisasi enggak, sulit kalau mengandalkan keajaiban,” katanya.

Ia juga menyinggung soal korelasi tingginya tingkat pendidikan dengan kinerja pegawai baik di pemerintahan atau pun swasta.

“Saya enggak peduli sekolah atau enggak, punya ijazah atau enggak yang penting ‘output’nya, bukan sekolahnya, orang sekolah saja belum tentu pintar,” katanya.

Jonan mengatakan dari usulan dan imbauan tersebut bertujuan untuk menerapkan reformasi birokrasi yang memiliki banyak tantangan.

Terdapat sembilan program reformasi birokrasi sesuai Perpres Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, di antaranya manajemen perubahan, penataan peraturan perundang-undangan, penataan dan penguatan organisasi, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM aparatur, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, peningkatan kualitas pelayanan publik serta monitoring, evaluasi dan pelaporan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Mulai 2015, Pejabat Eselon Kemenhub Bertugas Akhir Pekan

Jakarta, Aktual.co — Pejabat Eselon I,II dan III Kementerian Perhubungan akan bergilir bertugas pada akhir pekan mulai 2015 untuk menjamin pelayanan terhadap masyarakat.

“Kalau saya boleh memilih, saya enggak mau urus sektor transportasi karena waktu kerjanya 24 jam sehari tujuh hari seminggu, karena itu nanti ada eselon I sampai III bergiliran masuk ‘week end’ (akhir pekan),” kata Menteri Perhubungan Ignatius Jonan di Kementerian Perhubungan, Jakarta Selasa (9/12).

Jonan mengatakan jadwal masuk para pejabat tersebut akan digilir dalam tujuh minggu sekali.

“Kalau dibagi 34 provinsi, semua akan dapat tujuh minggu sekali, tenang saja semua akan kebagian,” katanya.

Ia mengatakan rencana pemberlakuan masuk pada akhir pekan tersebut digalakkan guna terwujudnya kesadaran pelayanan.

Jonan juga menekankan agar setiap rapat koordinasi menghasilkan usulan yang konkret, sehingga bisa langsung dan cepat diterapkan.

“Diskusi hasilnya jangan sampai ‘ngambang’, akan percuma duduk bersama di sini, ada sektor udara, laut darat dan kereta. Kalau enggak bisa menghasilkan keputusan yang bagus, enggak akan diundang lagi,” katanya.

Ia juga berpesan dalam kerja tim dibutuhkan kerja keras dan menghasilkan hasil baik.

“Kalau untuk pribadi, saya percaya keajaiban karena ada Tuhan, tapi untuk organisasi enggak, sulit kalau mengandalkan keajaiban,” katanya.

Ia juga menyinggung soal korelasi tingginya tingkat pendidikan dengan kinerja pegawai baik di pemerintahan atau pun swasta.

“Saya enggak peduli sekolah atau enggak, punya ijazah atau enggak yang penting ‘output’nya, bukan sekolahnya, orang sekolah saja belum tentu pintar,” katanya.

Jonan mengatakan dari usulan dan imbauan tersebut bertujuan untuk menerapkan reformasi birokrasi yang memiliki banyak tantangan.

Terdapat sembilan program reformasi birokrasi sesuai Perpres Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, di antaranya manajemen perubahan, penataan peraturan perundang-undangan, penataan dan penguatan organisasi, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM aparatur, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, peningkatan kualitas pelayanan publik serta monitoring, evaluasi dan pelaporan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Penerapan “PSC in Ticket” Mundur Hingga Maret 2015

Jakarta, Aktual.co — Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Bambang Tjahtjono mengatakan bahwa penerapan pajak bandara yang digabung ke dalam harga tiket (“PSC on ticket”) kembali mundur, yakni mulai Maret dari awalnya Januari 2015.

“PSC on ticket kalau kita aturannya 1 Januari itu harus, tapi toleransi hingga 1 Maret,” kata Bambang Tjahtjono saat ditemui di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (9/12).

Bambang menjelaskan pengunduran hingga 1 Maret 2015 itu untuk memberikan toleransi kepada sejumlah maskapai yang masih mengoordinasikan dengan pengelola bandara, yakni Angkasa Pura I dan II.

Dia mengatakan pengunduran waktu penerapan juga diminta oleh sejumlah maskapai asing yang masih membahas masalah teknis dengan AP I dan II.

“Maskapai asing juga meminta pertimbangan karena mereka juga perlu penyesuaian sistem,” katanya.

Pasalnya, lanjut dia, maskapai asing telah menggunakan sistem global “international air transport association (IATA), namun maskapai nasional masih mempertimbangkannya secara “business to business” (B to B) dengan AP I dan II.

Sementara, untuk bandara unit pelaksana teknis (UPT) menggunakan sistem pembelian kupon untuk masing-masing maskapai.

Bambang menegaskan kepada maskapai untuk segera menerapkan penyatuan pajak bandara ke dalam harga tiket, meskipun dalam peraturannya, yakni Peraturan Ditjen Perhubungan Udara Nomor 447 Tahun 2014 tidak ada sanksi karena sifatnya yang “B to B”.

“Semua harus setuju, enggak ada yang enggak mau, harus,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dirjen Perhubungan Udara Djoko Murdjatmodjo sebelumnya mengatakan pembahasan terkait penyatuan pajak bandara dengan tiket telah dibahas sejak sekita enam bulan lalu, namun kembali mundur.

“Itu sudah lama, enam bulan yang lalu kita kumpulkan semua airline dengan AP. Sekarang kita sudah menginstruksikan, jadi tinggal B to B antara AP dengan airlines,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain