12 April 2026
Beranda blog Halaman 41767

Pementasan Teater Evita Selama Setahun

Jakarta, Aktual.co —  Alumni Program “English for Creative Industry” (ECI) Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Francisca Vinybelinda bersama rekannya Febyola Linando menyiapkan pementasan teater bertajuk “Evita” selama setahun.
“Ya, kami menyiapkannya selama setahun mulai dari menulis naskah, melakukan audisi pemain, berlatih dengan membaca naskah hingga tanpa naskah, melakukan observasi, dan berlatih dengan koreksi ahli bahasa,” kata Cisca di kampus setempat, Jumat (28/11). 
Cisca sebagai penulis naskah drama teater itu menjelaskan drama teater yang sudah dipentaskan secara “Preview Petra Little Teater” (pementasan khusus sebelum pementasan untuk umum) di Gedung PLT UK Petra, Surabaya (27/11) itu merupakan karya perdana program New Play Development PLT.
“Ada lima orang yang menjadi tokoh dalam pementasan itu yakni mahasiswa UK Petra dari jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Internasional Bussiness Manajemen (IBM), dan ECI (Sastra Inggris), bahkan ada juga seorang pemain dari ITS,” tuturnya.
Evita adalah sebuah drama dengan bumbu komedi yang mengangkat kehidupan Evita dan keluarganya yang merupakan keluarga Tionghoa Indonesia dengan “setting” bagian tengah rumah yang dilengkapi foto keluarga, lukisan, lemari, meja-kursi, dan dua pintu.
Dalam drama berdurasi 90 menit itu ada kisah asmara lintas etnis hingga hubungan antargenerasi yang tidak jauh berbeda dari kehidupan sebenarnya.
“Ayahnya tidak setuju Evita menjalin hubungan asmara dengan laki-laki non-Tionghoa, tapi Evita tetap menjalin hubungan, meski akhirnya putus, namun mereka putus bukan soal etnis,” ujarnya.
Selain itu, Evita juga berbeda pandangan dengan sang ayah tentang minat dalam studi, karena sang ayah mengharapkan Evita menempuh bidang studi ekonomi (bisnis), sedangkan Evita lebih menyukai bidang studi desain (seni). “Akibat konflik dalam hubungan asmara dan studi yang tidak ada titik temu dengan sang ayah itulah, Evita akhirnya memilih kabur untuk memperjuangkan mimpi-mimpinya sesuai kata hati,” ucapnya. Dalam masa kabur itulah, Evita pun putus dalam asmara, karena perbedaan prinsip dan bukan karena etnis. “Artinya, hubungan asmara itu tidak terjalin atau putus bukan karena etnis, bahkan satu etnis pun masih bisa tidak cocok,” tukasnya.
Setelah studi selesai, Evita pun pulang. “Evita pulang, karena orang tuanya sudah sadar. Di rumah itu, Evita menyaksikan sang kakak yang mengikuti kemauan orang tua untuk masuk jurusan ekonomi/bisnis memang kaya tapi tidak sukses,” katanya.
Dalam drama itu digambarkan sang kakak yang kaya itu hidup berfoya-foya untuk menghabiskan uangnya, karena dia memang tidak suka dengan bidang pekerjaan yang digeluti, sehingga dia menghibur diri dengan menghabiskan uangnya.
“Ya, drama itu memang memotret realita dan kami akan memainkan drama itu untuk umum pada 3-6 Desember 2014,” tambah Febyola Linando yang bertindak sebagai sutradara dalam pementasan itu, didampingi Managing Director PLT UKP, Stefanny Irawan MA.
Ditanya kendala dalam pementasan drama itu, ia mengatakan kendala utama dalam latihan, karena drama itu berbahasa Inggris, sehingga dialek dalam drama itu harus tepat. “Karena itu, kami mengundang ahli Bahasa Inggris untuk menonton,” katanya.
Tentang rencana selanjutnya, Febyola mengaku pihaknya ingin membukukan skrip naskah drama itu. “Kalau di luar negeri, buku skrip naskah drama itu sudah umum, tapi di sini masih belum ada, karena itu kami berencana membukukan skrip drama,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Pilih Dirut Pertamina, Jokowi Diingatkan Aspek Sosial

Semarang, Aktual.co — Presiden Joko Widodo diminta warga kabupaten Pati, Jawa Tengah, turut mengintervensi Direktur PT Pertamina (Persero) yang berempati pada aspek sosial dan lingkungan. Warga yang menolak pendirian pabrik Semen Indonesia di kawasan Gunung Kendeng mendengar nama Dwi Soetipto digadang-gadang sebagai calon kuat Dirut PT Pertamina.
“Dirut Pertamina haruslah bisa berkomunikasi dengan masyarakat. Karena pengelolaannya Migas banyak masalah dengan masyarakat,” ujar aktivis SHEEP Pati, Husein, saat dihubungi, Jum’at (28/11).
Menurut dia, Jokowi tidak boleh meninggalkan aspek sosial dalam menunjuk  pemimpin karena akan berakibat fatal jika dipilih pada kemudian hari. Pasalnya, pemimpin yang mengolah Pertamina bersentuhan dengan masalah sosial. 
“Konflik batu bara, mineral dan tambang tidak lepas dari konflik petani. Jika tidak memiliki aspek kejiwaan peka masalah sosial yang akan dirugikan masyarakat,” ujar dia.
Pihaknya mengakui jika pemimpin harus memiliki kapabiltas dalam manejemen sebagai keuntungan yang dicapai perusahaan, akan tetapi aspek sosial dan lingkungan lebih penting. 
Ditegaskan, masalah energi dan sumber daya alam migas banyak menyangkut masalah sosial dan disitu konflik sosial sangat tinggi.
Berdasarkan catatan, pendirian semen di beberapa lokasi selalu menyisakan masalah sosial dan lingkungan. PT Semen Indonesia dalam penyelesaiannya banyak merugikan pihak petani dan nelayan.
“Banyak pelanggaran hak oleh PT Semen Indonesia. Berbagai cara dilakukan baik berupa pemaksaan, intrevensi dan penekanan dalam pembebasan lahan.”

Artikel ini ditulis oleh:

Bentrok di Makassar Berujung Pemecatan 4 Mahasiswa

Jakarta, Aktual.co — Bentrok yang terjadi antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Makassar, dengan pihak kepolisian, berujung pada pemecatan empat mahasiswa.
Rektor UMI, Prof Masrunah Mokhtar menyebutkan bahwa keempat mahasiswa tersebut dinilai sering terlibat aksi anarkis.
“Itu berdasarkan laporan polisi juga, makanya kami putuskan dikembalikan ke orangtuanya,” kata dia, Jumat (28/11).
Pihak kampus akan mengambil langkah hukum terhadap personel polisi yang melempari kampus dan menembakkan gas air mata kedalam Masjid Umar Bin Khattab di dalam kampus UMI.
Pihak kampus meliburkan perkuliahan sejak hari ini hingga Senin (1/12).
Sebelumnya, mahasiswa UMI terlibat bentrok dengan anggota kepolisian saat melakukan unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di depan kampus UMI, Kamis (27/11).

Artikel ini ditulis oleh:

Ajukan Tiga Nama Cawagub ke Jokowi, Ini Alasan Ahok

Jakarta, Aktual.co —Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyampaikan tiga nama calon wakil gubernur (cawagub) kepada Presiden Joko Widodo. 
Dari tiga nama itu, tidak ada nama Boy Bernadi Sadikin.
Diakuinya, yang diajukan ke Jokowi adalah mantan Walikota Blitar, Djarot Saiful , mantan Walikota Surabaya, Bambang Dwi Hartono, dan Ketua TGUPP ( Tim Gabungan Untuk Percepatan Pembangunan) Sarwono Handayani. 
“Dari dulu saya konsisten sebutin tiga nama itu kan,” kata mantan Bupati Belitung Timur itu, di Jakarta, Jumat (28/11).
Ahok tidak memungkiri melirik calon dari dunia politik, karena dia juga berasal dari politik. Namun dia ingin karakter wagubnya nanti haruslah orang yang sudah teruji kerja.
Berikut alasan yang disampaikan Ahok mengajukan ketiga nama calon tersebut.
Pertama Bambang Dwi Hartono. Mantan Wali Kota Surabaya itu dianggapnya sudah teruji di Kota Pahlawan dengan berhasil membebaskan jalur hijau.
Kedua, mantan Walikota Blitar, Djarot Saiful Hidayat. Yang selama memimpin Blitar di dua periode terbukti dapat membedah rumah-rumah kumuh.
Calon ketiga, yakni Sarwo Handayani atau kerap dipanggil Yani. Meski baru bertemu dengan Ahok selama tahun saja, namun Ahok merasa sudah mengetahui kinerja dan sikap mantan Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup itu.
Ahok sendiri tak mau buka mulut saat ditanya siapa di antara ketiganya yang paling mungkin dipilihnya. 
Dia hanya mengatakan kalau pilihannya akan jatuh kepada sosok yang telah teruji dalam bekerja. “Ya tinggal tiga nama itu saja kita pilih.”

Artikel ini ditulis oleh:

Pengamat Nilai Dwi Soetjipto Akan Jadi ‘Boneka’ Kementerian BUMN

Jakarta, Aktual.co — Terpilihnya Dwi Soetjipto sebagai direktur utama (dirut) PT Pertamina (Persero) mendapat kritik dari berbagai kalangan.

Menurut Pengamat Anggaran Politik Uchok Sky Khadafi, pemilihan Direktur Utama pertamina oleh kementerian BUMN memang janggal dan aneh. Sebab, yang dipilih dan jadi kandidat selalu orang yang tak miliki latar belakang Migas.

Uchok menilai Dwi Soetjipto hanya akan  dijadikan “boneka” oleh Kementerian BUMN.

“Dwi Soetjipto bukan yang paham migas, tidak paham peta mafia migas, jadi diragukan perannya untuk memberantas mafia migas di pertamina,” kata dia, Jumat (28/11).

“Dirut pertamina akan dijadikan ‘boneka’ yang bisa disayang bila menuruti kemauan ‘tuan takur’ di kementerian BUMN dan bisa ditendang bila melawan ‘tuan takur’ di kementerian BUMN,” kata dia. (Baca: Sah, Dwi Soetjipto Ditunjuk Sebagai Dirut Pertamina)

Sebelumnya, menteri BUMN Rini Soemarno memilih Dirut Semen Indonesia Dwi Soetjipto menjadi Dirut PT Pertamina (Persero) menggantikan Karen Agustiawan yang mengundurkan diri sebelum pilpres 2014.

“Dwi Soetjitpto mulai tanggal 28 November 2014 diangkat menjadi Direktur Utama Pertamina periode 2014-2019,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno di kantornya, Jakarta, Jumat (28/11).

Artikel ini ditulis oleh:

Larangan Rapat di Hotel Berdampak Pada Perekonomian di NTB

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengaku larangan menggelar pertemuan dan rapat di hotel oleh pemerintah pusat, berdampak pada ekonomi dan pariwisata di daerah itu.
“Selama ini dengan adanya kegiatan oleh pemerintah dan BUMN telah banyak membantu perekonomian dan pariwisata di NTB,” kata Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB HL Gita Aryadi di Mataram, Jumat (28/11).
Menurut dia, kebijakan tersebut sekilas sangat positif untuk mengurangi beban anggaran negara dan daerah, namun di satu sisi juga akan berimbas terhadap perputaran laju ekonomi, terutama di wilayah destinasi pariwisata seperti di NTB.
“Kita setujui pemberlakukan itu untuk efisiensi anggaran, tetapi di satu sisi ekonomi NTB sedang tumbuh, kalau itu diperlakukan pastinya akan berdampak kepada ekonomi dan pariwisata NTB,” kata dia.
Karena itu, kebijakan tersebut dinilai mengancam menurunkan jumlah tingkat hunian hotel terutama di NTB. Terlebih, NTB sangat mengandalkan kunjungan wisatawan dari acara-acara seperti MICE.
Sebelumnya, Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi tidak sependapat dengan wacana pemerintah pusat yang melarang pegawai pemerintah dan BUMN menggelar kegiatan di hotel.
“Tentu terkait pelarangan ini kami tidak sependapat, karena bagaiamanapun NTB merupakan daerah tujuan wisata nasional dan memberikan pemasukan pendapatan bagi pemerintah,” kata Zainul Majdi.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain