13 April 2026
Beranda blog Halaman 41766

Minta Maaf, Ini Alasan Polri ‘Kotori’ Musholah Kejar Demonstran

Jakarta, Aktual.co — Polri akhirnya meminta maaf terkait peristiwa pemukulan mahasiswa hingga ke dalam mushala di Pekanbaru, Riau. Ketika itu, polisi membubarkan aksi mahasiswa yang berdemo menolak kedatangan Presiden Joko Widodo ke Riau.
“Menyikapi situasi yang terjadi Selasa 25 November 2014 di komplek RRI Pekanbaru,  seluruh keluarga besar Polri mohon maaf pada saudara-saudara saya penganut agama Islam,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Agus Rianto, di Mabes Polri, Jumat (28/11).
Agus mengatakan, tidak ada maksud petugas Polri untuk tidak menghargai umat muslim dengan masuk menggunakan sepatu dan berpakaian lengkap ke dalam musala.
“Bukan maksud kami tidak menghormati atau tidak menghargai ketentuan dan kewajiban bagi kita semua, umat muslim (yakni) harus lepas sepatu dan sandal,” kata Agus.
Menurutnya, saat itu situasi sedemikian rupa dan mahasiswa tidak mau keluar dari musala. “Situasi saat itu sedemikian rupa jadi mereka melakukan tindakan tegas, tidak mau keluar dari musala di Komplek RRI Pekanbaru,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

DKI Bakal Evaluasi Keberadaan Sumur Resapan di Taman

Jakarta, Aktual.co —Mengantisipasi kerusakan taman akibat genangan di musim hujan, keberadaan dan fungsi sumur resapan atau biopori di taman-taman di Jakarta bakal dievaluasi.
Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar Sunandar mengatakan evaluasi dilakukan agar jangan sampai  sumur resapan dibuat di daerah dangkal. 
DKI juga akan mengembangkan ilmu-ilmu sumur resapan. Salah satunya, sumur resapan yang tidak terlihat di permukaan namun ada di dalam.
“Ada juga konsep lain yang nantinya dikembangkan. Ini sebagai upaya mencegah genangan, khususnya di taman-taman yang menjadi ruang terbuka hijau di Jakarta,” tuturnya, di Jakarta, Jumat (28/11).
Di Jakarta saat ini ada 2.523 ruang terbuka hijau yang terbagi dalam tiga kriteria.
Masing-masing 2.290 taman, 78 tempat pemakaman umum (TPU) dan 155 jalur hijau kota.
Ia tidak menginginkan ribuan taman yang tersebar di Jakarta tidak mampu mengantisipasi banjir. Karena tidak ada dan tidak berfungsinya sumur resapan.
“Yang sudah ada harus terus dipantau. Jangan sampai musim hujan menjadi musibah, kemudian karena tidak berfungsi baik maka pada saat kemarau juga menjadi musibah,” ucapnya.
Nandar menjelaskan, fungsi sumur resapan salah satunya menampung sampah organik agar terurai dan dimanfaatkan oleh organisme, seperti habitat cacing untuk menjaga kelangsungan hidup.
Sampah organik yang dibuang merupakan makanan bagi organisme di dalam tanah dan membuatnya menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman sekitar.
Tidak itu saja, organisme dalam tanah mampu membuat sampah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dan menghasilkan air tanah berkualitas karena mengandung mineral.
“Inilah pentingnya sumur resapan harus sering dipantau sehingga bisa terjaga keberlangsungan alaminya. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus berperan demi mewujudkan taman-taman Ibu Kota tetap indah,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

WHO: Pasien Pria Ebola Jangan Berhubungan Seks

Jakarta, Aktual.co — Badan Kesehatan dunia (WHO) menyarankan pasien pria yang baru pulih dari penyakit mematikan Ebola harus menjauhkan diri dari aktivitas seksual, setidaknya selama tiga bulan untuk meminimalkan risiko penularan virus mematikan tersebut melalui air mani.
Ebola, penyakit yang telah menginfeksi dan membunuh ribuan orang dalam sebuah epidemi yang tersebar luas di Afrika Barat, biasanya menyebar melalui cairan tubuh seperti darah, air liur dan tinja.
Meskipun penularan Ebola secara seksual belum pernah didokumentasikan, namun virus tersebut telah terdeteksi dalam air mani pasien pria yang selamat.
Pria yang telah sembuh dari penyakit virus Ebola harus menyadari bahwa air maninya mungkin membawa virus Ebola yang menular selama tiga bulan setelah timbulnya gejala.

Artikel ini ditulis oleh:

Fesyen untuk Wanita Bertubuh Besar

Jakarta, Aktual.co — Bagi Anda yang mempunyai bentuk tubuh besar, tak perlu risau untuk urusan fashion terbaru. Pada dasarnya, bentuk tubuh yang gemuk atau kurus dapat memakai style fesyen yang cocok dan fashionable, dengan pertimbangan gaya busana yang serasi beserta aksesorisnya. Berikut kami hadirkan gaya pakaian untuk Anda yang tidak memiliki bentuk tubuh proporsional, demikian seperti dikutip dari Kompas.  
1. Jahit sendiriSesekali, tak ada salahnya untuk mencoba membuat baju sendiri sesuai dengan ukuran badan. Dan,  pastinya lebih nyaman saat dikenakan.
2. Aksesoris yang tepatAksesoris juga menjadi alasan penting dalam aturan busana wanita yang memiliki badan gemuk. Pilihlah anting, gelang, atau ikat pinggang berukuran besar. Aksesori menjadi unsur utama dalam menghalangi perhatian orang sekitar terhadap tubuh besar Anda.  
3. Sembunyikan daerah tertentuUntuk Anda wanita bertubuh besar, pertama Anda harus mengetahui tubuh mana yang lebih besar. Otomatis Anda tahu bagian tubuh mana yang harus disembunyikan atau ditonjolkan. Mengenakan busana dengan warna gelap bisa jadi pilihan terbaik. Selain itu, hindari pola-pola besar pada busana.
4. BelanjaBagi wanita berbadan besar, belanja atau shopping merupakan hal yang paling menyebalkan. Lantaran sulit memilih pakaian yang cocok untuk ukuran. Jadikan pengalaman berbelanja Anda menjadi pengalaman positif. Yakni dengan teliti dalam memilih dan memeriksa jahitan serta bahan busana agar nyaman untuk dipakai. 
5. Cermat pilih bahan yang tepatTernyata banyak bahan baju yang dapat menyembunyikan lemak pada tubuh. Lalu, pilihlah bra dan panties yang tepat, agar bentuk tubuh menjadi terlihat lebih menawan.

Artikel ini ditulis oleh:

Agung Laksono Bersedia Islah dengan Ical

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono bersedia melakukan mediasi dan islah dengan Aburizal Bakrie seperti yang diserukan oleh Dewan Pertimbangan (Wantim) Partai Golkar Akbar Tandjung.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Leo Nababan dari pihak Agung Laksono, di Jakarta, Jumat (28/11).

“Mediasi harus disertai sikap ketulusan dan saling terbuka. Kami siap islah dan turut asas,” kata dia.

Leo Nababan mengatakan, sejumlah syarat harus dipenuhi jika islah ingin terwujud. Pertama, islah harus bisa mewujudkan Partai Golkar yang demokratis dalam penyelanggaraan musyawarah nasional (munas) yang dalam salah satu agendanya, yaitu pemilihan ketua umum.

Menurut Leo Nababan, semua calon ketua umum menandatangani kesepakatan terciptanya demokrasi di Munas dengan menetralkan semua dukungan.

“Segala bentuk dukungan yang ada selama ini kepada calon ketua umum dinihilkan, dinolkan dan ini harus ditandatangani hitam di atas putih,” kata dia.

Menurut Leo, syarat islah ini sudah pernah disampaikan Agung Laksono kepada kader senior Partai Golkar Jusuf Kalla.

“Pak JK menyambut baik syarat dari islah yang ditawarkan Pak Agung Laksono terhadap konflik di tubuh Partai Golkar ini,” kata dia.

Syarat lainnya ialah memberikan kebebasan kepada seluruh DPD tingkat provinsi dan kabupaten/kota serta seluruh ormas sayap Partai Golkar untuk menentukan pilihannya di munas nanti.

“Jadi nanti model pemilihannya melalui pemungutan suara secara tertutup. Semua kader boleh maju dalam tahapan pemilihan,” kata dia.

Pertama, siapa yang mendapat dukungan suara minimal 30 persen langsung masuk pada putaran pemilihan kedua untuk bertarung menjadi ketua umum.

“Usulan ini sudah sesuai dengan apa yang ada di konstitusi. Jadi bukan pakai cara lisan, tiba-tiba langsung aklamasi,” kata dia.

Leo juga meminta Partai Golkar mengembalikan hak-hak kader Partai Golkar yang selama ini dipecat oleh Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie karena dianggap berbeda pandangan.

Artikel ini ditulis oleh:

Pemilihan Dwi Sutjipto Sebagai Dirut Pertamina Kurang Filter

Jakarta, Aktual.co — Pakar energi Dari Universitas Indonesia (UI) Prof. IwA Garniwa menilai proses pemilihan Dirut PT Pertamina (Persero) tidak melalui sistem seleksi dan penyaringan yang ketat. Hal ini patut disayangkan karena bisa menyulitkan proses perbaikan pengelolaan energi nasional.
“Saya agak heran, saat memilih menteri-menteri, Presiden Jokowi melakukan penyaringan yang ketat sampai-sampai melibatkan KPK dan PPATK. Tapi kebelakang kok sepertinya tidak ada filter apa-apa. Termasuk dalam pemilihan dirut Pertamina ini,” ujar Iwa Garniwa, Jumat (28/11).
Dia menambahkan, semestinya Jokowi tetap mempertahankan sistem pemelihan yang transparan dalam mengisi jabatan publik dan jabatan strategis sekelas PT Pertamina.
“Kalau bisa ya pemilihan dirut-dirut perusahaan BUMN juga dibuka transparan seperti saat memilih menteri. Waktu itu kan sangat hati-hati sekali sampai KPK dilibatkan. Lah ini kok tidak ada lagi saat milih Dirut Pertamina. Filternya kurang,” ucap Iwa.
Iwa sendiri memngaku sudah pesimis sejak awal dalam proses pemilihan Dirut Pertamina. Sebab kandidat yang diusulkan kebanyakan adalah figur yang lebih dekat sebagai pengusaha dibanding kedalaman pemahamannya tentang energi.
“Nama-nama yang muncul sejak awal kan tidak ada yang punya backgroun energi mendalam. Nama yang ada justru dari PT Telkom, Semen Indonesia, Perbankan dan sebagainya,” tukas Iwa.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain