Melawan Lupa: Film ‘Aikomonikeye’ Kisahkan Keserakahan PT Freeport
Jakarta, Aktual.co — Sebuah film dokumenter ‘Aikomonikeye’ menceritakan tentang ketidakadilan yang didapat ribuan pegawai Freeport di Papua, ditayangkan di event ‘Documentary Days 2014’ di Auditorium Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), Depok, pada Selasa (25/11). Festival film yang mengusung tema ‘Voice of The Voiceless Speaking on Behalf of the Unheard’ tersebut disaksikan oleh puluhan mahasiswa dan masyarakat umum.
Di film dokumenter ini memperlihatkan, bahwa apa yang didapatkan oleh para buruh sangat tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari. Selain itu, disana resiko kecelakaan di lapangan sangatlah tinggi. Bahkan, hampir setiap hari laporan kecelakaan buruh terjadi, seperti beberapa buruh yang dibunuh saat bekerja dan mayatnya dibuang ke dalam gua, dan sebagainya.
Dalam film tersebut juga mengisahkan, bagaimana para buruh berusaha mendapatkan hak mereka. Ada beberapa buruh yang sudah pensiun tidak mendapatkan dana pensiun yang menjadi hak mereka di hari tua. Mirisnya, beberapa dari mereka adalah pekerja yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, dan hanya dibayarkan uang pensiun dengan hitungan kerja di bawah sepuluh tahun.
Video amatir pada film itu juga menghadirkan kontak senjata antar buruh dan aparat keamanan hingga tewasnya seorang buruh, terkena peluru tajam. Sangat miris, bila Anda menyaksikan video amatir yang diambil oleh Aris Trismana seorang dokumenter maker yang membuat film ini.
Aris sengaja mengambil judul ‘‘Aikomonikeye’ untuk menghormati bahasa local Papua. “Itu salah satu suku di Papua. Kalau diartikan perjuangan tanpa lelah. Atau dapat berarti habis gelap terbitlah terang,” kata Aris di sela-sela diskusi.
Ia mengaku, memproduksi film ini tidak direncanakan dengan matang. “Kita kumpulkan dari berbagai sumber. Kita juga hanya berada di Timika dan Jayapura. Waktunya hanya 7-8 hari. Bagi seorang praktisi film itu merupakan waktu yang sangat singkat,” bebernya kepada penonton yang kebetulan hadir saat itu.
Untuk diketahui, PT Freeport berdiri pada tahun 1967 dan sudah banyak meraup keuntungan. Namun di Indonesia sebagai tempat maraup laba malah dirugikan terutama pegawai PT Freeport itu sendiri dan khususnya masyarakat Papua. Hal tersebut membuat seluruh pegawai PT Freeport tidak terima dan melakukan mogok kerja pada tahun 2011 tepatnya pada tanggal 15 September 2011. Ribuan buruh pekerja di Freeport mendapatkan gaji yang tidak sesuai dengan yang seharusnya mereka dapatkan, padahal Freeport sendiri sudah mendapatkan keuntungan selama puluhan tahun. Tapi, tidak sebanding saat manajemen Freeport memutuskan menaikkan gaji buruh di lapangan.
Sebelum para karyawan Freeport melakukan pemogokan kerja, mereka sempat mengambil foto keadaan terakhir sebelum mereka tinggalkan. Setelah itu pihak Freeport mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan atas kesejahteraan para buruh Freeport. Namun, akhirnya pihak Freeport hanya bisa menaikan salary sekitar 25 persen untuk buruh kasarnya. Kemudian, kondisi di Papua memburuk karena penolakan Freeport terhadap tuntutan buruh.
Artikel ini ditulis oleh:
















