4 April 2026
Beranda blog Halaman 41829

DPR Sudah Kerja, FPAN: Kenapa Kok Masih ada Permasalahan?

Jakarta, Aktual.co — Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPR Saleh Partaonan Daulay menyatakan heran karena masih ada yang menilai permasalahan antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) di parlemen belum selesai.
“Penilaian seperti itu tentu tidak baik terutama setelah ada kesepakatan islah di antara kedua belah pihak yang berbeda pandangan di DPR,” kata Saleh Partaonan Daulay, di Jakarta, Selasa (25/11).
Saleh menilai anggota DPR sudah mulai menjalankan tugasnya sesuai dengan jalur. Badan Legislasi DPR sudah bekerja untuk menyelesaikan revisi Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3).
“Tentu itu perlu waktu. Sebagaimana banyak diinformasikan sebelumnya, masalah ini diharapkan dapat selesai sebelum tanggal 5 Desember, atau sebelum masa reses,” tuturnya.
Selain itu, Saleh mengatakan semua fraksi juga telah memasukkan nama-nama anggotanya untuk menjadi anggota alat kelengkapan dewan.
Menurut dia, hal itu merupakan indikasi bahwa semua fraksi sungguh-sungguh ingin menyelesaikan masalah hingga tuntas.
Ketua Komisi VIII itu mengatakan pada Selasa pagi sekretariat komisi yang dipimpinnya juga menerima surat resmi dari Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi PKB berisi daftar nama anggota yang akan dimasukkan ke Komisi VIII.
“Fraksi PPP, Fraksi Nasdem, dan Fraksi Hanura sudah terlebih dahulu memasukkan nama anggotanya di Komisi VIII. Artinya, Komisi VIII sudah lengkap diisi oleh seluruh fraksi yang ada. Saya yakin, hal yang sama juga dilakukan di komisi dan alat kelengkapan dewan lainnya,” katanya.
Pada Selasa pagi, kata Saleh, Komisi VIII juga mengagendakan rapat dengar pendapat umum dengan Dewan Masjid Indonesia dan Forum Silaturrahim Ta’mir Masjid Musholla Indonesia (Fahmi Tamami) yang akan dihadiri seluruh fraksi termasuk PDI Perjuangan.
Komisi VIII DPR juga telah diundang pada rapat evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 1435 H/2014 yang diadakan di Kementerian Agama pada Selasa (18/11).
Rapat tersebut dihadiri Menteri Agama, pejabat eselon I, Ketua Komisi VIII, Wakil Menteri Luar Negeri, perwakilan maskapai penerbangan Garuda dan Saudi Airlines, kanwil dan pejabat penyelenggara haji seluruh Indonesia, pewakilan Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan.
Sebelumnya di kalangan wartawan beredar surat yang berisi instruksi Presiden Joko Widodo kepada menteri-menteri Kabinet Kerja untuk tidak menghadiri rapat-rapat bersama DPR sebelum permasalahan di parlemen diselesaikan.

Artikel ini ditulis oleh:

MAKI Minta PPATK Telusuri Daftar Kekayaan Komisi II DPR Periode 2009-2014

Semarang, Aktual.co — Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) meminta Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menelusuri aset kekayaan sederet nama anggota Komisi II DPR RI periode 2009-2014 terkait dugaan kasus korupsi proyek E-KTP di lingkungan Kemendagri.
Kasus korupsi berjamaah dengan pagu senilai Rp5,9 triliun untuk penggadaan dan biaya pencetakan telah menyeret sederet nama anggota Komisi II DPR RI dengan kerugian negara sebesar Rp1,9 triliun.
“Ada enam anggota DPR RI yang jelas memback up pengadaan dan pencetakan KTP elektronik tersebut. Maka kami minta agar PPATK menelusuri rekeningnya. Apakah ada pembelian emas, tanah maupun barang berharga lain,” kata Koordinator MAKI Bonyamin Saiman, di Semarang, Selasa (25/11).
Bonyamin enggan menyebutkan satu-persatu nama anggota DPR yang diduga terkait dengan proyek E-KTP.
“Kita tunggu saja KPK dalam waktu enam bulan kemudian menetapkan para tersangka kasus ini. Apakah nama Ganjar Pranowo ditetapkan tersangka dan kita berdoa saja,” kata dia.
Meski begitu, sederet nama anggota DPR RI telah dikantongi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di lingkungan Kemendagri, yakni Sugiarto sebagai tersangka.
Adapun sejumlah nama yang disebut-sebut terlibat menerima dana antara lain Haeruman Harahap, Ganjar Pranowo, dan Arief Wibowo. Selain itu, anggota Banggar saat pembahasan proyek E-KTP tersebut adalah Mathias Mekeng, Olly Dondokambe, dan Mirwan Amir.
Sejumlah nama tersebut diduga turut memback up, baik dari tahapan pembahasan anggaran di Komisi II, pengawasan lelang maupun pengondisian pemenang tender lelang proyek E-KTP.
Menurut Bonyamin, anggaran Rp4 triliun sudah bisa mengcover seluruh proyek tersebut. Akan tetapi, besaran anggaran digelembungkan menjadi Rp5,9 triliun.
“Berati ada penggelembungan proyek berjamaah itu dengan kerugian Rp1,9 triliun. Besaran uang sangat mungkin bisa dibagi-bagikan kepada aktor intelektual,” sebut dia.
Sebelumnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, tak menanggapi kabar tersebut dan menantang agar kasus dugaan korupsi E-KTP segera diproses.

Artikel ini ditulis oleh:

NasDem: Interpelasi Terlalu Dini

Jakarta, Aktual.co — Hak Interpelasi yang sedang dihimpun oleh sejumlah anggota dewan terhadap pemerintahan Jokowi-JK terkait kebijakan penaikan harga BBM bersubsidi dinilai masih terlalu dini dilakukan.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Fraksi NasDem Johnny G Plate dalam acara diskusi, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (25/11).
“Interpelasi itu masuk akal, karena belum memahaminya. Penjelasan pemerintah dan badan terkait belum melakukannya. Pengusulan interpelasi itu masih prematur,” ucap dia.
Menurut dia, ada beberapa sebab dan alasan hingga dikatakan masih prematur. Pertama, kata dia, saat ini kondisi politik di parlemen belum kondusif sepenuhnya. Semua fraksi belum secara lengkap mengirimkan nama untuk duduk di komisi dan alat kelengkapan dewan.
Lebih lanjut, sambung dia, saat ini DPR sedang membahas revisi undang-undang MD3 yang merupakan kesepakatan antara fraksi yang tergabung di Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Sehingga, pengusulan interpelasi terhadap Presiden Jokowi dirasa terlalu dini.
“Agak kecepatan sedikit, sebaiknya diurungkan. Sampai pemerintah menjelaskan pada rapat. Dan DPR menyelesaikan revisi UU MD3 dan melengkapi komisi dan alat kelengkapan dewan. Setelah itu, silahkan mengundang presiden, menteri-menterinya,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Pertamina Bantah Tidak Transparan Soal Impor Minyak

Jakarta, Aktual.co — Tim Reformasi Tata Kelola Migas meminta PT Pertamina (Persero) agar transparan terkait jumlah impor BBM. Menanggapi hal itu, Pertamina mengklaim bahwa pihaknya sudah transparan kepada Pemerintah.

“Jadi begini, data ekspor impor crude maupun produk itu kan sudah rutin kita sampaikan ke Pemerintah melalui Dirjen Migas dan ke BI. Yah terserah pemerintah, mau di buka ke publik itu kan wewenangnya bukan pertamina. Itu wewenang pemerintah,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir saat ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (25/11).

Ia menegaskan, Pertamina itu berhubungan kepada Pemerintah bukan kepada publik.

“Kalau publik kan hubungannya dengan Pemerintah. Apakah data ini termasuk data strategis atau data rahasia, yah wewenangnya ada di pemerintah bukan di Pertamina. Intinya kan kalau soal transparan Pertamina sudah transparan ke Pemerintah,” ujarnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri mengatakan, dirinya meminta Menteri ESDM Sudirman Said memerintahkan Pertamina membuka data-data BBM yang diimpor Pertamina.

“Saya menuntut ke Pak Menteri untuk dibuka ke publik. Dibuka semua ini terkait dengan ongkosnya. Harga premium sudah Rp8.500, pertamax Rp9.950, jadi Rp9.500 sudah untung. Yang namanya Rp8.500 itu premium yang kita produksi Ron 88 tapi nggak cukup di-blending Ron 92,” kata Faisal di kantor Kementerian ESDM.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Kadisdik: Pencegahan dan Pemberantasan Kenakalan Pelajar Harus Sampai Akar

Jakarta, Aktual.co —Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Lasro Marbun mengatakan pencegahan dan menekan angka tawuran pelajar yang marak terjadi di Ibu Kota harus diselesaikan secara menyeluruh agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

“Fenomena ini sudah tidak bisa lagi diselesaikan secara setengah-setengah, ke depan harus menyeluruh dan tuntas,” kata Lasro di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, upaya pencegahan serta pemberantasan kenakalan di kalangan pelajar selama ini masih belum menyentuh akar permasalahan.

“Ternyata setelah kita selidiki akar permasalahannya banyak, dan kita harus sentuh sampai ke dasarnya,” kata Lasro.

Ia mengatakan mencari akar permasalahan tawuran harus mampu menyentuh ruang kesenioritasan peserta didik.

“Kita harus bergerak masuk ke ruang senior, misalnya kalau SD itu kelas VI, SMP kelas IX, dan SMA/SMK itu kelas XII,” katanya.

Ketika sudah mampu masuk ke level tersebut, lanjut dia, pihak sekolah atau yang berwenang harus mampu melakukan pendekatan secara persuasif.

Lasro menambahkann selain memberi pengertian pihak senior di sekolah pihaknya juga meminta kalangan keluarga peserta didik untuk lebih memberi perhatian bagi anaknya.

“Kami juga beri pengertian kalau anak di sekolah itu statusnya tidak hanya menjadi seorang murid, tapi tetap anak mereka yang tetap harus diperhatikan,” katanya.

Lasro berharap semoga rantai kenakalan remaja khususnya tawuran yang merupakan tindak kriminal dapat diputus sehingga tercipta generasi pelajar yang sehat dan bermartabat.

“Kita harus sepakat bahwa kenakalan khususnya menghilangkan nyawa orang itu merupakan tindakan yang kejam,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Chatib Basri: Indonesia Mengalami Krisis Ekonomi pada 2013

Jakarta, Aktual.co —  Selama masa Pemerintahan Presiden Soeharto sampai dengan Presiden Joko Widodo, Indonesia sudah mengalami beberapa kali kenaikkan harga BBM subsidi. Namun, pada tahun 2013 era Presiden SBY kenaikkan harga BBM karena adanya krisis ekonomi.

Mantan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Chatib Basri mengatakan bahwa pada 2013 Indonesia mengalami krisis ekonomi. Namun dirinya memilih untuk tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada masyarakat.

“Krisis ekonomi ada di 2013, tapi saya tidak boleh bilang nanti masyarakat panik,” ujar Chatib di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Selasa (25/11).

Lebih lanjut dikatakan Chatib, kenaikan harga BBM subsidi saat itu menjadi satu-satunya cara untuk mengurangi difisit current account. Jika tidak menaikkan harga BBM saat itu, menurutnya Indonesia akan kembali mengalami krisis seperti tahun 1998.

“Perlambatan pertumbuhan ekonomi harus ditempuh bagaimana pun caranya. Dari kebijakan menaikkan harga BBM saat itu kan terbukti berhasil keluar dari kesulitan ekonomi di Januari,” pungkasnya.

Untuk diketahui, saat itu pemerintah mengeluarkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sekitar Rp9,3 triliun untuk 15, juta keluarga miskin. Dana tersebut sebagai kompensasi kenaikkan harga BBM yang diberikan Rp150.000 per keluarga setiap bulannya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain