11 April 2026
Beranda blog Halaman 41918

Copet Tertangkap Tangan di Acara CFD

Polisi mengamankan seorang copet yang tertangkap saat beraksi di acara Car Free Day, di kawasan Bunderan HI, Jakarta, Minggu (22/11/2014). Dalam aksinya copet ini mengambil sebuah Handphone milik seorang peserta Car Free Day dan tertangkap tangan oleh massa yang langsung menyerahkan ke Pospol Bunderan HI. AKTUAL/MUNZIR

Aksi Tolak Reklamasi Teluk Benoa dan Batalkan Perpres No 51/2014

Masyarakat yang tergabung dalam For Bali melakukan aksi ” Bali Tolak Reklamasi “, di acara Car Free Day, Bunderan HI, Jakarta, Minggu (23/11/2014). Mereka menuntut pemerintah membatalkan Peraturan Presiden No 51/2014 yang dinilai akan dapat dijadikan dasar hukum reklamasi dan pemanfaatan Teluk Benoa oleh investor. AKTUAL/MUNZIR

Where is Our Access? Mempertanyakan Akses Bagi Penyandang Disabilitas

Jakarta, Aktual.co — Setelah sebelumnya membuat 4 film, Kampung Halaman kembali membuat film yang akan tampil di Documentary Days 2014 berjudul ‘Dimana Akses Kami’.
Documentary Days 2014 ini digelar Badan Otonom Economica Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI). Tema yang diusungnya adalah ‘Voice of Voiceless, Speaking on Behalf of The Unheard’. 
Bagaimana sinopsis film ‘Dimana Akses Kami’ atau Where is Our Access, ada baiknya menyimak sekelumit ceritanya berikut ini. 
Jakarta menjadi kota idaman bagi kebanyak orang dengan segala kemegahannya dan segala fasilitas umum seperti busway, jembatan penyeberangan hingga akses kendaraan umum yang mudah bagi sebagian banyak orang.
Tapi semua fasilitas tersebut belum dapat memberi akses bagi Mbak Ira ­seorang tuna runggu­ dan banyak disabilitas lainnya yang tinggal di Jakarta. Sebagai seorang arsitek freelance, Mbak Ira selalu memikirkan akses bagi disabilities di setiap rancangannya.
Singkatnya, Mbak Ira bersama teman-temannya yang juga menyandang disabilitas terketuk hatinya untuk melakukan kegiatan. Utamanya menyangkut solusi bagi penyandang disabilitas mendapatkan akses yang layak ditengah-tengah masyarakat.
Bagaimana kisahnya? Temukan jawabannya dalam film ini secara lebih lengkap.

Artikel ini ditulis oleh:

Reklamasi 17 Pulau di Utara Jakarta Segera Dimulai

Jakarta, Aktual.co — Direktur PT Jakarta Propertindo Budi Karya Sumadi mengatakan, reklamasi di Utara Jakarta diperkirakan menelan biaya lebih dari Rp 200 triliun dan ditangani oleh pihak swasta sebagai pengembang. Proyek ini masih dalam tahap penyelesaian kajian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
Beberapa pihak swasta yang akan menjalankan proyek tersebut adalah PT Pelindo, PT Manggala Krida Yuda, PT Pembangunan Jaya Ancol, PT Jakarta Propertindo, PT Muara Aisesa Samudra, PT Saladri Ekapaksi, dan PT Kapuk Naga Indah.
Reklamasi 17 pulau ini bertujuan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota pantai, menahan banjir rob, dan mencegah penurunan muka tanah serta mempertahankan sumber air baku.
“Rata-rata untuk penanganan satu meternya akan menelan Rp 3 sampai Rp 4 juta dengan las rata0rata satu pulau sekitar 350 hektar,” ucap Sumadi.
17 pulau tersebut akan dilangkapi kanal-kanal untuk menahan air laut dan juga sistem pengolahan air limbah agar tidak mencemari lingkungan. Reklamasi dibagi menjadi tiga zona, yaitu barat, tengah, dan timur.
Zona barat meliputi Pantai Mutiara, Pantai Hijau di Pluit serta Muara Angke dan Pantai Indah Kapuk. Zona tengah meliputi Muara Baru, Sunda Kelapa, Ancol, Tanjung Priuk. Sedangkan zona timur meliputi Tanjung Priuk hingga Marunda.
Proyek reklamasi 17 pulau di utara Jakarta merupakan bagian dari megaproyek Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Reklamasi ini membentang sepanjang garis pantai Jakarta pada areal sepanjang 32 km dengan lebar rata-rata 2 km sampai kedalaman 8 m dengan kebutuhan bahan urugan sebanyak 330 juta meter kubik.
Kawasan ini diperkirakan dapat menampung 1,7 juta jiwa. Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup menolaj proyek tersebut dan mengajukan gugatan pada pihak pengembang. Namun, pada 2011 melalui keputusan Peninjauan Kembali, Mahkamah Agung menyatakan proyek ini legal dan dapat diteruskan.

Artikel ini ditulis oleh:

Pasca Penaikan BBM, Organda Tanjuk Perak Bakal Naikan Tarif

Jakarta, Aktual.co —  Organisasi Angkutan Darat Pelabuhan Tanjung Perak akan menaikkan tarif pasca penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp2.000 untuk solar.
“Kebijakan penaikan BBM khususnya solar ini memang menjadi pemicu untuk menaikkan tarif jasa angkutan di pelabuhan,” kata Ketua Umum Angkutan Khusus Organda Tanjung Perak Kody Lamahayu, di Surabaya, Minggu (23/11).
Menurut dia, revisi kenaikan tarif angkutan siap dilakukan dalam waktu dekat. Estimasi panikan tarif tersebut 35 persen seiring dengan naiknya harga solar perliter yang mencapai 36 persen.
“Besaran penaikan tersebut sangat realistis lantaran layanan jasa angkut tidak hanya tergantung dari faktor solar. Akan tetapi suku cadang dan biaya lain.”
Di samping itu, jelas dia, pihaknya sudah lama tidak menaikkan tarif jasa angkut umum. Penaikan tarif terakhir pada 2013 dengan besaran 35 persen, hal itu juga disebabkan karena penaikan harga BBM pada masa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono.
“Sementara, kini biaya operasional yang dikeluarkan untuk truk sangat besar,” katanya.
Angka minimal, tambah dia, membutuhkan 35 liter per harinya atau setara dengan Rp 192.500 (dengan asumsi Rp 5.500 per liternya). Namun, dengan adanya penaikan solar yang mencapai Rp 7.500 per liter maka biaya operasional untuk beli BBM mencapai Rp 262.500.
“Penaikan tarif ini, akan secepatnya kami sosialisasi terhadap asosiasi terkait di Tanjung Perak,” katanya.
Sementara itu, akibat penaikan harga solar tersebut Organda Pelabuhan Tanjung Perak mendesak pemerintah melakukan konversi dari BBM ke Bahan Bakar Gas. Penyebabnya, harga gas diyakini lebih murah dibanding solar dngan harga satu liter gas Rp 3.100 sedangkan solar sudah Rp 7.500.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

FKPT: Ormas Yang Menolak Ahok Tidak Mewakili Agama Manapun

Jakarta, Aktual.co — Ratusan orang dari kalangan pemuka agama, seniman, dan para pemuda berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk menyampaikan kampanye perdamaian  “Jaga Jakarta”, Minggu (23/11).
Aksi yang digagas oleh Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT) Provinsi DKI Jakarta itu menegaskan bahwa aksi penolakan terhadap pelantikan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak bisa disebut mewakili satu agama tertentu.
“Ada aksi  dari beberapa organisasi agama yang menolak Ahok menjadi gubernur. Mereka tidak mewakili semua agama karena kami  yang hadir di sini mensupport calon pemimpin yang sudah terpilih tanpa membedakan dari agama tertentu, itu harus dihormati,” kata Koordinator Lapangan  aksi Jaga Jakarta, Ramdansyah, Minggu (23/11).
Dia mengatakan, ormas yang melakukan aksi turun ke jalan untuk menyampaikan pendapat menolak pemimpin adalah hal yang lumrah, selama dilakukan dengan damai dan tidak radikal.
“Radikal dalam berfikir adalah positif, tetapi ketika diturunkan dalam bentuk kekerasan, vandalisme, bahkan teror itu bentuk pelanggaran hukum,” pungkas Ramdansyah.
Laporan: Acep Nazmudin

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain