10 April 2026
Beranda blog Halaman 42642

KontraS: Libatkan TNI di Monas, Ahok Ingin Terlihat Garang

Jakarta, Aktual.co —Pasca keluar dari Partai Gerindra, Pelaksana Tugas Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terlihat seperti ingin mencari ‘sandaran’ yang dianggapnya kokoh agar bisa menjalankan kebijakan yang seperti terlihat radikal.
Penilaian itu disampaikan Wakil Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Chris Biantoro, mengomentari akan dilibatkannya personel TNI guna menertibkan kawasan Monas dari PKL dan praktik parkir liar.
“Di satu sisi Ahok mau menunjukkan dirinya garang, tidak mau kompromi jadi siapapun tidak bisa mengotak-atik kebijakannya. Untuk itu dia seperti mengirimkan sinyal bahwa dirinya punya sandaran yang kokoh dengan mencitrakan dirinya dekat TNI dan Polisi,” ujarnya, saat dihubungi Aktual.co, Selasa (28/10).
Meski diakuinya, tidak ada yang salah jika seorang pejabat daerah dekat dengan petinggi TNI atau Kepolisian. Tapi hal itu jadi berbeda ketika si pejabat daerah menggunakan untuk mendukungnya dalam menyelesaikan permasalahan sosial.
“Itu tidak tepat,” tegas Chris. 
Bahkan Chris menilai kalau dengan menggunakan cara-cara seperti itu secara tidak langsung Ahok malah mengerdilkan dirinya sendiri.
“Dia jadi terlihat ngga percaya diri dan seperti butuh ‘back-up’ dari militer untuk menyelesaikan permasalahan yang ditemuinya di Jakarta. Ini kan cara-cara lama yang digunakan di era orde baru.” 
Apa yang disampaikan Chris menanggapi rencana Ahok yang akan melibatkan personel TNI untuk menertibkan kawasan Monas dari PKL dan parkir liar. 
Dia mengaku menyayangkan dengan dilibatkannya TNI dalam urusan seperti itu.
“Urusan PKL atau parkir liar kan tidak masuk kategori ancaman ke negara. Masalah kaya gini kan kita juga tahu adalah masalah sosial di mana ada orang-orang miskin yang mencari uang di Monas. Masa harus dihadapi menggunakan TNI sih? ya maksimal polisi kan bisa diminta bantuannya. Ini berlebihan,” ujar Chris.
Menurutnya tindakan Ahok itu melanggar Undang-Undang No 34 tahun 2004 tentang TNI, yang menyebutkan bahwa yang bisa menggerakan TNI hanyalah Presiden dengan aturan-aturan tertentu.

Artikel ini ditulis oleh:

Sekjen PBB Prihatin Perlakuan Terhadap Relawan Ebola

Jakarta, Aktual.co — Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon prihatin dengan pembatasan yang diberlakukan oleh beberapa negara dan masyarakat terhadap pelancong dari negara tempat virus Ebola menyerang.
“Ban percaya pembatasan itu telah memberi tekanan khusus atas pekerja perawatan kesehatan dan mereka yang telah berada di garis depan dalam kegiatan tanggap Ebola,” kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Ban, Selasa (28/10).
“Pekerja kesehatan yang pulang adalah orang khusus yang mengabdikan diri mereka buat umat manusia,” kata Dujarric atas nama Ban. 
Ia menambahkan, “Mereka tak boleh menjadi sasaran pembatasan yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan.” Pernyataan Ban tersebut dikeluarkan setelah seorang perawat AS berbicara untuk menentang tindakan mengkarantinakan dia di New Jersey setelah ia pulang dari perjalanannya sebagai relawan dalam merawat pasien di Sierra Leone.
Kaci Hickox telah diisolasi di satu tenda di luar rumah sakit utama di Bandar Udara Internasional Newark sejak ia dibawa ke luar pesawat pada Jumat (24/10) dan ia diperkenankan keluar pada Senin.
Kebijakan karantina wajib tersebut telah tersebar ke negara bagian lain AS, termasuk New York dan Illionis. Negara lain seperti Italia juga dilaporkan telah memberlakukan pembatasan serupa.
Ban kembali menyatakan cara terbaik bagi setiap negara untuk melindungi dirinya dari Ebola ialah menghentikan wabah tersebut di sumbernya di Afrika Barat. Sekretaris Jenderal PBB itu menyatakan, “Ini memerlukan dukungan besar pekerja perawatan kesehatan internasional, kita memiliki kewajiban untuk merawat mereka.” Krisis Ebola menimbulkan ancaman yang meningkat bagi masyarakat internasional. 
Sebanyak 450 pekerja perawatan kesehatan diketahui telah terinfeksi Ebola dan 244 orang telah meninggal, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di dalam keterangan terkininya pada Sabtu (25/10).

Pemain PSS Sleman Tuduh PSIS Semarang Tidak “Fair Play”

PSIS Semarang
Laga PSIS Semarang dan PSS Sleman. DOK/IST

Jakarta, Aktual.co — Pencetak gol bunuh diri kedua dari klub PSS Sleman, Agus Setiawan, menuduh tim lawannya, PSIS Semarang, yang mencederai azas fair play olahraga. Pasalnya, pemain PSIS Semarang, tidak melakukan penyerangan ke wilayah permainan PSS Sleman.

Dengan hal itu, kata Agus Setiawan, pihaknya menjadi emosi melihat pola permainan Laskar Mahesa Jenar (julukan PSIS Semarang). Sehingga mereka melakukan gol bunuh diri.

“Saya geram liat mainnya PSIS. Selama 80 menit mereka main di daerah sendiri. Kami sudah pancing tapi mereka tetap nggak mau rebut bola,” ungkap Agus Setiawan kepada Aktual.co di kantor sekretariat PSSI, Senayan, Jakarta, Selasa (28/10).

Dengan demikian, tegas Agus Setiawan, gol kedua yang diciptakannya itu, murni kesalahannya, bukan rekayasa.

“Sama sekali tidak ada unsur kesengajaan,” tegasnya.

Karena ulahnya tersebut, Agus Setiwan harus rela dipanggil oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI untuk mengklarifikasi perihal gol bunuh dirinya pada Selasa (28/10).

Seperti diketahui, pertandingan antara PSS Sleman kontra PSIS Semarang, dalam laga pamungkas babak delapan besar Divisi Utama di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Minggu (26/10), diwarnai dengan gol bunuh diri dari masing-masing kesebelasan, dengan skor akhir 3-2 untuk PSS Sleman.

Artikel ini ditulis oleh:

Libatkan TNI Tertibkan PKL Monas, KontraS: Ahok Berlebihan

Jakarta, Aktual.co —Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berlebihan dengan rencana melibatkan personel TNI untuk menertibkan kawasan Monas dari PKL dan parkir liar. 
Wakil Koordinator Kontras, Chris Biantoro mengaku menyayangkan dengan dilibatkannya TNI dalam urusan seperti itu.
“Urusan PKL atau parkir liar kan tidak masuk kategori ancaman ke negara. Masalah kaya gini kan kita juga tahu adalah masalah sosial di mana ada orang-orang miskin yang mencari uang di Monas. Masa harus dihadapi menggunakan TNI sih? ya maksimal polisi kan bisa diminta bantuannya. Ini berlebihan,” ujar Chris saat dihubungi Aktual.co, Selasa (28/10).
Bahkan menurutnya tindakan Ahok itu melanggar Undang-Undang No 34 tahun 2004 tentang TNI, yang menyebutkan bahwa yang bisa menggerakan TNI hanyalah Presiden dengan aturan-aturan tertentu. 
Dan bukan seorang kepala daerah seperti Ahok. Cara-cara seperti yang ditunjukan Ahok itu menurutnya justru akan merusak tatanan aturan. 
Diberitakan sebelumnya, Senin lalu (27/10), Ahok mengadakan pertemuan tertutup dengan Pangkostrad Letjen TNI Mulyono di Mabes Kostrad, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. 
Mereka membahas beberapa topik di mana salah satunya mengenai pengamanan kawasan Monas. 
Ahok mengatakan, Mulyono siap untuk membantu pengamanan kawasan tersebut dari beberapa masalah, seperti PKL dan parkir liar.
“Saya cerita soal Monas, sudah beres, sudah oke sekarang. (Pak Mulyono) dukung penuh untuk bantu amankan, termasuk dari PKL semua,” ujar Ahok. 

Artikel ini ditulis oleh:

Disebut Diperjual-belikan, BPK Perketat Penerapan Pemberian WTP

Jakarta, Aktual.co —  Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Azis mengatakan pihaknya akan memperketat penerapan pemberian opini laporan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), karena kerap timbul dugaan adanya oknum-oknum yang kerap memperjual-belikan opini tersebut.

“Misalkan seharusnya ada pemerintah daerah sudah WTP tapi kok belum WTP, nah itu diperiksa prosedurnya dan dia (Kepala Daerah) bisa mengadu ke kita, apakah ini permainan anggota atau auditor lapangan, itu akan ketahuan dan itu akan masuk majelis etik,” kata Harry di Jakarta, Selasa (28/10).

Ia mengakui bahwa selama ini timbul banyak sorotan bernada negatif mengenai implementasi pemberian opini WTP. Pasalnya, selain dugaan opini jual beli WTP, berbagai pihak kerap mempertanyakan mengapa entitas pengelola keuangan negara yang telah diberikan opini WTP, tetap terlibat dugaan tindak pidana korupsi.

“Nah itu saya mau coba reklasifikasi sedemikian rupa tentang pemberian WTP itu,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, laporan keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Agama memperoleh opini WTP. Namun di dalamnya diduga terjadi tindak pidana korupsi yang melibatkan Menteri terkait dan kini tengah disidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya merasa tidak nyaman, mesti ada metode untuk itu. Nah itu akan saya coba, saya akan coba temukan metodenya,” ujarnya.

Namun dirinya mengaku masih perlu mengkaji ulang jika ingin mengubah indikator pemberian opini WTP.

“Dalam waktu dekat yang akan diperketat adalah pengawasan dalam mplementasi pemberian opini tersebut. Barangkali implementasinya perlu diperketat,” tutup.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Ketauan Nyabu, Tessy Srimulat Sempat Tenggak Pembersih Lantai

Jakarta, Aktual.co — Pelawak senior Kabul Basuki alias Tessy ditangkap jajaran Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri, lantaran kedapatan tengah mengkonsumsi narkoba jenis sabu seberat 1,6 gram di rumah temannya sekira Pukul 22.00 WIB, pada Kamis (23/10) lalu.
“Ditangkapnya hari Kamis di Bekasi Utara, pukul 22.00 rumah temannya bersama tiga orang teman lainnya. Barang bukti ditemukan diduga sabu lebih dari 1,6 gram,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Agus Riyanto saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (28/10) malam.
Setelah diamankan ke kantor polisi setempat, Agus menjelaskan, komedian kondang grup lawak srimulat itu kemudian menenggak cairan pembersih lantai atau kloset kamar mandi. Kini, lanjut dia, Tessi dirawat di RS Soekamto, Kramat Jati, Jakarta Timur untuk dilakukan perawatan.
“Tessy, pada saat mau dibawa ke kantor polisi. Dia ijin ke kamar mandi, mau buang air. Ternyata disitu minum cairan pembersih lantai atau kloset. Kemudian setelah selesai dia mengeluhkan sakit dan muntah-muntah, dibawa ke RS (Soekamto),” terang Agus.
Saat diringkus, Tessy tengah mengkonsumsi sabu bersama temannya. Dari hasil penangkapan, selain ditemukan narkoba jenis sabu. Polisi juga menemukan alat hisap sabu atau bong, buku rekening dan telepon genggam. “Penangkapan ini yang jelas proses tindakan dilakukan berdasarkan penyelidikan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain