6 April 2026
Beranda blog Halaman 42709

Indonesia Hebat : Rini terkait BLBI, Wiranto terkait HAM

Jakarta, Aktual.co — Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (Almisbat) mendukung Presiden Joko Widodo menggunakan hak prerogratifnya dalam menentukan susunan kabinetnya. Almisbat meyakini Jokowi akan berlaku tegas terhadap nama-nama yang diduga bermasalah. 
Baik calon yang mempunyai beban masa lalu dibidang hak asasi manusia (HAM) maupun tindak pidana korupsi (tipikor). Salah satu nama calon dimaksud adalah mantan Ketua Staf Tim Transisi Rini Soemarno. 
“Termasuk Rini Soemarno yang punya masa lalu di kasus dugaan BLBI dan selama ini dikabarkan namanya masuk dalam daftar catatan KPK,” tegas Sekjen Almisbat Hendrik Sirait di Jakarta, Sabtu (25/10). 
Disampaikan, pertimbangan rekam jejak calon menteri sebagai salah satu dasar pemilihan menteri di kabinet oleh Presiden Jokowi merupakan langkah yang tepat. Dalam hal ini melalui Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 
Meski begitu, seleksi akan menjadi lebih baik apabila merekam jejak calon dari sisi hak asasi manusia (HAM) masa lalu. 
“Faktor bebas dari kejahatan HAM harus diperlakukan setara dengan bebas dari indikasi korupsi dalam pertimbangan rekam jejak calon menteri di Kabinet,” jelas Hendrik.
Berdasarkan pada pertimbangan HAM itulah Almisbat meminta Presiden Jokowi mencoret nama Wiranto sebagai kandidat calon menteri karena patut di duga Wiranto terlibat dalam kasus kejahatan HAM di Timor Leste dan Kerusuhan Mei 1998.

Artikel ini ditulis oleh:

Menteri Agraria Harus Tegakkan Kedaulatan Pangan‎

Penyusunan nama-nama menteri anggota kabinet Presiden Joko Widodo yang hingga kini belum selesai, sesungguhnya presiden memiliki momentum tidak hanya memeriksa calon menteri dari sudut pandang bahwa sang calon bersih dari korupsi, pelanggaran HAM, dan tindak pidana lainnya tapi juga apakah di sepanjang karirnya sesuai tidak dengan visi misi presiden.

Sebut saja menteri-menteri terkait agraria, pertanian, dan pangan, seharusnya dipilih yang selama ini memiliki komitmen terhadap reforma agraria, renegosiasi kontrak pertambangan, pelestarian lingkungan, kedaulatan pangan dan pembelaan terhadap hak petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan.

‎Selain memerika nama-nama menteri, saat ini masih ada momentum bagi presiden untuk memeriksa kembali tugas dan wewenang kementerian-kementerian.

‎Sebut saja kementerian-kementerian terkait agraria, pertanian, dan pangan yang selama ini terjadi sektoralisme sehingga terjadi tumpang tindih kewenangan yang menciptakan jungle of regulations sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dan tidak tercapainya progam pemerintahan.

‎Redistribusi tanah untuk petani misalnya, hanya akan terealisir apabila didukung kebijakan pertanahan di kehutanan, pertambangan, BUMN dan pemerintah daerah.

‎Pun demikian dengan kedaulatan pangan hanya akan tercapai apabila menteri yang mengurusi kecukupan produksi dan cadangan pangan tidak berbenturan dengan menteri yang mengurusi perdagangan khususnya kebijakan impor pangan yang tidak bisa dibendung karena perjanjian perdagangan internasional seperti WTO (World Trade Organization).

‎Jika salah memilih menteri dan tugas-wewenang kementerian, tidak hanya visi-misi presiden tidak jalan, tapi juga berpotensi penyalahgunaan wewenang oleh menteri sehingga justru lembaga pemerintahan melanggengkan perampasan tanah-air-benih, krisis pangan, dan bencana ekologi karena berkuasanya kartel pangan, mafia pertanahan dan tambang.

‎Oleh Gunawan, Ketua Eksekutif IHCS (Indonesian Human Rights Committee for Social Justice)

Walkot: Bisnis Properti Menjanjikan di Medan

Jakarta, Aktual.co —   Walikota Medan mengatakan bahwa bisnis properti di Kota Medan, Sumatera Utara, dewasa ini semakin menggeliat dan cukup menjanjikan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan rumah tinggal, kata wali kota setempat.

“Sebagai kota besar dengan penduduk hampir mencapai 3 juta jiwa dan pendapatan perkapita masyarakat yang terus meningkat, industri properti di kota ini memiliki prospek yang cukup cerah,” kata Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Sabtu (25/10).

Untuk itulah ia mengaku sangat mengapresiasi digelarnya pameran “Medan Metropolitan Property Expo 2014”, yang diharapkan berperan besar mendukung sektor properti agar dapat lebih berkembang sekaligus memberikan banyak manfaat. Baik bagi pelaku usaha properti (pengembang) maupun kepada masyarakat selaku konsumen.

Selain itu, Dzulmi Eldin juga ingin pameran tersebut nantinya mampu menjembatani interaksi antara pengembang dan masyarakat dengan terkomunikasikan informasi yang seluas-luasnya.

Dengan demikian masyarakat bisa mendapatkan berbagai alternatif pengadaan rumah yang lebih sesuai dengan kemampuan serta kualitas yang lebih baik. Sehingga pasar properti dapat lebih prospektif, kompetitif, sehat dan mampu menjangkau masyarakat secara luas pada masa mendatang.

Namun ia juga mengingatkan, aktivitas bisnis ini tetap harus mengedepankan fungsi – fungsi sosial dengan memerhatikan regulasi yang ada, sehingga pengembang maupun masyarakat konsumen terlindungi secara baik.

“Berbagai peraturan juga harus ditaati oleh pengembang dan juga memerhatikan penyediaan jalur hijau sebagai fasilitas umum,” demikian Dzulmi Eldin.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Susun Kabinet, Jokowi Tersandera Tiga Kekuatan Besar

Jakarta, Aktual.co – Presiden terpilih Joko Widodo diharapkan tidak tersandera dalam penyusunan kabinet, sehingga mereka yang masuk benar-benar orang yang melalui proses rekrutmen yang sudah jelas memiliki track record yang teruji. Karena itu, rekomendasi KPK dan PPATK harus menjadi pegangan proses rekrutmen.‎

“Saat ini, Jokowi tersandera oleh tiga kekuatan besar, sehingga proses penyusunan kabinet menjadi tambal sulam. Ketiga kekuatan besar itu sangat berpengaruh dan menentukan orang-orang yang akan masuk dalam kabinet, bahkan mengabaikan rekomendasi KPK dan PPATK yang sudah memberikan tanda merah dan kuning,” ujar pengamat politik Rusmin Effendy menjawab wartawan di Jakarta, Sabtu (25/10).‎

‎Menurut Rusmin, kekuatan besar yang mempengaruhi Jokowi, Pertama kubu Megawati maupun Puan Maharani yang memaksakan orang-orangnya masuk dalam kabinet seperti kader-kader PDIP, simpatisan maupun tim transisi seperti Rini Sumarno, Sri Mulyani, Kuntoro Mangunsubroto, Darmin Nasution, Niken Widiastuti, Bambang Brojonegoro, Luhut Panjaitan dan Komjen Budi Gunawan.‎

‎“Mereka yang direkomendasikan justru para neolib dan kapitalis yang telah merusak bangsa ini, padahal tidak ada satupun dari mereka yang memiliki prestasi, termasuk Puan Maharani yang diposisikan sebagai Menko Kesejahteraan Rakyat,” ujarnya lagi.‎

‎”Inilah yang harus diketahui rakyat Indonesia bahwa selama ini Megawati seolah-olah sebagai representasi Soekarno yang anti asing, tapi di belakang justru menjadi kacung asing. Apa prestasi Megawati saat menjadi presiden, sama kan seperti SBY yang mewariskan utang luar negeri dan rakyat yang harus menanggung beban bunganya,” kata dia.‎

‎Dia menjelaskan, seperti nama Kuntoro yang belakangan disebut-sebut akan menempati pos Kementerian ESDM justru menjadi sorotan publik karena yang bersangkutan terlibat banyak kasus. Begitu pula dengan Rini Sumarno yang diposisikan sebagai Menteri BUMN juga sudah mendapat list KPK dengan pelbagai kasus mulai dari pemberian Surat Keterangan Lunas (SKL) BLBI, dugaan korupsi penjualan asset pabrik gula Rajawali, maupun pembelian jet tempur Sukhoi.‎

‎“Rumor yang beredar keduanya akan menjadi mesin ATM bagi PDIP untuk menghasilkan uang dan mengamankan posisi Jokowi periode kedua sebagai presiden. Sekali lagi, kita akan lihat apakah Jokowi mampu menolak keduanya atau tidak. Kuntoro yang di back-up para mafia migas sudah pasti menghasilkan, apalagi Rini Sumarno sebagai Menteri BUMN juga bagian dari skenario untuk melego asset BUMN seperti yang dilakukan Laksamana Sukardi. Jadi perlu diwaspadai perampokan uang negara yang dilakukan kedua orang ini,” tegas dia.‎

‎Kedua, kubu Jusuf Kalla yang merekomendasikan beberapa nama seperti Hamid Awaludin, Sofyan Djalil, Rahmat Gobel, Din Syamsudin, dan kepala Divisi Propam Mabes Polri Inspektur Jenderal Syafrudin yang pernah menjadi ajudan JK saat menjadi wapres.‎

‎“Sebentar lagi kita akan saksikan pertarungan dua mantan ajudan yang memperebutkan posisi Kapolri antara Komjen Budi Gunawan dan Inspektur Jenderal Syafrudin. Ini pertarungan antara JK dan Mega dalam menempatkan kedua jenderal tersebut menjadi Kapolri. Padahal, semua orang tahu Budi Gunawan terlibat kasus rekening gendut dan Syafrudin terlibat berbagai kasus pertambangan batu bara saat menjabat Kapolda Kalsel. Persoalannya, apakah kedua jenderal yang bermasalah itu layak menjadi Kapolri,” ujarnya.‎

‎Ketiga, kubu Koalisi Indonesia Hebat khususnya party-partai pendukung seperti Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI. “Dari keempat parpol koalisi itu, yang belum kebagian jatah kursi kabinet kan hanya PKPI, karena Sutiyoso sudah kebelet untuk menjadi menteri. “Persoalannya, dari partai-partai koalisi yang sudah mengajukan calon menteri, ada beberapa kader yang dianggap bermasalah, seperti kasus Muhaimin Iskandar yang sebentar lagi bakal menjadi pasien KPK,” ujarnya.

Tinggi, Permintaan Batu Kalimata di Lebak

Jakarta, Aktual.co — Permintaan permata kalimaya di Kabupaten Lebak Provinsi Banten cukup tinggi. Tingginya permintaan mendorong tumbuhnya roda perekonomian masyarakat Lebak.
“Kita seharian ini merasa kewalahan tingginya memenuhi permintaan permata kalimaya,” kata perajin, Edi, di Kec Maja, Kabupaten Lebak, Sabtu (25/10). 
Disampaikan, tingginya permintaan batu kalimaya ini datang dari berbagai daerah di Provinsi Banten dan DKI Jakarta. Bahkan, sampai-sampai stok batu kalimana di Kec Maja, Sajira dan Curugbitung sampai kehabisan. 
Di sisi lain, banyak penambang tradisional yang libur untuk menyambut datangnya tahun baru Islam, 1 Muharam. 
“Saya sendiri  seharian ini laku sebanyak 25 permata dengan harga Rp 300 ribu sampai Rp 5 juta per buah,” jelas Edi. 
Saat ini pembeli permata kalimaya datang dari Rangkasbitung, Serang, Cilegon, Tangerang dan Jakarta. Mereka membeli dengan jumlah banyak untuk dijual kembali karena harganya cukup lumayan.
Rata-rata, para pedagang permata itu sudah mendapat pesanan dari pejabat, pengusaha dan kolektor. Sebagian besar permata kalimaya itu untuk digunakan hiasan cincin tangan maupun asesoris kaum wanita.
“Batu kalimaya Lebak itu memiliki kelebihan dibandingkan dari Australia maupun Afrika,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Sofyan Djalil Lebih Pas Jadi Meneg BUMN‎

Ada yang baru dari drama persiapan pengumuman kabinet Jokowi-JK. Nama Sofyan Djalil tiba-tiba saja mencuat. Dia, konon, jadi ‘kuda hitam’ untuk posisi Menteri Koordinator Perekonomian.

‎Kepada media, mantan Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) itu sendiri mengaku memang ditawari masuk kabinet oleh Jusuf Kalla (JK). Namun dia mengatakan (saat itu) belum diundang Jokowi ke Istana. 

‎‎Saya sendiri merasa pernah lumayan dekat dengan Sofyan. Kami sama-sama di Pelajar Islam  Indonesia (PII). Tentu saja, dia senior jauh di atas saya. Paling tidak, kami sekarang sama-sama di Perhimpunan Keluarga Besar PII yang kini dipimpin Soetrisno Bachir. 

‎Satu hal yang pasti, kami pernah sama-sama menangani komunikasi eksternal PT PLN (Persero) sebagai konsutan. Waktu itu, dia meminta saya menjadi Team Leader proyek ini. ‎

‎Masuknya nama Sofyan sebetulnya tidak terlalu aneh. Dia bisa disebut orang dekat JK. Sofyan diektahui membantunya ketika bertarung di konvensi capres Partai Golkar. Dia terlibat dalam Tim Lembang 9.‎

‎Pria kelahiran Aceh Timur, Aceh, 23 September 1953 ini menjadi manajer kampanye JK saat menjadi cawapres SBY. 

‎“Awalnya saya memang direkrut sebagai profesional. Namun seiring waktu, ternyata pak JK merasa cocok dengan saya. Itulah sebabnya saya kemudian bergabung sebagai relawan,” ujar Sofyan kepada saya suatu ketika.‎

‎Kedekatan mantan Menteri BUMN itu juga tergambar ketika JK mengajaknya menjadi salah satu anggota tim penyelesaian konflik Aceh pada perundingan di Helsinki. Singkat kata, tidak keliru jika dikatakan Sofyan adalah orangnya JK.‎

‎Creating value BUMN‎

‎Pertanyaannya kini, cocokkah dia bila didapuk menjadi Menko Perekonomian? Buat Sofyan, soal-soal ekonomi memang bukan barang yang asing. Suami dari Ratna Megawangi ini dikenal sebagai salah satu ahli pasar modal. ‎

‎Ketika menjadi Deputi Menteri BUMN (Tanri Abeng), kepada saya dia sempat memaparkan ide-idenya seputar creating value BUMN, di kantornya. Saat itu dia mengakui, bahwa konsep itu sebenarnya datang dari sang bos, Tanri Abeng.‎

‎Gagasan creating value BUMN itu menemukan jalan mulusnya, saat dia akhirnya menjadi Menteri BUMN. Salah satu langkah penting yang dilakukannya adalah, mengisi posisi direksi BUMN dengan para profesional. Maklum, selama ini direksi BUMN biasanya menjadi tempat berlabuhnya pensiunan pejabat eselon II departemen teknis terkait.‎

‎Sofyan pula yang menempatkan Jimmy Gani sebagai Dirut PT Sarinah (Persero). Padahal, Jimmy saat itu masih terbilang amat belia. Kalau tidak alah usianya belum genap 33 tahun. Ketika bertemu saya, Sofyan mengatakan agak surprise juga ada anak muda yang melamar menjadi direksi BUMN. ‎

‎“Ucapan yang pertama saya katakan kepada dia adalah, ‘anda masih muda sekali, ya” kata Sofyan kepada saya menirukan ucapannya saat menemui Jimmy yang tengah menunggunya saat akan wawancara calon direksi.‎

‎Dalam satu obrolan ringan di ruang kerjanya, ketika saya konfirmasi, Jimmy yang anak diplomat itu membenarkan ucapan Sofyan tadi. Dia bahkan mengaku saat itu hanya melamar sebagai direksi BUMN, bukan untuk Sarinah, apalagi untuk posisi Dirut.‎

‎Tapi, seperti diceritakan kepada saya, Sofyan mengaku terkesan kepada Jimmy. Itulah sebabnya dia tidak ragu-ragu menempatkan anak muda yang kemudian memperkenalkan Sarinah sebagai ‘Indonesia Imporium’. Lewat Indonesia Imporium Jimmy memadukan konsep asing dengan Indonesia sehingga menjadi akulturasi di Sarinah.

‎Di tangan Sofyan, BUMN memang menjadi lebih bersinar. Salah satu sebabnya ya itu tadi, dia menempatkan para profesional di jajaran direksi. Jimmy bukanlah satu-satunya profesional nonpartisan yang dia tunjuk memimpin BUMN. ‎

‎Langkah ini tidak mengherankan. Karena dalam buku Transformasi BUMN Menuju Pentas Global, Sofyan menulis, salah satu kunci sukses BUMN adalah dalam proses perekrutan direksi. Rekrutmen harus menghindari intervensi politik, sehingga para direksi akan fokus untuk bekerja ketimbang bermain politik. ‎

‎The right man on the wrong place‎

‎Dengan rekam jejak dan latar belakang pendidikan serta pengalamannya, rasanya Sofyan kurang pas kalau diplot menjadi Menko Perekonomian. Akan jauh lebih baik bila JK mengusulkan kepada Jokowi, untuk posisi Menteri BUMN.

‎ Bukankah lebih baik bila Sofyan diberi kesempatan untuk mengeksekusi gagasannya tentang creating value BUMN yang belum tuntas? Maklum, saat itu dia hanya menjabat selama dua tahun, seiring berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1. ‎

‎Bila JK ngotot menempatkannya sebagai Menko Perekonomian, saya malah khawatir  Sofyan akan menjadi the right man on the wrong place. 

‎Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra bahkan menyarankan agar Jokowi tidak ‘berjudi’ dengan nasib perekonomian Indonesia, khususnya saat situasi ekonomi dunia masih morat-marit.‎

‎Gimana pak JK? Lha mbok sampeyan ndak usah terlalu ngotot gitu, lah. Biarkan Presiden Jokowi sebagai pemilik hak prerogatif menyusun kabinet, bekerja dengan tenang dan jernih. Usul dan saran, tentu saja, boleh. 

‎Apalagi sebagai Wapres, tentu Anda sangat berhak untuk itu. Tapi, tidak boleh (terlalu) memaksa ya. Jangan sampai kesan publik tentang JK yang berusaha menjadi The real President malah seperti menemukan pembenaran, lho.‎

‎Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Berita Lain