17 Januari 2026
Beranda blog Halaman 689

BGN Usul Pendidikan Gizi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah

Jakarta, aktual.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menjadikan pendidikan gizi sebagai bagian dari kurikulum sekolah.

“Hal ini sudah disampaikan kepada Kemendikdasmen. Tujuan utama dari langkah ini adalah menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” kata Dewan Pakar Bidang Gizi BGN, Ikeu Tanziha di Jakarta, Sabtu (19/7).

Ia menyatakan bahwa edukasi gizi yang terstruktur dan terintegrasi di lingkungan sekolah sangat penting dalam membentuk pemahaman komprehensif tentang nutrisi sejak usia dini.

“Gizi bukan hanya soal makanan, tapi tentang masa depan. Anak yang memahami gizi akan tumbuh sehat, berpikir tajam, dan mampu berkontribusi bagi bangsa,” katanya.

Menurut Ikeu, sekolah merupakan ruang edukatif yang ideal untuk mentransfer pengetahuan gizi secara sistematis. Pendidikan gizi sejak dini membantu siswa memahami keterkaitan antara makanan, kesehatan, dan kesejahteraan, sekaligus mendorong mereka untuk membuat pilihan hidup yang lebih sehat.

Melalui kurikulum, kata Ikeu, siswa akan diajarkan berbagai topik penting seperti konsep dasar gizi, kelompok makanan dan porsi yang tepat, peran zat gizi bagi tubuh, dan dampak negatif dari kebiasaan makan yang buruk.

Lebih lanjut, Ikeu mengatakan pendidikan gizi juga meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya gizi seimbang, serta membantu mereka mengambil keputusan yang lebih baik terkait asupan makanan.

Hal ini juga berperan dalam pencegahan penyakit akibat pola makan buruk, seperti obesitas dan diabetes, kata Ikeu menambahkan.

“Siswa juga memperoleh keterampilan praktis, seperti memasak dan berkebun yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Integrasi pendidikan gizi dalam kurikulum diyakini Ikeu akan menciptakan sinergi positif antara sekolah, keluarga, dan komunitas, serta memperkuat pesan pentingnya gizi seimbang di berbagai lapisan masyarakat.

Yang terpenting, kata Ikeu, pendidikan gizi dapat membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk hidup sehat, mendukung upaya pencegahan penyakit, serta meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

Sebagai lembaga yang bertugas dalam program pemenuhan gizi nasional, BGN telah melakukan berbagai upaya edukasi gizi, antara lain melalui sosialisasi di media sosial seperti YouTube dalam bentuk podcast, promosi melalui video edukasi yang mengambil latar di dapur, sekolah, pasar, dan lokasi lain yang relevan dengan Program MBG

BGN juga mengajak seluruh pihak, pemerintah, sekolah, orang tua, media, dan masyarakat untuk bersama-sama mendukung integrasi pendidikan gizi dalam kurikulum sekolah, sebagai bagian dari gerakan nasional menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

“Program Makan Bergizi Gratis akan optimal jika dibersamai dengan edukasi gizi yang menyeluruh dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

HNW Hadiri Turnamen Bulutangkis di Parlemen, Tekankan Pentingnya Sportivitas dan Kebersamaan

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, menghadiri sekaligus membuka Turnamen Bulutangkis Koran Jakarta Cup yang berlangsung di Sport Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (19/7/2025). Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, menghadiri sekaligus membuka Turnamen Bulutangkis Koran Jakarta Cup yang berlangsung di Sport Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (19/7/2025).

Dalam sambutannya, Hidayat Nur Wahid menekankan pentingnya menjaga kesehatan melalui olahraga serta menjadikan kompetisi sebagai ajang menumbuhkan profesionalitas dan semangat kebersamaan. Ia mengingatkan bahwa olahraga tidak hanya untuk menyehatkan tubuh, tetapi juga menjadi sarana membangun silaturahmi.

“Turnamen ini adalah media untuk menyehatkan tubuh sekaligus merealisasikan kompetisi yang tetap menjaga profesionalitas dan kebersamaan,” ujar Hidayat.

Politisi senior PKS itu juga mengingatkan bahwa berkompetisi adalah hal positif selama dilakukan dengan semangat sportivitas. Ia mengimbau para peserta untuk menjunjung tinggi nilai sportif, tanpa menghadirkan permusuhan atau emosi negatif.

“Olahraga bukan untuk marah-marah atau lempar raket. Kompetisi yang sehat itu menghadirkan rivalitas sportif. Menang maupun kalah harus disikapi dengan baik. Saya sering menyebut badminton jadi ‘goodminton’, karena apapun hasilnya, tetap membawa kebaikan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Hidayat juga mengapresiasi kolaborasi positif antara Parlemen dan Koran Jakarta dalam menyelenggarakan turnamen olahraga, sebagai bagian dari peringatan HUT Koran Jakarta ke-17.

Menurutnya, kolaborasi ini menunjukkan bahwa Parlemen tidak terpisah dari rakyat dan selalu membuka ruang partisipasi publik, baik dalam olahraga maupun pembuatan kebijakan.

“Di parlemen, kami terbiasa mengundang masyarakat, bahkan dalam pembuatan UU seperti saat pembahasan revisi UU Haji. Termasuk melalui sarana olahraga seperti ini, kami ingin lebih dekat dengan rakyat,” kata anggota Komisi VIII DPR RI tersebut.

Sebelum pertandingan resmi dimulai, Hidayat Nur Wahid bersama pimpinan Koran Jakarta turut ambil bagian dalam pertandingan ekshibisi.

Turnamen bulutangkis yang melibatkan insan media, instansi pemerintah, dan swasta ini menjadi bagian dari upaya mempererat tali silaturahmi, serta menyemarakkan peringatan hari ulang tahun Koran Jakarta.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Denny JA Bangkitkan Imajinasi Nusantara Lewat Genre Lukisan yang Bikin Penasaran

Jakarta, aktual.com – Dalam sebuah momentum langka yang mempertemukan seni tradisi, kecanggihan teknologi, dan kedalaman refleksi budaya, lima kritikus seni rupa terkemuka Indonesia memberikan tanggapan penuh apresiasi terhadap lukisan Denny JA yang melahirkan genre baru: Imajinasi Nusantara.

Lukisan Denny JA tidak sekadar hadir sebagai objek visual. Ia tampil sebagai manifesto estetika digital Nusantara.

Genre itu direspons oleh lima nama besar dunia seni rupa: Agus Dermawan T, Merwan Yusuf, Frigidanto Agung, Mayek Prayitno, dan Bambang Asrini Widjanarko.

Genre Imajinasi Nusantara adalah gabungan unik antara realisme manusia, batik sebagai simbol lokalitas, lanskap surealis sebagai ruang batin kolektif, dan kecerdasan buatan sebagai medium ekspresi.

Karya-karya Denny JA dalam genre ini terekam dalam dua buku lukisan berjudul “Handphone, Kita Dekat Sekali” dan “Wonderland, Dunia Anak-anak”.

Agus Dermawan T menyebut karya Denny sebagai upaya “menyurealkan  (surrealisme) realitas sosial-politik” melalui napas batik.

Baginya, lukisan-lukisan ini bukan hanya gambar, tetapi cara baru untuk menggugat estetika kolonial dengan simbol lokal yang akrab namun penuh perlawanan.

Merwan Yusuf menyebut genre ini sebagai “irealitas konkret”—visual yang tampak mustahil, tapi justru paling jujur dalam menangkap trauma.

“Genre ini adalah tangisan pelan dan perlawanan terhadap estetika,” tulisnya. Baginya, batik di lukisan Denny adalah medium protes: seni yang bersujud, bukan bersolek.

Frigidanto Agung membaca genre ini sebagai metafora untuk realita yang retak. Ia menyebut Denny JA sebagai pelukis yang memeluk luka global lewat bahasa visual.

“Ia bukan laporan WHO,” tulis Frigidanto, “tapi ia memeluk kita seperti ibu memeluk anak yang ketakutan.”

Mayek Prayitno memberi pengakuan eksplisit: “Imajinasi Nusantara adalah lompatan estetika.” Baginya, Denny JA tidak sekadar memanfaatkan teknologi digital, melainkan menyulap AI menjadi alat kontemplasi artistik.

Di tengah derasnya arus visual, Denny tampil sebagai “suara liyan” suara yang lain, yang menyebarkan pesan perdamaian.

Bambang Asrini Widjanarko menyebut lukisan Denny sebagai “doa yang diam”—tempat di mana keheningan, dimensi psikologis, dan algoritma bertemu dalam arsitektur visual.

Menurutnya, @AI adalah alat. Imajinasi adalah jiwa. Dan lukisan adalah ruang merenung di dunia yang terlalu bising.”

Imajinasi Nusantara bukan sekadar gaya melukis. Ia adalah genre visual kontemporer Indonesia, yang terlahir dari benturan antara budaya lokal (batik), tragedi global (pandemi, perang, krisis iklim), dan medium digital (AI).

Setiap lukisan adalah ruang tafsir. Dalam satu karya, seorang anak kecil berkaus batik berdiri di jalanan sepi, menatap langit penuh virus mahkota.

Lampu merah menyala. Dunia berhenti. Namun batik di tubuh sang anak berbicara: tentang identitas, rumah, dan ketahanan jiwa.

Genre ini menjawab satu pertanyaan penting: bagaimana merekam absurditas global tanpa kehilangan akar kultural?

Di Tengah Bisingnya Algoritma, Denny JA Mengajak Kita Diam dan Merenung

Imajinasi Nusantara bukan untuk menjawab dunia. Ia justru bertanya.

Dalam dunia yang semakin algoritmis dan terpaku pada efisiensi, karya Denny JA mengingatkan bahwa seni adalah warisan spiritual, bukan sekadar produk teknologi.

Lukisan bukan hanya gambar. Ia adalah doa visual, dokumentasi batin, dan manifesto kebudayaan digital Nusantara.

Dari genre ini, kita tidak hanya melihat Indonesia yang baru, tetapi merasakannya, dalam bentuk pixel, batik, dan harapan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Right Man in the Wrong Place: Panggung Sandiwara Meritokrasi di Kursi Komisaris BUMN

Ilustrasi: Right Man in the Wrong Place: Panggung Sandiwara Meritokrasi di Kursi Komisaris BUMN

Aktual.com – Jakarta, Alih-alih menjadi motor penggerak ekonomi nasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini justru menghadapi masalah struktural yang semakin dalam, yaitu praktik rangkap jabatan di jajaran komisaris dan dewan pengawas.

Penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2023 menunjukkan bahwa ini bukan sekadar anomali birokrasi, tapi pola sistematis yang mencerminkan bobroknya tata kelola.

ICW mencatat ada 167 individu yang rangkap jabatan di 202 entitas BUMN, termasuk anak dan cucu usaha, bahkan beberapa memegang enam jabatan sekaligus. Potensi honorarium negara yang dihabiskan untuk praktik ini mencapai Rp 96,2 miliar per tahun.

Era berganti, namun praktik serupa kembali terulang pada awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebanyak 33 pejabat negara dan pemerintahan, termasuk wakil menteri dan wakil kepala Kantor Komunikasi Presiden (PCO), diberi posisi komisaris di berbagai BUMN dan anak usahanya.

Sayangnya, penunjukan ini justru semakin menjauhkan BUMN dari perbaikan. PT Waskita Karya merugi Rp 2,07 triliun pada semester I 2023, Wijaya Karya rugi Rp 7,12 triliun sepanjang 2023, Garuda Indonesia mencatat kerugian USD 72,7 juta di akhir 2024 dan kembali rugi Rp 1,2 triliun pada kuartal I 2025, sementara Bio Farma juga tercatat merugi Rp 9,13 miliar.

Lebih dari itu, banyak dari wakil menteri yang rangkap jabatan justru ditempatkan di sektor yang sama sekali tidak relevan dengan posisi kementeriannya.

Wamen Kesehatan Dante Saksono duduk di Pertamina Bina Medika, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha di GMF AeroAsia, Wamen Perempuan Veronica Tan di Citilink Indonesia.

Wamen ATR Ossy Dermawan dan Wamen Imigrasi Silmy Karim di Telkom Indonesia, Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia Ratu Isyana Bagoes Oka di Dayamitra Telekomunikasi.

Selain itu, Wamen Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono dan Wamen Desa Ahmad Riza Patria di Telkomsel, hingga Wamen HAM Mugiyanto di InJourney Aviation Services.

Peneliti TI Indonesia, Asri Widayati, menyebut bahwa ini adalah kesalahan berulang.

“Fenomena komisaris dari jalur politik menjadi bagian dari konflik kepentingan. Fungsi-fungsi strategis yang melekat pada komisaris seperti pengawasan pada akhirnya akan lumpuh,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Aktual.com, Sabtu (19/7/2025).

Namun Istana tetap membela langkah ini. Hasan Nasbi, Kepala Kantor Komunikasi Presiden, menyatakan tidak ada pelanggaran konstitusi dalam penunjukan tersebut.

“Yang jelas sampai hari ini, di putusan MK nomor 80 tahun 2019, tidak ada bunyi putusan yang melarang itu. Itu clear,” ujarnya, mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi yang tak mengikat secara larangan formal.

No One Can Serve Two Masters: Retaknya Janji Meritokrasi Prabowo-Gibran

Padahal, dalam dokumen visi-misi Asta Cita Prabowo-Gibran, ditegaskan tekad untuk membangun pemerintahan yang bersih, profesional, dan bebas intervensi politik. Salah satu poinnya adalah memperkuat manajemen BUMN dengan menjunjung tinggi integritas dan menjauhkan dari praktik politik praktis.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan kontradiksi mencolok. Penunjukan 33 pejabat negara di kursi komisaris BUMN bukan hanya menjauh dari prinsip right man in the right place, tetapi juga bertentangan dengan semangat meritokrasi. Ketika jabatan strategis diberikan kepada figur yang tak punya kompetensi di bidang usaha BUMN tersebut, maka pengawasan hanya jadi simbolik.

Pepatah lama berbunyi “no one can serve two masters”. Wakil menteri yang merangkap jabatan sebagai komisaris pada akhirnya menghadapi loyalitas yang terpecah dan beban kerja yang tidak realistis.

Jika praktik ini terus dibiarkan, maka bukan hanya kinerja BUMN yang terpuruk—melainkan juga kepercayaan publik terhadap komitmen reformasi birokrasi. Janji meritokrasi tak ubahnya jargon politik yang dikompromikan oleh kepentingan kekuasaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

CBA Desak KPK Panggil Kembali Dirut BRI Sunarso Terkait Dugaan Korupsi Proyek EDC Rp 744 Miliar

Direktur Utama BRI, Sunarso. Aktual/DOK BANK RAKYAT INDONESIA

Jakarta, aktual.com – Center for Budget Analysis (CBA) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera memanggil kembali Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Sunarso, terkait kasus dugaan korupsi dalam proyek pengadaan Electronic Data Capture (EDC) tahun 2020–2024 yang berpotensi merugikan negara hingga Rp744 miliar.

Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menilai kinerja Sunarso selama menjabat sebagai Dirut BRI tidak menunjukkan pencapaian luar biasa. “Tidak ada yang istimewa. Justru yang istimewa adalah adanya dugaan korupsi besar-besaran di tubuh BRI dalam proyek EDC,” ujar Uchok dalam keterangannya, Sabtu (19/7).

Menurutnya, potensi kerugian negara sebesar Rp744 miliar akibat kasus EDC sangat mencolok karena jauh melebihi pertumbuhan laba BRI pada tahun 2023–2024 yang hanya mencapai Rp219 miliar. “Artinya, laba satu tahun itu tidak cukup untuk menutupi dugaan kerugian akibat korupsi tersebut,” jelas Uchok.

Ia juga menekankan bahwa sangat tidak masuk akal jika hanya tiga pejabat BRI yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus ini, yakni Wakil Dirut Catur Budi Harto, Direktur Digital Indra Utoyo, serta SEVP Pengadaan Dedi Sunardi. “Tidak mungkin hanya mereka bertiga. KPK harus mendalami peran Dirut Sunarso,” tegas Uchok.

CBA meminta KPK untuk tidak “pura-pura lupa” terhadap sosok Sunarso. “Kami mendesak agar KPK segera memanggil lagi dan memeriksa lebih dalam terkait keterlibatannya dalam kasus pengadaan EDC ini,” pungkas Uchok.

Sebagai catatan, pertumbuhan laba BRI dari 2022 ke 2023 sempat melonjak hingga Rp9 triliun. Namun, lonjakan itu tidak berlanjut, karena dari 2023 ke 2024, pertumbuhannya hanya tersisa Rp219 miliar—penurunan yang dinilai drastis oleh sejumlah pengamat anggaran.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Dari Asta Cita ke Asa Hampa, Reformasi Birokrasi yang Terbentur Kroni

Ilustrasi : Dari Asta Cita ke Asa Hampa, Reformasi Birokrasi yang Terbentur Kroni

Di atas kertas, visi-misi Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjanjikan pemerintahan yang bersih, birokrasi profesional, serta tata kelola BUMN yang kuat dan bebas dari intervensi politik. Janji itu tertulis rapi dalam Asta Cita poin ketujuh, berbunyi memperkuat reformasi birokrasi, hukum, dan politik, serta mempercepat pemberantasan korupsi.

Namun realitas yang kini tersaji justru kontras. Di balik retorika efisiensi dan meritokrasi, publik disodori fakta 33 wakil menteri dan satu pejabat setingkat dari Kantor Komunikasi Presiden kini rangkap jabatan sebagai komisaris di BUMN dan anak perusahaannya.

Transparansi Internasional Indonesia (TII) menilai fenomena ini sebagai bentuk kembalinya pola distribusi kekuasaan ke dalam tubuh ekonomi negara. Penempatan para wakil menteri di pos-pos strategis perusahaan pelat merah tidak hanya sarat konflik kepentingan, tetapi juga dipertanyakan relevansi dan kapasitasnya.

Banyak di antaranya berasal dari kementerian yang tak memiliki keterkaitan langsung dengan sektor industri tempat mereka menjadi komisaris. Dari urusan pendidikan tinggi di Pertamina Hulu Energi, hingga masalah perempuan dan anak di Citilink. Ketidaksesuaian itu menunjukkan bahwa jabatan komisaris hanya sebatas hadiah politik.

“Fenomena komisaris dari jalur politik menjadi kesalahan berulang, ini menjadi bagian dari konflik kepentingan, fungsi-fungsi strategis yang melekat pada komisaris seperti pengawasan pada akhirnya akan lumpuh. Apakah penguatan BUMN yang diliputi rangkap dan bagi-bagi jabatan seperti ini yang dikehendaki Presiden?” tutur Asri Widayati, Peneliti Economic Governance TI Indonesia, dalam keterangan pers yang dikutip Aktual.com, Sabtu (19/7/2025).

Komitmen untuk menjadikan birokrasi lebih profesional dan berintegritas sebagaimana tercantum dalam dokumen visi-misi Prabowo-Gibran, justru terancam lumpuh sejak awal pemerintahan.

Dalam dokumen itu, Prabowo-Gibran berjanji membentuk birokrasi yang efisien, menghapus politik transaksional, serta menjunjung sistem merit dalam pembinaan karir.

Tapi kenyataan menunjuk arah sebaliknya, yaitu distribusi kekuasaan dilakukan lewat mekanisme yang tidak transparan, tidak berbasis kompetensi, dan mengaburkan batas antara kekuasaan politik dan fungsi pengawasan korporasi.

Alih-alih memperkuat BUMN sebagai instrumen pembangunan nasional, penunjukan rangkap jabatan ini justru mengarah pada pelemahan institusi. Janji untuk membangun Indonesia Maju bisa terjerat oleh jebakan klasik kekuasaan, loyalitas lebih penting dari kapabilitas.

Mahfud MD: Ada Abuse of Power dan Potensi Kolusi

Mahfud mengatakan, berdasarkan data yang dirilis Indonesia Corruption Watch (ICW) pada akhir 2023, dari seluruh BUMN tercatat memiliki 263 orang komisaris dan pengawas BUMN.

“Dari jumlah ini, 53,9 persen atau 142 orang rangkap jabatan di pemerintahan dan BUMN,” kata Mahfud yang dikutip dari Youtube Mahfud MD Official, Rabu 30 April 2025.

Mahfud menilai wajar sekarang publik makin kritis dengan rangkap pejabat negara di BUMN karena ada potensi korupsi terselubung dan ketidakadilan.

Di sisi lain Istana Kepresidenan menegaskan bahwa rangkap jabatan wakil menteri sebagai komisaris BUMN tidak melanggar konstitusi. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menyebut penunjukan tersebut sah secara hukum karena tidak ada larangan eksplisit dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 80/PUU-XVII/2019.

“Yang jelas sampai hari ini, di putusan MK nomor 80 tahun 2019, tidak ada bunyi putusan yang melarang itu. Itu clear,” ujar Hasan, Selasa (3/6/2025). Ia menambahkan, meski ada pertimbangan soal konflik kepentingan, hal itu tidak tertuang dalam amar putusan yang bersifat mengikat.

Hasan menilai keputusan Presiden menunjuk wakil menteri sebagai komisaris sudah melalui kajian hukum dan tidak melanggar aturan apa pun. “Kalau ada yang menggugat silakan. Itu hak konstitusional warga. Tapi hari ini, per keputusan itu dibuat, tidak melanggar aturan apa pun,” tegasnya.

Istana bersikukuh tidak ada pelanggaran konstitusi dalam penunjukan wakil menteri sebagai komisaris. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa tak ada larangan eksplisit dalam Putusan MK Nomor 80/PUU-XVII/2019 yang menyatakan rangkap jabatan sebagai pelanggaran hukum.

“Yang jelas sampai hari ini, di putusan MK nomor 80 tahun 2019, tidak ada bunyi putusan yang melarang itu. Itu clear,” kata Hasan, Selasa (3/6/2025).

Ia juga menyatakan bahwa keputusan Presiden menunjuk wakil menteri sebagai komisaris sudah melalui kajian hukum yang cermat. Meski putusan MK memuat pertimbangan soal potensi konflik kepentingan, Hasan menegaskan itu bukan bagian dari amar putusan yang bersifat mengikat secara hukum. “Tapi wakilnya itu dibolehkan secara aturan,” pungkasnya.

Di antara tafsir hukum dan realitas etika publik, publik kini menyaksikan kontras mencolok antara legalitas administratif dan kehancuran integritas. Ketika negara melegitimasi praktik yang dinilai mengganggu akuntabilitas, maka pertanyaan yang tersisa adalah: apakah hukum cukup menjadi tameng dari runtuhnya tata kelola?

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Berita Lain