21 April 2026
Beranda blog Halaman 882

CSIS Minta Pemerintah Bangun Kembali Kepercayaan Fiskal

Jakarta, aktual.com – Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan meminta pemerintah perlu membangun kembali kepercayaan fiskal untuk meredam dampak negatif gejolak demonstrasi yang terjadi selama sepekan terakhir.

Sebab, menurutnya, akar permasalahan dari protes besar-besaran itu berasal dari krisis legitimasi fiskal.

Gelombang demonstrasi yang merebak merupakan akumulasi keresahan masyarakat atas memburuknya kondisi ekonomi dan kepercayaan terhadap pemerintah yang kian menurun.

“Kalau pemerintah tidak bisa mengatasi akar permasalahan utamanya, krisis ini akan terus terjadi dan berulang. Karena itu, pemerintah harus bisa membangun kembali kepercayaan fiskal melalui empati dan keteladanan,” kata Deni dalam media briefing di Jakarta, Selasa.

Deni merinci dalam hal ini pemerintah perlu untuk menghentikan pemborosan anggaran hingga mengevaluasi tunjangan serta sikap para pejabat pemerintahan.

Langkah lain yang juga mendesak yaitu perlunya meningkatkan akuntabilitas dan transparansi anggaran, memperbaiki layanan publik, serta meninjau ulang desain program prioritas pemerintah agar lebih efisien dan berkelanjutan.

Selain itu, Deni menilai dialog terbuka perlu diperluas, tidak hanya dengan buruh tetapi juga pelaku usaha.

“Pada dasarnya, tidak ada pertentangan antara buruh dan pengusaha. Kalau kita hanya mengancam pengusaha, itu justru akan memperburuk keadaan bagi semua pihak,” katanya.

Oleh karena itu, reformasi ekonomi dan perbaikan iklim usaha harus menjadi prioritas agar lapangan kerja dapat terjaga dan ekonomi kembali pulih

Dalam paparannya, Deni memandang aksi massa sepekan terakhir mencerminkan beban ekonomi yang semakin berat.

Meski pertumbuhan ekonomi relatif stabil, distribusinya masih timpang. Tingkat kemiskinan menurun, namun kelas menengah ikut tergerus.

Begitu juga dengan tingkat pengangguran terbuka yang rendah, namun jumlah pengangguran justru naik disertai maraknya PHK dan makin dominannya pekerjaan di sektor informal.

“Singkatnya, protes-protes ini merupakan akumulasi keresahan atas kesulitan hidup dan kekecewaan atas pemerintahan,” tutur Deni.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri menyarankan dalam kondisi global yang tak menentu, seharusnya pemerintah lebih cermat menggunakan instrumen fiskal.

“Instrumen fiskal itu seharusnya ditujukan untuk apa yang biasa disebut oleh para ekonom sebagai anti-cyclical, ketika kondisi perekonomian sedang memburuk, malah kemudian harus didorong fiskalnya agar bisa mendorong pertumbuhan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai hal itu belum terlihat. Kebijakan yang digulirkan selama ini masih belum memberikan insentif yang cukup bagi dunia usaha untuk bergerak lebih aktif.

Lebih lanjut, Yose menekankan pentingnya mengembalikan pendekatan teknokratis dalam perumusan kebijakan. Karena menurutnya selama ini, pendekatan tersebut kerap dikesampingkan, dan hanya menjadi alat pembenaran keputusan politik.

“Ada pendekatan-pendekatan teknokratis juga yang perlu diambil dan perlu diperhatikan. Semoga semua ini menjadi wake up call bagi semua pihak agar dapat menciptakan sistem demokrasi yang lebih baik serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Adapun pada Kamis (28/8) hingga Minggu (31/8), aksi unjuk rasa berlangsung di berbagai daerah Indonesia. Di sejumlah lokasi, aksi berujung kericuhan bahkan memakan korban jiwa, sebagian besar dari kalangan masyarakat sipil yang bukan peserta aksi.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

8 Jurnal Marcella Santoso Ungkap Borok Peradilan dan Mafia Tambang

Ilustrasi kecelakaan tambang. Ist

Jakarta, aktual.com – Advokat Marcella Santoso yang kini menjadi pesakitan lantaran menyuap hakim untuk menjatuhkan vonis lepas terdakwa korporasi yakni Wilmar Group, PT Permata Hijau Group, dan PT Musim Mas Group dalam perkara ekspor CPO memiliki 8 jurnal yang mengungkap borok peradilan dan sepak terjang mafia tambang. Bukti tersebut dipegang penyidik Gedung Bundar, Jampidsus.

Seorang sumber menyebutkan, Marcella kerap menulis aktivitasnya dalam jurnal. “Bentuknya seperti diari, khas perempuan, tetapi memiliki banyak catatan penting,” kata sumber tersebut, di Jakarta, Selasa (2/9).

Marcella bermain untuk melepaskan tiga korporasi besar dari tuntutan membayar uang pengganti. PT Wilmar Group misalnya, lepas dari tuntutan membayar uang pengganti sebesar Rp11.880.351.802.619 (Rp11,8 triliun).

Permata Hijau Group Rp937.558.181.691,26 atau (Rp937,5 miliar) sedangkan Musim Mas Group dituntut membayar uang pengganti Rp4.890.938.943.794,1 atau (Rp4,8 triliun). Marcela bersama rekan advokat lainnya mewakili tiga korporasi menyuap hakim yakni Djuyamto, Agam Syarief Baharudin dan Ali Muhtarom.

Selain ketiga hakim, Marcella Cs juga menyuap Muhammad Arif Nuryanta yang merupakan mantan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sekaligus mantan Wakil Ketua PN Jakarta Pusat, dan Panitera Muda Perdata PN Jakarta Utara Wahyu Gunawan. Total suap mencapai Rp40 miliar.

Selain suap, Marcella juga dibelit perkara merintangi penyidikan terkait korupsi timah dan importasi gula. Marcella menyebarkan konten-konten negatif untuk menyudutkan Kejagung. Advokat Junaedi Saibih dan Direktur Pemberitaan Jak TV Tian Bahtiar turut menjadi pesakitan.

Sumber tersebut melanjutkan, data dan catatan penting yang dimiliki Marcella telah dilaporkan kepada pemimpin tertinggi Republik. “Tapi ada beberapa yang bocor ke publik,” tuturnya.

Data yang dimaksud mencakup pula dengan keterlibatan aparat dan politisi dalam pengelolaan tambang ilegal. Sumber juga mengungkapkan, sepak terjang Marcella muncul dalam catatan yang ditemukan dalam perkara suap mafia hukum Zarof Ricar, yang juga menyandang status tersangka pencucian uang oleh penyidik Gedung Bundar.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Jumlah Korban Jiwa Aksi Massa 28 Agustus hingga 2 September 2025

Jakarta, Aktual.com – Aksi massa yang berlangsung sejak Kamis, 28 Agustus hingga Selasa, 2 September 2025 tak hanya menyisakan kerugian materi karena perusakan, pembakaran dan penjarahan. Aksi kerusuhan yang selalu berujung bentrokan antara aparat keamanan dan pendemo ini juga menimbulkan puluhan orang terluka, baik dari aparat maupun massa aksi.

Bahkan, aksi kerusuhan yang meluas di berbagai kota ini menyebabkan korban jiwa. Tercatat, sedikitnya 10 orang meninggal. 2 orang di Jakarta, 4 orang di Makassar, 1 orang di Yogyakarta, 1 orang di Solo, 1 orang di Manokwari, dan 1 orang di Semarang.

Dari aksi yang awalnya bentuk protes terhadap kenaikan tunjangan sewa rumah DPR RI ini, 6 orang melayang nyawanya karena sikap represif aparat keamanan. Adapun 4 orang tewas karena terjebak dalam kebakaran yang dilakukan oleh massa aksi. Dan 1 orang diduga salah sasaran.

Baca juga:

Mengapa dan Siapa Di Balik Aksi Anarkis Jelang Satu Tahun Pemerintahan Prabowo?

Mereka yang meninggal ada yang dari mahasiswa, siswa, ojek online (ojol), tukang becak, PNS, hingga Satpol PP. Berikut korban jiwa yang teridentifikasi dilansir dari berbagai sumber pemberitaan.

Jakarta

  1. Affan Kurniawan

Pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, tewas setelah dilindas mobil taktis Brimob Polda Metro Jaya di kawasan Rusun Bendungan Hilir II, Jakarta Pusat, Kamis malam, 28 Agustus 2025. Pria 21 tahun itu terjatuh ketika hendak mengambil ponselnya yang jatuh di tengah kerumunan massa.

“Posisinya di tengah jalan, HP-nya jatuh. Dia mau ambil HP malah keserimpet, itu mobil datang langsung blas (dilindas),” kata Erna dari komunitas ojek online Unit Respons Cepat (URC) Bergerak di rumah duka, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Agustus 2025.

Menurut Erna, Affan sempat mencoba bangun, tapi kendaraan barracuda itu mundur sebentar lalu melaju kencang meninggalkan lokasi. Massa mengejar hingga flyover Kasablanka, sementara Affan dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. “Sampai di IGD masih ada. Lima menit kemudian dicek lagi nadinya sudah enggak ada,” ujarnya.

Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan korban tersungkur dan diangkat sesaat setelah dilindas. Wajahnya berlumuran darah. Dia segera dibopong oleh orang di sekitar dan dinaikkan ke atas motor menuju ambulans. Affan dinyatakan meninggal pukul 19.50 WIB di RSCM.

Baca juga:

Hindari Darurat Militer, Setop Penjarahan!

  1. Andika Luthfi Falah

Siswa asal Desa Pematang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, meninggal saat ikut demonstrasi menuntut pembubaran DPR di kawasan gedung DPR pada 28 Agustus 2025. Andika, 16, siswa kelas 11 di SMK Negeri 14 itu sempat dirawat intensif di RS Dr Mintoharjo, Jakarta, sebelum meninggal.

Menurut Sugiono, Ketua RT rumah Andika di Puri Bidara Permai, tim medis menjelaskan bahwa Andika terluka berat di kepala akibat benturan benda tumpul.

Keluarga sepakat tak melanjutkan kasus ini ke jalur hukum. Orang tua Andika menyatakan menerima kematian putranya.

Makassar

  1. Syaiful Akbar

Syaiful, 43 tahun, merupakan Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kecamatan Ujung Tanah. Ia meninggal di Rumah Sakit Grestelina.

  1. Muhammad Akbar Basri

Fotografer Humas DPRD Kota Makassar. Jenazah Muhammad Akbar Basri alias Abay, 26 tahun, ditemukan tim SAR di lantai tiga gedung DPRD dalam kondisi hangus terbakar. Diduga ia bersembunyi bersama rekannya untuk menghindari amuk massa, namun terperangkap saat api membesar.

  1. Sarinawati

Staf DPRD Kota Makassar yang juga ditemukan tewas di lantai tiga gedung. Sama seperti Abay, wanita berusia 25 tahun ini diduga mencoba menyelamatkan diri dengan bersembunyi, tetapi tak berhasil keluar ketika api melalap bangunan.

Baca juga:

Memburu Dalang: Penumpang Gelap di Balik Kerusuhan Jakarta

4. Rusmadiansyah

Rusmadiansyah bukan mahasiswa yang ikut berunjuk rasa. Ia dikeroyok massa di Jalan Urip Sumoharjo, depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Massa menuduh pengemudi ojol itu sebagai intel aparat. Rusmadiansyah, 26 tahun, sempat dibawa ke RSUP OJK Kemenkes RI di kawasan CPI, tapi nyawanya tak tertolong.

Manokwari

  1. Septinus Sesa

Kapolda Papua Barat Inspektur Jenderal Johnny Edison Isir memastikan kepolisian menyelidiki kematian Septinus Sesa saat aksi blokade di kawasan Wirsi dan Jalan Yosudarso, Manokwari, Kamis malam, 28 Agustus 2025. Penyelidikan melibatkan Komnas HAM, Ombudsman, hingga LBH untuk menjamin transparansi.

Kapolda membantah kabar yang menyebut Septinus meninggal akibat gas air mata. Ia mengklaim, alat pengendali massa itu tidak bersifat mematikan. Ia menegaskan hasil penyelidikan akan dibuka ke publik dan keluarga korban.

Semarang

  1. Iko Juliant Junior

Mahasiswa Unversitas Negeri Semarang, Iko Juliant Junior, tewas di Rumah Sakit Kariadi pada Minggu siang, 31 Agustus 2025. Iko mengalami luka dalam hingga kritis. Dalam kondisi tak sadar, Iko mengigau meminta ampun agar tak dipukuli.

Berdasarkan penelusuran IKA FH Unnes, Iko diantar ke RS Kariadi dalam kondisi kritis oleh polisi pada pukul 11.00, Minggu, 31 Agustus 2025. Iko mengalami kerusakan di bagian organ dalam. Iko meninggal pada hari yang sama pada pukul 15.30. Iko Juliant Junior dimakamkan keesokan harinya.

Berdasarkan foto wajah korban, Naufal mengatakan Iko mengalami lebam di mata dan bibir sobek. “Kami mau minta keterangan dari orang yang memandikan korban.” Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Artanto belum menanggapi upaya konfirmasi soal kematian Iko Julian Junior.

Baca juga:

PBB Desak Penyelidikan atas Dugaan Kekuatan Berlebihan di Indonesia

Yogyakarta

  1. Rheza Sendy Pratama

Rheza Sendy Pratama, mahasiswa semester V Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, tewas dalam kericuhan di kawasan Ring Road Utara, depan Markas Polda DIY, Minggu pagi, 31 Agustus 2025.

Ayahnya, Yoyon Surono, yang memandikan jenazah anaknya, terkejut melihat tubuh Rheza penuh luka. “Leher belakang seperti patah, pelipis bocor, banyak bekas jejak sepatu PDL di dada dan perut, dan memar sabetan di badannya,” kata Yoyon.

Rheza semula berpamitan hanya untuk minum kopi bersama teman. Belakangan ia diduga ikut demo. Ia dibawa ke RSUP dr. Sardjito oleh unit kesehatan kepolisian dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 07.00 WIB.

Polda DIY menjelaskan, pada Sabtu malam 30 Agustus 2025 hingga Ahad pagi 31 Agustus, terjadi penyerangan ke Mako Polda DIY. Sekitar 500 orang melempar batu, petasan, dan bom molotov, serta menarik kawat duri pagar pengaman. Polisi bersama TNI membubarkan massa pada pukul 06.00 WIB karena demonstrasi itu dinilai meresahkan dan menutup jalan ring road. Namun, hingga kini polisi belum menjawab soal tewasnya Rheza.

Solo

  1. Sumari

Kerusuhan di Solo pada Jumat malam, 29 Agustus 2025, merenggut nyawa Sumari, seorang tukang becak yang sehari-hari mangkal di kawasan Pasar Gede. Dikutip dari Radar Solo, pria asal Pacitan, Jawa Timur, itu ditemukan dalam kondisi lemas di dekat gedung parkir Ketandan ketika bentrokan massa dan polisi memanas di Bundaran Gladak.

Keluarga mengakui Sumari memiliki riwayat penyakit jantung dan asma. Namun, warga sekitar menduga paparan gas air mata yang terbawa angin hingga Pasar Gede ikut memperburuk kondisi kesehatannya. Sejumlah video yang beredar memperlihatkan warga mengevakuasi tubuhnya dengan becak motor.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

HUT Adhyaksa: Jaksa Agung Terbitkan 7 Perintah Harian

Jakarta, aktual.com – Jaksa Agung Republik ST Burhanuddin menerbitkan 7 perintah harian yang diterbitkan bertepatan dngan Peringatan Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia ke-80 pada Selasa (2/9). Dalam amanatnya, Jaksa Agung menekankan bahwa peringatan ini adalah momen evaluasi dan introspeksi untuk memperkuat soliditas dan solidaritas Korps Adhyaksa dalam menghadapi kompleksitas dinamika tugas di masa depan.

Jaksa Agung menjelaskan bahwa tanggal 2 September diperingati sebagai Hari Lahir Kejaksaan berdasarkan Keputusan Jaksa Agung Nomor 196 Tahun 2023. Tanggal ini ditetapkan karena pada 2 September 1945, Presiden pertama Ir. Soekarno melantik Mr. R. Gatot Tanoemihardja sebagai Jaksa Agung pertama dalam Kabinet Presidensial.

“Momen ini menandai dimulainya kedudukan Jaksa Agung dan Kejaksaan dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa Kejaksaan lahir bersamaan dengan Republik Indonesia dan berfungsi sebagai penjaga hukum dan penegak cita-cita proklamasi,” kata Jaksa Agung, ketika memimpin UPacara Peringatan Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia, di Kompleks Kejagung RI, Jakarta, pagi tadi.

HUT Kejaksaan mengangkat tema “Transformasi Kejaksaan Menuju Indonesia Maju”. Burhanuddin menegaskan pentingnya implementasi tugas dan fungsi Kejaksaan yang selaras dengan agenda supremasi hukum, stabilitas, dan kepemimpinan nasional. Tema ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, terutama dalam memperkuat reformasi hukum, birokrasi, serta pemberantasan korupsi dan narkoba.
Untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Jaksa Agung meminta seluruh Insan Adhyaksa untuk menjalankan tugas dengan profesional dan proporsional. Transformasi penegakan hukum harus mampu menciptakan sistem yang adaptif, tanggap terhadap perubahan, dan mengakomodasi kebutuhan masyarakat.

Jaksa Agung menyampaikan Tujuh Perintah Harian sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas bagi seluruh jajaran Kejaksaan:
1. Tanamkan Semangat Kesatuan yang Utuh dan Tidak Terpisahkan dengan berlandaskan nilai-nilai Tri Krama Adhyaksa dan Trapsila Adhyaksa Berakhlak.
2. Dukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden dalam pemberantasan tindak pidana korupsi yang berorientasi pada hajat hidup orang banyak, disertai dengan pemulihan kerugian negara dan perbaikan tata kelola.
3. Perkuat Peran Sentral Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana dan sebagai Jaksa Pengacara Negara.
4. Optimalkan Budaya Kerja Kolaboratif dan Responsif, dengan mengedepankan integritas, profesionalisme, dan empati.
5. Terapkan Secara Cermat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang akan berlaku pada awal tahun 2026.
6. Wujudkan Pola Pembentukan Insan Adhyaksa yang Terstandarisasi, Profesional, serta memiliki struktur berpikir yang terarah sehingga dapat menjadi role model penegak hukum.
7. Tingkatkan Pola Penanganan Perkara dengan menyeimbangkan antara konteks hukum positif dan nilai keadilan dalam masyarakat, demi menjamin ketertiban dan kepastian hukum dalam penanganan perkara yang tidak memihak, objektif, adil, dan humanis.

“Dalam menjaga eksistensi institusi, kita akan selalu membawa legitimasi luhur para pendahulu kita, namun saya ingin berpesan bahwa setiap kita adalah perintis di zamannya masing-masing,” pinta Jaksa Agung.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Lestari Moerdijat Tekankan Pentingnya Pengembangan Pendidikan Holistik

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Dorong pengembangan sektor pendidikan yang mampu meningkatkan potensi peserta didik secara seimbang antara penajaman intelektual dan penguatan moral, etika, serta empati.

“Tantangan di era digital yang sarat dengan dinamika di sejumlah sektor membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan intelektual dan moral, serta etika yang seimbang untuk menghadapinya,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/9).

Survei World Economic Forum (2023) mengungkapkan bahwa 85% pemimpin bisnis global kesulitan menemukan karyawan yang memiliki soft skills seperti kemampuan berpikir kritis, empati, dan kerja sama, yang merupakan komponen utama dari akal budi.

Laporan UNESCO tahun 2022 berjudul “Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education” menekankan pergeseran paradigma pendidikan dari transfer pengetahuan menjadi pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan planet, dengan fokus pada pemahaman antarbudaya dan kesadaran ekologis.

Berdasarkan tantangan yang dihadapi tersebut, Lestari berpendapat upaya pengembangan sektor pendidikan secara menyeluruh harus mampu secara konsisten direalisasikan.

Tidak semata mengejar capaian akademik untuk penajaman intelektual, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, lebih dari itu juga menerapkan sistem pendidikan yang mampu menguatkan moral, etika, serta empati (budi) dari peserta didik.

Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI, berpendapat dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi saat ini, pendidikan budi pekerti penting direalisasikan secara konsisten sebagai bagian dari upaya pembentukan generasi penerus cerdas secara akademis, berintegritas, dan berperikemanusiaan.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu sangat berharap para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah, serta masyarakat, mampu membangun kolaborasi yang kuat untuk mengembangkan sektor pendidikan ke arah yang lebih holistik, agar mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang berkarakter dan berdaya saing di masa depan.

Alumni Unisba Kecam Serangan Aparat ke Kampus Unisba-Unpas

Situasi saat kepolisian bersama TNI melakukan patroli di kawasan Tamansari, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (1/9/2025). (ANTARA/HO-Polda Jabar)
Situasi saat kepolisian bersama TNI melakukan patroli di kawasan Tamansari, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (1/9/2025). (ANTARA/HO-Polda Jabar)

Jakarta, aktual.com – Alumni Universitas Islam Bandung (Unisba), Johan Jauhari Anwari, menyampaikan kecaman keras terhadap aksi penyerangan aparat keamanan ke arah kampus Unisba dan Unpas Bandung pada Senin malam, 1 September 2025. Menurutnya, tindakan tersebut telah melukai marwah kampus sebagai ruang intelektual.

“Saya mengecam keras serangan aparat terhadap kampus Unisba dan Unpas Bandung pada Senin malam, 1 September 2025. Kampus adalah ruang suci pencarian ilmu dan laboratorium perjuangan mahasiswa yang tidak boleh dinodai kekerasan dalam bentuk apapun,” kata Johan dalam konferensi pers, Selasa (2/9).

Lebih lanjut, Johan menilai bahwa insiden tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari upaya terorganisir yang ingin memanfaatkan situasi. Menurutnya, kelompok tersebut ingin mengacaukan stabilitas bangsa dengan memprovokasi mahasiswa agar kehilangan arah perjuangan.

“Perlu ditegaskan, ada upaya sistematis dari para perusuh pengkhianat bangsa yang berusaha menunggangi situasi ini. Mereka menghendaki pesta kerusuhan tidak segera berakhir sebelum tujuan busuk mereka tercapai, bahkan berharap diamini Presiden Prabowo Subianto. Tujuan mereka jelas, ingin Indonesia tidak damai, tidak sejahtera, dan tidak bersatu,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa tindakan provokatif tersebut dilakukan untuk mengaburkan tujuan mulia gerakan mahasiswa, ia menekankan bahwa mahasiswa harus waspada agar tidak terjebak dalam skenario pihak-pihak yang ingin memperkeruh keadaan.

“Cara kotor itu dilakukan dengan mengotori kemurnian gerakan mahasiswa bersama rakyat yang sejatinya menegakkan keadilan dan kesejahteraan. Mereka ingin merusak kesucian gerakan mahasiswa dengan provokasi, memancing amarah, agar mahasiswa bertindak di luar kendali dan terseret pada tindakan anarkis,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Johan juga menyampaikan seruan langsung kepada mahasiswa untuk tetap menjaga etika perjuangan agar aspirasi mereka dapat diterima secara bermartabat oleh pemerintah.

“Saya menyerukan kepada seluruh mahasiswa Unisba dan Indonesia: jangan berhenti bersuara! Laksanakan tujuan hidup sebagai Mujahid, Mujtahid, dan Mujadid. Teruslah berjuang hingga cita-cita gerakan tercapai. Sampaikan aspirasi rakyat kepada Presiden Prabowo selaku pengendali pemerintahan dengan cara-cara yang baik, santun, dan bermartabat,” katanya.

Selain itu, Johan juga menekankan pentingnya kekuatan spiritual dalam perjuangan mahasiswa, ia menilai bahwa dampak buruk dari tindakan represif aparat menjadi pengingat agar gerakan mahasiswa tetap bersih dari infiltrasi pihak luar.

“Di setiap langkah perjuangan, mari awali dengan istighosah dan doa bersama, memohon agar Indonesia tetap damai, bersatu, dan sejahtera. Insiden penembakan gas air mata oleh aparat ke arah Kampus Unisba dan Unpas pada malam 1 September telah menimbulkan banyak korban di kalangan mahasiswa: belasan mahasiswa pingsan, puluhan lainnya sesak napas dan trauma. Fakta ini menambah luka, sekaligus mempertegas bahwa gerakan mahasiswa jangan sampai tercemari oleh kepentingan perusuh dan provokator,” ungkapnya.

Johan kembali menegaskan peran penting kampus sebagai benteng moral bangsa dan mengajak agar mahasiswa tetap menjaga integritas perjuangan serta menjadikan kampus sebagai ruang pengkaderan intelektual yang tidak boleh dikotori oleh kekerasan dan provokasi. “Saya mengingatkan kembali bahwa kampus adalah marwah perjuangan. Mahasiswa Unisba, jadikan diri sebagai Mujahid yang berani, Mujtahid yang kritis, dan Mujadid yang membawa pembaruan. Pertahankan marwah kampus agar tetap menjadi benteng moral bangsa,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain