18 April 2026
Beranda blog Halaman 892

Ricuh di Bandung: Gas Air Mata dan Ledakan Warnai Aksi di Depan DPRD Jabar

Suasana Mapolda Jaya, Jakarta Pusat. Aktual/Raffi

Bandung, Aktual.com – Aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (29/8), berlangsung panas meski diguyur hujan deras. Ribuan massa yang terdiri dari mahasiswa dan pengemudi ojek online tetap bertahan, bahkan melakukan pelemparan ke arah gedung dewan serta menyalakan petasan yang mereka bawa.

Beberapa kali suara ledakan terdengar dari kerumunan, memicu kepulan asap pekat. Situasi sempat memaksa massa mundur lantaran mengalami sesak napas dan iritasi mata. Namun, tak berselang lama, mereka kembali maju mendekati pagar gedung DPRD Jabar, menantang barikade aparat.

Aksi ini merupakan buntut kemarahan publik atas tewasnya Affan Kurniawan (21), seorang driver ojek online, yang dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat aksi ricuh di Jakarta, Kamis (28/8). Kematian Affan dianggap simbol kekerasan aparat terhadap rakyat kecil, sehingga memicu gelombang solidaritas di berbagai daerah, termasuk Bandung.

Pantauan Aktual.com di lokasi, tembakan gas air mata mewarnai bentrokan. Asap kimia yang tertiup angin bahkan menjangkau kawasan Jalan Banda, membuat warga sekitar ikut merasakan perih di mata dan sesak di dada.

Banyak demonstran terlihat mengoleskan pasta gigi di sekitar mata dan hidung sebagai cara darurat untuk mengurangi rasa perih. “Mau sejuta gas air mata ditembakkan, kami tidak akan mundur. Nyawa Affan tidak bisa dibayar dengan alasan apapun,” teriak salah satu orator aksi.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar DPRD Jabar masih tegang. Massa terus berupaya mendekat ke gedung dewan, sementara aparat menambah barisan pasukan untuk mempertebal penjagaan. Bandung pun resmi berubah menjadi salah satu titik panas perlawanan rakyat terhadap represifitas aparat negara.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Gelombang Aksi di Bandung Kian Panas: Mahasiswa Duduki DPRD Jabar, Tuntut Keadilan untuk Affan

Suasana aksi 28 Agustus 2025 di kawasan Senayan Jakarta, Kamis (28/8/2025). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/pri.

Bandung, Aktual.com – Gelombang aksi unjuk rasa kembali mengguncang sejumlah wilayah di Indonesia pada Jumat (29/8). Bandung menjadi salah satu titik yang dipenuhi ribuan mahasiswa dan buruh, setelah sehari sebelumnya aksi serupa berakhir ricuh dan merenggut korban jiwa.

Pada Kamis (28/8), ribuan buruh menggelar aksi nasional di depan Gedung DPR/MPR RI, sementara di daerah lain, termasuk Bandung, massa bergerak ke kantor Gubernur Jawa Barat, Kantor Wali Kota Bandung, hingga Gedung DPRD Jabar.

Meski berlangsung masif, aksi tersebut dinilai tidak membuahkan hasil, bahkan justru memicu kemarahan akibat tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan (21), yang dilindas mobil rantis Brimob di Jakarta.

Kematian Affan menjadi titik balik yang menyatukan gerakan mahasiswa dan buruh di Bandung. Sejumlah organisasi kampus, termasuk BEM dan DEMA dari berbagai universitas, menyerukan aksi lanjutan dengan titik konsentrasi utama di Gedung DPRD Jawa Barat. Seruan aksi tersebut ramai disebarkan melalui media sosial sejak Jumat pagi, salah satunya oleh akun BandungBERGERAK.

“Ini bukan lagi sekadar soal tuntutan buruh. Ini tentang nyawa rakyat yang hilang akibat represi negara,” tegas salah satu orator aksi di depan Gedung DPRD Jabar.

Berdasarkan pantauan dilapangan, ada beberapa poin utama yang disuarakan dalam aksi ini: Pertanggungjawaban aparat kepolisian atas tewasnya Affan Kurniawan. Pencopotan Kapolda Metro Jaya dan Kapolri bila terbukti lalai dan represif dalam menangani demonstrasi. Pengusutan tuntas kekerasan aparat yang kerap terjadi dalam aksi massa. Reformasi institusi Polri serta jaminan kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum.

Situasi di sekitar Gedung DPRD Jabar tampak tegang. Massa melakukan long march dari Monumen Perjuangan (Monju) dan kawasan Pasteur menuju pusat kota. Aparat kepolisian berjaga ketat dengan barikade kawat berduri, sementara lalu lintas Bandung mengalami lumpuh total di sejumlah titik.

Gelombang aksi hari ini diyakini masih akan berlanjut hingga malam, mengingat massa terus berdatangan dari berbagai arah. Bandung pun diprediksi menjadi salah satu episentrum protes nasional, menyusul kemarahan publik yang semakin meluas terhadap tindakan represif aparat.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Mobil Polisi Jadi Sasaran Amukan Massa, Polda Metro Jaya Dikepung Gelombang Demonstrasi

Jakarta, Aktual.com – Gelombang amarah massa pecah di depan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2025). Sejumlah kendaraan dinas kepolisian jadi sasaran aksi anarkis. Mobil Provos, Ditsamaptha, hingga sebuah bus polisi dirusak. Massa melempari, memukul dengan bambu, bahkan memecahkan kaca hingga meninggalkan penyok di berbagai bagian kendaraan.

Tidak berhenti di situ, satu unit mobil bak Samaptha juga diamuk. Kemarahan dipicu lantaran kendaraan tersebut sempat menyerempet sepeda motor saat berusaha keluar dari kerumunan. Peristiwa itu menimbulkan cekcok singkat antara penumpang mobil dengan massa, sebelum akhirnya mobil melaju meninggalkan lokasi.

Kericuhan ini berakar dari insiden tragis sehari sebelumnya. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol), tewas setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat aksi demonstrasi ricuh di kawasan Senayan. Peristiwa tersebut memicu gelombang kemarahan, khususnya dari komunitas ojol dan mahasiswa, yang menilai aparat bertindak represif dan lalai dalam mengendalikan situasi.

“Affan adalah korban nyata dari brutalitas aparat. Kami datang bukan untuk ricuh, tapi untuk menuntut keadilan,” ujar Fajar, koordinator aksi dari BEM Nusantara.

Hari ini, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus, termasuk Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, hingga BEM Seluruh Indonesia, bergabung dengan komunitas ojol. Mereka menuntut pertanggungjawaban penuh dari Kapolda Metro Jaya dan institusi kepolisian atas tewasnya Affan.

Tuntutan mereka terangkum dalam beberapa poin utama: Usut tuntas kasus tewasnya Affan dan adili aparat yang terbukti lalai. Hentikan kekerasan dan tindakan represif terhadap demonstran. Transparansi proses hukum terhadap aparat yang diduga bertanggung jawab. Perlindungan hukum bagi pengemudi ojol dalam menjalankan profesinya. Reformasi internal Polri, terutama dalam prosedur pengendalian massa.

Menanggapi kericuhan, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam, menegaskan pihaknya tengah melakukan penyelidikan. “Proses investigasi internal sedang berjalan. Kami minta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan anarkis,” ujarnya kepada wartawan.

Ade Ary juga memastikan polisi akan transparan dalam mengusut kasus tewasnya Affan. “Apabila ada kelalaian personel, tentu akan ada proses hukum,” tambahnya.

Pantauan Aktual.com, Jalan Gatot Subroto lumpuh total akibat lautan massa yang memblokir akses menuju Polda Metro Jaya. Aparat bersiaga penuh dengan barikade kawat berduri dan kendaraan taktis, sementara suara klakson dari ribuan ojol yang ikut turun ke jalan membuat suasana kian memanas.

Gas air mata sempat ditembakkan untuk menghalau massa yang mencoba merangsek masuk ke halaman Polda. Namun, mahasiswa dan ojol justru bertahan. “Kami tidak akan pulang sebelum keadilan ditegakkan,” teriak salah seorang mahasiswa dari atas mobil komando.

Kericuhan di depan Polda Metro Jaya menjadi sinyal bahwa isu kematian Affan telah melebar menjadi persoalan kepercayaan publik terhadap aparat. Pengamat politik Universitas Indonesia, Firdaus Rahman, menilai kasus ini berpotensi memicu gelombang protes lebih besar.

“Mahasiswa dan ojol menemukan titik temu: menolak ketidakadilan. Jika pemerintah dan Polri tidak segera mengambil langkah konkret, aksi ini bisa berubah menjadi gerakan nasional,” katanya.

Kericuhan di Polda Metro Jaya bukan sekadar insiden perusakan mobil dinas. Ia adalah simbol kemarahan publik yang menuntut keadilan. Tewasnya Affan Kurniawan telah menjadi bara api yang mempersatukan mahasiswa dan pekerja jalanan dalam satu barisan. Dan selama tuntutan mereka tak dijawab, Jakarta tampaknya akan terus bergetar oleh suara klakson, orasi, dan jeritan solidaritas.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Kasus Affan: 7 Brimob Disidang, Publik Desak Transparansi Propam Polri

Proses sidang 7 anggota Brimob Polda Metro Jaya di Propam Polri, Jumat, 29 Agustus 2025. Aktual/Instagram Propam Mabes Polri

Jakarta, aktual.com – Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri mulai melakukan pemeriksaan terhadap tujuh anggota Brimob yang berada di dalam kendaraan taktis (Rantis) saat insiden pelindasan pengemudi ojek online (Ojol), Afan Kurniawan, hingga tewas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divhumas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan pemeriksaan dilakukan secara terbuka di Mabes Polri.

“Perlu kami sampaikan terkait perkembangan terhadap saudara kita, almarhum Afan. Proses telah dilakukan oleh Divisi Propam Polri dan rencana pemeriksaan akan diberlangsungkan di Mabes Polri,” kata Trunoyudo dalam konferensi pers, Jumat (29/8).

Kasus ini, menurutnya, telah menjadi atensi langsung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. “Bapak Kapolri akan menindaklanjuti seluruh proses ini dan memastikan semuanya berjalan sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

Sebagai bentuk transparansi, sidang etik terhadap tujuh anggota Brimob tersebut turut disiarkan langsung melalui akun resmi Instagram Divpropam Polri.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Ini yang Tidak Diperhitungkan Jokowi, Subairi: Kekuatan Politiknya Tamat di Satu Tahun Prabowo

Pemerintahan Prabowo diwariskan beban masalah yang komplek dari pemerintahan Jokowi. Mulai dari persoalan merosotnya demokrasi dan kebebasan berpendapat, persoalan ekonomi terutama soal hutang negara yang mencapai 10 ribu triliun.

Namun di sisi lain, Prabowo memiliki kontrak politik dengan Jokowi yang telah membantu dirinya memenangkan Pilpres 2024. Sehingga banyak menteri di era Jokowi yang masih dipertahankan. Jokowi sendiri terus bertahan untuk tetap berada dan mempengaruhi pemerintahan Prabowo melalui para mantan menteri dan orang kepercayaanya.

Namun ada satu hal yang diluar perhitungan Jokowi yang justru akan membuat kekuatan politiknya akan tamat. Apa itu? simak podcast berikut ini.

Host: Rizal Maulana {Pemred aktual.com}

Narasumber: Subairi Muzakki {Institut Demokrasi Republikan}

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Pajak Rakyat Dipakai Lindas Rakyat, Presiden Harus Copot Kapolri

Koalisi Masyarakat Sipil mengecam keras tindakan represif aparat kepolisian dalam aksi demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8), yang menyebabkan seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob.

“Tragedi ini bukan sekadar insiden, melainkan kejahatan negara yang menandakan kegagalan reformasi Polri,” ujar Koalisi Masyarakat Sipil dalam pernyataannya, Jumat (29/8).

Koalisi menyebut bahwa sepanjang Juli 2024 hingga Juni 2025, setidaknya 55 warga meninggal akibat kekerasan aparat, termasuk kasus Gamma di Semarang dan Afif Maulana di Padang.

“Berulangnya kekerasan aparat menunjukkan lemahnya evaluasi, kontrol, dan akuntabilitas Polri. Sangat ironis ketika nyawa warga berjatuhan dengan menggunakan peralatan berbahan bakar pajak rakyat,” tegas Koalisi.

Mereka menuntut pemerintah segera membebaskan demonstran yang ditahan, menghentikan sikap represif, serta menangkap dan mengadili pelaku maupun pemberi perintah kekerasan dalam insiden 28 Agustus.

Koalisi juga mendesak Presiden Joko Widodo membentuk tim independen untuk menyelidiki kasus ini, mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta memulai agenda reformasi kepolisian.

“Presiden tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Diamnya pemerintah atas brutalitas Polri selama ini sama saja dengan memberikan restu,” sebut mereka.

Selain itu, DPR dan partai politik diminta memberi sanksi pada anggotanya yang dinilai memicu kemarahan rakyat, sementara Komnas HAM didesak melakukan penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran HAM serius.

“Tragedi ini menunjukkan arah berbahaya demokrasi. Tanpa perubahan, negara ini kian bergeser menuju tirani,” Koalisi Masyarakat Sipil menutup pernyataannya.

Reporter: Eka Permadi

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Berita Lain