18 April 2026
Beranda blog Halaman 891

Pernyataan Sikap PP Muhammadiyah soal Aksi Massa yang Berujung Kekerasan

Arsip - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memberi sambutan dalam acara Pengukuhan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Keperawatan di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (10/4/2025). ANTARA/Sumarwoto

Jakarta, Aktual.com – Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan imbauan terkait serangkaian aksi demonstrasi yang berujung kekerasan hingga menewaskan pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan.

“Kami turut berdukacita atas meninggalnya saudara kita, Affan Kurniawan, dalam peristiwa unjuk rasa massa pada hari Kamis malam (28/8) di Jakarta. Semoga almarhum mendapat balasan terbaik disisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan dapat menghadapi dengan sabar, memperoleh keadilan yang semestinya, serta tersantuni dengan sebaik-baiknya,” tulis pernyataan sikap PP Muhammadiyah yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Umum Abdul Mu’ti, Jumat (29/8).

PP Muhammadiyah juga mengharapkan para korban yang menderita luka-luka dalam aksi unjuk rasa tersebut agar segera pulih. PP Muhammadiyah juga ikut berempati kepada para pengemudi ojol yang menuntut keadilan untuk almarhum Affan.

Atas semakin merebaknya aksi demo bahkan berujung penjarahan, PP Muhammadiyah mengajak semua pihak hendaknya menahan diri dan menghentikan semua bentuk tindak kekerasan yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Semua pihak hendaknya mengutamakan kepentingan bangsa dan negara sebagai fondasi dan modal membangun Indonesia sebagai negara yang maju, berdaulat, bermartabat, adil, makmur, dan sejahtera. Mari kita bersama-sama mencari solusi atas problem bangsa dengan dialog dan musyawarah disertai sikap keseksamaan yang tinggi.

PP Muhammadiyah juga mengimbau agar para elit politik, para pejabat negara, anggota legislatif, dan para pengambil kebijakan lebih sensitif terhadap aspirasi masyarakat dengan perilaku yang santun, kesederhanaan, dan kepedulian yang tinggi kepada masyarakat.

“Kami meminta para elit politik untuk lebih mawas diri, melakukan introspeksi, dan tidak melukai hati rakyat. Publik membutuhkan keteladanan para pemimpinnya, terutama para wakil rakyat yang telah diberikan mandat dengan tulus,” tulisnya.

PP Muhammadiyah juga mendukung komitmen positif Kapolri Jenderal Pol Lisyto Sigit Prabowo untuk mengusut tuntas dan melakukan proses hukum yang seadil-adilnya atas peristiwa meninggalnya Almarhum Affan yang disebabkan tindakan berlebihan dari aparat kepolisian di lapangan.

“Aparatur keamanan hendaknya lebih mengutamakan cara dan pendekatan yang persuasif dengan dialog dan cara-cara non-kekerasan sebagai wujud dari sikap kepolisian untuk masyarakat,” tulis PP Muhammdiyah.

PP Muhammadiyah pun mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, utamanya peserta aksi unjuk rasa, untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam menyampaikan pendapat dan tuntutan.

“Kita semua harus menahan diri dan bersikap bijak, jangan terprovokasi isu-isu yang bersifat destruktif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, khususnya yang berasal dari media sosial yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat hendaknya arif dan cerdas dalam menyikapi informasi dengan melakukan klarifikasi kepada pihak-pihak yang berwenang atau kepada para tokoh panutan yang dapat memandu dan memberikan informasi yang mencerahkan.

Terakhir, PP Muhammadiyah percaya pada komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mendengar aspirasi publik dan berpihak kepada kepentingan masyarakat kelas bawah dengan melakukan perbaikan di berbagai sektor sebagai perwujudan menjalankan amanat konstitusi.

Negeri ini memerlukan soliditas dan persatuan yang kokoh di tengah berbagai agenda dan masalah strategis nasional yang berat maupun situasi dunia yang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Sejauh ini Indonesia telah mendapatkan karunia kedamaian dan stabilitas nasional yang baik ketika bangsa-bangsa lain dilanda konflik politik dan peperangan.

“Mari kita jaga kondisi yang positif ini dengan sebaik- baiknya dan sehormat-hormatnya demi kelangsungan Indonesia Raya yang bersatu berdaulat, rakyat sejahtera, dan Indonesia maju sebagaimana spirit 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia,” demikian pernyataan PP Muhammadiyah.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Amok Jakarta

Suasana Mapolda Jaya, Jakarta Pusat. Aktual/Raffi

Ribuan mahasiswa dan pengemudi ojek online memenuhi halaman Polda Metro Jaya pada Jumat siang, 29 Agustus 2025. Dari arah FX Sudirman mereka melakukan long march, membawa spanduk dan suara nyaring menuntut keadilan atas kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang menyuarakan keresahannya pada republik.

Massa sebagian duduk di halaman markas, sebagian lagi mencoba menerobos gerbang. Polisi menanggapinya dengan gas air mata, menutup akses jalan, dan memperketat pengamanan. Kendaraan taktis berjajar di pintu masuk, personel bersenjata ditempatkan di berbagai titik untuk menahan kemungkinan kericuhan meluas.

Ketegangan berlangsung hingga sore hari, bahkan satu unit mobil polisi dilaporkan rusak akibat lemparan massa. Di tengah panasnya situasi, orasi dan tabur bunga digelar di depan gerbang utama, sebuah simbol perlawanan sekaligus penghormatan bagi Affan.

Benturan di Polda Metro Jaya menjadi lanjutan dari malam sebelumnya, ketika Jakarta dan sejumlah kota lain bergolak. Sehari sebelumnya, Kamis 28 Agustus, gelombang demonstrasi meledak di Jakarta, Bogor, Makassar, Bandung, hingga Surabaya.

Ribuan mahasiswa dan elemen masyarakat turun ke jalan menolak rencana kenaikan tunjangan mewah anggota DPR. Di Senayan, aksi yang semula damai berubah ricuh begitu aparat menembakkan gas air mata.

Suasana aksi 28 Agustus 2025 di kawasan Senayan Jakarta, Kamis (28/8/2025). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/pri.

Massa memadati Jalan Gatot Subroto, melempar botol dan petasan, membakar ban di depan gerbang DPR/MPR, lalu memblokade Tol Dalam Kota arah Cawang–Slipi.

“Ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang merusak CCTV, membakar bendera, hingga memasuki jalur tol,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi, Kamis malam.

Kerusuhan meluas hingga Pejompongan, Tanah Abang, di bawah jembatan Penjernihan. Massa melempar bom molotov ke arah aparat, polisi membalas dengan water cannon. Di tengah kekacauan itu, Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tengah menyeberang, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob. Tragedi ini memicu kecaman keras.

“Komnas HAM mengecam tindakan oknum polisi yang brutal sehingga hilangnya nyawa,” ujar Ketua Komnas HAM Anis Hidayah.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan penyesalan mendalam. “Saya sangat menyesali insiden yang terjadi, dan mohon maaf sebesar-besarnya atas peristiwa ini,” katanya Kamis malam.

 

Gedung DPRD Jabar dibakar masa pendemo. Aktual/HO

Bekas ajudan Presiden Joko Widodo ini juga menemui keluarga korban di RSCM dan memastikan tujuh anggota Brimob diperiksa Propam serta dikenai sanksi penempatan khusus.

Keesokan harinya, tanggung jawab diakui langsung oleh Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya.

“Anggota kami sedang dalam proses pemeriksaan di Mabes Polri,” kata Kombes Henik Maryanto.

Namun kerusuhan tetap pecah di Kwitang, gedung di depan Mako Brimob terbakar, delapan mobil rusak, dan evakuasi dramatis dilakukan aparat gabungan bersama Marinir serta Kostrad untuk menyelamatkan demonstran yang terjebak di dalam gedung.

Di Semanggi, ribuan mahasiswa menerobos gerbang Polda Metro Jaya, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Djati Wiyoto Abadhy turun menemui massa yang melempari aparat dengan botol dan kayu. Lalu lintas Sudirman lumpuh, hanya bus TransJakarta yang bisa melintas.

58

Presiden Prabowo Subianto lewat video menyatakan kekecewaannya. “Saya terkejut dan kecewa dengan tindakan berlebihan, dan sudah memerintahkan evaluasi menyeluruh agar kejadian ini tidak terulang,” ujarnya.

Presiden juga menyampaikan belasungkawa. “Saya sangat prihatin dan sedih atas insiden ini,” katanya.

Solidaritas pun mengalir, ratusan pengemudi ojek online dan mahasiswa mengiringi pemakaman Affan dengan konvoi di pusat Jakarta, memastikan tuntutan keadilan terus digaungkan.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

KH Fadholan: Mardiono Tidak Layak Pimpin Kembali PPP

Jakarta, Aktual.com – Majelis Syariah PPP meminta pengurus wilayah, cabang dan kader mencari figur baru ketua umum yang dinilai mampu mengembalikan kejayaan partai berlambang kakbah. Figur Plt Ketua umum Muhamad Mardiono dinilai sudah semakin jauh dari semangat dan cita-cita PPP sebagai wadah aspirasi umat Islam.

Sekretaris Majelis Syariah PPP KH Fadlolan Musyaffa menyayangkan langkah Plt Ketua Umum PPP Muhamad Mardiono yang semakin arogan dan tidak mengakui kesalahannya dalam mengelola partai warisan ulama. Bahkan Mardiono terus melakukan manuver pergantian ketua DPW melalui musyawarah wilayah luar biasa (muswilub) dengan tujuan meraih dukungan suara menjelang pelaksanaan muktamar.

KH Fadlolan mengungkapkan, semestinya sebagai plt ketua umum partai yang gagal membawa partai ke Senayan menyadari ketidakmampuannya dan menyerahkan tampuk pimpinan ke kader lain yang dinilai mampu mengembalikan PPP ke parlemen.

“Seharusnya beliau mohon maaf ke kader dan konstituen karena tidak mampu membawa amanat, tidak mampu mempertahankan PPP di Parlemen. Beliau mestinya mempersilahkan kader yang lain untuk melanjutkan, dan mendukung peralihan kepemimpinan di PPP,” katanya menanggapi rencana Mardiono maju dalam Muktamar PPP, kepada Aktual.com, Jumat (29/8).

KH Fadlolan juga menyesalkan sikap Mardiono yang terus melakukan manuver dengan mengganti ketua DPW melalui musyawarah wilayah luar biasa di sejumlah daerah. Padahal sudah ada putusan dari mahkamah partai yang membatalkan pelaksanaan muswilub. Namun, putusan tersebut dilawan dan bahkan membawa pengacara dar luar partai.

“Ini kerjaan yang tidak menarik dengan waktu yang dekat muktamar yang mestinya menyatukan kader, beliau lakukan itu, parahnya tidak pernah merasa salah dan mendengarkan suara majelis, ditegur dikasih surat, tidak pernah mengakui, dikasih surat mahkamah partai pun malah dilawan dengan kuasa hukum dari luar,” tegas dia.

Pengasuh Pondok Pesantren Fadlul Fadlan ini menyampaikan, sebagai plt ketum, Mardiono juga malas untuk berkomunikasi dan silaturahmi dengan ormas-ormas pendiri PPP. Sebagai plt ketua umum semestinya merangkul dan menjalin sinergi dengan NU, Muhammadiyah, Parmusi, Perti, dan Syarikat Islam.

“Masa dalam satu periode sekalipun Plt tidak pernah sowan ke kantornya NU, Muhammadiyah, Parmusi, Perti, SI, itu kan lucu. Padahal yang punya suara dan kader ada di sana,” paparnya.

Terlebih, katanya, Mardiono bukan berasal dari kalangan pesantren atau ormas pendiri PPP. Mestinya, dengan latar belakang tersebut, Mardiono rajin bersilaturahmi dengan ormas-ormas pendiri PPP.

“Sampai sekarang kan tidak ada yang mengenal beliau, baik kader maupun konstituen. Konstituen selama ini juga tidak tersentuh, sementara PPP basis suaranya di situ. Karena itu juga terbukti PPP mati di parlemen,” kritiknya.

Atas berbagai kesalahan, kelemahan serta kesombongan Plt Ketum Mardiono, KH Fadlolan sepakat dengan para kader dan pengurus untuk memilih ketua umum baru pada muktamar nanti.

“Agar PPP kembali ke parlemen, semua kader, sepuh maupun muda, harus sepakat ada pergantian ketum. Jangan lagi Pak Mardiono, ganti orang lain, kalau masih beliau jangankan kembali lagi ke parlemen, PPP bisa mati sampai grass root, karena sejarah sudah mencatat uji coba Pak Mardiono sudah gagal, ketika pemilu tidak bisa melakukan pembinaan sampai akar rumput,” pungkas lulusan Al Azhar Kairo, Mesir.

Sebelumnya dalam Muskerwil DPW PPP Jakarta, Mardiono mengaku tidak memiliki ambisi. Namun, jika memang dikehendaki ia akan memenuhi panggilan tersebut. “Saya tidak berambisi. Tapi kalau seorang pemimpin dikehendaki oleh orang yang mau dipimpin, tentu itu panggilan bagi seorang kader. Jadi kalau nanti seluruh Indonesia mayoritas masih memiliki keinginan, insyaallah saya memenuhi panggilan tersebut,” kata Mardiono.

Tuntutan pergantian ketum PPP sudah bergulir lama sejak PPP dinyatakan tidak mencapai ambang batas parlemen 4 %. Saat ini pengurus wilayah, para kyai dan tokoh PPP sedang mencari figur baru yang mampu mengembalikan partai ke senayan. Figur tersebut yang bisa menyatukan dan membangkitkan semangat, ghirah partai baik dari dalam partai maupun luar partai.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Mapolda DIY Membara: Aliansi Jogja Memanggil Ledakkan Amarah Rakyat

Yogyakarta, Aktual.com – Gelombang demonstrasi dari Aliansi Jogja Memanggil memanas di depan Mapolda DIY, Jumat (29/8/2025) sore. Aksi yang semula berjalan dengan orasi berubah ricuh setelah massa berhasil masuk ke halaman Mapolda, lalu membakar tenda, kaca gedung, hingga satu unit mobil dinas.

Pantauan di lokasi, sekitar pukul 17.00 WIB massa tiba dengan konvoi sepeda motor dan langsung berkumpul di depan Mapolda. Situasi kian tegang ketika salah satu pintu sempat terbuka, membuat sebagian massa merangsek masuk ke area dalam.

“Masuk ke dalam teman-teman, kita sampaikan aspirasi kita,” teriak seorang perempuan dari mobil komando.

Tak lama, kericuhan pecah. Massa melempari gedung dengan batu, membakar tenda polisi, dan menjadikan barrier sebagai amukan api. Kepulan asap hitam mengepul setelah satu unit mobil di dalam Mapolda ikut dibakar. Aparat bersiaga dengan tameng, membentuk barikade untuk menahan massa agar tidak masuk lebih dalam.

Arus lalu lintas di ring road depan Mapolda DIY lumpuh. Beberapa warga berinisiatif turun tangan mengurai kendaraan yang terjebak. Hingga pukul 18.00 WIB, gelombang massa terus berdatangan.

Enam Tuntutan Aliansi Jogja Memanggil

Humas Aliansi Jogja Memanggil, Bung Koes, menegaskan bahwa aksi ini merupakan hasil konsolidasi sejumlah elemen di Yogyakarta. Mereka merumuskan enam tuntutan utama, antara lain:

  • Usut tuntas kasus kekerasan aparat, termasuk kematian driver ojol Affan Kurniawan di Jakarta, tragedi Kanjuruhan Malang, hingga kasus Gamma.
  • Reformasi total Polri dan pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
  • Pajak progresif bagi orang kaya dan pembatalan kenaikan PBB yang dianggap menyengsarakan rakyat.
  • Hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pangkas anggaran pertahanan-keamanan untuk dialihkan ke pendidikan.
  • Tolak absolutisme struktur pemerintahan serta hentikan militerisasi ruang sipil.
  • Turunkan Presiden Prabowo-Gibran beserta kabinetnya, sahkan RUU Perampasan Aset, dan miskinkan koruptor serta keluarganya.

Situasi di sekitar Mapolda DIY masih tegang. Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait kericuhan tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ricuh Senen: Massa Menjarah, Puluhan Warga Tumbang Terpapar Gas Air Mata

Sejumlah mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa gerakan mahasiswa bersama rakyat (Gemarak) di depan Gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/8/2025). ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh/rwa.

Jakarta, Aktual.com – Kericuhan pecah di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat sore (29/8/2025). Aksi represif aparat dengan tembakan gas air mata justru memicu kepanikan massa hingga berujung pada aksi penjarahan sejumlah toko di sekitar lokasi.

Pantauan Aktual.com di lapangan, massa tampak membawa berbagai barang dari sejumlah toko, mulai dari meja kayu, monitor komputer, bangku besi, dispenser, hingga sepeda lipat dan lemari stainless. Barang-barang itu kemudian dibawa ke arah Stasiun Senen di tengah situasi kacau.

Kerusuhan ini dipicu bentrokan antara aparat kepolisian dengan massa aksi yang menuntut keadilan atas tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), yang dilindas kendaraan taktis Brimob sehari sebelumnya di Pejompongan.

Sekitar pukul 16.30 WIB, suasana kian tak terkendali. Puluhan tembakan gas air mata dilepaskan aparat ke arah kerumunan di Jalan Kramat Kwitang. Akibatnya, konsentrasi massa pecah. Banyak yang berlarian, sebagian lainnya terkapar di trotoar karena sesak napas setelah menghirup gas air mata.

  • Tim medis dan relawan tampak kewalahan mengevakuasi korban yang pingsan akibat paparan gas. Namun hingga petang, bentrokan masih terus berlangsung di sekitar kawasan Senen.Berikut Kronologi Kericuhan Senen:
  • 14.00 WIB – Massa mulai berkumpul di sekitar Mako Brimob Kwitang, menuntut keadilan untuk Affan Kurniawan.
  • 15.30 WIB – Aparat menembakkan gas air mata ke arah kerumunan. Massa terpukul mundur, sebagian berlarian ke kawasan Senen.
  • 16.00 WIB – Bentrokan makin meluas. Puluhan kali gas air mata ditembakkan hingga menembus Jalan Kramat Kwitang.
  • 16.30 WIB – Aksi penjarahan toko-toko sekitar Senen terjadi. Massa terlihat membawa meja, monitor, sepeda lipat, hingga lemari.
  • 16.45 WIB – Puluhan warga ditemukan tumbang di trotoar akibat terpapar gas air mata. Relawan dan tim medis mengevakuasi korban.
  • Petang – Massa masih bertahan, bentrokan dengan aparat berlanjut di sekitar Stasiun Senen.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Affan Tewas Dilindas, Sopir Brimob Salahkan Massa yang Mengepung

Proses sidang 7 anggota Brimob Polda Metro Jaya di Propam Polri, Jumat, 29 Agustus 2025. Aktual/Instagram Propam Mabes Polri

Jakarta, Aktual.com – Sopir kendaraan taktis (rantis) Brimob yang menabrak dan melindas pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (21) saat aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8), akhirnya buka suara.

Dalam pemeriksaan Divisi Propam Polri, Jumat (29/8), ia mengaku tidak melihat korban berada di depan rantis. Sang sopir berdalih saat itu situasi di lapangan tidak kondusif karena massa telah mengepung kendaraan dari berbagai arah.

“Kalau mobil saya berhentikan, habis pak. Mereka sudah nyerang pakai batu, cone block, sampai bom molotov,” ujarnya, dikutip dari kanal YouTube Kompas TV.

Ia menambahkan, serangan massa datang dari kanan, kiri, dan depan, sehingga dirinya hanya fokus menyelamatkan rekan-rekan Brimob yang berada di dalam kendaraan. Bahkan, menurut pengakuannya, ada perintah langsung dari atasan di dalam rantis agar kendaraan tetap berjalan.

Meski demikian, pengakuan sopir Brimob ini justru menuai tanda tanya. Publik mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah rantis lapis baja tidak mampu mengantisipasi massa tanpa harus melindas seorang pengemudi ojol hingga tewas.

“Saya tidak mengetahui posisi korban karena saya tidak memperhatikan orang kanan-kiri,” dalih sang sopir saat diperiksa Propam.

Tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis kini tengah menjalani pemeriksaan internal. Namun, desakan agar kasus ini tidak hanya berhenti di Propam semakin menguat. LSM dan kelompok masyarakat sipil menilai, tragedi tewasnya Affan Kurniawan bukan sekadar “kesalahan teknis”, melainkan indikasi penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat negara terhadap warga sipil.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain