12 April 2026
Beranda blog Halaman 929

Negara-negara Arab Kecam Pernyataan Netanyahu yang Berambisi Wujudkan Israel Raya

Peta Israel Raya yang dimaksud Benjamin Netanyahu, yang meliputi wilayah Israel saat ini, ditambah jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, sebagian Mesir, Yordania, Suriah, Lebanon, dan Irak - foto X

Tel Aviv, Aktual.com – Negara-negara Arab mengecam keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mengatakan bahwa ambisinya adalah mewujudkan negara Israel Raya yang meliputi wilayah Israel saat ini serta sebagian wilayah Mesir, Yordania, Suriah, Lebanon, dan Irak. Hal tersebut disampaikan Netanyahu saat diwawancara i24NEWS beberapa hari lalu.

Dilansir dari The Media Line dan Times of India, Kementerian Luar Negeri Yordania melalui juru bicara Sufyan Qudah menyebut pernyataan tersebut sebagai ”eskalasi berbahaya dan provokatif”. Ia juga memperingatkan bahwa pernyataan tersebut mendorong ”siklus kekerasan dan konflik.”

Sedangkan pemerintah Mesir meminta klarifikasi dari Israel terkait pernyataan tersebut. Mesir menilai pernyataan Netanyahu itu menimbulkan kekhawatiran atas ketidakstabilan regional. Sementara pemerintah Qatar menyebut komentar tersebut sebagai ”arogansi” yang akan merusak hak-hak Arab.

Sedangkan Arab Saudi menolak ”proyek permukiman dan ekspansionis”, serta memperingatkan pernyataan  Netanyahu itu menimbulkan ancaman terhadap perdamaian global. Liga Arab juga menyebut pernyataan tersebut sebagai ”pelanggaran terang-terangan” terhadap kedaulatan Arab. Hal senada disampaikan Otoritas Palestina yang menyebutnya sebagai ”eskalasi berbahaya” yang terkait dengan kebijakan kolonial ekspansionis.

Untuk diketahui, sebelumnya, pada Selasa malam (12/8) waktu setempat, saat diwawancara i24NEWS. Saat ditanya pembawa acara Sharon Gal apakah ia merasa terhubung dengan visi tersebut, Netanyahu menjawab, ”Sangat.”

Ia juga mengatakan konsep ”Israel Raya” mengacu pada konsep perluasan wilayah berdasarkan interpretasi Injil dan  sejarah, beberapa di antaranya mencakup wilayah Yordania, Lebanon, Suriah, Mesir, Irak, dan Arab Saudi modern. Sejak Perang Enam Hari 1967, istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan Israel beserta wilayah-wilayah yang direbutnya saat itu, termasuk Yerusalem Timur, Tepi Barat, Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.

Dikatakan Netanyahu, rencana Israel Raya merupakan  misi sejarah dan spiritual. Ia juga mengatakan dirinya sangat terhubung dengan visi tersebut, yang berakar pada Zionisme Revisionis. ”Jadi, jika Anda bertanya apakah saya memiliki rasa misi, secara historis dan spiritual, jawabannya adalah ya,” kata Netanyahu.

Dalam wawancara itu, Netanyahu juga mendesak untuk ”mengizinkan warga sipil meninggalkan Gaza”, menyamakannya dengan arus pengungsi dari Suriah, Ukraina, dan Afghanistan, tanpa mengakui blokade Israel selama 18 tahun atas wilayah tersebut atau pengungsian massal yang disebabkan oleh kampanye militer genosida yang sedang berlangsung, yang menewaskan banyak warga sipil setiap hari

Gagasan ekspansionis ini telah lama dikritik karena mendorong perampasan tanah di luar perbatasan Israel, mendatangkan orang Yahudi dari seluruh dunia untuk menghuninya, dan mengusir penduduk asli. Gagasan ini pertama kali digagas secara terbuka pada tahun 1956 oleh pendiri yang juga perdana menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, yang membenarkan peran Israel dalam serangan tripartit oleh Prancis, Inggris, dan Israel di wilayah Terusan Suez Mesir dengan mengacu kepada ”batas-batas kerajaan Daud dan Salomo yang tercantum pada Alkitab”.

Kontroversi semakin meruncing tatkala Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengumumkan rencana untuk menyetujui lebih dari 3 ribu unit perumahan di wilayah E1 yang kontroversial, antara Yerusalem dan permukiman Ma’ale Adumim. Proyek yang telah lama terhenti akibat oposisi internasional ini dipandang oleh para kritikus sebagai langkah yang akan memecah belah Tepi Barat dan menghambat pembentukan negara Palestina yang bersebelahan.

Smotrich, yang juga mengawasi urusan sipil di Tepi Barat, mengatakan langkah tersebut akan ”mengubur gagasan negara Palestina” dan merupakan bagian dari ”rencana kedaulatan de facto”. Lembaga pengawas permukiman Peace Now mengatakan tender tersebut mewakili peningkatan 33 persen dalam stok perumahan Ma’ale Adumim.

Para pendukung, termasuk para pemimpin pemukim dan wali kota, memuji rencana tersebut sebagai pencapaian strategis dan simbolis. Penentang internasional telah memperingatkan bahwa pembangunan di E1 dapat semakin mempersulit prospek perdamaian dengan secara fisik membagi pusat populasi Palestina di Tepi Barat.

Untuk diketahui pula, laporan terbaru media-media Israel menyebutkan Israel telah mendekati sejumlah negara, termasuk Sudan Selatan, Indonesia, dan Libya, untuk menerima warga Palestina yang diusir paksa dari Gaza, yang menimbulkan kekhawatiran akan pembersihan etnis skala besar.

Pada Rabu (13/8), Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan membantah laporan Associated Press yang mengklaim sedang berunding dengan Israel untuk memukimkan kembali warga Palestina di negara Afrika Timur tersebut. Bagi warga Palestina, setiap upaya untuk memaksa mereka meninggalkan tanah mereka akan mengingatkan mereka pada ”Tragedi Nakba”, yakni pemindahan massal warga Palestina secara paksa  pada tahun 1948.

Netanyahu sendiri sangat mendukung usulan Presiden AS Donald Trump untuk mengusir lebih dari 2 juta penduduk Gaza ke Mesir dan Yordania, sementara para menteri sayap kanan Israel telah menyerukan kepergian ”sukarela” mereka.

(Indra Bonaparte)

Bedah Buku KPPD Dibuka Lolly Suhenty, Bicara Peran Penting Pers Pemilu

Jakarta, aktual.com – Buku karya jurnalis yang tergabung dalam forum Koalisi Pewarta Pemilu dan Demokrasi (KPPD), dengan judul “Catatan Jurnalis Pemilu: Sejarah Keserentakan Terbesar Pertama di Dunia”, disambut baik pimpinan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

Hal tersebut disampaikan Anggota Bawaslu RI, Lolly Suhenty dalam acara Bedah Buku di Media Center Kantor Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, (14/8).

Lolly mengapresiasi atas terbitnya buku bergenre bunga rampai karya 12 jurnalis media massa nasional yang tergabung dalam KPPD itu, lantaran pertama dalam sejarah pemilu terbuka ada karya tulis berbentuk buku persembahan insan pers.

“Buku ini memotret pelaksanaan pemilu yang lalu, memberikan kedalaman, menggambarkan terhadap sebuah situasi, sebuah peristiwa dari sudut pandang jurnalis,” ujar Lolly saat memberikan keynote speech di hadapan 300 lebih jajaran Bawaslu daerah yang hadir secara daring, dan audien yang hadir luring.

Menurutnya, sudut pandang jurnalis dalam mengawasi jalannya Pemilu Serentak 2024 tentu berbeda dengan sudut pandang Bawaslu, sehingga potret peristiwa yang dicatat 12 jurnalis anggota KPPD menjadi sebuah kekayaan wacana tersendiri.

“Penulisnya beragam (dari media-media massa nasional), 12 jurnalis yang menulis dengan judul yang berbeda, maka kita itu, saya secara pribadi ketika baca itu bisa lompat,” sambung Lolly.

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu RI itu mengaku telah membaca buku “Catatan Jurnalis Pemilu: Sejarah Keserentakan Pertama Terbesar di Dunia”.

“Saya sudah lihat judul-judulnya (dari tulisan 12 jurnalis anggota KPPD). Saya cek mana yang menurut saya paling menarik untuk saya baca. Begitu saya baca dari berbagai judul ini, saya langsung merasa wow,” katanya.

Salah satu judul tulisan dalam Bab pembahasan, disebutkan Lolly, adalah tentang jurnalis yang berkaitan dengan Bawaslu sebagai salah satu lembaga penyelenggara pemilu.

“Bagitu ada judul ‘Bawaslu Sahabat Jurnalis’, ini yang nulis tahu betul kayaknya bahwa ini yang akan pertama saya baca,” ungkapnya.

Terlepas dari kesannya terhadap isi buku, Lolly yang juga pernah menjabat Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Barat itu meyakini, jurnalis memiliki peran penting dalam proses pemilu maupun pilkada agar berjalan sesuai prinsip integritas dan profesional.

“Tetaplah menjadi teman-teman jurnalis yang memberikan sudut pandang sendiri terhadap kinerja pengawasan pemilu. Tetaplah challenge kami dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, karena sesungguhnya persahabatan atau relasi Bawaslu dengan media itu akan kuat maknanya, kalau kami pun selalu dikontrol,” tuturnya.

“Posisi teman-teman media adalah pengawas eksternalnya Bawaslu.
Jadi ternyata kan kita punya peran sama, Bawaslu melakukan pengawasan, media juga melakukan pengawasannya, dalam situasi tertentu media pun bakal mengawasi Bawaslu pada konteks dan takaran ini tetap harus berjalan. Bawaslu menghormati seluruh proses kritis yang dilakukan teman-teman jurnalis,” demikian Lolly menambahkan.

Buku “Catatan Jurnalis Pemilu: Sejarah Keserentakan Pertama Terbesar di Dunia” ditulis oleh 12 jurnalis media massa nasional, di antaranya Ahmad Satryo Jurnalis Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Dian Dewi Purnamasari
Jurnalis Kompas Harian, Vitorio Mantalean Jurnalis Kompas.com, Yakub Pryatama Widjayaatmaja Jurnalis Media Indonesia.

Kemudian, Febryan Jurnalis Republika, Okto Rizki Alpino Jurnalis Akurat.co, Adrian Taher Pratama Jurnalis Tirto.id, Akbar Budi Prasetya Pemimpin Redaksi Todaynews.id, Dhanis Iswara Jurnalis Telusur.co.id, Rusdiyono Pemimpin Redaksi InfoIndonesia.id, dan Negus Gibran Mayardhi Jurnalis Caritahu.com.

Acara bedah buku “Catatan Jurnalis Pemilu: Sejarah Keserentakan Pertama Terbesar di Dunia”, merupakan kerja sama KPPD dengan Bawaslu RI, untuk memberikan sosialisasi pentingnya peranan pers dalam Pemilu dan Pilkada.

Penyelenggaraan bedah buku ini telah digelar untuk panel 1 pada hari ini, dengan peserta dari jajaran Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota dari wilayah Indonesia bagian barat.

Sedangkan untuk bedah buku panel 2, akan digelar di Media Center Kantor Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis pekan depan, 20 Agustus 2025, dengan peserta jajaran Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota wilayah Indonesia bagian timur.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

KPK Sita Rp10 Miliar dari Pihak Swasta dalam Kasus Korupsi Mesin EDC BRI

Petugas KPK menunjukkan barang bukti perkara tindak pidana korupsi mesin electronic data capture (EDC) Bank Rakyat Indonesia (BRI) tahun 2020-2024 saat pelepasan barang bukti di Gedung Putih Merah KPK, Jakarta, Rabu (9/7/2025). Aktual/ANTARA FOTO

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan telah menyita uang senilai Rp10 miliar dari pihak swasta terkait kasus dugaan korupsi pengadaan mesin electronic data capture (EDC) Bank Rakyat Indonesia (BRI) periode 2020–2024.

“Dalam sepekan ini, penyidik telah melakukan penyitaan uang sejumlah sekitar Rp10 miliar dari para pihak swasta,” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, saat dikonfirmasi, Kamis (14/8).

Menurut KPK, kerugian keuangan negara akibat kasus tersebut ditaksir mencapai Rp700 miliar, atau sekitar 30 persen dari nilai proyek pengadaan senilai Rp2,1 triliun.

Sejauh ini, lembaga antirasuah telah mengajukan 13 nama untuk dicegah ke luar negeri. Mereka berinisial CBH, IU, DS, MI, AJ, IS, AWS, IP, KS, EL, NI, RSK, dan SRD.

Pada 9 Juli 2025, lima dari 13 nama itu resmi ditetapkan sebagai tersangka, yakni mantan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, eks Direktur Digital, Teknologi Informasi, dan Operasi BRI Indra Utoyo, SEVP Manajemen Aset dan Pengadaan BRI Dedi Sunardi, Direktur Utama PT Pasifik Cipta Solusi Elvizar, serta Direktur Utama PT Bringin Inti Teknologi Rudy Suprayudi Kartadidjaja.

Pelaksana tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menyatakan para tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan mesin electronic data capture (EDC) Bank Rakyat Indonesia (BRI) diduga melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3, serta Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Selain itu, perbuatan para tersangka juga dikaitkan dengan Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Asep mengungkapkan, dari penanganan perkara ini, KPK telah berhasil menyelamatkan uang negara senilai Rp2,4 triliun. “Ini tentunya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan di Bank Rakyat Indonesia atas informasi dan kerja samanya,” ujar Asep, Kamis (14/8).

Hadiri Kemah Akbar, Ibas Tegaskan Pramuka Bentuk Karakter Unggul Berlandaskan Nilai Kebangsaan

Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY) membuka acara Kemah Akbar Pramuka 2025 di Kabupaten Magetan. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY), menyampaikan bahwa kegiatan Pramuka bukan sekadar berkemah atau mengikuti upacara, tetapi merupakan wadah pembentukan karakter anak bangsa yang unggul—tangguh, mandiri, peduli, disiplin, jujur, dan amanah. Ia menekankan pentingnya nilai persaudaraan dan persatuan di tengah perbedaan, serta perlunya belajar memimpin dan dipimpin sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan dan Dasar Darma Pramuka (sepuluh pedoman moral), agar generasi muda siap menjadi “tunas bangsa” yang membawa Indonesia menuju kejayaan pada 2045.

Hal tersebut ditegaskan Ibas, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, dalam acara Kemah Akbar Kabupaten Magetan 2025 bertajuk “Menjadi Generasi Tangguh: Mandiri, Bersatu, dan Cinta Tanah Air”, yang digelar di Magetan pada 9 Agustus 2025 lalu.

Dalam sambutannya, Ibas membuka pidato dengan menggambarkan suasana kemah yang hangat di lereng Gunung Lawu.

“Kita berkumpul di Alastuwo, tidak jauh dari Telaga Sarangan, dengan udara yang sejuk, hati penuh senyuman, dan suasana kedamaian. Kita sedang menghidupkan semangat Pramuka, semangat persaudaraan, dan menguatkan komitmen sebagai tunas bangsa,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa api unggun bukan sekadar simbol kegiatan malam, tetapi juga merupakan lambang semangat yang harus terus terjaga.

“Api unggun di depan kita ini adalah simbol semangat yang tak pernah padam, harapan yang terus menyala, dan persatuan di tengah perbedaan,” tegasnya.

Ibas mengajak para anggota Pramuka untuk memaknai kegiatan kemah sebagai proses pembelajaran hidup.

“Berkemah bukan hanya sekadar tidur di tenda atau mengikuti upacara, tetapi menguji kemandirian, membentuk ketangguhan, dan belajar hidup di alam terbuka,” katanya.

Menurutnya, momen seperti ini juga mengajarkan rasa syukur serta pentingnya terus belajar, baik dalam memimpin maupun saat dipimpin.

Lebih lanjut, Ibas menegaskan kembali peran penting gerakan Pramuka dalam membentuk karakter generasi muda.

“Kita dilatih untuk disiplin, gotong royong, saling percaya, jujur, dan menjadi pribadi yang amanah. Pramuka adalah wadah untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tangguh, lebih peduli, dan lebih mandiri—sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan dan nilai luhur para pejuang bangsa,” tuturnya.

Menyoroti perkembangan zaman, ia juga mengingatkan bahwa generasi muda tak hanya dituntut untuk mahir dalam teknologi, tetapi juga harus memiliki akhlak dan integritas.

“Kemajuan teknologi tanpa karakter hanya akan melahirkan generasi yang rapuh. Pramuka mengajarkan kita untuk kuat lahir dan batin,” ujar Ibas.

Ia juga menekankan pentingnya mencintai dan menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pendidikan Pramuka.

“Kita harus mencintai lingkungan, menjaga kelestarian alam, karena dari alam kita belajar kesabaran, keuletan, dan rasa syukur,” tambahnya.

Tak hanya itu, Ibas turut menanamkan optimisme terhadap masa depan bangsa.

“Hari ini kita rayakan kebersamaan dengan gembira. Kita siapkan hari ini untuk hari esok yang lebih baik. Bawalah ilmu dan pengalaman ini untuk berhasil dalam hidup, dan jadikan pijakan menuju generasi emas Indonesia 2045,” pesannya penuh harap.

Ia menutup sambutannya dengan ajakan untuk terus menjaga rasa syukur dan cinta terhadap tanah air.

“Kita harus terus bersyukur dilahirkan di bumi yang penuh kedamaian, Indonesia tercinta. Semoga cinta yang kita bawa dari kemah ini menjadi doa terbaik untuk bangsa,” pungkasnya.

Mengakhiri rangkaian pesannya, Ibas menyampaikan salam khusus untuk memperingati momen bersejarah ini.

“Selamat Hari Pramuka! Semoga semangat kepramukaan selalu hidup di hati kita dan menjadi bekal untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat,” tutupnya dengan senyum penuh semangat.

Acara Kemah Akbar Pramuka 2025 ini turut dihadiri oleh Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminarti; Wakil Ketua DPRD Magetan, Pangayoman; Ketua Harian Kwarcab Gerakan Pramuka Magetan, Saif Muchlissun; para pembina Pramuka, pengurus kwartir cabang, serta ratusan anggota Pramuka penegak dan penggalang dari berbagai sekolah di Kabupaten Magetan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Podcast Aktual Forum, Mas Wamen Yoga: Semangat Transmigrasi Selaras dengan Nilai Budaya dan Sosial Masyarakat Lokal

Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi saat podcast dengan aktual.com yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi aktual.com, Rizal Maulana Malik. Aktual/TINO OKTAVIANO

Jakarta, Aktual.com – Respons pemerintah daerah terhadap program transmigrasi dewasa ini sangat positif. Di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, misalnya, mengajukan permohonan pembukaan kawasan transmigrasi bagi 500 kepala keluarga (kk) ke Kementerian Transmigrasi.

Ada juga Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara yang membutuhkan 300 kk transmigran. Demikian juga Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Siak, dan beberapa kabupaten di Sulawesi dan Sumatera lainnya juga membutuhkan transmigran.

Antusias berbagai kabupaten tersebut menunjukan transmigrasi bukan ancaman terhadap keberadaan masyarakat (suku) lokal dalam berbagai sendi kehidupan.

Ungkapan demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat menjadi tamu Podcast Aktual Forum, Jakarta, (13/8/2025). Podcast itu dipandu oleh Pemimpin Redaksi Aktual.Com Rizal Maulana.

Viva Yoga menegaskan hadirnya transmigrasi justru untuk menjaga warisan leluhur, keragaman sosial, budaya, adat, dan melindungi serta melestarikan lingkungan hidup. “Semua dalam satu kesatuan sistem kehidupan yang kita jaga dalam transmigrasi,” ujarnya.

Transmigrasi saat ini memiliki paradigma baru. Dulu bersifat top down dan sentralistik namun sekarang bottom up dan desentralisasi. “Sekarang pemerintah daerah yang menentukan ada tidaknya transmigrasi”, ujarnya. “Pemerintah daerah yang membutuhkan transmigran bisa mengajukan kepada Kementerian Transmigrasi,” tambahnya.

Kabupaten yang membutuhkan transmigran oleh Kementerian Transmigrasi akan diverifikasi lebih dahulu. Membutuhkan transmigran yang akan mengelola sawah, pesisir, perkebunan, pertambangan, atau pariwisata. Berapa persen transmigran lokal yang dibutuhkan dan berapa persen transmigran dari luar yang diperlukan, misalnya Konawe Utara membutuhkan transmigran lokal sebanyak 80 persen dan transmigran dari luar 20 persen.

Kemudian lahan yang disediakan harus clean and clear, tidak boleh tumpang tindih status tanahnya dengan pihak lain. “Semua kita verifikasi secara detail,” tuturnya.

Dengan verifikasi inilah yang membuat Viva Yoga menegaskan kembali bahwa transmigrasi bukan ancaman bagi masyarakat lokal.

Wakil Ketua Umum PAN itu berpesan kepada para transmigran dan warga lokal yang menetap di kawasan transmigrasi untuk terus menjaga komunikasi dengan toko adat, agama, dan pemeirntah daerah.

“Bila ada masalah bisa langsung berkomunikasi dengan pemerintah daerah atau Kementerian Transmigrasi,” ucapnya.

Didorong para transmigran terus bekerja agar dapat mengubah hidup menjadi sejahtera serta dapat menciptakan kawasan transmigrasi sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan terpadu.

Untuk lebih mempercepat kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan yang tidak hanya pada sektor ekonomi, Kementerian Transmigrasi saat ini memiliki program Transmigrasi Patriot. Program ini selain melakukan ekspedisi untuk meneliti potensi apa yang ada di kawasan transmigrasi juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa untuk menjadi transmigran.

Program ini bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi seperti UI, ITB, IPB, UGM, Undip, ITS, dan Unpad. Program ini disebut model baru untuk mengembangkan kawasan luar Jawa. Mereka yang mendapat beasiswa setelah lulus kuliah akan menetap di kawasan transmigrasi yang ditunjuk agar mengembangkan seluruh potensi yang ada. “Kita kirim transmigran yang memiliki keahlian,” ujarnya.

Dengan transmigran yang memiliki keahlian inilah transmigrasi dikatakan bukan sekadar memindahkan penduduk namun bisa menggali dan mengembangkan potensi yang ada di sana.

“Dari model seperti ini maka transmigrasi bukan hanya sekadar program namun menjadi salah satu strategi dan solusi pembangunan nasional,” tegas mantan Presidium MN KAHMI itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Ahmad Muzani dan Pimpinan MPR Gelar Napak Tilas Sejarah ke Rengasdengklok Jelang HUT RI ke-80

Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani bersama para Wakil Ketua MPR RI melakukan kunjungan kerja bersama Napak Tilas Ke Rengasdengklok dalam rangka memperingati HUT RI Ke-80 Tahun 2025. Aktual/DOK MPR RI

Rengasdengklok, aktual.com  – Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani bersama para Wakil Ketua MPR RI antara lain, Bambang Wuryanto, Rusdi Kirana, Hidayat Nur Wahid, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Abcandra Muhammad Akbar Supratman, didampingi Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah dan beberapa pejabat Setjen MPR, Rabu (13/8/2025) melakukan kunjungan kerja bersama Napak Tilas Ke Rengasdengklok dalam rangka memperingati HUT RI Ke-80 Tahun 2025.

Kehadiran para Pimpinan MPR RI tersebut disambut dengan hangat oleh Bupati Karawang Aep Syaepuloh dan Wakil Bupati Karawang Maslani serta Forkopimda Kabupaten Karawang, di Galeri Bale Indung Nyi Pager Asih, Pemkab Karawang, Jawa Barat.

Dari Galeri Bale Indung, Bupati dan Wabup Karawang mendampingi Ketua dan para Wakil Ketua MPR RI melakukan napak tilas, yang dimulai dari mengunjungi Monumen Kebulatan Tekad yang diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1950, di wilayah, Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Di sini Pimpinan MPR disuguhi seni budaya Suda Jawa Barat yakni tarian Tarian Bubuka, seni tari khusus adat Sunda untuk menyambut tamu kehormatan.

Setelah itu, menyaksikan relief yang terpahat di dinding kawasan monumen yang langsung mengingatkan semua anak bangsa pada sebuah peristiwa bersejarah besar pertemuan rahasia dan tentang aksi heroik para pemuda Indonesia yang mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta agar segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Puas mengunjungi Monumen Kebulatan Tekad, para Pimpinan MPR bersama para pejabat Kabupaten Karawang kemudian bergerak menyambangi Rumah Rengasdengklok, sebuah rumah bersejarah yang menjadi tempat para pemuda Indonesia menculik dan menyembunyikan Soekarno-Hatta agar terhindar dari pengaruh Jepang. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945.

Rumah milik seorang keturunan Tionghoa Djiauw Kie Siong ini menjadi saksi bisu dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Saat ini rumah yang diperkirakan berusia 100 tahunan itu, masih terjaga keasliannya dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Dalam pernyataannya usai mengunjungi Rumah Rengasdengklok, Ahmad Muzani menyampaikan adalah menjadi satu hal yang penting bagi Pimpinan MPR berkunjung ke sebuah tempat yang sangat monumental dan bersejarah seperti di Rengasdengklok ini. Hal ini mengingat tidak lama lagi seluruh bangsa Indonesia akan memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 pada tanggal 17 Agustus 2025. Peringatan 17 Agustus itu, tidak bisa dilepaskan dari sebuah tempat di Kabupaten Karawang itu.

Di tempat inilah, pemuda-pemuda Indonesia yang gagah berani mendesak dan meyakinkan Bung Karno dan Bung Hatta agar segera memerdekakan Indonesia karena Jepang sudah menyerah. Sejarah kemudian berjalan, hingga di Jakarta pada 17 Agustus 1945, Bung Karno membacakan teks proklamasi yang sampai sekarang dikumandangkan setiap tanggal 17 Agustus.

“Sejak itu maka berdirilah negara Republik Indonesia dan kita bersyukur bahwa usia kemerdekaan kita sekarang ini sudah mencapai 80 tahun, sebuah bilangan angka yang cukup tua dan tentu saja kita harus bersyukur atas berkah kemerdekaan ini. Itulah salah satu tujuan Pimpinan MPR RI mengunjungi tempat yang mulai dilupakan oleh generasi muda ini. Kami mengajak mudah-mudahan dengan kunjungan ini, kita semua mengingat kembali sejarah kemerdekaan negara kita. Karena jika tidak ada peristiwa Rengasdengklok, mungkin sejarah kemerdekaan bisa berbeda,” terangnya.

Mewakili Pimpinan MPR RI, Ahmad Muzani meminta agar rumah Rengasdengklok terus dijaga, dilestarikan agar bisa disaksikan generasi muda, para pelajar, para mahasiswa agar bisa menularkan semangat yang ditanamkan para pemuda Indonesia dahulu.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyampaikan bahwa monumen kebulatan tekad dan rumah Rengasadengklok sangat dipentingkan untuk dipahami seluruh anak bangsa terutama generasi muda.

“Sebab, bisa dibayangkan tanpa tekanan dari anak-anak muda waktu itu, mungkin proklamasi kemerdekaan Indonesia entah kapan bisa terjadi,” katanya.

MPR, lanjut HNW, ingin menegaskan kembali bahwa peristiwa sejarah ini penting untuk dimaknai tentang keberanian anak-anak muda berjuang untuk negaranya dan keberanian senior untuk menerima pendapat anak-anak muda.

“Dan ini sangat dipentingkan dalam rangka kita menyambut Indonesia Emas 20245. Potensi anak muda jangan diabaikan, tapi potensi senior juga jangan diabaikan juga. Semuanya satu sinergi berkolaborasi untuk Indonesia,” tandasnya.

Bupati Karawang Aep Syaepuloh sangat mengapresiasi kunjungan para Pimpinan MPR yang dipimpin Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang melakukan napak tilas bersejarah ke Rengasdengklok.

“Kami sebagai pemerintah daerah menghaturkan banyak terima kasih, dengan kedatangan para Pimpinan MPR. MPR menegaskan kembali bahwa Rengasdengklok adalah bagian yang tak terpisahkan dari kemerdekaan Indonesia dan menjadi sejarah yang luarbiasa.

Berita Lain