Gorontalo, Aktual.com – Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Negeri Gorontalo, Fitryane Lihawa mengatakan Provinsi Gorontalo rawan erosi dan longsor.

Potensi itu terjadi akibat kondisi lahan Gorontalo yang didominasi lereng sangat curam. “Maka Provinsi Gorontalo memiliki risiko erosi dan longsor yang tinggi,” ucap dia, di Gorontalo, Sabtu (21/5).

Dari data topografi, Gorontalo memiliki tingkat kelerengan yang beragam. Terbagi atas Kelas A 0-2 persen, Kelas B 2-8 persen, Kelas C 8-15 persen, Kelas D 15-40 persen dan Kelas E dengan kelerengan di atas 40 persen.

Luas kawasan yang termasuk dalam kelas A sebesar 128.552 hektare (10,52 persen), Kelas B sebesar 74.122 hektare (6,72 persen), Kelas C sebesar 66.528 hektare (5,45 persen), Kelas D 113.997 hektare (9,33 persen) dan Kelas E 838.355 hektare (68,63 persen).

Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Gorontalo, Rugaya Biki menuturkan kondisi topografi Gorontalo sebagian besar memang perbukitan. Sehingga Gorontalo mempunyai banyak gunung dengan ketinggian yang bervariasi.

“Gunung Tabongo yang terletak di Kabupaten Boalemo merupakan gunung yang tertinggi dengan ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut,” ungkapnya.

Sedangkan Gunung Litu Litu yang terletak di Kabupaten Gorontalo adalah gunung yang terendah dengan ketinggian 884 dari permukaan laut.

Diakuinya, kondisi iklim dan topografi permukaan serta batu yang beragam di wilayah Gorontalo, secara fisik maupun kimiawi menghasilkan tanah yang subur. Namun, di saat yang sama, kondisi geografis dan demografi seperti itu juga mengandung tingkat kerentanan relatif tinggi.

“Kerentanan tersebut tentu berpotensi menimbulkan bencana, apalagi jika ditambah dengan adanya degradasi lingkungan melalui aktivitas manusia yang tidak terkendali,” kata dia.

()