Binjai, Aktual.com – Pakat atau tanaman sejenis rotan muda yang dibakar merupakan makanan khas etnis mandailing, yang sering dikonsumsi pada bulan suci Ramadhan.

“Disini pakat atau rotan muda ini menjadi daya tarik untuk dibeli menjelang berbuka,” kata Erwinsyah Nasution warga etnis Mandailing yang berada di Kota Binjai, Jumat (26/6).

Erwinsyah Nasution mengatakan, setiap sore ratusan pedagang di Kota Binjai menjual aneka makanan khas untuk berbuka puasa, salah satunya penjual makanan pakat.

“Pakat adalah rotan yang masih muda atau batang rotan yang paling pucuk yang setiap bulan puasa menjadi incaran buat santapan pembuka selera,” katanya.

Para pedangan tersebut menjual batang pakat tersebut dengan harga Rp2.500 hingga Rp3.000 per batang.

Etnis Mandailing dari Kabupaten Tapanuli Selatan yang ada di Kota Binjai, kerap membeli pakat tersebut untuk santapan berbuka puasa, makan malam, atau sahur.

“Mayoritas pembeli pakat ini warga Mandiling atau yang berasal dari Tapanuli Selatan,” ujar Nasution.

Warga Binjai lainnya Rangkuti mengatakan, tidak sedikit warga asli Kota Binjai yang juga menggemari makanan khas etnis Mandailing tersebut.

Pakat tersebut dibakar hingga matang dan membuang kulit luarnya yang ditambah cabai untuk disantap dengan nasi sebagai lalapan.

“Penjualan pakat di kota Binjai ini hanya ada di bulan puasa saja,” katanya.

Rangkuti menjelaskan, bahan baku pakat itu didatangkan dari Kota Medan, tepatnya dari kawasan Jalan Letda Sujono yang didatangkan langsung dari Tapanuli Selatan atau Kabupaten Mandailing Natal.

“Masyarakat sangat mempercayai bahwa memakan pakat ini akan mengembalikan tenaga usai berpuasa seharian penuh,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh: