Bak budidaya ikan lele di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT (dok. Jef Dain)
Bak budidaya ikan lele di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT (dok. Jef Dain)

Labuan Bajo, Aktual.com – Pandemi Covid-19 yang menghantam dunia saat ini telah melumpuhkan berbagai bidang kehidupan. Secara nasional, jumlah pasien Covid-19 tiap harinya semakin bertambah. Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan PPKM darurat bagi masyarakat. PPKM darurat sebagai langkah perlawanan sekaligus upaya memutus mata rantai virus corona.

Pemberlakuan PPKM darurat tentu bukanlah jawaban atas kelesuan ekonomi saat ini. Saat ini, hantaman pandemi telah merenggut nyawa manusia, tak terkecuali perekonomian nasional baik sektor makro, menengah, maupun mikro. PPKM darurat hanyalah jawaban atas keprihatinan kesehatan anak-anak negeri.

Di tengah situasi yang mencekam ini, yang dibutuh ialah inovasi dan kreativitas untuk membangun perlahan-lahan perekonomian bangsa, mulai dari usaha ekonomi alternatif untuk tetap bertahan, termasuk memanfaatkan peluang untuk berwirausaha.

Tak gampang, berbicara tentang wirausaha di tengah krisis saat ini membuat sebagian orang merasa pesimis. Alih-alih memulai, justeru banyak yang menunda, menanti hingga pandemi berakhir.

Namun, pandemi saat ini bukanlah halangan bagi Pastor Aloisius Gambur dan Pastor Heribertus Karno yang bertugas di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo untuk berusaha. Niat mulia untuk perlahan-lahan membangun ekonomi sampingan, sudah ditunjukkan kepada masyarakat dengan cara budidaya ikan lele.

Pastor Alo biasa disapa mengisahkan, awalnya, dirinya bersama Pastor Heri memikirkan peluang usaha yang dapat berguna saat pendemi ini. Menurut dia, usaha yang dipilih harus sesuai dengan protokol Covid-19, yakni tidak berkerumun.

“Kita memikirkan satu usaha kecil yang bisa terhindar dari kerumunan masa,” ungkap Pastor Alo.

Baginya, budidaya lele merupakan jawaban atas kebingungan tersebut. Bersama Pastor Heri, dan ekonom di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, yakni bapak Jacko Teme, Bapak Agus, dan Ibu Edit, usaha Lele pun dimulai dengan membangun bak tembok.

Bersama bapak David, Cen, Ken, dan Can, juga para tukang, akhirnya pembangunan bak tembok pun selesai. Ada kepastian yang muncul dari niat yang kuat, bisa membudidaya lele. Pembibitan lele sudah dipesan untuk 5.200 ekor yang kemudian dipelihara di bak tembok dengan empat kotak tersebut.

“Dana yang dikeluarkan untuk pembangunan tembok, pembibitan ikan lele, dan biaya-biaya yang lain sekitar Rp. 15. 000. 000 (lima belas juta rupiah),” ungkap Jacko Teme.

Sudah tiga bulan, ikan lele dibudidaya dengan cara paling sederhana, memberikan daun-daun, sebagai makanan ditambah makanan yang dibeli dari toko.

Terlihat mudah, namun butuh keuletan dan ketekunan, sehingga bisa dipanen sesuai dengan prospek. Sekarang, tidak usah repot-repot mencari atau ke pasar untuk membeli ikan lele. Paroki Roh Kudus Labuan Bajo sudah siap melayani konsumen.

Pantauan media ini, pada hari Minggu, (18/07/21), terlihat banyak orang berdatangan menuju tempat budidaya ikan lele di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo untuk dibeli. Masing-masing memesan sesuai kebutuhan keluarga, dari pembeli dengan ukuran banyak hingga ukuran kecil.

Namun, sebelum ikan lele ditimbang dengan ukuran masing-masing, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Melkior Nudin membuka acara panen perdana. Pada acara panen perdana ikan lele tersebut, Melkior Nudin mengapresiasi kreativitas dan kerja keras Pastor Alo dan Pastor Heri, dalam membudidaya lele. Menurut dia, panen perdana ikan lele ini merupakan salah satu karya pastoral ekonomi yang perlu mendapat perhatian serius ke depan.

“Saya atas nama DPP mengucapkan terima kasih kepada para pastor yang sudah bekerja keras untuk membudidaya lele. Lele ini adalah salah satu item pemasukan bagi Paroki Roh Kudus,” ungkapnya.

Dalam kesempatan panen perdana tersebut, Vitalis Jelanu mengungkapkan bahwa, ikan lele yang dipanen jumlahnya masih ribuan. Hanya sebagian kecil yang dipanen.

“Ikan yang dipanen 1.000 lebih ekor. Kita menjualnya dengan harga Rp. 50. 000 per kilogram. Kita target, modal awal dapat ditutup dari lele. Ke depan kita bisa nikmati hasilnya,” imbuhnya.

Kata dia, masih ada 4.000 ekor yang belum dipanen, karena masih kecil dan sedang.

“Dalam beberapa waktu ke depan, kita panen lagi. Kita bisa kembalikan modal dalam emapt kali panen. Kurang lebih setiap panen kita dapat 4-5 juta. Bisa dapat dari 5.200 ekor ini,” ungkap Vitalis.

Sementara itu, salah satu pembeli kepada media ini mengaku senang, karena bisa mendapatkan lele yang bagus. Dia juga mengapresiasi kerja keras pastor di Paroki Roh Kudus dalam membudidaya ikan lele.

“Saya sangat antusias kerja keras pastor di Paroki Roh Kudus Labuan di masa pandemi Covid-19 ini. Ini penerimaan baru bagi Gereja. Harganya sangat terjangkau,” tutur Leksi Nabur.

(Florianus Jefrinus Dain)

(Nusantara Network)