Jakarta, Aktual.com – Analis politik, Pangi Syarwi Chaniago membeberkan faktor utama penyebab turunnya elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, yakni masuknya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke partai berlambang banteng moncong putih itu.

Pangi di Jakarta, Sabtu, menilai Ahok yang memberikan sentimen negatif karena dicap sebagai partai penista agama. Menurut dia, elektabilitas PDIP yang turun karena ada pengaruh dari pemilih sosiologis.

Oleh karena itu, pemilih tersebut masih menyimpan luka terkait dengan sikap Ahok. Hal ini perlu waktu untuk mengobatinya. “PDIP harus segera ‘recovery’, ditambah lagi bergabungnya Ahok ke PDIP sintemen negatif dan mempertegas bahwa PDIP partai pendukung penista agama,” kata Pangi.

Ia mengatakan bahwa elektabilitas PDIP bergantung pada Presiden Jokowi. Jika Jokowi sukses, citra PDIP makin bagus dan dianggap sukses.

Dengan demikian, secara tidak langsung berdampak pada kenaikan elektabilitas partai berlambang banteng tersebut.

“Suksesnya dan bagusnya citra Jokowi maka menjadi sukses PDIP,” katanya.

Pangi menuturkan bahwa turunnya elektabilitas Jokowi punya dampak secara langsung terhadap elektabilitas PDIP. “Ini konsekuensi dari efek ekor jas (coctail effect). Maka, bisa jadi elektabilitas Prabowo naik, otomatis elektabilitas Gerindra ikut naik,” kata Pangi.

Direktur Eksekutif Voxpol Center and Research Consulting ini menambahkan bahwa selama ini PDIP masih gagal memperluas ceruk pasar pemilih dan hanya mempertegas serta memperkuat basis ceruk segmen pemilih nasionalis.

“PDIP masih gagal dalam ekspansi penetrasi pada zonasi wilayah kantong pemilih muslim. PDIP harus segera melakukan ‘recovery’ dan memperluas kantong basis suara dan jangan hanya terjebak pada basis pemilih nasionalis,” ucapnya.

Sebelumnya, hasil Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny J.A. menunjukkan bahwa elektabilitas partai Gerindra naik, sementara elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) turun. LSI mencatat survei PDIP pada bulan Desember 2018 sebesar 27,7 persen.

Sementara itu, pada bulan Januari 2019 turun menjadi 23,7 persen. Adapun elektabilitas Gerindra pada bulan Desember 2018 sebesar 12,9 persen, kemudian pada bulan Januari 2019 naik menjadi 14,6 persen.

Survei terbaru Indonesia Elections and Strategic (IndEX) Research menunjukkan bahwa elektabilitas PDIP menurun drastis hingga ke posisi awal survei indEX pada bulan Desember 2018, sementara dua partai baru, yakni PSI dan Perindo, merangkak naik.

“Saat ini elektabilitas PDIP tinggal 22,9 persen. Penurunan tajam capaian elektabilitas PDIP diperkirakan karena migrasi pemilih muslim ke partai-partai nasionalis lainnya,” kata Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (22/2).

Menurut dia, faktor paling kuat yang menandai fenomena tersebut adalah bergabungnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

(Arbie Marwan)