Banda Aceh, Aktual.co — Mahasiswa dan organisasi Panglima Laot, Aceh Utara menolak rencana Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pasalnya, kenaikan BBM dinilai akan menyengsarakan rakyat kecil.
“Kami menolak rencana kenaikan BBM. Karena, dampak dari kenaikan BBM akan menyengsarakan rakyat. Lihat, berapa puluh juta penduduk miskin di Indonesia dan Aceh akan merasakan dampak kenaikan BBM itu,” sebut Ketua BEM Universitas Malikussaleh, Rozy Nauval, Kamis (6/11). 
Disebutkan, pihaknya juga menyesalkan sikap Pemerintah Aceh yang mendukung rencana kenaikan BBM yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat. Mahasiswa, sambung Rozy, meminta agar presiden membatalkan niat menaikan harga bahan bakar itu.
Sementara itu, Panglima Laot Aceh Utara, Ismail Insya menyebutkan seluruh nelayan di kabupaten itu menentang rencana kenaikan BBM. “Ini belum naik BBM saja, nelayan sudah kesulitan mendapatkan solar. Harusnya, pemerintah itu membenahi stok solar ke nelayan. Bukan malah menaikan BBM seperti yang diwacanakan akhir-akhir ini,” sebut Ismail.
Dikatakan, nelayan merupakan kelompok yang belum mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Misalnya, sambung Ismail, ketika cuaca buruk, nelayan tidak melaut dan tidak mendapatkan uang untuk biaya hidup. “Beban itu saja sudah sangat berat untuk nelayan, apalagi ditambah beban kenaikan harga BBM,” pungkasnya.