Kupang, Aktual.com – Dinas Kesehatan Kota Kupang menempatkan petugas kesehatan terlatih di 11 puskesmas untuk memantau perkembangan penyakit diabetes warga di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

“Petugas kesehatan terlatih yang ada di puskesmas itu setiap harinya bertugas memantau sejumlah penyakit yang diderita warga setempat, termasuk penyakit diabetes,” kata Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih di Kupang, Sabtu (29/4).

Langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Kupang untuk memantau dan mendata perkembangan penyakit diabetes yang sudah mulai mengkhawatirkan dunia medis Tanah Air. Bahkan, penyakit yang penyebabnya karena genetik dan juga pola makan itu, telah menjadi perhatian dunia.

Dijelaskan, petugas kesehatan di setiap puskesmas di Kota Kupang telah diminta untuk melakukan pendataan dan monitoring sejumlah penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular. Untuk diabetes masuk dalam kelompok penyakit yang tidak menular (PTM) dan berkaitan dengan organ dalam manusia.

Terhadap penyakit itu juga, katanya, setiap petugas medis, diberikan pelatihan khusus untuk bisa mengetahui gejala untuk selanjutnya mendata perkembangan penderita penyakit itu di wilayah kerja puskesmas.

Setiap petugas, kata Sri, akan melakukan pengukuran tensi badan pasien, juga termasuk kadar gula dalam darah, melakukan survei dan obeservasi serta melakukan olahraga bersama pasien, memanfaatkan BPJ Prolanis.

“Itu yang bisa kami lakukan di puskesmas dan jika membutuhkan penanganan lanjutan akan langsung dirujuk ke RS Umum S.K. Lerik Kota Kupang atau ke RSU Johannes sebagai rumah sakit rujukan tingkat akhir,” katanya.

Meski terus melakukan pemantauan dengan petugas terlatih, hingga saat ini, Dinas Kesehatan Kota Kupang masih belum memiliki data pasti terkait dengan jumlah pasien diabetes. Hal itu karena diabetes masih belum masuk dalam 10 penyakit terbesar yang diderita masyarakat di daerah setempat.

“Yang sudah masuk antara lain hipertensi yang berada pada urutan enam dari 10 penyakit, sedangkan diabetes belum masuk daftar,” katanya.

Meskipun demikian, pihaknya terus melakukan upaya sosialiasi dan penyadaran akan kehidupan yang lebih sehat, dengan menjaga pola makan sehat dan hidup teratur dengan berolahraga.

Diabetes melitus dikenal dengan istilah penyakit kencing manis dan terjadi karena kelainan metabolik yang disebabkan banyak faktor. Seperti kurangnya insulin atau ketidakmampuan tubuh memanfaatkan insulin dengan simtoma berupa hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin atau keduanya.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan bahwa ada prevalensi 13,5 persen masyarakat Indonesia mempunyai berat badan berlebih dan prevalensi 15,4 persen untuk obesitas.

Hal itu membuat pengidap diabetes di Indonesia ada sekitar 10 juta jiwa, ke-4 terbesar di dunia, seperti diperkirakan oleh International Diabetes Federation (IDF). (ant)

()