Sukuk (Ilustrasi)
Sukuk (Ilustrasi)

Jakarta, Aktual.com — Perusahaan penjamin emisi penerbitan surat utang baik obligasi maupun sukuk melihat respon pasar saat ini relatif baik. Namun jika dibarengi dengan adanya insentif pajak, maka akan lebih bergairah lagi.

Menurut Direktur PT CIMB Securities Indonesia, Anung R. Hascaryo, saat ini untuk produk obligasi atau sukuk yang diterbitkan perusahaan, terutama untuk sektor keuangan dan infrastruktur selalu menarik.

“Tapi jika OJK (Otoritas Jasa Keuangan) jadi memberikan insentif, antara lain OJK mengusulkan ke pemerintah untuk memberikan insentif pajak, maka pertumbuhannya akan lebih dahsyat lagi,” katang Anung di Jakarta, Kamis (3/3).

Saat ini pasar sukuk korporasi nasional memang masih sangat rendah. Baru 3,9 persen dari total nilai obligasi dan sukuk korpirasi ysng beredar di Indonesia. Hal ini sepertinya mengikuti market share keuangan syariah yang memang hanya berkisar di 5 persen.

Namun bagi Anung, justru potensi sukuk korporasi berkembang itu masih sangat besar. Apalagi bagi investor itu bukan melihat surat utang konvensional atau syariah, selama memberikan imbal hasil yang menarik pasti akan diburu.

Masalahnya ada di insentif kata dia, semakin banyak insentif akan semakin menggeliatkan pasar sukuk ini, terutama sukuk korporasi.

“Masalah insentif ini jadi masalah political will. Kalau Presiden Jokowi yang sebagai Ketua KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah) mau menggenjot industri sukuk, alhamdulillah kalau ada insentif pajaknya,” terang dia.

Menurut Anung, dengan adanya insentif tersebut tentu akan bakal menggenjot pasar, baik jumlah investor yang bertambah atau jumlah issuer atau emiten yang menerbitkan sukuknya juga akan lebih banyak.

“Investor pasti senang kalau banyak insentif. Sehingga returnnya itu lebih besar. Sehingga dengan makin banyak korporasi menerbitkan sukuk pasti akan berdampak pada perekononian,” ulas dia.

Karena logikanya, semua produk syariah akan diburu investor mana pun selagi imbalannya menarik. Tapi bagi produk konvensional belum tentu dikejar investor syariah.

Seperti akhir tahun lalu, PT XL Axiata Tbk sudah menerbitkan sukuk rupiah sebesar Rp1,5 triliun. Dan ternyata permintaannya mencapai oversubscribe.

“Tapi saya tidak berani menargetkan akan bertumbuh berapa besar jika dibarengi dengan insentif. Tapi yang jelas akan bertumbuh lebih baik,” pungkas Anung.

(Arbie Marwan)