Yogyakarta, Aktual.com – Forum Jogja Darurat Agraria (JDA) mengatakan bahwa pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo akan berdampak negatif terhadap sektor pertanian warga terdampak. Dimana puluhan ribu pekerja kehilangan mata pencarian.

“Kita menghitung semua tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses produksi, mulai dari pemilik lahan sampai buruh tani,” ujar Yudhistira Wardhana, anggota tim peneliti Jogja Darurat Agraria, Minggu (29/1).

Dengan dibangunnya NYIA Kulonprogo, JDA memperkirakan sekitar 12.000 pekerja pertanian akan kehilangan mata pencarian dari produksi terong dan gambas, 60.000 pekerja dari produksi semangka dan melon, serta 4.000 pekerja dari produksi cabai.

Angka ini menurut Yudhistira adalah hasil pendataan dari dua kelompok tani terdampak yakni Wahana Tri Tunggal (WTT) dan Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. Dengan pertimbangan keduanya memiliki pola produksi pertanian yang sama.

Untuk komoditas pertanian, per hektar setiap tahun sebanyak 90 ton terong dan semangka juga bakal tak mampu lagi diproduksi, termasuk 60 ton gambas dan 180 ton melon serta cabai.

JDA menilai, area pembangunan NYIA berdiri di atas lahan pertanian subur dan produktif baik di lahan kering (tegalan) maupun di lahan basah (sawah).

Dalam 637 hektar luas area, tak kurang 300 hektar merupakan lahan tani produktif, terbagi menjadi 200 hektar di kawasan pesisir selatan serta 100 hektar di sebelah utara Jalan Daendels.

Kemudian, 337 hektar lainnya terdiri dari 200 hektar area merupakan pemukiman warga, sisanya lahan yang diklaim milik Pakualaman (PAG) yang banyak dikelola sebagai kawasan tambak dan hotel.

“Apa yang akan hilang dari pertanian pesisir menjadi jauh lebih besar lagi ketika konsep Kota Bandara diterapkan, karena akan semakin banyak terjadi konversi lahan pertanian,” jelas Yudhistira.

Ketua WTT, Martono, menambahkan, komoditas pertanian di Kecamatan Temon, Kulonprogo, seperti cabai, semangka dan melon sudah terkenal di Pasar Induk Jakarta. Selama ini, produksi pertanian warga memasok kebutuhan warga di Yogyakarta dan daerah lain hingga Jakarta.

“Kalau untuk pasar lokal (DIY) petani Temon menyuplai kebutuhan kayak sayuran,” demikian Martono

(Nelson Nafis)

Artikel ini ditulis oleh: