Anwar Ibrahim saat dihadang polisi dan dilarang masuk ke kompleks parlemen Malaysia, Senin (2/8).
Anwar Ibrahim saat dihadang polisi dan dilarang masuk ke kompleks parlemen Malaysia, Senin (2/8).

Jakarta, Aktual.com – Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim mengklaim bahwa pemerintahan Perikatan Nasional telah kehilangan legitimasinya karena Perdana Menteri Muhyiddin Yassin tidak lagi mendapat dukungan mayoritas parlemen.

Dia mengklaim bahwa sebanyak 107 anggota parlemen oposisi dan beberapa anggota parlemen pemerintah telah menarik dukungan untuk Perdana Menteri.

“Kami datang ke sini untuk menyatakan sikap kami bahwa Parlemen (pemerintahan) telah kehilangan legitimasinya dan tidak dapat terus memerintah. Kedua, mereka telah melanggar Konstitusi. Ketiga, melarang anggota parlemen menjalankan tugasnya dan jelas-jelas melanggar perintah Yang di-Pertuan Agong,” katanya saat berkumpul dengan anggota parlemen oposisi di Dataran Merdeka, dilansir dari malaysiagazette, Jakarta, Senin (2/8).

“Jadi, kita di sini setidaknya sebagai warga negara yang taat pada Yang di-Pertuan Agong dan tunduk pada Konstitusi dan membela nasib rakyat,” tambahnya.

Menurut Anwar, yang juga Presiden PKR, pemerintah kehilangan dukungan dan gagal menjalankan tugasnya tetapi tetap mempertahankan kekuasaan.

“Beberapa anggota parlemen telah menulis kepada Ketua (Dewan Rakyat) menunjukkan bahwa pemerintah Muhyiddin telah kehilangan suara.

“Ini adalah cara mereka melanggar Konstitusi untuk menjauh dari keputusan oposisi di Parlemen,” ujarnya sebelum membubarkan diri setelah dilarang memasuki gedung parlemen.

(A. Hilmi)