Jayapura, aktual.com  – Dekenat Kabupaten Keerom menyebutkan, pendistribusian kelambu anti malaria di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua belum maksimal, warga  juga tidak mendapat sosialisasi terkait penggunaan kelambu tersebut.

“Pendistribusian kelambu malaria di lapangan belum maksimal. Kenyataan di lapangan belum berjalan dengan baik, sistem kerjanya boleh dibilang masih amburadul,” kata Pastor Krispinus Bidi di Jayapura, Sabtu (30/11).

Realisasi di lapangan, kata dia, belum ada sosialisasi yang baik kepada warga terkait penggunaan kelambu anti malaria. Pemerataan pendistribusian kelambu anti malaria ini juga tidak merata.

“Kami Dekenat Keerom bersama Persatuan Karya Darma Kesehatan Indonesia (Perdaki) Pusat juga memberikan edukasi soal pemanfaatan kelambu,” katanya.

Dia mengatakan  warga Keerom kebanyakan merasa terbiasa tidur tanpa menggunakan kelambu sudah merasa biasa, tidak membutuhkan kelambu.

“Kami menyampaikan kepada warga bahwa harus menggunakan kelambu karena nyamuk yang akan menjadi penyebab malaria itu akan mulai keluar dan menggigit sejak jam enam sore sampai jam enam pagi,” ujarnya.

Selain edukasi mengenai penggunaan kelambu, kata dia, pihaknya juga mengajak warga untuk berperilaku hidup bersih, menjaga lingkungannya agar tetap bersih agar terhindar penyakit malaria.

Ia menambahkan, kesadaran warga Keerom terhadap penyakit malaria itu dianggap biasa seperti batuk pilek, sehingga warga kalau minum obat malaria, kalau sembuh maka obatnya tidak dihabiskan. Padahal obat malaria itu harus tuntas atau habis diminum.

“Itu juga yang menjadi bahan edukasi kita kepada masyarakat, agar warga paham mengenai cara minum obat malaria,” ujarnya. (Eko Priyanto)

(Zaenal Arifin)