Kelompok yang pertama dapat dikaitkan dengan depresi melalui mekanisme biologis atau psikologis, sedangkan kelompok yang kedua diharapkan hanya memiliki dampak psikologis.

Secara keseluruhan, tim menemukan bahwa orang dengan IMT yang tinggi itu cenderung mengalami depresi.

Terfokus pada 73 varian genetik, dan dengan mempertimbangkan faktor-faktor termasuk usia dan jenis kelamin, mereka menemukan bahwa setiap peningkatan sebanyak 4,7 poin dalam IMT, kemungkinan depresi meningkat sebesar 18 persen secara keseluruhan, dan 23 persen di antaranya perempuan.

Ketika tim peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber, mereka menemukan 14 varian genetik yang meningkatkan lemak tubuh tetapi tidak terkait dengan gangguan kesehatan metabolik termasuk juga berhubungan dengan meningkatnya seseorang mengalami depresi.

“Ini menunjukkan komponen psikologis sama kuatnya dengan komponen fisiologis apa pun, jika [yang terakhir] ada di sana,” kata Frayling, yang menunjukkan citra tubuh yang buruk berperan sebagai mekanisme.

(Bawaan Situs)