PENETASAN TELUR PENYU

Padang, Aktual.com – Peneliti penyu dari Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatera Barat, Harfiandi Damanhuri mengatakan, terjadinya perubahan iklim atau “climate change” ikut mempengaruhi keberlangsungan hidup penyu.

“Sekalipun ancamannya tidak sebesar ancaman yang datang dari manusia, akan tetapi hal ini juga cukup berpengaruh,” katanya di Padang, ditulis Kamis (24/8).

Ia menyebutkan salah satu bentuk dari perubahan iklim adalah naiknya permukaan air laut yang kemudian memicu terjadinya abrasi.

Menurut dia, kondisi ini dapat menyulitkan penyu dalam proses peneluran, sebab dalam bertelur, penyu akan menuju kawasan pesisir pantai untuk meletakkan telurnya di dalam pasir.

“Apabila terjadi abrasi, maka penyu akan kehilangan lokasi peneluran atau telur-telur yang telah ditanam akan terkena air laut sehingga dapat menyebabkan kegagalan dalam penetasan,” ujarnya.

Selain itu peningkatan suhu air laut secara tidak langsung juga akan berpengaruh, sekalipun penyu dikenal sebagai spesies yang dapat menyesuaikan diri dengan iklim sekitar.

Harfiandi menyebutkan peningkatan suhu air di lautan akan menyebabkan pemutihan pada karang atau yang biasa dikenal dengan sebutan “bleaching”. Pada fenomena ini lama-kelamaan akan membuat terumbu karang tersebut mati.

“Secara umum penyu akan mencari makan di sekitar terumbu karang, seperti penyu sisik yang memakan spons karang, apabila karang mati maka penyu akan kehilangan sumber makanan,” kata dia.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno mengatakan, Indonesia telah memiliki dokumen NDC (Nationally Determined Contribution) yang mencakup tentang kelautan.

“Indonesia juga telah memiliki dokumen rencana aksi untuk mengatasi kenaikan permukaan air laut guna mengatasi abrasi dan naiknya air laut ke daratan terutama di utara Pantai Jawa,” ujarnya.

 

Ant.

()