Ketua Umum Partai Gerindra yang juga bakal calon presiden 2019-2024 Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Sandiaga Uno menghadiri pelaksanaan upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2018 di Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jumat (17/8/2018). Ada pun tokoh yang hadir didominasi oleh elit politisi oposisi dari parpol koalisi pengusung Prabowo-Sandiaga seperti Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Gerindra, Hasyim Dhojohadikusumo, Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, Ketua Dewan Pembina Berkarya Titiek Soeharto dan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. Selain itu, turut hadir Ketua Dewan Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri dan mantan Panglima TNI Djoko Santoso. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Peneliti PolGov Research Centre Universitas Gadjah Mada (UGM) Ignasius Jaques Juru berpendapat peran oposisi sebagai alat kontrol pemerintah akan tetap efektif meskipun hanya dua partai, yakni Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Kalau alat kontrol dalam konteks ‘wacana’, kuantitas tidak menjadi masalah, yang penting kualitas wacananya,” kata Ignasius, saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (3/7).

Ia mencontohkan PDI Perjuangan merupakan partai yang tetap bertahan sebagai oposisi di bawah Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan berhasil membuktikan perannya membentuk wacana-wacana kritis.

“Saya kira dari sisi itu (wacana kritis) yang penting apakah mereka bisa memproduksi wacana-wacana konstruktif ke depan atau tidak,” ujar dosen Departemen Politik dan Pemerintahan UGM itu pula.

Wacana atau gagasan, seperti diungkapkan Ignasius, menjadi gugatan penting sebagai kontrol politik supaya terjadi proses demokrasi deliberatif atau produksi kebijakan-kebijakan publik yang dekat dengan aspirasi masyarakat tanpa ada kepentingan antarpartai.

Sementara itu, terkait peluang oposisi yang ingin merapat dalam koalisi pendukung pemerintah, Ignasius menilai Jokowi sudah didukung oleh koalisi yang besar dan kuat, sehingga kemungkinan diterima kecil.

(Abdul Hamid)