Composite of Calendar Pages and Clock

Jakarta, Aktual.com — Di antara kita pasti pernah merasakan waktu berjalan begitu singkat. Tanpa terasa ternyata waktu sudah memasuki bulan baru atau bilangan tahun tiba-tiba mulai berganti.

Sebagian mengatakan hal ini dialami oleh orang yang sibuk saja. Mengingat rutinitas yang padat ini membuat mereka melupakan waktu. Ternyata tidak demikian, karena faktanya waktu kini berkurang tidak cukup 24 jam dalam satu hari.

Hal ini sudah pernah diungkapkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Celakanya waktu yang terasa menjadi singkat ternyata menjadi pertanda hari kiamat.

Manusia diprediksi sudah memasuki akhir zaman dan bersiap dengan hari akhir.

Apakah benar jika waktu yang terasa singkat merupakan tanda Kiamat, karena beberapa dari masyarakat mengaku jika saat ini mereka merasakan waktu terasa begitu singkat?

“Seharusnya kita sebagai Muslim, harus bisa lebih cerdas mengenai hal ini. Bukankah Allah SWT dan Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita agar tidak mudah terhasut, dan bila ada sesuatu permasalahan atau pertanyaan atau sebagainya harusnya kita kembali kepada Alquran dan Hadis lalu baru kita gunakan akal sehat kita,’ terang Ustad Hasanudin kepada Aktual.com, di Jakarta, Rabu (13/04).

Memang benar ada beberapa Hadis yang menyebutkan, waktu yang terasa semakin singkat merupakan pertanda kiamat, seperti hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى… يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ.

Artinya, “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga… zaman berdekatan.”

Dan diriwayatkan dari Beliau Radhiyallahu anhu, Beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ.

Artinya, “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.”

Mengenai kedua hadis ini, kita harus benar-benar teliti dalam memahaminya karena jika kita salah pengertian dari hadis tersebut maka kita bisa termasuk orang yang merugi. Karena dari Hadis tersebut ada beberapa Ulama berkata bahwasannya berdekatannya zaman atau waktu adalah,

1. Maksudnya adalah sedikitnya keberkahan di dalam waktu

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hal ini telah didapati pada zaman kita sekarang ini. Karena kita telah menjumpai cepatnya waktu berlalu yang tidak pernah kita temukan pada zaman sebelum kita.”

2. Maksudnya adalah apa yang akan terjadi pada zaman Al Mahdi dan Nabi ‘Isa AS

Di mana manusia menikmati kehidupannya, adanya jaminan keamanan, juga keadilan. Saat itu manusia merasakan singkatnya masa-masa kemakmuran padahal waktunya lama, dan masa-masa sulit dirasakan lama padahal singkat.

3. Maksudnya adalah kedekatan (kemiripan) keadaan penghuninya dalam hal sedikitnya ilmu agama

Sehingga, tidak ada amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah-tengah mereka karena mendominasinya kefasikan dan para pelakunya.

Secara khusus hal itu terjadi ketika upaya mencari ilmu ditinggalkan serta ridho dengan kebodohan. Karena sesungguhnya manusia tidak sama dalam keilmuannya, dan beragamnya tingkatan ilmu mereka, sebagaimana di firmankan oleh Allah SWT,

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

Artinya, “Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.”(Yusuf : 76)

Dan di sini mereka dikatakan sama hanya ketika dalam kebodohan.

4. Banyaknya sarana perhubungan

Maksudnya yakni, berdekatannya orang-orang pada zaman tersebut karena banyaknya sarana-sarana perhubungan dan transportasi darat maupun udara yang mendekatkan jarak yang jauh.

5. Maknanya yakni, singkatnya waktu, cepat secara hakiki, hal itu terjadi di akhir zaman

Akan tetapi peristiwa ini belum terjadi sampai sekarang, hal itu diperkuat oleh riwayat yang menjelaskan bahwa hari-hari ketika Dajjal datang terasa lama, sehingga satu hari bagaikan satu tahun, bagaikan satu bulan dan bagaikan satu pekan. Sebagaimana hari-hari itu terasa lama, maka ia pun bisa terasa singkat.

Ini terjadi karena rusaknya tatanan alam, dan telah dekatnya kehancuran dunia.

Ibnu Abi Jamrah rahimahullah berkata, “Kemungkinan yang dimaksud dengan dekatnya zaman adalah singkatnya (waktu) sesuai dengan yang diungkap dalam sebuah Hadis,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ

Artinya, “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga satu tahun bagaikan satu bulan.”

Oleh karena itu, maka singkatnya waktu bisa berupa sesuatu yang dapat dirasakan oleh indera atau sesuatu yang maknawi. Adapun yang bisa dirasakan indra sama sekali belum nampak, mungkin hal itu terjadi sebagai tanda dekatnya Kiamat.

Telah disebutkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi, sehingga fitnah-fitnah marak, kebohongan merajalela dan pasar-pasar semakin berdekatan.”

“Hari Akhir atau Kiamat hanya Allah SWT yang mengetahuinya, dan kita hanya bisa mengetahui hal tersebut jika memang benar-benar sudah terjadi. Walaupun Rasulullah SAW telah memberikan banyak gambaran mengenai kiamat, hal tersebut bukanlah menjadi prioritas utama kita dan menjadi sebuah bukti jika Kiamat akan tiba, jika kita memiliki pemikiran seperti itu maka kita telah termasuk menjadi orang yang merugi,” paparnya lagi.

“Yang seharusnya kita lakukan saat ini adalah bagaimana kita mempersiapkan diri kita sendiri terlebih dahulu, apakah kita telah menjadi seorang Muslim yang sebenarnya atau belum. Persiapkan amal ibadah kita, keluarga dan sanak saudara kita. Itulah yang terbaik dari pada membicarakan dan menebak-nebak bahwa Kiamat sedang mendekati kita,” sambung ia menjelaskan.

“Karena yang bisa menolong kita di Akhirat nanti adalah amal ibadah kita, bukan yang lainnya. Semoga ini bermanfaat dan menjadikan kita kembali sadar dan memperbaiki kembali keimanan kita semua.”

()