Nicke Widyawati (kiri kedua) dalam sesi diskusi di Paviliun Indonesia, Jumat (1/12).

Dubai, Aktual.com – Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, menegaskan komitmen Pertamina mendukung Pemerintah Indonesia mencapai Net Zero Emission 2060. Hal ini disampaikannya pada Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB 2023 (COP-28) di Uni Emirat Arab (UEA), Jumat (1/12).

Nicke Widyawati, dalam sesi diskusi di Paviliun Indonesia, menjelaskan trilema energi Indonesia: keamanan energi, kesetaraan energi, dan keberlanjutan energi. Pertamina menghadapinya dengan inisiatif dekarbonisasi operasional (Scope-1), bisnis rendah karbon (Scope-2), dan penyeimbangan karbon (Scope-3).

Sebagai negara berkembang, kata Nicke, Indonesia memiliki target pertumbuhan ekonomi yang stabil dimana energi adalah katalis untuk pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, sebagai BUMN, Pertamina menempatkan keamanan energi sebagai prioritas utama.

“Namun, kami juga harus mengelola keseimbangan untuk kesetaraan energi, yang mencakup aksesibilitas dan keterjangkauan energi, dan keberlanjutan energi dalam mengurangi emisi karbon dalam operasi kami, baik untuk scope satu, dua, dan tiga,” ujar Nicke.

Nicke menilai bahwa Indonesia tidak bisa mengatakan bahwa kita harus mengembangkan energi terbarukan dan mengalihkan semua bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Karena hal itu dinilai akan membahayakan keamanan energi.

Oleh sebab itu, katanya, Pertamina memiliki tiga strategi tentang bagaimana Pertamina mengelola keberlanjutan sambil mempertahankan keamanan energi dan memperkuat kesetaraan energi.

“Kami harus mempertahankan bisnis utama, minyak dan gas, dengan Green Operation. Efisiensi energi, pengurangan Methana, dan Biofuel menjadi strategi utama kami,” kata Nicke.

“Dari tiga inisiatif tersebut, Pertamina, sampai tahun lalu, berhasil mengurangi 31% emisi dalam operasi internal kami,” tambahnya.

Strategi kedua, lanjut Nicke, adalah meningkatkan pengembangan produk rendah karbon dengan memproduksi Biofuel. Hal itu dilakukan karena Indonesia merupakan negara kedelapan terbesar yang memiliki hutan, dan dinilai memiliki kapasitas untuk memproduksi Biofuel.

“Sekarang, dengan B35, tahun lalu, kami berhasil mengurangi sekitar 32 juta ton CO2 per tahun. Dan kami akan menambahkan lebih banyak B35 sekarang dan tahun depan, B40. Bahkan dalam kebijakan energi nasional kita yang baru, targetnya sampai B60,” tambah Nicke.

Selain itu, Pertamina juga memiliki program Biogasoline dengan mencampurkan bioetanol dari tebu, jagung, dan juga singkong ke bensin. Pertamina akan mulai dengan E5% dan dalam Kebijakan Energi Nasional Indonesia, secara bertahap akan meningkat menjadi E40.

Terkait dengan bahan bakar nabati ini, Nicke mengungkapkan Pertamina baru saja meluncurkan bahan bakar jet berkelanjutan (Sustainable Efficient Fuel) yang dicampur dengan CPO.

“Jadi, program ini adalah opsi terbaik untuk Indonesia. Ada tiga manfaat utamanya, pertama, kami dapat mengurangi impor bahan bakar melalui biofuel. Kedua, kami dapat mengurangi emisi. Dan yang ketiga adalah menciptakan lapangan kerja di Hulu,” ungkapnya.

Inisiatif ketiga adalah pengimbangan karbon melalui Carbon Capture, Utilization, and Storage, serta Natural Base Solution dengan hutan yang dapat menyerap emisi global hingga 15%.

“Walaupun masih ada bahan bakar fosil, masih ada pembangkit listrik tenaga batubara, tetapi Pertamina harus mengurangi emisi melalui Carbon Capture, Utilization, and Storage, serta solusi berbasis NBS (Natural Base Solution) dengan hutan yang dimiliki,” lanjut Nicke.

Nicke juga mengidentifikasi empat tantangan, termasuk kerangka regulasi, teknologi, keuangan, dan pembangunan kemampuan.

“Ada empat tantangan dan kami percaya bahwa kami membutuhkan kolaborasi global tentang bagaimana kita dapat mengatasi tantangan ini terutama dukungan dari pemerintah,” tandas Nicke.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jisman P. Hutajulu mendukung langkah transisi energi terbarukan melalui Energi Baru Terbarukan dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan agar turut andil mendorong transisi energi.

“Pengembangan EBT dalam transisi energi ini adalah untuk jangka panjang,” kata Jisman di sela diskusi bertema “Increasing Ambitions in Renewable Energy Targets for NDC Acceleration”, Kamis (30/11).

Artikel ini ditulis oleh:

Editor: Jalil

Tinggalkan Balasan